Flash Fiction Day #9 : Menanti Lamaran

Sebagai wanita usia 30 tahunan Ria sudah layak untuk menjadi seorang istri. Tidak terlalu cantik, tapi juga nggak jelek-jelek banget. Kerjaan mapan sebagai salah satu staff di sebuah perusahaan ekspor impor bonafid di Semarang juga seharusnya menjadi modal untuk membuka hubungan dengan banyak pihak, termasuk pria-pria ideal yang potensial menjadi pendampingnya. Tapi entah apa yang salah.

Seharusnya tidak ada yang salah. Ria masih normal. Masih suka lelaki. Masih suka heboh jika melihat sosok pria tinggi, putih, rapi, berbadan bagus, sepi di atas tapi ramai di samping. Maksudnya : Botak dan Berewokan. Ah, imajinasi terliar Ria pasti bisa mengalahkan cerita stensilan tulisan Annie Arrow sekalipun.

Tapi yang seperti itu hanya khayalan. Kalau bukan sudah punya istri atau playboy, pria semacam itu pastilah gay. Nggak doyan perempuan.

Suram. Begitu status twitter Ria siang ini. Oh, BBM juga. Dan facebook. Karena semuanya harus terintegrasi. Satu status untuk semua. Dan kemudian banyak pesan bermunculan. Di BBM, reply di twitter, atau sekedar komentar menggoda di facebook.

“Apanya yang suram ceuk? Read More

Flash Fiction Day #8 : Untuk Kamu, Apa Sih Yang Nggak Boleh

Musim hujan tahun ini lebih buruk dibandingkan tahun lalu. Air tumpah menggila hampir tiap hari. Matahari seakan mengalah pada awan, seperti mau tak mau cuti dari tugasnya dan menyerah pada desakan mendung.

Maya membuka sedikit tirai jendela ruang tengah. Dia menengadah ke atas. Hari masihlah sore, tapi warna kelabu seakan membuat malam datang lebih cepat. Bahkan untuk May yang selalu berpikiran bahwa hujan adalah berkah, musim hujan kali ini menjadi sesuatu yang tidak ia harapkan datang sepanjang hari.

Maya melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul 6. Tapi Dion belum juga sampai rumah. Kabar terakhir yang dia dapat dari suaminya mengatakan bahwa daerah sekitar kantornya sudah mulai hujan dengan angin yang cukup kencang. Dia tertahan disana untuk beberapa saat. Mengumpulkan niat sampai kemudian nekat.

Dion hanya berpesan, ‘Sabar ya..?”

Maya mengiyakan. Meski dia tak tahu sampai kapan.

Sebenarnya jarak dari kantor ke rumah tidaklah jauh. Hanya kurang dari 1 jam perjalanan. Tapi Maya tahu, rute yang dilalui suaminya adalah langganan macet. Bahkan jika hari cerah sekalipun orang harus berjuang ekstra keras untuk urai dari simpul macet yang makin lama makin bikin gila.

Apalagi hujan seperti ini. Maya tidak berani membayangkan. Read More

Flash Fiction Day #7 : Cintaku Mentok Di Kamu

Jacklin menarik nafas panjang ketika ranjang dorong itu bergerak pelan membawa tubuhnya ke sebuah ruangan yang ada di ujung koridor lantai 3 ini.  Selasarnya penuh dengan pendar warna putih. Lampu neon bersinar dengan terang . Hanya satu yang tampak lebih redup dari lainnya.

Ada sedikit perasaan takut saat itu. Perasaan dan otaknya berperang dengan pertanyaan yang menuntut sebuah kebenaran. Untuk apa semua ini? Dan apakah ini layak?

Mata Jacklin tertutup sejenak. Bulir air mata menetes melalui ujung mata kanannya. Dan perasaannya semakin tak karuan.

“Nikahi aku mas,” ucap Jacklin lirih. Read More

Flash Fiction Day #5 : Sambungan Hati Jarak Jauh

Aku pikir kepulangan Pras dari Kalimantan akan membawa keceriaan untukku. Untuk hubungan kami lebih tepatnya. Sudah 3 bulan sejak terakhir kami bertemu. Ini adalah kepulangannya untuk yang kedua kali. Yang pertama adalah saat lebaran. Itu adalah pertemuan pertama setelah 3 bulan dia bekerja pertama kali untuk perusahaan tambang batu bara di Kalimantan. Saat itu terasa begitu indah. Bayangkan, kami tak pernah menjalani hubungan jarak jauh. Dan kemudian kami harus dihadapkan pada kenyataan seperti ini. Keputusan terberat yang harus diambil. Ini bukan pilihan. Ini adalah yang terbaik yang bisa kami lakukan.

Kami bertemu di sebuah acara kampus. Pras adalah seniorku. Dia sudah masuk semester akhir ketika aku baru saja mulai. Kami berada di universitas yang sama, tapi berbeda fakultas.

Dia yang paling tampan. Dia yang baik hati. Dia yang paling mengerti. Aku rasa dia adalah jodohku. Aku bisa membayangkan bahwa kami berdua akan berumah tangga dengan bahagia. Karena kami saling mencintai. Ya, kami saling mencintai. Itu yang kami tahu. Read More

Flash Fiction Day #4 : Cuti Sakit Hati

“Hai..ini aku. Aku pulang besok. Jemput di bandara ya? aku kangen, pengen ketemu kamu.”

“Kamu tetap cantik seperti terakhir kali aku melihatmu..” ucap Narendra.

“Uhm…kapan itu? 2 tahun lalu? saat kita putus?” Rossa tertawa kecil. “Apa kabar pelacur kecilmu?” tanyanya sambil memainkan tepian cangkir kopi dengan telunjuknya. Matanya menatap tajam ke arah Narendra.

Narendra salah tingkah.

“Apa maksudmu…?” ada tawa kikuk disana.

“Ayolah beib…apa dia masih jadi kekasihmu?”

“Ah, sudahlah…aku tak mau membahasnya…”

Rossa tergelak. Read More

Copyright Nuno Orange 2017
Tech Nerd theme designed by Siteturner