Apakah Setiap Orang Bisa Jadi Penyiar?

BISAAAA! PAKE BANGET!

~ nggak santay ~

itu kalo dilihat dari kacamata saya yang jadi Announcer By Accident, bukan karena emang  niat daftar dan percaya diri kalo saya bisa siaran.

Sekedar flashback (lagi) sejarah terjun ke dunia radio. Awalnya dari denger radio. Emang pengen sih siaran, kayaknya seru. Tapi karena tahu kalo suara saya kecil dan lembut (tsah!) saya sadar diri. Cukup jadi pendengar dan telepon minta lagu. Itu saja sudah seneng banget. Eh, suatu saat setelah lulus SMA, malah ditawarin kerja di radio karena ada salah seorang penyiar handal mereka mau keluar. Dan disinilah saya sekarang. Read More

Profesi Sebagai Seorang Penyiar Radio

Kesannya jumawa banget ya? 😀 Enggak lah..saya enggak jumawa. Tapi bangga. Bangga dalam artian bangga yang senang dan bahagia, tidak sombong dan rajin menabung.

Saya jadi kepikiran buat nulis hal yang satu ini secara nih ya di radio tempat saya bekerja sekarang, sedang ada training untuk calon penyiar baru. Asal tahu saja, di tempat ini, proses training berjalan cukup lama. Dari mulai perekrutan sampai bikin demo siaran (kami menyebutnya dummy siaran) saja berlangsung hampir 2 bulan. Dan dari beberapa trainee, sudah mulai ada yang mengeluh “kenapa prosesnya lama sekali, dan kita ini jadi dipekerjakan nggak ya?”

Dari sudut pandang saya, keluhan dari orang-orang seperti ini terlihat sebagai sesuatu yang mewakili ketidakpunyaan mereka terhadap hasrat untuk menjadi seorang penyiar. hehehe..Menghakimi banget kesannya. Tapi memang begitu adanya.

Ya wajar sih, apalagi kalau selama jadi trainee mereka juga nyambi nyari kerja ditempat lain.

….

Jadi seorang penyiar, tidak cukup hanya bermodalkan minat. kepengen jadi penyiar karena kesannya keren, banyak temennya, banyak fansnya, dikenal banyak orang sampai berasa jadi seleb lokal. Buat saya itu tidak cukup. Walaupun, saya akui, hampir 10 tahun yang lalu saya juga punya pikiran semacam itu.

Jadi penyiar itu….menurut saya, harus punya passion. Betul-betul cinta, dengan dunia radio atau TV. Sama seperti pekerja media lainnya. Mereka mengambil pekerjaan itu bukan karena nggak bisa kerja di bidang lain, atau karena gara-gara  nggak ada kerjaan, tapi karena mereka memang senang dengan bidang tersebut.

Saya sudah jadi penyiar hampir 10 tahun. Masih belum apa-apa. Pengalaman juga masih belum terlalu banyak. Tapi saya cukup tahu bahwa bahkan sampai sekarang pun profesi ini masih dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Sebelum terjun ke dunia kepenyiaran radio, saya ini seneng denger siaran radio. Dulu saya sampai punya 2 radio. Saya masih ingat sempet juga rebutan radio sama tante saya. Kalau malam, dia udah tidur saya masuk diem-diem ke kamarnya dan ngambil tuh radio butut, dan mendengarkannya sendiri sampai saya sendiri pun tidur.

SMP sampai SMA, saya sudah mulai telpon-telpon ke radio. Jaman dulu belum ada SMS. Ada pun pager. Itu juga masih jadi barang mahal dan radio nggak pake pager buat request. Kalau bukan kita datang dan ngisi kartu request – yang kadang juga dijual, ya satu-satunya cara untuk bisa berinteraksi ya lewat telpon. saya pake telpon umum koin di dekat rumah.

Awalnya cuma iseng ikut kuis. begitu dapet sekali, ketagihan ikutan lagi. Kuisnya bisa macem-macem. Kadang cuma iseng jawab pertanyaan aja, tapi bisa juga yang adu bakat macam menyanyi karaoke via telpon. Nah, kalo yang terakhir ini saya sering menang. hehehehe.

Jaman dulu hadiahnya tiket nonton bioskop gratis di Atrium 21 kalau enggak di Gajahmada Theater Pekalongan. Seneng banget rasanya. Oh ya, ada juga kaset tape sebagai hadiah. Saya inget banget bisa ngumpulin ampe lebih dari 20 kaset..dan beberapa diantaranya sama. Lha iya, wong menang mulu, hadiahnya juga masih artis yang itu-itu aja, ya koleksi saya akhirnya numpuk 😀

Mulai SMA kuis sudah bukan lagi jadi minat saya untuk telpon ke radio. Jaman-jaman itu, saya suka ikut ngobrol – pake bahasa inggris di salah satu program english on the air di sebuah radio. Weeiiizzz…rasanya seneng banget bisa sekalian praktek cas cis cus pake bahasa bule…walau cuma terbatas yes no yes no i love you – jaman dulu belum ada full di belakang kata i love you 😀

kalau pagi harinya ada temen yang “ngonangi” saya telpon ke radio itu, wah, saya pasti seneng banget! Bangga! disatu sisi mereka jadi tahu kalo ternyata saya bisa juga ngobrol pake bahasa selain bahasa ibu. Dan disisi lain, saya senang, akhirnya mereka mengenal saya lewat radio. Banyak lho, temen-temen satu sekolahan yang diam-diam nyari info tentang siapa saya..hahahahaha…(ini saya tahu dari temen saya yang bilang katanya ada yang nanyain ‘siapa sih dia? kok banyak diomongin orang?”)

Yaaa..gitu deh, sampai suatu ketika – ini saat saya sudah lulus sekolah, radio yang  jadi langganan saya waktu itu menawari saya untuk jadi salah satu penyiar disana. Dari pendengar jadi penyiar. Awalnya saya ragu, apa saya bisa atau tidak. Jaman dulu pun saya sudah sadar, bahwa tertarik saja tidak cukup. Saya harus betul-betul tahu apakah saya betul-betul mampu dan bisa mencintai pekerjaan ini atau tidak. Dan akhirnya saya mencobanya. Nyatanya, saya bisa bertahan sampai sekian lama.

Butuh waktu untuk benar-benar tahu bahwa saya memang menyukai dan mencintai pekerjaan ini. 3 tahun saya diradio itu dan memutuskan keluar untuk mencoba lahan pekerjaan baru. Ternyata, ada sesuatu yang mungkin tidak bisa saya lakukan, karena masih terus kangen dengan pekerjaan awal saya. Dan setelah bekerja disana-sini, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi penyiar saja.

Jujur saja, yang pertama, karena saya tidak punya kemampuan dibidang lain. Dan kedua, dibidang yang saya kerjakan itu tidak timbul passion yang sama seperti ketika saya bekerja di radio.

Dan setelah berhenti selama setahun, saya kembali lagi ke media.

Penyiar dari dulu hingga sekarang – masih dianggap remeh oleh sebagian orang. Saya masih ingat dulu ketika almarhum Ayah bertanya “mau hidup dari gaji seorang penyiar? mana bisa? mau jadi apa nanti?”

Dan yang seperti itu kadang juga diikuti dengan sikap meremehkan. Memang sih, waktu 3 tahun bekerja, ibarat kata saya cuma kerja nggak dapet materi apa-apa. Duit gaji cuma bisa tahan sampai 20 hari. 10 hari sisanya saya harus kas bon koperasi kantor. Bukan apa-apa, tapi karena memang mepet  banget. Dan yang seperti itu sih tidak terjadi tiap bulan. tergantung pengaturan keuangan saya juga sih.

Tapi belakangan, beliau mengakui bahwa saya memang “hanya” punya bakat dibidang ini. Suara saya memang tidak bagus-bagus amat, tapi beliau bilang, pribadi saya cocok dibidang ini. Saya orang bebas, dan radio memberikan tempat untuk saya menyalurkan hasrat “bebas” saya. hehehe..dalam artian, ketika jadi seorang penyiar, saya bisa menjadi siapa saja…dan berkreasi apa saja.

Dan belakangan juga, meski tak lama, beliau bisa menikmati hasil saya bekerja di radio. Mungkin tidak banyak, tapi paling enggak, beliau tahu, bahwa jadi penyiar juga bisa memberikan sesuatu kok… 😀 (tergantung radionya juga dink.)

Ya, intinya, memang dibutuhkan dari sekedar senang saja untuk jadi seorang penyiar. Tapi betul betul harus punya modal – dalam hal ini suara, dan kecintaan terhadap dunia radio. Meski nggak sedikit yang jadi penyiar karena terpaksa – belum dapet kerja, atau nggak cocok ngerjain pekerjaan lain selain siaran (sama seperti saya heheheh)

Saya akui, radio memberikan saya banyak hal. BANYAK!

bukan materi saja, tapi non materi juga iya.

Dulu, saya ini orangnya pemalu. Sampai sekarang juga sih kadang masih suka nggak pedean. Tapi sejak jadi penyiar, kemaluan saya, eh…maksud saya, perasaan malu itu lama-lama bisa sedikit ditaklukkan. Kalau jadi penyiar, saya dituntut untuk ketemu dengan banyak orang. “Harus” ramah dengan pendengar, bisa haha hihi walau hati sedang merintih perih…bisa ngomong didepan banyak orang pas lagi ngemsi, dan hal-hal seperti itulah yang kemudian membuat saya jadi agak sedikit lebih “tinggi’ dibandingkan dulu. Dalam artian begini, saya sudah tidak banyak lagi malu menghadapi situasi. Jadi penyiar membuat saya belajar banyak jurus-jurus ngeles dalam menghadapi berbagai macam situasi.

Kalau suara saya – yang dulu dibilang ayah kecil dan mirip suara wanita…sekarang sudah tidak terlalu. Hehehehe…kadang masih lembut juga sih, tergantung pesanan. LHoh eh?!! maksud saya, saya bisa mengatur tone suara saya tergantung situasi, dan saya belajar ini dari hampir 10 tahun jadi penyiar.

See??!! saya banyak dapat hal disini. Saya jadi lebih bisa mengatur kata-kata dalam berbicara, saya juga punya beberapa jurus diplomasi yang membantu saya untuk jadi orang yang lebih persuasif dalam menghadapi orang lain, dan saya belajar gratis! tanpa harus menghadiri kelas-kelas pengembangan diri dan public speaking yang mahal itu.

Saya belajar dari universitas kehidupan…hahahaha.

Saya boleh bilang, gaji penyiar emang dikit, tapi sabetannya banyak, lhoh? eh…maksud saya, gaji penyiar emang dikit, tapi banyak hal lain yang nggak bisa diukur pake materi yang bisa saya dapat disini.

Banyak orang yang mengakui bahwa semenjak jadi penyiar, mereka mengalami perubahan positif dalam hal kemampuan sosial mereka. Dari yang tadinya pemalu sekarang suka malu-maluin..hehehe..nggak ya…? dari yang tadinya sedikit sekarang sudah mulai banyak temen. Kalau dulu susah berkenalan dan memulai pembicaraan sekarang sudah agak mendingan, jejaring sosial juga makin luas, dan masih banyak lagi kemajuan inter dan intra personal seseorang.

Saya juga…mengalami cukup banyak kemajuan dibanding dulu lah…Itulah kenapa saya tidak akan pernah menafikkan ini semua ketika kelak saya mewujudkan passion saya yang lain… 🙂

Makanya….nyari penyiar yang betul betul mau jadi penyiar sekarang itu susah…masih training aja udah ngeluh sana sini…itulah kenapa, selama hampir 10 tahun dibidang ini, saya paling males kalau suruh buka rekrutan baru…karena hampir pasti, ketemunya orang-orang yang tipenya ya begitu itu…

tapi puas rasanya kalo dapet newbie dan kelak bisa jadi seorang penyiar yang oke…berarti pilihan kita nggak salah….hahahaha…

tertarik jadi penyiar? nggak cukup….

cintai dulu radio…baru jadi penyiar….Nggak pernah denger radio terus mau jadi penyiar?

kelaut aja neng…

Copyright Nuno Orange 2017
Tech Nerd theme designed by Siteturner