Book

Review Buku Sycamore Row John Grisham

Butuh sedikit dorongan untuk menyelesaikan buku ini. Di tengah-tengah rasa malas dan seperti sudah lama sekali tidak membaca buku tebal, tantangan untuk menghabiskan lebih dari 600 halaman hampir bisa disebut dengan “penyiksaan” mental.

Tapi otak saya memang sudah cukup lama tidur. Akhir-akhir ini lebih senang menonton TV daripada membaca buku. Dan kemudian tumpukan buku pun sudah mulai menggunung tanpa pernah tahu kapan akan disentuh. Salah satunya buku Sycamore Row karya John Grisham ini.

Review Buku Sycamore Row John Grisham

Review Buku Sycamore Row John Grisham

Dorongan itu muncul kembali setelah membaca sebuah artikel tentang menulis. Salah satu poin yang disebutkan adalah tentang memperkaya kosakata, dan membaca buku adalah satu-satunya cara untuk belajar dan menambah lebih banyak perbendaharaan. Saya tidak berniat menulis novel atau essay dalam waktu dekat ini, atau mungkin tidak dalam waktu yang lama. Tapi saat ini saya sedang bersemangat memperbaiki cara menulis saya, setidaknya untuk mengisi konten blog yang saya punya.

Maka dimulailah lembar pertama Sycamore Row saya baca, masih dengan perasaan malas. Lanjut ke lembar berikutnya, namun bukan lagi karena terpaksa, melainkan terikat pada menariknya cerita.

John Grisham dan salah satu tokohnya Jake Brigance adalah alasan saya memilih buku ini setelah menimbang-nimbang dalam waktu yang cukup lama. Saya tidak bisa bilang sudah cukup akrab dengan karya-karya Grisham, tapi saya memiliki cukup banyak koleksinya.

Jake Brigance sendiri saya kenal lewat kisah A Time To Kill dimana dia berjuang untuk menegakkan keadilan bagi seorang pria kulit hitam yang membunuh 2 kulit putih demi membalaskan dendam karena putrinya terbunuh. 3 tahun setelah kisah tersebut, Jake Brigance dihadapkan kembali pada kasus lain, yang masih melibatkan isu rasial di wilayah tempatnya tinggal, Clanton, Missisipi.

Kali ini Brigance harus terlibat dengan kasus pembagian hak waris setelah seorang pria bernama Seth Hubbard memutuskan untuk bunuh diri. Dalam sebuah surat wasiat yang ditulisnya beberapa waktu sebelum dia memutuskan gantung diri, dirinya menunjuk Jake untuk menjadi pengacara yang akan mengurusi pembagian harta warisnya.

Yang menjadi kontroversi adalah keputusan Seth untuk memberikan sebagian besar asetnya untuk sang pembantu rumah tangga kulit hitamnya, Lettie Lang. Sedangkan 2 anak kandungnya sendiri Herschel dan Ramona, dikecualikan. Surat warisan yang ditulis tangan ini menyebut beberapa detail yang harus dilakukan Jake Brigance untuk memastikan bahwa wasiatnya akan dilaksanakan sesuai dengan keinginannya.

Hari-hari penuh perjuangan pun dimulai. Sidang yang sebenarnya hanya ingin memastikan keabsahan surat wasiat holografik pun menjadi kisah sidang yang cukup panjang dan melibatkan banyak drama. Gosip pun beredar. Lettie dinilai menggunakan daya tarik seksual untuk memengaruhi keputusan waras Seth Hubbard dalam menuliskan surat wasiatnya. Selain itu Seth dinilai tidak dalam kondisi mental yang sehat akibat pengaruh obat-obatan kanker yang dia minum, terlebih ketika dia menuliskan surat wasiat tulisan tangannya.

Belum lagi dengan hadirnya “burung-burung pemakan bangkai”, istilah bagi para pengacara licik yang mencium bau uang dari kasus ini, menambah rumit kisah tentang pembagian harta waris dari seorang lelaki pendiam yang ternyata menyimpan banyak kekayaan ini.

Pada akhirnya akan terungkap sebuah kebenaran tentang alasan kenapa Seth Hubbard memberikan sebagian besar hartanya pada seorang wanita kulit hitam yang menjadi pembantunya.

Sycamore Row adalah buku drama hukum terbaru karya John Grisham. Ini adalah buku drama kedua setelah Confession yang tidak bercerita tentang firma hukum dan tindak kejahatan yang melibatkan mafia. Sycamore Row menyajikan lebih banyak drama dibanding karya Grisham yang lain. Agak lebih sedikit sajian thriller.

Meski begitu selalu saja ada hal-hal khas Grisham yang selalu muncul diantaranya : adanya tokoh utama yaitu seorang pengacara muda yang baik, pengacara-pengacara brengsek pemabuk yang sebenarnya baik, pengacara kejam dan brengsek dan hanya mengejar uang, hakim yang tegas dan adil, dan beberapa penjahat menyebalkan.

Grisham juga senang membahas tentang isu rasial dan ketidak adilan ras yang menjadi salah satu sejarah kelam dalam kehidupan rakyat Amerika pada khususnya.

Mungkin agak sedikit membosankan bagi saya untuk menyimak karya Grisham yang kebanyakan bicara tentang hukum. Tidak heran karena dia sendiri adalan mantan pengacara dan sering terlibat dengan banyak kasus hukum sebelum memutuskan untuk pensiun dan menjadi penulis purna waktu. Tapi sepertinya keasyikan untuk mengikuti alur kisah yang ditulis oleh Grisham sayang untuk dilewatkan. Gaya Grisham yang deskriptif dan mengalir apa adanya, dengan diselingi beberapa humor, menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

Selain itu saya juga jadi tahu sedikit mengenai istilah-istilah hukum terutama hukum di Amerika. Apa itu hak amandemen kelima, apa itu istilah Pro Bono, afidavit, dan beberapa hal lain terkait tata cara pemilihan juri dalam proses persidangan. Dan yang menyenangkan adalah sepertinya Grisham sadar bahwa pembacanya mungkin bukan orang dari kalangan hukum yang akrab dengan istilah-istilah tersebut, itulah kenapa di banyak bukunya ia akan dengan senang hati menyelipkan beberapa penjelasan tentang istilah hukum yang ia gunakan.

Membaca beberapa karyanya membuat saya membayangkan sedang menonton sebuah film. Meskipun begitu Sycamore Row sendiri menurut saya tidak lebih baik dibandingkan dengan Confession. Ramuan kisahnya kurang menggigit. Kalau dalam Confession saya bisa dibuat kesal dan jengkel atas sikap Travis Boyette yang plin-plan dan menyebalkan, Sycamore Row terasa lebih datar dan kurang mampu membuat emosi naik turun. Sepertinya kali ini Grisham memilihkan kasus yang agak lebih ringan bagi Jake Brigance.

Walaupun tidak terkait dengan buku A Time To Kill, namun Saya sarankan setidaknya untuk membaca buku tersebut karena banyak tokoh dan hal-hal terkait yang dibahas dibuku ini. Namun jika Anda tidak membacanya pun, saya rasa tidak masalah.

Bisa jadi Sycamore Row memberikan suguhan drama yang mungkin terlalu bertele-tele namun pada akhirnya mampu memberikan sebuah penyelesaian yang cukup adil bagi semua pihak yang terlibat. Alasan mengapa Seth Hubbard memberikan hartanya pada Lettie Lang adalah penebusan dari dosa dimasa lalu. Dosa apakah itu? Temukan sendiri jawabannya dalam Sycamore Row.

Note : Ada sekitar 7-8 kesalahan cetak dalam buku ini.

4 Comments

  1. Dewi Dedew Rieka (@dewirieka) December 29, 2015
    • nunoorange December 29, 2015
  2. Uniek Kaswarganti December 29, 2015
    • nunoorange December 29, 2015

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: