Foods Lifestyle

The Story of Gelato : Gelato Matteo

Ketika saya mengunjungi Gelato Matteo beberapa hari yang lalu, sang pemilik, Mr Matteo Bulgarini d’Elci sendiri lah yang menyambut saya dengan ramah. Beliau tersenyum dan menjabat tangan saya lalu mempersilakan saya memilih tempat duduk untuk ngobrol.

Ya, siang itu saya bertemu dengan Mr Matteo setelah sebelumnya mengatur janji temu dengan sang asisten, Mbak Cindy. Lewat dialah saya bisa mendapat kesempatan untuk ngobrol sedikit tentang salah satu gerai Gelato yang cukup terkenal di Semarang.

Gelato Matteo mungkin bisa dibilang jadi salah satu gerai gelato yang pertama berdiri di Semarang, ketika bisnis gelato belum seramai sekarang. Dibuka pada November 2016, Gelato Matteo hampir melewati 2 tahun masa kritis bisnis kuliner di kota Semarang yang terkenal punya pasar yang cukup keras.

Orang bilang, kalau sebuah usaha makanan bisa melewati 2 tahun pertama di Semarang dan tidak menutup bisnisnya, usaha itu punya masa depan yang cukup cerah di tahun-tahun berikutnya. Hahaha. Entah ini bermula dari pendapat siapa, tapi begitulah adanya. Banyak usaha-usaha baru yang dengan gegap gempita bermunculan di kota ini, tapi kemudian melempem pada akhirnya. Hanya sedikit dari mereka yang bisa bertahan lama.

Gelato Matteo hampir melewati masa 2 tahun itu. Dan dari pengamatan saya, bisnis yang dijalankan oleh Mr Matteo dan istrinya ini masih cukup kuat bertahan di tengah gempuran bisnis serupa di kota yang terkenal dengan semboyan kota ATLAS ini.

Kisah tentang Gelato Matteo

Saat saya bertanya apa yang membuat Mr Matteo tertarik membuka bisnis es krim di kota Semarang, beliau memulainya dengan sebuah kelakar tentang istrinya. Awal mula bagaimana dia membuka bisnis ini, semua adalah salah istrinya karena dialah yang membuat Mr Matteo mau memulai bisnis gelato di Semarang.

Tentu saja itu hanya sebuah guyonan semata karena selanjutnya beliau bercerita panjang lebar tentang sejarah berdirinya Gelato Matteo.

Awalnya Mr Matteo bergelut di bisnis jual beli furnitur. Dia mengambil barang-barang kerajinan mebel dari Indonesia lalu menjualnya ke Perancis dan Italia. Sampai dia bertemu wanita yang kelak menjadi istrinya. Kebetulan sang istri juga menjalankan bisnis di bidang yang sama.

Lama berkecimpung di bisnis expor-impor mebel, sang istri lalu punya ide untuk membuka bisnis lain di Semarang. Tapi saat itu mereka berdua masih belum tahu bisnis apa yang akan dimulai. Istri Mr Matteo kemudian melempar ide “kenapa kamu tidak jualan gelato saja? Bukannya orang Italia pintar membuat gelato?”

Ide ini tidak serta merta disetujui oleh Mr Matteo karena meskipun sebagai orang Italia dia sangat akrab dengan gelato, tapi membuat dan menjadikannya sebagai bisnis belum pernah dicobanya. Namun karena melihat ini adalah ide yang cukup bagus, Mr Matteo pun rela mengambil sesi kursus membuat gelato dan belajar tentang bagaimana memulai bisnis penjualan es krim di negara asalnya, Italia.

Sejak saat itulah Gelato Matteo akhirnya menjadi sebuah bisnis baru bagi pasangan suami istri ini.

Kenapa Semarang? Tentu saja yang pertama karena mereka berdua berdomisili di kota ini. Kedua, mereka melihat bahwa pemain di jenis makanan penutup ini masih belum terlalu ramai pada waktu itu. Potensi pasarnya masih sangat terbuka lebar. Orang-orang sangat menyukai es krim, sementara gelato mungkin masih jadi hal yang cukup baru di kota ini.

Gelato adalah kita

Gelato Matteo membuka gerai pertamanya di sebuah bangunan yang menurut saya tidak terlalu besar, di salah satu sisi Jalan Mataram Semarang. Meskipun kecil menurut ukuran saya, tapi memang begitulah konsep sebenarnya yang diinginkan oleh Mr Matteo.

Beliau bercerita bahwa di Italia, Gelato adalah bagian dari budaya mereka. Gelato identik dengan summer. Orang-orang menikmatinya sebagai bagian dari perayaan musim panas. Sembari menjilati lapis demi lapis gelato yang ada di contong yang mereka pegang, atau menyendok gelato dalam paper cup, orang Italia akan tenggelam dalam obrolan intim tentang apa saja. Sambil duduk-duduk di depan gerai gelato yang berjejer, mereka akan membicarakan banyak hal secara akrab.

Itulah kenapa Mr Matteo seperti menemukan sebuah tempat yang cukup sempurna untuk membawa sedikit nuansa Italia asli ke dalam Gelato Matteo. Kedai yang tak terlalu besar dengan ornament-ornamen berbau Italia, dan beberapa kursi di dalamnya menjadikan Gelato Matteo menjadi tempat yang cukup nyaman untuk nongkrong dan bercengekarama.

Sebenarnya, konsep ini pun sudah merupakan penyesuaian yang dilakukan oleh Mr Matteo. Lebih lanjut dia bercerita bahwa sejatinya orang Italia sangat senang menikmati Gelato sambil berjalan-jalan. Karena selain tentang musim panas, gelato juga bagian dari kegiatan rekreasi. Namun begitu tampaknya orang Indonesia, khususnya Semarang, tidak terlalu suka berjalan-jalan sambil menikmati es krim. Mereka lebih senang duduk dan ngobrol berlama-lama. Buat Mr Matteo hal ini tidak menjadi masalah besar. Yang penting kehadiran gelato di tengah-tengah kita bisa menciptakan suasana intim.

Ya, dari yang saya lihat, memang ada suasana akrab yang sengaja diciptakan oleh Mr matteo. Jarak antara satu kursi yang satu dengan yang lain tidak terlalu jauh sehingga sekelompok orang bisa dengan nyaman berkumpul dan bercerita tentang banyak hal sambil menikmati es krim. Dan buat saya, penataan yang seperti ini bisa melatih kita juga untuk tidak terlalu kepo dengan urusan orang lain di samping kita. Hehehehe.

Baca juga : Beda Es Krim dan Gelato

Bisnis gelato yang semakin menjamur

Saya mencoba menyinggung mengenai keberadaan gerai gelato yang makin banyak bermunculan, dan jawaban Mr Matteo cukup bijak. Dirinya menyebut tidak terlalu kawatir dengan itu karena masing-masing dari mereka memiliki konsep yang berbeda. Dan berangkat dari adanya “persaingan” ini Gelato Matteo selalu ingin menyajikan yang terbaik dari produk buatan mereka. Penggunaan bahan-bahan lokal dan import terbaik ditujukan untuk menghasilkan gelato yang otentik dan berkualitas baik pula. Meskipun pada akhirnya akan berpengaruh ke harga jual produknya.

Diakui Mr Matteo bahwa harga di Gelato Matteo mungkin sedikit berbeda dibanding dengan yang lain, tapi itu semua karena kualitas bahan yang mereka gunakan adalah yang terbaik. Susu dan krim segar, serta bahan-bahan lain memang dipastikan berkualitas demi menjaga kepuasan pelanggan. Meski begitu, harga gelato di Gelato Matteo masih cukup reasonable dan affordable tentunya. Karena buat Matteo, selain musim panas dan keakraban, gelato adalah manifestasi dari demokrasi. Gelato itu demokratis, dimana semua orang berhak merasakan gelato berkualitas dengan harga terbaik, begitu jelasnya.

Dan saya pikir orang-orang yang datang ke sana pun tidak merasa keberatan dengan ini. Karena pada akhirnya kualitas lah yang bicara. Hal itu tampak dari ramainya gerai Gelato Matteo saat saya berkunjung untuk bertemu dengan Mr Matteo siang itu.

Bicara tentang rasa…

Mr Matteo sempat berhenti sejenak dari obrolannya dengan saya dan menawarkan apakah saya ingin mencicipi beberapa rasa dari Gelato yang ada di sana. Saya menolak karena selama 2 hari berturut-turut saya sudah berkunjung ke sana dan membeli gelato dengan rasa yang berbeda-beda.

Saya sempat mengajukan sedikit protes, kenapa pistachio tidak tersedia di hari kedua saat saya datang? Mr Matteo menjawab, Pistachio memang menjadi bahan dasar gelato yang tidak bisa selalu tersedia karena harganya yang cukup mahal. Sehingga demi alasan ekonomis, rasa yang satu ini memang sengaja dihadirkan secara berkala.

Bicara soal rasa, sejauh ini Gelato Matteo sudah membuat kurang lebih 24 rasa, yang mana akan selalu berganti setiap bulannya. Ada beberapa rasa yang saya bilang cukup umum seperti cokelat, stroberi, caramel, oreo, nutela dan semacamnya. Tapi tentu saja ada beberapa rasa yang memang hadir di saat-saat tertentu saja, seperti pistachio itu tadi.

Apakah ada varian rasa yang ingin dibuat oleh Mr Matteo? Beliau menjelaskan bahwa dirinya ingin mencoba untuk membuat gelato dengan rasa yang identik dengan beberapa makanan tradisional Indonesia, seperti bumbu gado-gado misalnya. Buat Mr Matteo, ekplorasi rasa seperti itu cukup menantang karena tentu saja tidak mudah menciptakan gelato dengan flavor yang bisa jadi sudah akrab di lidah orang Indonesia. Tapi sejauh ini, varian rasa gelato di Gelato Matteo masih cukup standar dan familiar.

Oh iya, sekedar mengingatkan saja bahwa sebagai konsumen kita tidak perlu malu untuk bertanya varian rasa apa saja yang menggunakan alkohol sebagai salah satu bahannya karena ini terkait dengan urusan boleh tidaknya seseorang untuk menikmati makanan atau minuman yang berbahan dasar tersebut. Soal halal dan haram adalah sesuatu yang sangat prinsipil saya rasa. Jadi bolehlah sedikit bertanya. 😊

Ekspansi bisnis

Ketika obrolan saya dan Mr Matteo terjadi siang itu, beliau sedang mempersiapkan pembukaan gerai kedua di Kawasan Kota Lama Semarang. Proses renovasi bangunannya sedang berlangsung dan direncanakan buka pada bulan September ini.

Dipilihnya Kota lama sebagai tempat kedua lebih dikarenakan tempat ini sangat dekat dengan kegiatan turis. Banyak orang berjalan-jalan di tempat ini dan bisa jadi Gelato Matteo melihat ini sebagai sebuah peluang untuk membawa kembali gelato menuju “khittah”nya yaitu sebagai teman jalan-jalan. Tapi walaupun begitu kamu nggak perlu kawatir karena Gelato Matteo masih akan menyediakan kursi-kursi untuk kamu dan temenmu duduk sambil ngobrol di ruangan berAC, alih-alih berpanas-panasan di luar sambil menenteng secontong es krim. Hehehe.

Dan dengan dibukanya gerai kedua ini menunjukan geliat bisnis Gelato dari Gelato Matteo masih cukup terasa. Pasangan Matteo optimistis bahwa pasar gelato masih cukup luas untuk digarap. Kita lihat saja nanti.

Obrolan singkat antara saya dan Mr Matteo pun berakhir dan sebelum kami berpisah, Mr Matteo kembali menanyakan apakah saya ingin mencicipi gelato? Saya terpaksa bilang tidak. Rasanya ingin bilang “Mister, tampaknya saya sudah cukup mabok gelato 2 hari ini, jadi terima kasih banyak!”

Dan kami pun berpisah siang itu. But guess what, di hari yang sama dalam jam yang berbeda, saya mengunjungi gerai itu kembali untuk bertemu dengan seorang teman karena ada keperluan. Tampaknya hang over saya sama gelato sudah hilang dalam waktu singkat. Hahahaha.

Ya, tidak ada yang bisa menolak seporsi es krim yang enak.

Kalau kamu berencana datang ke Gelato Matteo, silakan catat alamat ini :

Gelato Matteo : Jalan Mataram no. 914 Semarang. 
Buka mulai jam 10 pagi sampai 10 malam (khusus hari sabtu tutup jam 11). 
Harga gelato mulai 25 ribu rupiah. 
Menerima uang tunai dan kartu debit bank tertentu (tanyakan pada kasir)

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: