Maerakaca dan Kenangan Masa Kecil

Di medio 90-an, ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, keluargaku dan tetangga-tetangga dari desa Purwosari Comal berwisata ke Semarang. Ke tempat baru yang saat itu sedang happening. Ketika itu belum ada Instagram dan media sosial lainnya sehingga nama tempat wisata ini dikenal dari mulut ke mulut. Oh iya, wisata ini menjadi kegiatan rutin selama beberapa tahun kala itu dan dilaksanakan beberapa hari setelah lebaran.

Teknisnya, orang-orang yang mau ikut wisata dikoordinir dan membayar sejumlah uang untuk menyewa bis yang kebetulan supirnya adalah mendiang ayah. Biasanya sih rutenya nggak jauh-jauh. Paling banter juga ke kota Tegal. Nah, perjalanan ke Semarang pada waktu itu adalah yang terjauh yang pernah dilakukan oleh rombongan darmawisata kampungku.

Maerakaca

Puri Maerakaca Semarang

Read More

Ada Apa Di Kota Lama Semarang?

“Ke Kota Lama yuk!”

“Mo Ngapain?”

“Ya jalan-jalan lah…”

“Ih, jalan-jalan kok ke Kota Lama. Sepi!”

Wah, kurang update kayaknya. Kota Lama Semarang saat ini bukan lagi kawasan yang membosankan dan kumuh. In fact beberapa tahun belakangan kawasan ini semakin “menor” karena dipercantik di sana-sini. Tidak hanya melulu berisi bangunan-bangunan tua yang tampak membosankan bagi sebagian orang, tapi area ini mulai berkembang menjadi salah satu tujuan wisata sejarah yang nggak cuma itu-itu aja.

Pemerintah Kota Semarang sendiri punya niatan untuk melakukan restorasi terhadap beberapa bangunan tua di wilayah ini. Perda no 14 no 2011 menjadi salah satu payung hukum yang digunakan untuk memperlancar proses ini. Restorasi dan renovasi ini ditujukan untuk mempercantik sekaligus menggiatkan kembali kegiatan niaga di sekitar wilayah tersebut. Jadi kawasan ini berpotensi menjadi pusat wisata dan niaga yang diharapkan menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara.

Etapi tenang, restorasi dan renovasi ini nggak akan meubah total atau menghilangkan elemen penting dari bangunan yang bersangkutan atau wajah Kota Lama secara keseluruhan kok. Jadi Kota Lama akan dijaga orisinalitasnya tapi dengan sentuhan yang lebih moderen.

Ada Apa Di Kota Lama Semarang?

Read More

Nostalgia Di Toko Oen Semarang

Kota Semarang – sama seperti kota bersejarah lainnya di Indonesia, menyimpan banyak spot nostalgic yang layak dikunjungi. Sekedar ingin melihat-lihat, belajar tentang sejarah, atau hanya sekedar merasakan nuansa nostalgia penuh kenangan lama dari masa lalu. Tempat-tempat ini tidak melulu hanya berhubungan dengan kejadian luar biasa yang pernah menjadi bagian dari masa lalu kota Semarang seperti di wilayah Kota Lama misalnya, atau Tugu Muda dan Lawang Sewu-nya yang begitu ternama, tapi Semarang juga menyimpan sesuatu yang bernilai di beberapa aspek, salah satunya adalah tentang kuliner.

Toko Oen SemarangToko Oen adalah salah satu dari beberapa hal yang istimewa dari Kota Semarang. Rasanya agak susah untuk memisahkan Toko Oen dengan Semarang karena tempat makan yang satu ini bisa dibilang sudah menjadi sesuatu yang iconic. Meskipun awalnya tidak didirikan di Semarang, tetapi untuk warga lokal Semarang dan pendatang, menjadikan Toko Oen sebagai salah satu tempat jajan yang wajib dikunjungi. Read More

Es Puter Cong Lik Semarang

Jika Anda berkunjung ke kota Semarang cobalah mampir ke area Simpang Lima, tepatnya ke Jalan KH Ahmad Dahlan karena disana ada sebuah warung tenda es puter yang terkenal bernama ES Puter Cong Lik. Sesuai dengan namanya warung ini khusus menjual sajian es puter buatan rumah. Dan hebatnya lagi bisnis ini sudah berjalan turun temurun selama kurang lebih 33 tahun.

20150520_192149
Pak Slamet

Menurut penuturan dari Pak Slamet, generasi kedua sekaligus pemilik gerai es Cong Lik yang ada di Jalan KH Ahmad Dahlan, Es Cong Lik berawal dari ayahnya yang sudah berdagang es puter keliling sejak tahun 1982. Kala itu Es Cong Lik masih belum mangkal seperti sekarang. Dan Pak Slamet sering ikut membantu ayahnya mulai dari membuat sampai memasarkan sendiri es puter tersebut.

Es Puter Cong Lik

Nama Cong Lik sendiri berasal dari kata Kacung Cilik. Menurut cerita Pak Slamet, dulu ada seorang tionghoa tetangga dari keluarga mereka yang senang menyuruh anak-anak kecil untuk berbaris dan berlomba lari. Anak-anak ini disebut Kacung Cilik karena gerakan mereka yang gesit. Dan sebutan inilah yang kemudian menginspirasi Ayah dari Pak Slamet untuk memberinama jualannya dengan Cong Lik.

Es Puter Cong Lik
Dari kiri ke kanan : Durian, Leci, Kepala Muda, Cokelat

Istimewanya adalah Es Puter Cong Lik ini dibuat dengan cara manual sampai dengan sekarang. Keluarga Pak Slamet masih membuat sendiri es puternya tanpa bantuan mesin otomatis. Ada banyak varian rasa yang disuguhkan. Pak Slamet mengklaim bahwa beliau tidak menggunakan bahan tambahan berupa pemanis buatan. Hanya gula pasir berkualitas tinggi dan tidak menggunakan perasa tambahan. Semua rasa yang diproduksi oleh Cong Lik adalah rasa asli dari sari buah. Walaupun mereka membuat banyak varian, tapi terkadang ada rasa tertentu yang hanya muncul secara musiman. Itulah kenapa kadang-kadang ada rasa es yang tidak bisa dijual karena buah yang dimaksud tidak sedang musim.

Ketika saya mengunjungi gerai ini semalam, ada 4 varian rasa yang tersedia yaitu Durian, Kelapa Muda, Leci, dan Cokelat. Harga masing-masing varian berbeda. Untuk 1 scoop es puter rasa apa saja kecuali durian dijual dengan harga 13 ribu. Sedangkan untuk durian sendiri dijual seharga 20 ribu. Tapi Anda yang suka durian mungkin akan cukup puas dengan varian rasa ini karena es puter rasa durian disuguhkan dengan buah durian asli.

Es Puter Cong Lik
Durian Leci

Foto di atas adalah es puter varian rasa durian dan kelapa muda yang disajikan dengan serutan kelapa muda dan buah durian.

Es Puter Cong Lik
Durian Leci

Yang ini adalah varian rasa durian leci dengan buah durian asli dan potongan buah leci di dalamnya.

Es Puter Cong Lik
Kelapa Muda Cokelat

Dan varian di atas adalah Es Puter kelapa Muda Cokelat. Dengan taburan meises cokelat dan serutan kelapa muda.

Tekstur es puter yang berbahan dasar air tentu saja berbeda dengan es krim yang lebih ke bahan dasar susu dan telur. Mirip dengan es serut, tapi tentu saja lebih halus. Dan seperti kata Pak Slamet bahwa tidak ada pemanis buatan yang digunakan, ketika saya menikmati suapan demi suapan es puter campur durian dan kelapa muda, tidak ada jejak pahit di lidah dan tenggorokan, seperti yang biasa dirasakan apabila makanan atau minuman tersebut menggunakan siklamat. Dan menurut saya, es puter ini tidak bikin haus karena taste nya yang tidak terlalu manis. Cocok untuk lidah saya.

Jika Anda mencari makanan berat disini Anda tidak akan menemukannya karena Gerai Es Cong Lik hanyak menyediakan camilan-camilan ringan seperti kacang, emping, dan lumpia dengan kisaran harga antara 2-7 ribu rupiah.

Gerai Es Puter Conglik ini adalah gerai kedua setelah yang ada di daerah Pecinan, tepatnya di Pasar Semawis. Untuk Anda yang ingin mampir ke Es Puter Cong Lik yang ada di KH Ahmad Dahlan, Anda bisa mencari tempat parkir di sekitar situ. Ada banyak tempat parkir yang disediakan, baik yang di ada di tepi jalan atau beberapa kantong parkir yang bisa dimanfaatkan. Kemudian bisa jalan kaki ke warung tenda Es Cong Lik yang tepatnya ada di depan Simpang Lima residence.

E Plaza One Stop Entertainment

Bagi warga Semarang dan sekitarnya Simpang 5 menjadi salah satu spot ternama yang dijadikan tujuan utama untuk berwisata. Meskipun sekarang bukan jenis tujuan wisata yang cocok untuk piknik dan duduk bersama keluarga menikmati hidangan khas rumah di atas selembar tikar (seperti jaman ketika saya kecil dulu), tetapi kawasan Simpang 5 tetap menjadi tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi sembari “menikmati” keramaian kota. Salah satu yang jadi favorit adalah E Plaza One Stop Entertainment.

E Plaza adalah sebuah tempat yang menawarkan paket lengkap untuk para pencari hiburan yang ingin melepas penat sepulang kerja, atau hanya sekedar nongkrong bersama teman dan keluarga. Dulu mungkin banyak yang lebih mengenal tempat ini sebagai Gajahmada Plaza karena disana ada bioskop Gajahmada. Nah, sekarang sudah berubah nama menjadi E Plaza. Read More

Mengobati Rindu Di Kedai India Semarang

Sepulang dari tamasya ke Negeri Singa..bertahun-tahun yang lalu, saya jatuh cinta dengan makanan India. Kenapa bisa begitu? Ceritanya begini…

Waktu itu sudah diwanti-wanti “Jangan lupa bawa mie instant, kalau-kalau bingung nyari makanan di Singapura. Ati-ati babi…”. Saya pikir mana mungkin sih ga ada makanan halal disana? Masa iya susah nyarinya? Tapi ternyata memang susah (buat saya) waktu itu. Kesana-kesini nemunya “Pork Lard”. Masih mending dikasih tanda, yang mencurigakan malah banyak.

Ditanya “pork? pork?” dianya malah bingung antara jawab “iyes” apa “no” secara dia pengen dagangannya laku mungkin. Waktu muter-muter nyari makan, ketemunya masakan Padang. Yasalam, masa iya jauh-jauh kesana ketemunya rendang lagi? Suka sih, tapi tetangga kosan juga buka rumah makan Padang. *LOL* Read More

Copyright Nuno Orange 2017
Tech Nerd theme designed by Siteturner