Book

Review Buku Perfume : The Story Of Murderer

Review buku Perfume : The Story Of Murderer kali ini dipersembahkan oleh “bosan karena kehabisan bahan bacaan”. Ya, sejak buku Deception Point habis dibaca, saya belum sempat pulang kampung dan bertukar buku fiksi lain yang ada di dalam lemari. Jadi demi mengisi waktu yang sebenarnya tak terlalu luang, saya baca saja novel yang ada.

#ReviewBukuPerfume

Perfume : The Story Of A Murdere

Sebenarnya ini buku koleksi lama. Menurut catatan di awal halaman, buku ini dihadiahkan oleh salah satu teman saya sebagai hadiah ulang tahun yang ke 24. Agak amazed juga sih buku ini masih ada dan kondisinya cukup baik, lengkap dengan pembatas bukunya. Hihihi.

Agak terlambat mereview bukunya? Antara iya dan tidak. Dulu kalau nggak salah saya pernah menulis review buku ini untuk blog yang sekarang sudah “wafat”.

Novel ini bercerita tentang hidup seorang pemuda bernama Jean-Baptiste Grenouille. Ditolak oleh ibu kandungnya sendiri yang sudah berkali-kali beranak dan tak pernah ketahuan siapa bapaknya, Grenouille lahir di sebuah pasar ikan di salah satu sudut kumuh Prancis. Sejak kecil Grenouilla sudah menunjukkan gelagat yang aneh yang kelak menjadikannya sebagai manusia yang istimewa.

Karena lahir di sebuah pasar kumuh, Grenouille sudah belajar berbagai aroma sejak masih bayi. Begitu lahir ibunya melihat kejanggalan dari si bayi hingga meninggalkannya begitu saja di lapak ikannya. Si ibu kemudian ditangkap dan diadili. Menurutnya dia lebih suka membunuh bayi itu seperti empat anaknya dulu. Lalu kemudian dia dihukum mati karena pasal pengguguran kandungan. Jean-Baptiste Grenouille pun diserahkan ke sebuah lembaga gereja.

Tumbuh sebagai “anak aneh”, si Ibu susu mengembalikan Grenouille ke biara karena dia merasa kalau Grenouille membuatnya sengsara dengan menghisap air susunya dengan rakus. Dari sini Grenouille pun berpindah tangan ke Madam Gaillard, seorang pengurus rumah panti asuhan. Kelak Madam Gaillard menjual Grenouille ke sebuah tempat penyamakan kulit milik Monsieur Grimal.

Sejak berada di bawah asuhan Madame Gaillard, Grenouille sudah mengembangkan bakat yang luar biasa. Dia bisa mengenali benda-benda hanya dengan mencium aromanya. Bahkan dia belajar berbicara melalui indra penciumannya yang tajam. Madame Gaillard bahkan menyebut Grenouille sebagai anak yang mampu melihat menembus dinding dan dia pun ketakutan.

Bekerja di penyamakan membuat bakat unik Grenouille semakin terasah. Setiap hari dia harus menghantarkan kulit binatang yang disamak ke para pemesan. Saat mengantarkan hasil samakan dia akan sejenak mampir ke sebuah toko parfum dan berhenti di depannya. Dia begitu tertarik dengan bau harum dari toko parfum tersebut. Dari situlah ia terinspirasi untuk membuat parfum dengan aroma khusus. Dari sinilah Grenouille melakukan pembunuhan pertamanya terhadap seorang gadis.

Seperti yang sudah-sudah, siapa saja yang bersentuhan dengan hidup Jean-Baptise Grenouille, hidupnya akan sengsara hingga akhir hayatnya, Monsieur Grimal pun tewas ketika pulang dalam keadaan mabuk dan mengalami kecelakaan. Grenouille pun menjadi menusia bebas karena tak terikat lagi dengan Grimal.

Karena berjodoh, Jean-Baptiste Grenouille bertemu dengan Giuseppe Baldini, si pemilik toko parfum yang setiap hari disambangi oleh Grenouille. Saat itu Monsieur Baldini sedang mengalami kesulitan karena mulai kehilangan keahliannya dalam meramu parfum. Ditambah lagi pesaingnya di toko parfum Pelissier sedang menanjak reputasinya karena jenis parfum baru yang berhasil diciptakan.

Dengan kemampuannya Grenouille mampu membuat tiruan parfum yang sama persis dengan yang diciptakan oleh pesaing Monsieur Baldini. Dan sejak saat itu Monsieur Baldini mempekerjakan Grenouille sebagai ahli pembuat parfum dan menjadi senjata andalannya untuk meraih kejayaan.

Toko Monsieur Baldini semakin populer dengan banyaknya varian parfum yang diciptakan oleh Grenouille. Tapi diam-diam Grenouille berusaha menciptakan parfumnya sendiri dengan berbagai cara. Memanfaatkan laboratorium suling milik Monsieur Baldini dia membuat formula rahasia yang terbuat dari kulit wanita!

Sejak saat itu banyak terjadi kasus wanita yang menghilang dan ditemukan tewas dengan kondisi mengerikan. Pemerintah setempat pun memberlakukan jam malam dan berusaha mencari pembunuh berantai yang berkeliaran dan mengincar gadis-gadis muda.

Sesungguhnya Grenouille mencari sebuah bahan parfum yang sempurna yang kemudian didapatnya dari seorang gadis berambut merah bernama Laure, anak perempuan dari seorang pejabat bernama Monsieur Antoine Richis. Karena merasa bahwa anaknya akan menjadi korban berikutnya, Monsieur Richis mengungsikan Laure ke daerah yang jauh. Namun karena penciumannya yang tajam, Grenouille mampu menemukan Laure dan membunuhnya untuk mengambil aroma perawan sang gadis berambut merah itu.

Warga kota Grasse pun gempar dengan kematian anak si pejabat, dan menuntut pelakunya diadili. Dengan usaha keras akhirnya Grenouille pun ditangkap dan diadili. Diputuskan bahwa dia akan dipancung di depan warga kota Grasse.

Tetapi di saat terakhir eksekusi, keadaan justru berbalik. Semua orang memuja Jean-Baptiste Grenouille dan memperlakukannya seperti sosok yang suci yang luar biasa. Bahkan ketika hendak dipancung, Grenouille membuat semua orang yang hadir saat itu mabuk dan lupa diri dengan parfum rahasianya. Dan saat itu pula terjadi peristiwa yang diluar dugaan. Warga kota Grasse dan pejabat-pejabat yang hadir jadi lupa diri dan terjadilah adegan seks massal.

Ketika mereka tersadar, Jean-Baptiste Grenouille sudah jauh berjalan ke kota Paris, tempat di mana akhirnya dia tewas ditangan warga kota itu yang terlena dengan keharuman parfum aroma perawan yang diciptakan sendiri oleh Grenouille.

Patrick Süskind

Perfume adalah karya fenomenal dari Patrick Süskind seorang penulis kelahiran Jerman 26 Maret 1949. Ini adalah novel perdana Süskind yang mendapatkan pengakuan internasional karena idenya dinilai segar dan cukup kontroversial. Patrick Süskind menulis sebuah novel kriminal yang dibalut romantisme berlatar belakang kota Paris,Perancis pada abad ke 19.

Patrick Süskind menciptakan tokoh Jean-Baptiste Grenouille yang mampu mendapatkan apa saja dengan berbekal kemampuannya dalam mengenali aroma apapun. Buku ini mengambil sudut pandang orang ketiga sebagai pencerita yang mengisahkan kehidupan Grenouille dari bayi hingga saat kematiannya. Ditulis dengan gaya naratif dan tidak terlalu banyak dialog, Süskind mengajak pembacanya untuk mengembara melalui imajinasi dan melihat kehidupan sosok Grenouille dengan lebih dekat.

Patrick Süskind juga cukup detail dalam menggambarkan latar belakang di kisah ini. Bagaimana dia menggambarkan pasar kumuh tempat Grenouille dilahirkan, rumah penyamakan milik Monsieur Grimal, atau kondisi di sekitar sungai di wilayah Pont Au Change yang disesaki dengan rumah yang berderet-deret.

Tapi lebih dari itu Patrick Süskind dinilai berhasil dalam meramu kisah thriller yang cukup mencekam dimana Grenouille melakukan pembunuhan demi pembunuhan untuk mendapatkan parfum yang sesuai dengan keinginannya.

Mungkin Anda sendiri sudah pernah menonton filmnya yang dirilis tahun 2006, tapi percayalah, membaca buku ini lebih mengasyikkan daripada menonton filmnya, meskipun filmnya sendiri cukup apik.

Walaupun review saya mungkin mengandung spoiler, tapi Anda perlu baca bukunya sendiri. Dan berkat sukses novel Perfume : The Story Of A Murderer beberapa buku lainnya seperti The Pigeon juga dirilis di pasaran Indonesia. Tapi menurut saya, The pigeon tidak terlalu bagus, hanya bercerita tentang seorang satpam paranoid dan ceritanya datar dan kurang menarik.

Bagaimana? Tertarik membaca buku ini?

7 Comments

  1. ihwan January 19, 2016
  2. Adelina January 21, 2016
    • nunoorange January 21, 2016
  3. Elisa January 22, 2016
    • nunoorange January 24, 2016
  4. adelinatampubolon January 25, 2016

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: