The Other Side of the Door [Movie Review 2016]

Saya penyuka film horor, meskipun hanya pada jenis-jenis tertentu. Kalau horror supranatural saya suka. Agak slasher dikit masih bisa nonton. Tapi kalo sudah gore dan agak kejem gitu suka enggak kuat. 😀 Nah, kebetulan film yang akan saya review sedikit kali ini adalah film horror supranatural, yang mungkin saja sudah turun dari layar bioskop, tapi bisa jadi referensi kalau kelak kamu pengen pinjem VCD atau DVDnya. Judulnya adalah The Other Side of the Door.

The Other Side of the Door
www.wikipedia.com

Plot The Other Side Of The Door

Read More

Mengobati Rindu Di Kedai India Semarang

Sepulang dari tamasya ke Negeri Singa..bertahun-tahun yang lalu, saya jatuh cinta dengan makanan India. Kenapa bisa begitu? Ceritanya begini…

Waktu itu sudah diwanti-wanti “Jangan lupa bawa mie instant, kalau-kalau bingung nyari makanan di Singapura. Ati-ati babi…”. Saya pikir mana mungkin sih ga ada makanan halal disana? Masa iya susah nyarinya? Tapi ternyata memang susah (buat saya) waktu itu. Kesana-kesini nemunya “Pork Lard”. Masih mending dikasih tanda, yang mencurigakan malah banyak.

Ditanya “pork? pork?” dianya malah bingung antara jawab “iyes” apa “no” secara dia pengen dagangannya laku mungkin. Waktu muter-muter nyari makan, ketemunya masakan Padang. Yasalam, masa iya jauh-jauh kesana ketemunya rendang lagi? Suka sih, tapi tetangga kosan juga buka rumah makan Padang. *LOL* Read More

The Purge : Anarchy [Movie Review]

Butuh nyali bagi saya untuk menonton film ini. Yaaaa, walaupun suka dengan film horor dan agak “jrot-jrot”, tapi kalo yang model The Purge ini emang rada bikin deg-degan. Kalo nonton trailernya sih film ini penuh kekerasan. Filmnya emang begitu. Tapi dipikir-pikir, ini bukan film bertema kekerasan yang saya tonton deh, dan ternyata plotnya juga nggak terlalu enak buat diikuti.

The_Purge_–_Anarchy_PosterThe Purge : Anarchy adalah sequel dari film berjudul The Purge yang rilis tahun lalu. Merupakan film kedua dari beberapa seri The Purge yang sudah direncanakan. Berlatar belakang Amerika di bawah pemerintahan baru yang menyebut diri mereka New Founding Father Of America berusaha menekan angka kejahatan dengan melakukan pembersihan terutama untuk mereka yang termasuk dalam kategori warga miskin. Premisnya sih, kalau semua orang sejahtera, maka kejahatan bisa ditekan. Read More

Pacific RIM [movie]

Pacific_Rim_FilmPoster

Saya nggak tahu apa yang ada di kepala Guilermo Del Toro. Sejak Hell Boy dan Pan’s Labyrinth saya selalu penasaran dengan karya-karyanya. Bahkan ketika dia hanya bertindak sebagai produser, saya selalu penasaran. Sutradara yang senang bermain dengan fantasi tentang peri dan makhluk-makhluk supranatural ini memang punya “sesuatu” yang menarik. Di beberapa film yang saya tonton, kebetulan bergenre horor atau thiller suspense macam Don’t Be Afraid Of The Dark, Mama, sampai yang terakhir Julia’s Eyes, Del Toro memberikan gambarannya tentang “kehidupan lain” selain kehidupan yang kita kenal. Karena konon kabarnya del Toro adalah orang yang percaya dengan hal-hal seperti ini. Dan kebanyakan dari kita juga kan? Hanya saja Del Toro punya kemampuan untuk mengangkatnya ke dunia visual, dan membuat kita jadi lebih percaya bahwa makhluk-makhluk itu ada. Read More

Review Film The Help

Masih inget sama film ini kan? Saya pernah posting kalo saya pengen nonton, tapi berhubung distributor film Indonesia tidak melihat The Help sebagai film yang cukup komersil untuk bisa mendatangkan penonton dan mendatangkan untung, akhirnya berlalu begitu saja tanpa sempat nongol di bioskop, terutama di Semarang.

Nggak nyalahin sih…dizaman susah begini, dibutuhkan dari sekedar review dan pujian-pujian kritikus untuk bisa membawa penonton berbondong-bondong datang ke bioskop dan membeli tiket. Apalagi The Help ini mungkin termasuk film Drama yang dinilai cukup membosankan bagi banyak orang. Nggak nyalahin lagi nih, penonton bioskop indonesia sekarang – kalau menurut penilaian pribadi – lebih menginginkan film yang kolosal, heboh, penuh dengan adegan action, atau kalo yang romantis, sekalian model Twilight. Itupun karena ketolong euforia dari mulut  ke mulut. Semakin trendi, semakin bikin orang penasaran. Padahal makin kesini, makin membosankan. Saya saja, yang menonton 2 instalment sebelumnya, sama sekali tidak tertarik melihat kisah Bella dan Edward. Saya tahu filmnya akan lebih membosankan dibanding yang sudah-sudah…

Sebenarnya saya malu mengakui kalau saya menonton film ini lewat DVD bajakan. Tapi percayalah, saya rela membeli orisinilnya kok kalau desember nanti rilis. Menurut info sih begitu… 🙂 Ini lebih karena penasaran dan nggak sabar aja sih, akhirnya saya melanggar ucapan saya tempo hari kalau saya akan  berhenti membeli DVD bajakan karena kalau dipikir-pikir, barang yang satu ini jatuhnya nggak collectible. Menurut pengalaman, ternyata data yang ada di DVD bajakan akan hilang pelan-pelan dalam jangka waktu tertentu. Alih-alih ingin mengoleksi, membeli DVD bajakan justru tindakan yang buang-buang duit. Mending beli yang orisinil, bisa lebih tahan lama.

Kecuali kalo kepepet…hihihihi. *ngeles*

Yang ini juga bikin saya mepet. The Help adalah film yang diangkat dari novel karya Kathryn Stocket yang dicetak pada tahun 2009. Ceritanya sendiri berlatar belakang era segregasi antara kulit putih dan hitam di Jackson Missisipi disekitar tahun 60-an. Settingnya sih mengambil waktu deket-deket perjuangan Hak Asasi oleh Martin Luther King Jr, jadi pembauran antara kulit putih dan hitam sudah hampir terjadi, meskipun disana-sini masih ada tindakan-tindakan diskriminasi.

The Help adalah sebutan bagi para “maid” atau Pekerja Rumah Tangga. Waktu itu banyak wanita kulit hitam bekerja sebagai pembantu di rumah orang-orang kulit putih. Ini adalah pekerjaan yang bisa dibilang hanya satu-satunya pilihan, dan menjadi profesi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Para PRT ini termasuk juga Aibileen Clark dan juga Minny Jackson yang bekerja di keluarga kulit putih yang berbeda. Aibileen mengasuh anak perempuan dari keluarga Leefolt dan Minny bekerja pada Hilly Holbrook, perempuan muda yang tidak pernah menyukai kulit hitam dan hanya memandang mereka sebagai budak.

Hilly Holbrook termasuk keluarga terpandang disana, jadi apapun yang menjadi keinginannya adalah sebuah titah yang tidak bisa ditolak oleh banyak orang, termasuk keluarganya sendiri. Hilly punya sebuah ide untuk semakin menjauhkan warga kulit hitam dari kesetaraan. Para pembantu tidak boleh melanggar banyak aturan termasuk menggunakan toilet keluarga karena dikhawatirkan menularkan penyakit tertentu. Hilly pun membuat sebuah petisi  yang salah satu isinya adalah bahwa PRT harus menggunakan toilet yang terpisah dengan toilet keluarga.

Adalah Eugene Phelan atau yang biasa dipanggil Skeeter, teman Hilly Holbrook yang tidak melihat ini sebagai sesuatu yang positif. Dia melihat ada banyak tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Skeeter yang seorang jurnalis mulai mengumpulkan banyak cerita dari Aibileen dan Minny tentang bagaimana kehidupan mereka sebagai seorang The Help. Tujuannya adalah supaya orang melihat sisi lain dari hidup pembantu rumah tangga sekaligus menunjukkan sikap salah dari banyak keluarga kulit putih terhadap warga kulit hitam.

Awalnya Aibileen dan Minny tidak setuju dengan ide ini mengingat ada banyak kejadian buruk karena isyu persamaan hak ini. Tapi kemudian mereka berdua berani untuk mengungkap kebenaran dan banyak skandal yang terjadi, meski dengan satu syarat, bahwa ini akan menjadi sebuah cerita fiksi demi alasan keamanan. Bahkan kemudian tidak hanya mereka, tapi banyak dari Pembantu Rumah Tangga yang berani untuk buka mulut dan mengungkap cerita mereka masing-masing.

Cerita-cerita sedih dan lucu pun terkumpul, termasuk cerita masa kecil Skeeter bersama dengan “maid” tercinta keluarga mereka Constantine yang juga mengalami diskriminasi. Dan akhirnya, Skeeter mengirimkan kumpulan kisah ini ke penerbit dan buku berjudul The Help pun dirilis, termasuk di Jackson. Dan terungkaplah skandal warga kulit putih, termasuk skandal Hilly Holbrook. Apakah itu?

you better watch this movie by your self…

The Help mungkin akan masuk ke dalam ajang Oscar tahun depan. Selain karena sukses secara komersil, dimana bujet 26 juta dollar berbuah 196 juta lebih, secara cerita dan kualitas akting dari pemerannya pun tidak perlu diragukan. Emma Stone, tetep kelihatan tengil dan lucu disini, meski saya cuma suka scene terakhirnya pas lagi bertengkar dengan ibunya. Yang jadi spotlight adalah Viola Davis dan Octavia Spencer yang chemistrynya pas banget. Sahabat yang punya kisah sedih yang sama dan saling menjaga, betul-betul kerasa banget. Dan, oh i love Minny…she’s a real BIG MOMMA!

Dan saya juga suka dengan karakter Hilly Holbrook, seharusnya dia juga dapet kredit tersendiri. Bryce Dallas Howard mampu memerankan Hilly Holbrook yang meski wajahnya sendu merayu tapi dia mampu menampilkan sosok Hilly yang kejam sekaligus rapuh dengan cukup baik.

Saya yakin The Help akan berjaya di Oscar tahun depan. Setidaknya ada 1 yang bisa dibawa pulang. Kalau nggak supporting actress, ya best movie lah ya? secara tahun ini kayaknya nggak banyak ya film-film yang bertema drama yang cukup menarik dan sukses secara komersil dan kritik juga. Mungkin Moneyball atau Tree Of Life bakal jadi saingan. Tapi kans The Help saya rasa lebih besar. Kita lihat saja nanti.

Copyright Nuno Orange 2017
Tech Nerd theme designed by Siteturner