Kangen Sama Kerjaan Lama

Baru aja 3 minggu udah ngeluh kangen aja! Huuuuu!

Tapi bener deh saya kangen banget sama suasana studio. ;(

cant-keep-calm-i-miss-my-best-friends

Jadi seperti yang udah saya ceritain kalo sekarang saya sedang menjalani training sebagai salah satu anggota tim marketing. Awalnya karena saya penasaran dengan kerjaan marketing di radio tempat saya bekerja. Lalu saya mencoba membuka kesempatan untuk diri saya mencoba hal baru, dan kebetulan juga direspon sama divisi penjualan. Dan sekarang saya mulai belajar bagaimana bikin penawaran, belajar buat besar hati kalau tawaran enggak direspon alias ditolak, sampai urusan ngitung-ngitung diskon buat calon pemasang iklan.

Apakah saya menyukai pekerjaan ini?

Read More

Apakah Setiap Orang Bisa Jadi Penyiar?

BISAAAA! PAKE BANGET!

~ nggak santay ~

itu kalo dilihat dari kacamata saya yang jadi Announcer By Accident, bukan karena emang  niat daftar dan percaya diri kalo saya bisa siaran.

Sekedar flashback (lagi) sejarah terjun ke dunia radio. Awalnya dari denger radio. Emang pengen sih siaran, kayaknya seru. Tapi karena tahu kalo suara saya kecil dan lembut (tsah!) saya sadar diri. Cukup jadi pendengar dan telepon minta lagu. Itu saja sudah seneng banget. Eh, suatu saat setelah lulus SMA, malah ditawarin kerja di radio karena ada salah seorang penyiar handal mereka mau keluar. Dan disinilah saya sekarang. Read More

Siaran Itu Nggak Gampang Lho

Kalo Anda bilang siaran itu gampang, selamat Anda adalah teman Nenek saya. 😀

Seberapa sering profesi penyiar ini disepelekan oleh orang lain. Pernah ketemu sama orang yang berkomentar “Jadi penyiar tuh enak ya? Tinggal duduk, muter lagu, ketemu artis, ngomong seenaknya, dibayar pula!” nggak? Kalo pernah, gimana rasanya waktu itu?

Kalau saya senyum sih iya, tapi lantas jadi mikir. Emang seenak itu ya?

Untuk Anda yang belum tahu, mari, saya tunjukkan bagaimana kami para “Koki” bekerja di dapur demi sebuah masakan yang belum tentu Anda bilang enak.

Sebelum penyiar “tinggal duduk” seperti yang orang itu bilang, dan “tinggal ngomong seenaknya”, ada beberapa proses yang harus kami lakukan. Read More

Apakah Suara Penyiar Harus Bagus?

Sebelumnya mau minta maaf dulu sama senior-senior dan praktisi yang sudah lebih lama malang melintang di dunia radio. Tulisan ini bukan karena mau sok-sok-an ngasih tahu dan berlagak jadi yang paling ahli. Nope! Sama sekali tidak. Tapi lebih ditujukan sebagai dokumentasi pribadi dan jadi sesuatu yang ingin saya share kepada pengunjung blog ini. Terus terang, ilmu dan teknik saya masih sangatlah terbatas, jadi mungkin ada yang berpikir “siapa kamu kok berani-beraninya berbagi hal-hal seperti ini?”- semoga saja tidak ada ya? Kalaupun ada ya tolong biarkan saja. Ibarat kata saya ini mungkin seperti seorang penyanyi yang baru kemarin muncul di atas panggung, dan tiba-tiba merilis album The Best Of…meskipun ada embel-embel So Far. 

Tulisan #SoalRadio ini sama sekali bukan tentang hal-hal berbau teknis dan penuh resep tentang bagaimana caranya supaya jadi penyiar yang sukses. Karena itu bukan jatah saya untuk menjelaskan. Silakan bertanya pada Om Farhan atau Tante Indie Barends, karena beliau-beliau adalah gambaran nyata bahwa berawal dari siaran di radio, penghasilan untuk hidup, bisa lebih dari cukup. Sekali lagi tulisan #SoalRadio ini semata-mata adalah hasil pengamatan dan pemikiran pribadi saya, yang tentu saja berdasarkan pengalaman selama menjadi penyiar radio. Read More

Bagaimana Siaran Yang Baik Dan Benar?

Sebelumnya mau minta maaf dulu sama senior-senior dan praktisi yang sudah lebih lama malang melintang di dunia radio. Tulisan ini bukan karena mau sok-sok-an ngasih tahu dan berlagak jadi yang paling ahli. Nope! Sama sekali tidak. Tapi lebih ditujukan sebagai dokumentasi pribadi dan jadi sesuatu yang ingin saya share kepada pengunjung blog ini. Terus terang, ilmu dan teknik saya masih sangatlah terbatas, jadi mungkin ada yang berpikir “siapa kamu kok berani-beraninya berbagi hal-hal seperti ini?”- semoga saja tidak ada ya? Kalaupun ada ya tolong biarkan saja. Ibarat kata saya ini mungkin seperti seorang penyanyi yang baru kemarin muncul di atas panggung, dan tiba-tiba merilis album The Best Of…meskipun ada embel-embel So Far. 

Tulisan #SoalRadio ini sama sekali bukan tentang hal-hal berbau teknis dan penuh resep tentang bagaimana caranya supaya jadi penyiar yang sukses. Karena itu bukan jatah saya untuk menjelaskan. Silakan bertanya pada Om Farhan atau Tante Indie Barends, karena beliau-beliau adalah gambaran nyata bahwa berawal dari siaran di radio, penghasilan untuk hidup, bisa lebih dari cukup. Sekali lagi tulisan #SoalRadio ini semata-mata adalah hasil pengamatan dan pemikiran pribadi saya, yang tentu saja berdasarkan pengalaman selama menjadi penyiar radio.

Seperti layaknya Wikipedia, tulisan ini boleh Anda setujui atau tidak. Bisa disanggah dan terbuka untuk disunting kembali. 

Dan tentu saja sampai sekarang pun saya masih harus terus belajar. Tapi, boleh kan untuk berbagi? 😀

….

Baiklah…mari kita mulai. Read More

Berapa Gaji Seorang Penyiar Radio

Tulisan ini aku buat karena blog ini ditemukan dengan kata kunci gaji seorang penyiar radio. Oh well, ternyata banyak juga yang kepo dan pengin tahu berapa gaji seorang penyiar radio tiap bulannya ya? Baiklah. Untuk alasan itulah aku tergelitik buat nulisin pengalamanku di sini.

Tapi sebelum aku nulis panjang lebar, aku kasih disclaimer dulu ya? Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadiku selama 14 tahun berada di belakang corong siaran. Semua ukuran rupiah yang mungkin muncul adalah angka yang sebenarnya. Tapi masing-masing orang bisa jadi menerima jumlah yang berbeda tergantung dari kebijakan radio tempatnya bekerja.

Baiklah, mari kita mulai ceritanya.

Kalau kamu kepo pengen tahu berapa besaran duit yang diterima seorang penyiar radio tiap bulannya, mungkin kamu nggak akan nemuin angka yang pasti. Karena beda perusahaan, beda kebijakan. Mereka pasti punya hitung-hitungannya sendiri lah. Nilainya pasti relatif.

Based on my experience as a newbie di dunia radio, bulan-bulan pertama aku kerja di sebuah radio di Pekalongan adalah 75 ribu sebulan. Nggak percaya? Itu sekitar tahun 2002, paska krisis moneter. 75 ribu sebulan dihitung sebagai fee trainee yang berangkat jam 8 pagi pulang jam 5 sore. Waktu itu masih bikin demo siaran, belum boleh naik mic. Kurang lebih 3 bulan kemudian aku dinyatakan siap buat cuap-cuap. Itupun masih masuk dalam kategori siaran percobaan selama 3 bulan. Bayangin, 3 bulan bikin demo siaran dan 3 bulan kemudian masih berstatus sebagai penyiar training. Cuma memang, ada perubahan dari segi jumlah fee. Dari yang semula 75 ribu sebulan jadi 125 ribu sebulan.

Lumayan

Waktu dapet kenaikan gaji, aku seneng banget. Serius! aku sampai buka amplopnya di WC kantor lho! Terharunya luar biasa! Saat Itu, jumlah segitu adalah uang dengan nilai paling besar yang pernah ku terima dari hasil keringat sendiri. Walaupun pada akhirnya, jumlah segitu emang terasa masih kurang untuk jatah hidup sebulan. Bayangin aja, selama sebulan bahkan termasuk hari Minggu, aku harus bolak-balik dari rumah ke studio dengan kendaraan umum yang ngabisin sekitar 5000 rupiah per hari. Belum lagi selama jadi penyiar training, aku kudu ngikutin jadwal yang kadang bikin aku harus siaran pagi-pagi sekali dan mau nggak mau harus tidur di studio. Otomatis, keluar uang buat makan dong ya?

Jadi 125 ribu tentu aja bukan jumlah yang ideal untuk hidup saat itu. Nggak jarang harus “ngebon” sama Mamah Dedeh 25 ribu sebulan dan bakal dibayar pada gajian berikutnya. Jadi sama juga bohong sebenarnya. Gali lubang tutup lubang. Hahaha.

Keadaan itu berlangsung cukup lama sampai kemudian ada perubahan penghitungan gaji berdasarkan hasil kerja dan tunjangan jabatan. Akhirnya, gaji naik sampai 350 ribu rupiah per bulan dan jumlah segitu bertahan selama kurang lebih 3 tahun. Apakah cukup? Sepanjang yang aku tahu, nggak juga. Karena seiring dengan kenaikan gaji, ada banyak kenaikan dalam hal kebutuhan. Transport yang tadinya 5000 cukup, saat itu udah nggak lagi. Karena kenaikan tarif angkot dan lain sebagainya. Yaaaa, makin naik gaji, makin naik juga kebutuhan (kalo nggak pengen dibilang keinginan yang naik).

Lalu aku pindah kerja…

Tahun 2005 aku pindah ke radio lain setelah cuti siaran selama setahun. Dari Pekalongan ke Semarang, tentu saja ada harapan akan perbaikan keuangan. Alhamdulillah iya, tapi prosesnya nggak sim salabim. Walaupun sudah punya pengalaman selama 3 tahun di radio, tapi tidak membuat posisiku jadi istimewa. Aku tetap harus ikut training di radio yang baru. 3 bulan training dengan gaji 125 ribu. Bayangin, 125 ribu tahun 2008, yang mana nilai itu sudah jauh dari nilai uang yang diterima tahun 2002. Untungnya saat itu kebutuhan tempat tinggal sudah ditanggung sama salah satu tante disini. Cuma butuh buat naik angkot aja dari rumah ke studio. Selama beberapa bulan fee 125 ribu itu bertahan. Sampai akhirnya aku ditawarin buat jadi operator telepon di radio yang sama. Jadi, sambil siaran, aku juga harus terima telepon tiap kali ada yang request atau minta informasi.

Karena ngedobel kerjaan, otomatis gaji juga berubah. Dari yang tadinya cuma fee siaran, sekarang ketambahan fee jaga telepon. Jumlahnya lumayan, bikin aku berasa jadi orang kaya sedunia. Sekitar 750 ribu aku terima waktu itu. Selama hampir kurang lebih setahun, posisiku naik jadi Music Director. Gaji juga naik dong ya? Dan selama 3 tahun lamanya aku juga ketambahan tanggung jawab sebagai Koordinator Siaran.

Jumlah gajiku sekarang? Alhamdulillah udah jutaan.

Cukup? Enggak juga! Hahaha!

Beginilah kalangan menengah ke bawah. Tiap naik gaji, bertambah pula keinginan ini dan itu sampai jumlah seberapa pun tak pernah cukup. Tapi aku nggak ngomongin soal itu disini. Aku cuma pengin kasih tahu gambaran berapa sih gaji seorang penyiar radio.

Masing-masing perusahaan berbeda. Penghitungannya juga beda. Tiap daerah juga punya aturan UMK sendiri-sendiri. Dan ada perusahaan yang menerapkan peraturan ini, tapi ada juga yang tidak. Bukan karena gak taat peraturan, tapi emang penghitungan gaji penyiar berbeda dengan jenis pekerjaan full time lainnya.

Kita, sebagai penyiar, biasanya cuma dibayar berdasarkan kehadiran. Jadi fee yang kita terima berdasar dari berapa banyak jam yang sudah kita habiskan untuk siaran.

Berapa Gaji Seorang Penyiar Radio

Berapa jam siaran kita dalam sebulan?

Masing-masing berbeda itungannya untuk tiap-tiap tingkatan. Biasanya newbie dinilai dengan fee per jam yang rendah. Bukan rendah yang rendah gimana-mana, tapi ya itu adalah start up fee untuk penyiar pemula. Begitu juga dengan yang intermediate atau advance.

Bisa juga besaran gaji diukur berdasarkan berapa lama bekerja di radio tersebut. Tentu saja masa kerja juga memengaruhi.

Jadi jangan harap : GAJIMU GEDE TAPI MALES SIARAN!

Kecuali kamu adalah seorang penyiar yang jam siarannya sedikit tapi ngemsi-nya kenceng di luaran.

Dari hasil ngobrol dengan kolega yang kerja di radio lain di Jogja, perusahaan tempatnya bekerja juga punya sistem penghitungan gaji sendiri. Disana, penyiar diukur berdasarkan prestasi. Kalau dianggap bagus dan berkembang, dia akan naik tingkat, yang mana gaji juga akan dinaikkan. Tapi ada kemungkinan juga turun karena kondite yang jelek. Siaran telat mulu, operate siaran nggak pernah beres, dan kesalahan-kesalahan lain yang berefek pada kualitas siaran radio yang bersangkutan. Kalau sudah turun grade, gaji juga menyesuaikan. Rugi kan?

Jadi begitu, yang harus diluruskan soal gaji penyiar. Karena masih banyak yang berharap kalo penyiar itu gajinya tetap per bulan.

Haloooooooo….enak bener????

KITA BUKAN PNS, SAUDARA-SAUDARA!

Itulah kenapa kalau sudah kerja di radio, paling tidak diharapkan kita bisa kerja sambilan yang lain, yang tentu aja nggak mengganggu jam siaran kita. Karena bagaimanapun siaran butuh tanggung jawab yang besar dan komitmen, sama seperti kerjaan yang lain. Bolehlah kerja di luaran buat nambah uang gaji. Atau kalo misal ngerasa nggak bisa kerja di luar, boleh kok “jual diri” lewat ngemsi. Biasanya penyiar cari sabetan dari sini, dan jumlahnya sendiri bisa lebih gede daripada gaji yang didapat dari cuma sekedar siaran.

So, kalau masih ada yang penasaran “di radio itu gajinya berapa ya?”, percayalah, itu cuma sekedar sawang sinawang. Rumput tetangga emang lebih hijau dari pada rumput di rumah sendiri. Ya kadang emang beneran lebih hijau sih, sampai-sampai kita ingin merumput disana. Tapi sekali lagi, tiap-tiap perusahaan punya itungannya sendiri-sendiri.

Intinya : menggaji penyiar selalu punya metode yang sama : PER JAM SIARAN. plus uang transport. Lebih beruntung kalo ditambah uang makan.

Lebih dari sekedar nilai uang

Sesungguhnya ada banyak hal yang bisa didapat dari kerja sebagai seorang penyiar. Aku udah berkali-kali nulis soal ini. Tapi nggak ada salahnya sedikit mengulangi lagi inti dari tulisannya. Bahwa ilmu di radio itu bisa berguna saat kamu akan bekerja di tempat lain. Semua pengetahuan tentang public speaking itu bisa sangat berguna.

Walau aku masih bertahan disini-sini saja, tapi aku udah melihat banyak perubahan dari teman-teman yang sekarang sudah bekerja di tempat lain. Label “pernah jadi penyiar” ngasih mereka banyak keuntungan. Jadi MC di acara perusahaan, yang akhirnya dikenal oleh pihak-pihak berwenang di perusahaan itu dan diberi kepercayaan untuk memegang jabatan tertentu. Atau setidaknya, jadi seleb di perusahaan. Keren kan?

Pokoknya seru.

Kalau misal mau jadi penyiar, silakan saja. Tapi kalo belum apa-apa udah jiper duluan karena jumlah gaji yang tidak sesuai dengan mimpi Anda, aih, rugi sekali.

Kalau tertarik, hajar aja. Setahun dua tahun belajar soal dunia kepenyiaran, yang mana disitu juga ada ilmu tentang public speaking dan pengembangan kepribadian. GRATIS. Belum lagi nyempil ngembangin jejaring sosial, siapa tahu….ya kan?

Semoga tulisan ini bisa membantu memberikan pandangan yang lebih cerah untuk kamu yang kepo pengen tahu berapa sih gaji penyiar radio. Daripada menduga-duga kan?

Copyright Nuno Orange 2017
Tech Nerd theme designed by Siteturner