Book

Review Madre by Dee

Jadi…inilah buku terbaru itu. Karya Dee yang saya tunggu-tunggu setelah mendengar gosipnya di Twitter. Tidak susah menemukan buku ini. Mungkin karena masih baru, masih belum sold out. Harganya pun diskon (khusus di Toga Mas) hehehe.

Dari judulnya saja saya sudah tahu kalo Madre akan bercerita mengenai ibu (madre dalam bahasa latin berarti ibu-red). Tapi ibu yang seperti apa, itu yang saya tidak tahu. Dan ternyata, Madre dimata Dee, bisa menjadi apa saja. Ibu, Mak, Mama, Biyung atau Biang. Agak sedikit mengejutkan mengetahui bagaimana Dee menjabarkan apa itu Madre. Dan bagaimana Madre bisa menjadi sentral yang menyatukan banyak tokoh dan banyak hal dalam sebuah jalinan cerita.

Madre,berembel-embel Kumpulan Cerita. Dan memang belakangan, buku seperti inilah yang sering dirilis oleh Dee. Sejak serial supernova, berturut-turut ada Filosofi Kopi, Recto Verso, kemudian diselingi Perahu kertas dan kembali dengan Madre, yang berisi kumpulan cerita dan prosa karyanya.

Terus terang, dulu saya menganggap Dee adalah penulis yang karya tulisnya susah untuk dipahami. Otak muda saya yang masih awam belum bisa menikmati banyak majas dan kiasan-kiasan indah ala Dewi Lestari. Dan buku Filosofi kopi menjadi kunci saya untuk memahami bagaimana Dee menuangkan buah pikirnya. saya menemukan, ternyata Karya seorang Dewi Lestari tidak sesulit yang saya duga.

Pun dengan Madre. Buku ini kembali menyajikan banyak karya sastra modern-nya. Berisikan (beberapa) kumpulan cerita dan (lebih banyak) prosa, Madre menjadi cerita inti dan pembuka dari rangkaian kisah yang tercipta dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang.

Madre mengejutkan. Itulah yang saya rasakan. saya tidak menduga bahwa cerita ini akan berkisah tentang adonan roti dan toko roti. Tapi tentu saja, kisahnya tidak sesederhana itu. Dari sudut pandang mana kisah ini dibuat, cukup menarik. Walau pada banyak hal, ini adalah kisah cinta yang…sebut saja sederhana, kalau tidak mau disebut klise. Tapi menarik. Saya seperti sudah melihat bagaimana cerita ini divisualkan. Pasti akan sangat menarik. Beberapa karakternya begitu kuat dan ceritanya pun cukup lengkap. Perasaan saya campur aduk membaca kisah ini. Antara senang dan geli karena beberapa bagian yang lucu. Tapi ada beberapa juga yang membuat saya terharu, meski tidak sampai yang menangis sedemikian rupa, sama seperti ketika saya membaca Filosofi kopi atau Recto Verso.

Sayangnya, Madre ini kurang variatif. Isinya melulu tentang cinta. Meski diakui, cintanya cinta yang universal. Tidak melulu soal cinta antar kekasih, tapi cinta ibu pada anaknya. seperti dalam prosa Rimba Amniotik, dimana Dee menuangkan perasaannya pada si jabang bayi, anak keduanya dari suami yang berbeda. Oh ya, saya pernah membaca prosa ini di blognya, jadi tidak terlalu menarik lagi.

beberapa prosa dan cerita memang sudah pernah saya baca sebelumnya. Guruji misalnya. Saya membaca cerpen ini via majalah Femina. Jadi, saya melewatkannya saja. 

Dan seperti biasa, Dee senang berambigu dengan cerita-ceritanya. Baca Have You ever, dan Anda akan dibawa untuk menebak-nebak, cerita apakah ini? meski kadang jelas terlihat, tapi samar terasa…(jiah! )

Overall, buku ini hanya tentang Madre semata. cerita-cerita lainnya tidak penting buat saya. Biasa saja. hanya Madre yang terasa hangat. 

Ya..tapi mau bagaimana lagi…ini memang Madre, bukan yang lain.

meski buku ini tidak terlalu bagus menurut saya, tapi saya tetap akan setia menunggu karya Dee lainnya, yang lebih “berat” barangkali?

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: