Personal

Tergoda Bujuk Rayu Iklan

Jadi ceritanya, saya itu sudah tertarik dengan produk ini

Picture 013

Sudah lama muka ini nggak dapet perawatan intensiv dari produk manapun. Hanya sekedar sabun muka anti jerawat. Udah nggak pernah ribet pake krim ini dan itu. Tapi melihat produk yang satu ini rasanya susah untuk memalingkan mata dari display. Bukan masalah terjual tiap 2 detiknya sih, tapi klaim kalo produk ini bebas zat-zat tambahannya itu lho yang bikin saya jadi pengen make.

Pertama kali ngelihat sih nggak langsung pengen beli. Tapi abis itu ada teman cerita kalo dia pake juga, cuma yang variannya beda. Nha..kenapa saya memutuskan untuk membeli? sebenarnya bukan karena cerita teman saya itu juga, tapi karena sore hari nya saya baca-baca majalah dan ada iklan produk ini. Saya baca dengan saksama dan ingatan yang saya pendam soal produk ini pun langsung muncul ke permukaan. Whoala! dan akhirnya saya memutuskan untuk membeli. Nggak tanggung-tanggung, satu rangkaian sekaligus.

Jangan kaget..murah kok. Nggak semahal yang dibayangkan orang.

Saya jadi mikir-mikir…kok bisa ya? cuma dengan ngelihat sehalaman advertorial lalu memori saya pun dibangkitkan lagi. Memang, kalau pengen sesuatu itu sebaiknya nggak usah ditancepin ke otak dalem-dalem, begitu ketemu pemicunya, udah deh…bubar semua kas bulanan.

Nggak perlu heran juga. Jaman sekarang cara orang beriklan macem-macem bentuknya. Dan produsen berusaha untuk mengembangkan trik yang paling efektif untuk membuat orang beramai-ramai membeli produknya. Bahkan sampai ada disiplin ilmu nya segala lho? Neuro marketing. Ilmu ini mempelajari tentang respon otak manusia terhadap iklan yang dilihatnya. Walau belum ada buktinya tapi ternyata produsen sendiri punya 2 cara utama untuk membujuk dan merayu calon konsumennya.

menurut artikel yang saya baca dari Wolipop.com, ada 2 cara produsen dalam memengaruhi persepsi calon konsumen pada produk tertentu.

Yang pertama adalah dengan persuasi logis. Seringnya produsen menggunakan tabel-tabel data, atau gambar-gambar yang menunjukkan angka-angka, tentang cara pemakaian, hasil dari menggunakan produk itu, dan semua hal yang bisa kita temukan dari suatu produk.

Dan yang kedua adalah teknik pengaruh non rasional. Biasanya dengan menampilkan sesuatu yang “menggoda” dan biasanya justru sama sekali tidak berhubungan dengan produk yang dimaksud. Seringnya sih kita temui di iklan-iklan rokok.

kalau saya sendiri sih termasuk konsumen yang sering tergoda dengan metode yang pertama. Dalam membeli produk, biasanya saya tidak terlalu emosional. Suka mikir-mikir dan membandingkan satu produk dengan produk sejenis lainnya. Biasanya sih suka menjatuhkan pilihan pada produk yang berani memberikan klaim dan fakta-fakta logis, yang bahkan mungkin masih diragukan keabsahannya.

Misalnya : laptop no. 1 pilihan konsumen selama 3 tahun berturut-turut, Krim dengan penjualan terlaris, 9 dari 10 konsumen puas…nha, yang begitu  itu yang biasanya sering membuat saya akhirnya membeli.

Hanya saja, selama masih belum bisa hidup sederhana dan bersahaja *tsah*, godaan untuk belanja berdasarkan iklan memang tidak bisa dihindari. Sejauh apapun saya melarikan diri dari rayuan, tetap saja susah.  Sepandai apapun manuver saya untuk bilang “TIDAK” pada godaan belanja, tetap saja berujung pada langkah kaki menuju konter, dan diikuti dengan rupiah-rupiah yang berpindah tangan.

Rasanya sih sedih kalau masih jadi konsumen yang kadang-kadang masih impulsif. Membeli hanya karena pengen aja, bukan butuh. Tapi memang tidak bisa dipungkiri kalau gempuran iklan datang dari mana-mana.

Jadi jangan bilang kalo jaman sekarang iklan sudah nggak efektif menjaring konsumen ya. Lha saya? bukti hidupnya.

😀

Radio announcer. Average in everything.

One Comment

  • Nugros C

    kalo saya malah yg termasuk ga terpengaruh sama 2 metode diatas (walau lebih condong ke metode pertama )

    saya lebih percaya rekomendasi temen, atau kalo nggak mampir ke forum2 online, liat kesan orang2 ke produk tersebut, meskipun endingnya….setelah saya beli, ga cocok juga TT

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: