Foods,  Travel

8 Jam di Solo : Dari Warung ke Warung

Kadang-kadang, sebuah perjalanan itu bisa terlaksana tanpa adanya rencana yang berlebihan. Seperti halnya cerita 8 jam di Solo ini. | Kuliner Khas Solo

Hampir 2 minggu yang lalu saya dan seorang teman berkeinginan untuk jalan-jalan di solo selama 2 hari. Tiket kereta Kalijaga sudah dibeli, rancangan untuk mencari penginapan selama 2 malam pun sudah disusun. Tapi karena 1 dan lain hal, dia membatalkan rencana tersebut. Tadinya saya juga mau ikut nggak jadi berangkat. Tapi dipikir-pikir, tiket kereta sudah dibeli, ijin cuti 2 hari pun sudah diajukan (dan sudah pasti disetujui), lalu kenapa saya ikut-ikutan enggak jadi berangkat? Rugi amat, begitu pikir saya.

Dan akhirnya Jumat pagi saya niatkan berangkat ke stasiun Tawang dan naik kereta Kalijaga menuju Solo. Yang sedianya menginap 2 malam, akhirnya diubah menjadi perjalanan pergi-pulang dalam sehari.

Keputusan untuk berangkat pun sebenarnya juga karena tersedianya kereta untuk pulang ke Semarang dihari yang sama. Jadi, saat sedang bimbang mau jadi pergi atau tidak, saya iseng cek aplikasi KAI dan menemukan bahwa ada kereta Joglosemarkerto yang berangkat dari Solo ke Semarang di jam 9 malam. Setelah berhitung waktu, akhirnya saya memutuskan untuk tetap melaksanakan planning sebelumnya. Saya perkirakan 8 jam di Solo cukup untuk pergi kesana-kemari.

Kuliner Khas Solo Yang Bisa Dinikmati Dalam Waktu Sehari

Dari awal saya memang sudah pengin kulineran di Solo. Sempat mengecek google, ada beberapa rekomendasi tempat makan yang sepertinya harus dikunjungi. Beberapa di antaranya memang sudah pernah saya dengar reputasinya.

Hanya saja, dengan 8 jam durasi jalan-jalan, sudah pasti semua rekomendasi dari google itu nggak akan bisa semua didatangi. Makanya selama dalam perjalanan menuju Solo saya membuat itinerary tentang warung mana yang pertama kali akan dikunjungi dan mana yang terakhir. Timeline itu saya buat berdasarkan jam buka dan tutup warung, dan potensi tersedianya makanan karena konon, ada warung-warung yang sudah tutup setelah sekian jam buka karena saking larisnya.

Dan ini dia 5 warung kuliner khas Solo yang berhasil saya datangi selama jalan-jalan 8 jam di Solo

Tengkleng Kambing Bu Edi

Selepas sholat Jum’at di stasiun Solo Balapan, saya bergegas menuju ke Warung Tengkleng Kambing Bu Edi yang sudah sangat terkenal. Dengan menumpang Gojek saya menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama menuju pasar Klewer.

Setelah sempat bertanya letak warung ini ke salah satu tukang becak di sana, saya pun menemukan warung yang dimaksud. Terletak di deretan warung-warung lainnya di area depan Pasar Klewer, Tengkleng Bu Edi begitu stand out karena ramenya. Kalau melihat jam buka waktu itu, baru 30 menit sejak dibuka tapi kondisi pembelinya terhitung luar biasa.

Petak yang tak terlalu besar itu penuh sesak dengan pembeli. Kebanyakan datang berombongan untuk menikmati seporsi nasi tengkleng yang sudah puluhan tahun disajikan.

Nasi tengkleng kambing disajikan dalam sepincuk daun pisang beralas koran. Nasi putih dengan lauk Tengkleng berwarna kuning dan berisi iga, daging, dan jeroan kambing, lengkap dengan cabe rawit merah di dalamnya. Saya tidak melihat adanya kecap atau sambal kecap di sana. Dan saya juga terlalu malu untuk bertanya karena jangan-jangan, begitulah aturan makan nasi tengkleng Bu Edi. Tanpa kecap atau sambal kecap sama sekali.

Menurut saya, nggak salah rasanya kalau warung ini menjadi jujugan bagi pecinta kuliner yang main ke Solo. Tengkleng Kambingnya cukup enak dengan warna bumbu kunyit yang pekat. Meski begitu, rasa kunyitnya malah tak terasa kuat sama sekali. Bagi mereka yang nggak terlalu suka dengan aroma “sengar” dari kunyit, Tengkleng Bu Edi ini pas sekali. Daging kambingnya pun tak berbau “prengus”. Mungkin bumbu kunyitnya dimasak lama sehingga rasa “sengar”nya hilang, dan sekaligus menutup bau “prengus” dari si daging kambing.

Mungkin Tengkleng Bu edi bukan yang paling enak, tapi saya setuju kalau makan di sini nikmat sekali. Sensasi ketika menyesap kuah yang menempel di Iga atau bahkan sumsum kalau kamu beruntung bisa mendapatkannya, sampai sekarang masih terasa. Meski belepotan dan agak berminyak, tapi saya lihat orang-orang sama sekali tak keberatan.

Dan karena kenikmatan itu tadi, mereka juga sama sekali nggak banyak pertimbangan ketika merogoh kocek lebih dalam untuk membayar seporsi nasi tengkleng. 50 ribu rupiah untuk sepincuk nasi tengkleng bisa jadi sepadan dengan serunya pengalaman yang didapatkan.

Kamu tertarik mencoba? Jangan lupa, disini cuma bisa terima uang tunai ya.

Timlo Solo Sastro

Selesai dari Bu Edi, saya langsung tancap gas menuju Timlo Solo Sastro. Masih dengan memanfaatkan jasa Gojek saya menuju ke sekitar Pasar Gede. Tapi ternyata kami berdua kecele. Iya, bahkan si Mas Ojeknya pun terkejut karena warung Timlo Sastro yang seharusnya ada di sana, sudah dibongkar. Dari sebuah kertas yang tertempel di sana, saya menemukan bahwa warung Timlo Sastro sudah pindah ke tempat baru di sekitar Jalan Abdul Muis. Masih dengan ojek yang sama, saya pun menuju ke tempat yang dimaksud.

Warung Timlo Solo Sastro baru menempati area yang jauh lebih luas dibanding yang saya lihat di Pasar Gede. Bahkan ada seorang pembeli yang nyeletuk, “Nah, nek neng kene kan enak. Resik, ra mangan cedhak sampah. Ra mambu sampah.” Yang artinya : Nah, kalau di sini kan enak, bersih, nggak makan deket sampah, ga bau sampah.

Belakangan saya baru tahu kalo ada sebutan lain dari Timlo Sastro, yaitu Timlo Sampah karena warungnya di pasar gede, berdekatan dengan bak pembuangan sampah. #NGAKAK

Jujur saja, ini baru pertama kali saya makan Timlo Solo. Sebelumnya hanya pernah mendengar nama dan melihat foto saja. Dan kesan pertama saya adalah, ini bukan makanan favorit saya sepertinya. Bukan karena tidak enak, tapi karena rasanya yang “kurang kompleks” di lidah saya. Rasa kuah Timlo memang sangat-sangat sederhana. Hanya terasa asin sedikit gurih, dengan aroma bawang merah dan putih, serta rempah pala yang samar.

Disajikan hangat dengan isian pindang telur separoh potong, suwiran ayam, hati ayam rebus yang dipotong-potong, dan kulit sosis solo. Iya, kulit sosis solo yang dipotong-potong. Isian Timlo ini bisa dipilih sesuai permintaan. Mau yang lengkap, atau hanya isian tertentu saja.

Untungnya ada sambal kecap di sini sehingga saya bisa menambahkannya untuk menyeimbangkan taste asin dari kuahnya.

Sebelumnya saya bilang, ini bukan makanan favorit saya. Tapi saat menulis ini, saya kangen makan seporsi Timlo hangat di warung Timlo Sastro. Kok bisa begitu ya? 😀

Seporsi Timlo lengkap dihargai 20 ribuan, dan 4 ribu untuk 1 porsi nasi putih. | kuliner khas solo

[[[ baca juga : Ayo Ke Semarang dan Nyobain Soto Khas Semarang ]]]

Selat Solo Mbak Lies

Perjalanan kuliner di Solo masih berlanjut. Perut sepertinya masih cukup kuat untuk menikmati seporsi selat solo yang konon kabarnya sudah melegenda di seantero Surakarta. Selat Solo Mbak Lies menjadi tujuan berikutnya. Dalam perjalanan menuju ke sana, supir ojeknya sempat cerita kalau ada 1 lagi rumah makan yang menjual selat solo yaitu Selat Solo Vien’s. Tapi pilihan saya tetap ke Mbak Lies karena penasaran dengan reputasinya. Vien’s bisa dicoba lain waktu lah ya kalau ada kesempatan main lagi ke sana.

Warung yang berada di Jalan Veteran Gang 2 Solo ini mengingatkan saya pada Restoran Lunpia Mbak Lien yang ada di Jalan Pemuda Semarang. Masuk ke dalam gang dan berada di sekitar lingkungan perumahan. Jangan membayangkan restoran tepi jalan yang fancy karena Selat Solo Mbak Lies justru menawarkan suasana resto yang rumahan banget.

Saya agak kaget begitu masuk ke dalam restonya. “Penuh yaaaa” begitu kata saya dalam hati. Penuh karena di sana kamu akan menemukan buaaaanyak sekali hiasan-hiasan dari keramik.

Setelah memilih tempat duduk di area dalam, saya pun memesan seporsi Selat Lidah seperti yang direkomendasikan oleh pelayan. Sepiring Selat Lidah disajikan dengan sayur-sayuran, kentang goreng, irisan mentimun, dan disiram dalam kuah cokelat dengan citarasa semur yang manis. Seporsi Selat Lidah yang lembut ini dihargai 20 ribu rupiah. | kuliner khas solo

Sate Kere Yu Rebi

Warung Sate Kere Yu Rebi adalah warung keempat yang saya kunjungi hari itu. Sebenarnya alasan saya datang ke warung ini lebih ke pengin tahu reputasi makanan yang banyak direkomendasikan di daftar-daftar kuliner Solo. Terletak di belakang Gedung Pertunjukan Sriwedari Solo, Sate Kere Yu Rebi ada di posisi paling ujung dari deretan bangunan lapak pedagang di sana.

Sate Kere adalah sebutan lain dari sate tempe gembus, yang dibacem dan dibakar. Tempe gembus adalah makanan yang terbuat dari ampas tempe. Ada yang bilang tempe gembus juga sebagai daging KW.

Selain Sate Kere, Yu Rebi menyediakan menu sate daging sapi, jeroan, sate tempe. 1 porsi sate lengkap campur dihargai 36 ribu, sementara yang khusus daging dihargai 40 ribu. Disajikan dengan sambal kacang yang masih agak kasar teksturnya, sate kere bisa dinikmati dengan nasi atau lontong. Sambal kacang di sini punya bumbu yang cukup kuat. Yang kerasa dilidah adalah daun jeruk purut dan jahe.

Oh iya, di warung ini saya sudah mulai agak kenyang. Hahahaha. Untuk menghabiskan 12 tusuk sate campur tanpa lontong atau nasi rasanya sudah setengah mati. Tapi alhamdulillah, habis juga. | kuliner khas solo

Nasi Liwet Bu Wongso Lemu

Destinasi kelima yang saya kunjungi setelah maghrib adalah Nasi Liwet Bu wongso Lemu yang ada di sekitar area Keprabon Solo. Pertimbangan kenapa ini jadi yang paling akhir dikunjungi karena kebetulan bukanya juga sore hari.

Kalau di Semarang ada juga nasi ayam. Bentuknya hampir sama dengan nasi Liwet, tapi citarasanya lebih manis. Malam itu saya pilih Nasi Liwet ayam suwir dengan telor separuh. Pertimbangan saya kenapa enggak milih ayam utuh karena sudah agak mblenger dengan daging-dagingan. Sedari siang sudah kemasukan daging kambing dan sapi. Jadi milih yang lebih ringan saja lah.

Citarasa nasi liwet ini lebih kea sin gurih sih menurutku. Dan yang beda dengan nasi ayam adalah “aren”, yaitu santan kental yang berbentuk seperti gumpalan-gumpalan, menyerupai putih telur. |kuliner khas solo.

Nasi Liwet Wongso Lemu dijual mulai 18 ribu rupiah per porsi. Ada daftar harga yang tercantum di sana, jadi silakan pilih sebelum mulai memesan.

Kelima warung tadi adalah tempat-tempat utama yang saya kunjungi. Sebenarnya masih ada 2 lagi makanan yang saya beli hari itu yaitu Dawet Telasih Pak John di sekitaran Benteng Vastenburg, dan Nasi Ayam Keprabon, nasi ayam geprek yang ada di sebelah Bu wongso Lemu.

Perjalanan Yang Mengesankan

Selesai dari warung terakhir, saya kembali menuju stasiun Solo Balapan untuk pulang dengan Joglosemarkerto. Sungguh, buat saya ini adalah jalan-jalan yang menyenangkan. Mungkin terkesan buru-buru karena mengejar waktu, tapi buat saya tetap berkesan. Kapan-kapan saya akan jalan ke Solo lagi, tapi mungkin dengan durasi yang lebih lama.

Radio announcer. Average in everything.

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: