Setrika Black & Decker Beberapa Bulan Kemudian

Seneng banget sih pake judul itu? #TerusAkuMerongos Iya, aku emang paling nggak pinter bikin judul yang ekstravaganza dan berbunga-bunga. Judul gini aja mikirnya semalem suntuk. Ya habisnya ini tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman menggunakan barang setelah beberapa lama. Katanya kalo mau ngereviu paling enggak pake barangnya dulu dan nunggu sampe lawas baru nulis? Hehehe. Yak! Kalo kemarin aku udah nulis soal kamera Nikon Coolpix L840 (baca di sini), sekarang aku mau ngereviu setrika listrik kepunyaanku yang udah aku pake kurang lebih 3 atau 4 bulan belakangan. Mereknya adalah Black & Decker.

Black & Decker

 

Ini merek apaan sih? Kok kayaknya baru denger? Itulah yang pertama kali aku tanyakan ke diri sendiri begitu lihat setrikaan ini nampang di rak toko. E tapi jangan salah. Nama ini mungkin jarang kedengeran di Indonesia karena kita seringnya denger produsen yang cukup mainstream di sini seperti Phillips, National, atau yang lainnya. Padahal Black & Decker sendiri sudah lebih dari seabad berkecimpung di bidang alat pertukangan dan peralatan elektronik lainnya [katanya Wikipedia].

Setelah browsing soal Black & Decker aku akhirnya mantap milih setrikaan ini. Oh iya, waktu itu aku beli di Matahari Java Supermall dengan harga 125 ribu rupiah. Harga ini promo karena aslinya 2 kali lipatnya. Lumayan kan buat anak kos seperti aku bisa dapet barang murah? Hehehe.

Sebenernya aku males nyetrika. Tapi berhubung londri si Tante tutup untuk selamanya akhirnya mau nggak mau aku beli setrika sendiri. “Lha kenapa nggak pindah londri aja?” ~ uhm, enggak deh. Butuh waktu buat aku percaya sama londri lagi setelah kejadian ada “segitiga Bermuda” yang entah punya siapa nyangkut di tumpukan baju2 milikku. Sejak saat itu aku ogah ngelondri lagi. Baru2 kemarin aja nemuin londri yang ku percaya, eh tutup setelah jalan nggak ada setahun. Ya udah deh, balik nyuci nyetrika sendiri aja.

What I Like

Kembali ke Black & Decker, menurutku setrika ini punya desain yang simpel. Aku suka dengan warnanya yang kombinasi putih dan ungu lembut. Kelihatan nggak murahan meskipun memang harganya murah. Beratnya juga enteng banget, nggak seberat setrikaanku yang sebelumnya, jadi nggak terlalu bikin capek.

Kalau ngelihat desainnya emang minimalis banget. Di badan setrika nggak terdapat lampu led yang umumnya ada di setrika-setrika lainnya. Biasanya LED ini berwarna oranye dan jadi petunjuk apakah setrika berfungsi atau tidak. Nah, kurangnya setrika Black & Decker yang kubeli ini nggak ada lampunya sehingga aku nggak langsung tahu apakah setrika sudah mulai bekerja atau belum.

Jadi satu-satunya cara adalah melakukan tes di atas kain. Kalau misal kainnya panas setelah ditempel oleh plat anti lengket di bagian bawah setrikanya, berarti sudah bekerja. Kalau belum berarti ada yang salah.

Features

Di bagian pengatur panas, setrika Black & Decker seri F200 ini punya 3 tingkat pemanasan yang sayangnya nggak ditulis keterangan, tingkat panas di setrika ini cocok untuk menyetrikan kain jenis apa aja. Biasanya, ada keterangan seperti panas tingkat 1 cocok untuk kain ini…sementara yang 2 dan 3 cocok untuk kain ini, ini, dan ini! Nah, setrika yang kubeli ini enggak ada. Jadi kamu kudu cari tahu jenis kain yang kamu punya dan berapa tingkat panas yang pas untuk kain tersebut. Jangan sampai rusak ya?

Untuk kabel, penampakannya standar lah ya. Kabel yang dilapisi pelindung standar khas setrikaan juga digunakan di setrika jenis ini. Oh iya, kamu kudu perhatiin, di bagian ujung yang satu ini bisa diatur untuk memudahkan kamu meletakkan setrika dalam posisi berdiri. Kalau kamu nggak punya plat yang khusus digunakan untuk meletakkan plat panas setrikaan saat sedang jeda mengatur baju misalnya, biasanya setrika diletakkan dalam posisi berdiri. Nah, pastikan posisi engkel kabelnya dalam posisi datar seperti dalam gambar ya, supaya setrika bisa berdiri dengan tegak dan nggak jatuh.

Satu hal lagi yang bikin aku memutuskan milih setrika Black & Decker adalah setrika ini sudah dilengkapin juga dengan alat pengaman termal yang berfungsi melindungi setrika dari over heating alias kelebihan panas. Jadi insya Alloh tetep aman.

Sejauh ini sih penggunaannya baik-baik saja. Alhamdulillah nggak ngalamin kesulitan yang berarti. Karena toh penggunaannya juga masih normal-normal saja. Buat nyetrika 30 potong baju saja masih oke. Semoga awet ya? Yang pasti setrika ini dilengkapi dengan garansi pemakaian selama setahun. Kantor pusatnya ada di Jakarta selatan. Tapi untuk harga 125 ribu, setrika ini lumayan lah! Oh iya, aku malah penasaran sama setrika Black & Decker tipe AJ-2000 BI yang pake steam. Kapan-kapan boleh beli deh kalau nemu barangnya di Semarang. Hehehe.

Hayo ngaku, siapa di sini yang males nyetrika?

Foto : koleksi pribadi

Author: nunoorange

Radio announcer. Average in everything.

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

%d bloggers like this: