Melarikan Diri Sejenak Ke Petungkriyono

“Akhirnya!”, itulah yang terlintas dalam pikiran saya ketika Mbak Noorma dan Mbak Innayah mengajak saya untuk bergabung di sebuah trip ke Petungkriyono. Uhm, sebenarnya saya sih yang kegatelan pengen ikut, bukannya didatengin terus diajak. Hehehe. Bukan apa-apa, mengetahui kalo Blogger Pekalongan akan mengadakan trip ke Petungkriyono melalui twitter, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak nyamber. Dan begitulah awal mula kisahnya.

Nama petungkriyono bukan nama yang asing bagi saya. Inilah alasan kenapa saya ingin sekali bergabung dengan trip tersebut. Karena selama ini saya hanya bisa mendengar keindahan Petungkriyono hanya melalui cerita dari teman2 yang sudah pernah ke sana.

Saya pernah beberapa kali mengajukan rencana kepada salah seorang teman yang berdomisili di kota Batang. Saya bilang kalo saya pengen sekali ke Petungkriyono. Tapi si teman ini agak sedikit keberatan. Kenapa? Karena menurut dia Petungkriyono itu jauuuh sekali. Jalur menuju ke area tersebut pun kurang menyenangkan, begitu katanya. Saya hanya bisa membayangkan, seperti apa sih sebenarnya Petungkriyono ini? Read More

Menikmati Nasi Megono Khas Pekalongan

Tadinya saya mengira dan hampir ikutan mengklaim kalau nasi megono ini asalnya benar dari Pekalongan. Tapi dari banyak info yang saya baca, makanan khas ini ternyata berasal dari Purworejo. Entah mana yang benar. Tapi sejarah – dan para bloggers mencatat bahwa Nasi Megono memang erat kaitannya dengan Purworejo saat masa penjajahan.

Disebutkan bahwa Nasi Megono berawal dari para gerilyawan dimasa perjuangan. Menurut blogger yang satu ini, Nasi megono pertama kali populer saat para pejuang menikmati makanan ini secara beramai-ramai. Masih menurut blogger yang sama, Megono ini berarti Mego ing Gegono. Awan putih diantara langit yang kelabu. Kurang lebih begitu. Melihat bagaimana penampakan Nasi Megono saat ini, bisa jadi filosofi itu memang benar. Tapi entahlah.

Saya sendiri punya bayangan bahwa Megono berasal dari kata Mergo Ono, yang artinya Karena Ada. Mergo ono ne kuwi, yo dipangan sak onone. Karena adanya itu ya dimakan saja seadanya. Hahaha.  Karena nasi megono sendiri sebenarnya cukup sederhana. Kalau khasnya Pekalongan dan sekitarnya, Nasi Megono cuma berisi nasi dan cacahan nangka muda atau orang jawa bilang “gori” yang diolah dengan parutan kelapa dan campuran bumbu. Bumbu yang biasanya dipakai adalah bawang merah, bawang putih, cabe, terasi, serai, garam dan gula. Kadang kalau suka bisa ditambahkan kecur dan irisan lengkuas untuk aroma yang lebih sedap.

ps : Itu gambar saya ambil dari koleksi pribadi yang pernah saya posting di salah satu blog lama saya lho,bukan ngambil milik orang 🙂 hehehe. Read More

Mudik Nyaman Dengan Kereta Api

Sejak ada pembangunan jalan layang di sekitaran Kali Banteng, yang kelak ditujukan untuk mengurai kemacetan di daerah sekitar sana, dan terbit aturan (yang masih kerap dilanggar – salah satunya ya juga dari oknum petugas sendiri) yang melarang truk besar dan bis AKAP masuk kota dan melewati daerah Kali Banteng, maka sejak saat itu pula saya malas menggunakan moda transportasi bis.

Ditambah lagi dengan pindahnya pool Nusantara dan PO Coyo dengan armadanya yang kadang bagus kadang kurang, maka saya berpindah kelain moda. Sudah hampir sejak lebaran kemarin saya sudah tidak lagi menggunakan bis. Saya lebih memilih kereta api saat pulang ke pekalongan. Read More

Copyright Nuno Orange 2017
Tech Nerd theme designed by Siteturner