Personal

Sekapur Sirih Menuju Artikel #BloggerIcip

#BloggerIcip

Holla! Apa kabar? Sudah lama sepertinya saya tidak menyapa. Kalau enggak dipaksa memang jadinya enggak produktif. Duh, malu sama kucing deh saya! BTW, tulisan kali ini adalah tentang cerita kegiatan #BloggerIcip yang diadakan sama temen-temen Gandjel Rel pada 15 September lalu. #BloggerIcip ini adalah kegiatan restaurant-tour bareng sama teman-teman blogger.

Sebelum saya cerita panjang lebar, ijinkan saya menulis sesuatu dulu ya?

Jadi begini, waktu itu saya jadi salah satu speaker yang nyoba share kegiatan saya sebagai foodies di event yang diselenggarakan oleh salah satu bank terkenal. [baca tulisannya di sini]

Waktu sesi sharing tempo hari ada yang nanya [saya sembunyikan namanya ya] : Gimana caranya biar bisa diundang buat ngereview ke restoran?

Well, terus terang saya agak kaget dengan pertanyaan ini karena sejauh yang bisa saya ingat saya tidak pernah diundang secara pribadi untuk datang ke sebuah resto dan mencicipi makanan mereka dengan imbalan saya mempromosikan resto dan makanannya lewat akun instagram atau tulisan di blog saya.

So far, saya menyebut diri saya sebagai independent foodie. Sebagai foodie indie saya kemana-mana sendiri, nggak berafiliasi dengan kelompok manapun di kota Semarang. Makan juga pake duit sendiri. Nggak pernah sekalipun mengajukan proposal untuk mendatangi resto manapun dengan harapan diundang untuk MAKAN GRATIS.

Beberapa kali saya memang mendatangi undangan icip-icip melalui invitation yang dikirimkan melalui kantor. Jadi bisa dibilang saya nebeng, karena saya masih belum setenar itu. Tapi demi mendapatkan pertanyaan seperti itu saya menjawab :

Foodies atau Food Blogger di Semarang masih belum terlalu diakui secara personal oleh resto-resto di Semarang. Bahkan mungkin mereka belum terlalu familiar dengan istilah Food Blogger . Yang mereka tahu di Semarang ada akun-akun yang isinya review makanan ala kadarnya dan pengikutnya luar biasa bejibun.”

Lalu saya menyarankan untuk bergabung dengan komunitas icip-icip, karena siapa tahu kita beruntung jadi salah satu yang bisa diundang ke sebuah resto untuk kegiatan review.

Dari sudut pandang saya, si penanya sama sekali enggak salah. Saya pun tidak mau disalahkan atas jawaban saya karena memang itulah fakta yang terjadi di lapangan [terutama di Semarang] bahwa kelompok tukang makan ini lebih dipercaya untuk dapat endorsement dibandingkan jika foodies harus bergerak secara indie.

Apakah diundang untuk icip-icip makanan di sebuah resto adalah goal utama? Apakah itu berarti foodies atau food blogger memang tujuannya nyari gratisan?

Pertanyaan ini muncul ketika salah satu cuitan dari seorang teman dikomentari oleh seorang chef ternama yang juga punya bisnis restoran. Saya sendiri tidak membaca cuitan itu, tapi diberitahu oleh teman kalo isinya kurang lebih mengkritik tentang behavior “suka makan gratis”.

Jujur saya sendiri agak tersinggung karena sebagai foodies saya tidak pernah sekalipun minta-minta supaya bisa diundang makan gratis di sebuah restoran [dan saya yakin banyak foodies di luar sana yang begitu juga]. Berapapun saya bayar. Saya malah pernah habis 400 ribu untuk sekali makan di sebuah resto Shabu-Shabu di sekitar stadion Tri Lomba Juang Semarang. Dan uang itu saya rogoh dari kantong sendiri. Untuk ukuran kota Semarang, makan segitu banyaknya adalah sesuatu yang luar biasa. 400 ribu saudara! 400 ribu!

Apakah saya mengeluh? Tidak.

Sebenarnya jadi tukang makan adalah bawaan orok. Kalau kemudian ada orang yang menempelkan istilah foodies pada kegiatan yang saya lakukan, itu hanya bisa-bisanya mereka. Saya juga tersanjung sih. Dan kalau memang ini bisa menjadi sebuah profesi sampingan, kenapa tidak? Kalau memang orang lain bisa, kenapa saya tidak?

Saya mau tanya : apa sih tujuan akun-akun makanan itu mempromosikan makanan yang mereka makan? Awalnya sih memang pengen memberikan informasi tentang tempat jajan yang seru, makanan-makanan enak yang layak dicoba, dan sebagai trend setter dari life style kekinian.

Kalau belakangan banyak produk yang meng-endorse, apakah salah? Kalau pada akhirnya si foodies pasang harga, apa salah? Ga gampang kan bisa dapat kepercayaan sampai segitunya?

Bisa diundang ke sebuah resto untuk sesi icip-icip bukanlah tujuan utama. Mendapatkan undangan untuk menghadiri Grand Opening atau mencicipi menu baru di sebuah resto adalah salah satu bentuk pencapaian yang menurut saya patut dibanggakan oleh foodies yang bersangkutan. Itu artinya apa yang dilakukan selama ini sudah membuahkan hasil.

Jika ada produk yang minta untuk diendorsed, itu artinya si foodies diakui oleh produsen sebagai salah satu agen promosi yang bisa dipercaya dan diharapkan berguna untuk mendongkrak penjualan. Lepas dari berhasil atau tidak itu urusan nanti.

Tetapi untuk menuju ke strata itu perjuangannya tidak mudah. Dari mulai kesana-kemari sendiri, tebal muka saat memotret makanan sebelum makan, sampai riweuh memilih kata yang efektif saat memposting hasil fotonya di media sosial. Ini belum termasuk yang rela beli follower Instagram atau Twitter demi terlihat populer. #eh

Lalu semua itu buat apa? Buat seneng-seneng aja? Enggak. Ada motif bisnis yang [pasti] muncul di kemudian hari. Dan mendapatkan kepercayaan untuk mengendorse sebuah produk adalah salah satu goalnya. Dan lebih membanggakan apabila si produk datang sendiri tanpa harus kita yang minta-minta.

Jadi yang harus diluruskan di sini adalah kami para tukang ngunyah ini tidak pernah secara sengaja nyari gratisan. Kalau sebagai food blogger, saya ini bukan bloger nasi kotak atau bloger goodie bag yang nggak mau datang kalau tahu “buah tangannya cuma buku notes dan bolpen sebiji” atau kalau tempatnya dirasa kurang bonafit.

It’s a big no no.

Kami bersedia membayar sendiri makanan kami karena memang begitulah seharusnya. Tapi kalau memang diundang untuk makan-makan gratis, kami juga tidak menolak. And by the way, tidak ada yang gratis di dunia ini. Setelah makan, kami pun masih punya kewajiban untuk memposting foto-foto tadi melalui media sosial, termasuk menulis pengalaman makan lewat blog.

Apa kamu pikir itu pekerjaan gampang?

Radio announcer. Average in everything.

29 Comments

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: