Lifestyle Movies

Bohemian Rhapsody [2018]: Bukan Hanya Sekedar Tentang Freddie Mercury

Saya baru saja selesai nonton Bohemian Rhapsody di Cinemaxx Java Mall Semarang. Sempat maju mundur, antara nonton apa enggak ya? Meski sempat melihat banyak komentar kalau film ini bagus, tapi saya masih ragu apakah saya bisa menikmatinya atau tidak. Namun pada akhirnya saya memutuskan untuk menonton dengan alasan ingin membandingkan dengan film musikal yang sebelumnya saya tonton, A Star Is Born. [baca reviewnya disini]

from wikipedia.com

Jujur saja saya bukan fans garis keras Queen karena saya bukan penggemar musik rock. Meskipun tidak sampai hapal lirik lagu-lagunya di luar kepala, tapi saya cukup tahu lagu-lagu Queen. Bagaimana tidak? Berurusan dengan bank data lagu setiap hari pasti tahu ada koleksi lagu-lagu mereka di dalam hard disk komputer kantor. Jadi kalo Bohemian Rhapsody, I Want to Break Free, Radio Gaga atau Love of My Life, saya tahu lah.

Sebelum nonton saya nggak mau berharap banyak. Ekpektasi saya tidak terlalu berlebihan, tapi pada akhirnya, saya bisa bilang SAYA SUKA FILM INI!

Bohemian rhapsody

Saya tidak akan menceritakan tentang plot filmnya karena semua sudah tahu bahwa biopic salah satu band terbesar yang pernah ada di muka bumi ini ceritanya ya tentang perjalanan karir mereka. Tapi tentu saja kebesaran nama Queen tidak lepas dari sosok sang vokalis yang eksentrik, Freddie Mercury.

Bagi mereka yang bukan fans seperti saya dan tidak sempat membaca biografi Queen – minimal via Wikipedia, ada banyak hal yang baru saya tahu. Salah satunya adalah tentang asal usul seorang Freddie mercury atau Farrokh Bulsara yang merupakan anak lelaki dari keluarga imigran asal Tanzania.

Diceritakan bahwa Freddie bertemu dengan Bryan May dan Roger Taylor di awal tahun 70-an dan menjadi cikal bakal dari berdirinya band legendaris Queen. Bersama dengan basis John Deacon mereka berempat berangkat dari London dan menaklukan dunia.

Lalu tentang kisah cintanya dengan seorang gadis bernama Mary Austin yang konon merupakan inspirasi dari lagu terkenal Love of My Life. Dan tentunya beberapa bagian yang menceritakan tentang seksualitas vokalis Queen tersebut.

Bukan Hanya Sekedar Tentang Freddie Mercury

Ketika proyek Bohemian Rhapsody didengungkan, orang berharap banyak bahwa film ini akan mengulas secara dalam tentang sosok Freddie Mercury. Lalu banyak yang kecewa karena ternyata ada beberapa hal tentang Freddie Mercury yang kurang dikupas, terutama tentang sepak terjangnya sebagai seorang homoseksual.

Bisa dipahami karena kesan terhadap sosok vokalis Queen memang sangat kuat. Kehidupan pribadi Freddie Mercury, vokalis band besar bernama Queen yang seorang homoseksual dan meninggal karena AIDS di tahun 91, diharapkan bisa mendapat porsi  yang lebih banyak.

Tapi bagaimanapun Bohemian Rhapsody memang tentang Freddie dan Queen, bukan semata bicara soal Mercury. Itulah kenapa porsi personal life­-nya tidak terlalu dalam. Buat saya sih bisa dimengerti banget, karena orang juga pasti ingin melihat bagaimana perjalanan karir band besar seperti Queen.

Kesan saya tentang Bohemian Rhapsody

Amazingly, saya sangat menikmati film berdurasi hampir 2 jam ini. Buat saya Bohemian Rhapsody menjadi film biopic yang tidak membosankan. Plotnya cukup rapi dan tidak melompat-lompat. Dramanya tidak berlebihan, humor yang diselipkan pun bisa membuat saya tertawa. Bahkan bisa dibilang, di beberapa bagian, Bohemian Rhapsody is better than A Star Is Born lho!

Apalagi di bagian akhir ketika Queen tampil di pertunjukan musik terbesar Live AID di stadion Wembley, rasa haru dalam dada ini benar-benar membuncah. Saya seperti dibawa ke tengah-tengah penonton konser pada saat itu dan menikmati setiap menit dari penampilan Queen.

Lagu-lagu seperti Bohemian Rhapsody, Killer Queen dan Radio Gaga, terngiang di telinga dan membuat saya ingin bangkit dari tempat duduk dan ikut jingkrak-jingkrak. Lucunya, saya bahkan tidak menyukai datang ke konser musik!

Saya tidak bisa bilang bahwa saya kecewa seperti sebagian besar kritikus film di Amerika sana karena kurang dalamnya kisah pribadi Freddie Mercury dikupas. Karena saya tidak terlalu mengenal sosoknya sehingga apa yang tersaji, itulah yang saya nikmati.

bohemian rhapsody
from vox.com

Buat saya Rami Malek berhasil membawa jiwa Freddie Mercury ke dalam layar lebar. Saya salut pada dedikasinya dalam mempelajari sosok Mercury, termasuk bagaimana gaya-nya di atas panggung. Mungkin bukan hal sulit menirukan gaya seorang Freddie Mercury bernyanyi, tapi melihat Rami Malek berakting di atas panggung Live AID seperti sedang melihat Freddie Mercury itu sendiri.

Rami tidak sendiri karena pemeran lainnya pun mampu menghidupkan sosok Bryan May, Roger Taylor dan John Deacon. Akting Gwilym Lee sebagai Bryan, Ben Hardy sebagai Roger dan Josph Mazzelo sebagai Deacon, cukup mengesankan. Apalagi Gwilym Lee sebagai Bryan May, mirip sekali.

Jalan sunyi Freddie Mercury

Meskipun banyak yang mengatakan bahwa sosok Freddie Mercury dan kehidupan pribadinya “tenggelam” dalam kisah sukses Queen di Bohemian Rhapsody, tapi buat saya bagian yang menceritakan tentang kehidupannya sudah lebih dari cukup.

Lepas dari seksualitas dan sepak terjangnya sebagai seorang gay, Bohemian Rhapsody memperlihatkan betapa “sepinya” kehidupan seorang Freddie Mercury. Bahkan Mary sempat mengatakan, “hidupmu akan sangat sulit, Freddie” setelah dirinya menemukan bahwa Mercury adalah seorang gay.

Dan benar saja, mengecap kesuksesan dan bergelimang harta, ternyata tidak mampu membuat Freddie Mercury menemukan cinta yang membahagiakan. Dan itu yang kemudan mendorongnya untuk mencari sebanyak mungkin teman lelaki melalui pesta-pesta.

Belum lagi ketika dikhianati oleh rekannya sendiri. Meski pada akhirnya dia bertemu dengan Jim Hutton yang menjadi partner hidupnya sampai menjelang ajal, tapi selama itu saya bisa melihat betapa sepinya hidup seorang selebriti yang saat itu masih belum berani terbuka tentang seksualitasnya.

Beruntung bahwa Freddie menemukan keluarga dalam Queen. Ya, setelah menonton Bohemian Rhapsody saya jadi tahu bahwa Queen bukan hanya sebuah grup band yang membuat musik untuk mencari nafkah, tapi lebih dari itu, Queen adalah sebuah keluarga. Dan Freddie menemukan rumah di sini hingga akhir hayatnya.

Singkat kata, Bohemian Rhapsody adalah film yang layak untuk ditonton dan dinikmati. Mungkin kurang cocok buat kamu yang punya masalah terhadap isu tentang LGBT. Tapi kalau kamu sedikit berpikiran terbuka dan setidaknya hanya sekedar ingin menonton, nggak usah nunggu lama-lama sebelum film ini turun layar. Karena akan berbeda rasanya menonton ini melalui kepingan DVD atau lewat online streaming.

Kecuali kalau layar TV mu sampai 50 inchi, mungkin beda cerita. Tapi sungguh, Bohemian Rhapsody is a movie that worth for every penny!

Secara keseluruhan film ini saya nilai 4.5 dari 5.

7 Comments

  1. mbandah November 6, 2018
    • nunoorange November 6, 2018
      • mbandah November 6, 2018
        • nunoorange November 6, 2018
  2. BaRTZap November 6, 2018
  3. Haya Aliya Zaki November 7, 2018
    • nunoorange November 8, 2018

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: