Dunia Radio

Evaluasi Siaran Dengan Mendengarkan Rekaman Suara Sendiri

Terus terang, dari jaman saya pertama kali siaran dulu, sampai sekarang, paling nggak suka kalo dengerin rekaman siaran saya sendiri. Malu. Saya bukan tipe orang yang suka dengan timbre suara saya karena saya masih menganggap bahwa suara saya jelek dan nggak cocok jadi penyiar. Makanya kalo disuruh denger rekaman siaran saya, harus sekuat tenaga untuk menahan diri karena malu.

Tapi kadang memang harus dipaksa dan mau nggak mau. Kadang-kadang saya harus memaksa diri untuk mendengarkan. Bukan untuk mengevaluasi mana yang kurang dari suara saya dan apa yang harus saya lakukan untuk membuatnya lebih enak didengar, tapi lebih kepada bagaimana saya bersiaran. Apa saja yang sudah saya lakukan. Mana yang nggak perlu dan mana yang harus diperbaiki.

Sore ini saya mendengarkan rekaman siaran saya selasa kemarin. Setelah sekian lama, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengevaluasi diri saya. Apa yang sudah saya bagi ke adik-adik penyiar yang lebih muda. Tentang aturan, tentang beberapa tips, tentang mana yang tidak sebaiknya dilakukan dan mana yang harus diperkuat, apakah saya sendiri melakukannya?

Mostly hampir tidak. Karena ternyata yang namanya proses siaran itu adalah proses yang apa adanya, meski harus terencana. Karena tanpa rencana dan kesiapan, apa adanya ya bener apa adanya. Tidak enak. Tidak punya bumbu. Nggak kuat nancepnya. Nggak berkesan.

Dan lalu saya ditunjukkan. Saya malu. Ternyata memang apa yang saya lakukan selasa malam lalu benar-benar tidak saya rasakan sebagai sebuah siaran yang penuh dengan kesalahan. saat bersiaran selasa malam lalu tampaknya semua baik-baik saja. Apa yang keluar…terasa efektif dan perlu. Tapi nyatanya saat mendengarkan rekaman siaran kemarin, ada begitu baaaaaanyak kesalahan yang seharusnya tidak saya lakukan.

Lalu saya pun memang harus split di udara sambil bilang WOW!

Bukan WOW yang WOW! tapi WOW yang “WOW, kamu banyak kurangnya!”

Sungguh, mendengarkan siaran kemarin malam melalui rekaman audio membuat saya sadar bahwa evaluasi terhadap kemampuan pribadi saya itu penting. Ternyata, pengalaman hampir 10 tahun tidak berarti apa-apa. Tanpa persiapan semuanya jadi berantakan. Saya yang sering digoda teman dengan sebutan penyiar handal pun bisa tiba-tiba merasa saya masih harus banyak belajar.

Kesalahan kemarin malam membuat saya gila! Bukan berarti sok “perfect”, tapi kepuasan pendengar buat saya adalah hal yang utama. Cailah! 😀 Tapi memang benar. Rasanya puas jika bisa menghantarkan program dengan sangat baik. Hampir tak ada cela. Smooth mengalir dengan indah.

Saya sih tak mengharapkan pujian. Karena toh ini adalah standar yang saya tetapkan sendiri. Tapi rasanya seneng kalo bisa siaran dengan cukup efektif. Ngomongnya teratur meski nggak diatur-atur, kalimat yang keluar bisa dengan mudah dipahami mengingat sifat media radio yang memang selintas, dan teknik mixingnya juga baik. Bisa dibilang paketan siaran yang oke menurut saya.

Jadi…10 tahun di dunia media yang satu ini nggak menjamin outputnya sudah bagus. Tetep saja ada kurangnya. Makanya saya masih perlu belajar dan belajar lagi supaya bisa jadi penyiar yang lebih baik. Tentu saja dengan gaya saya sendiri. Seharusnya sih yang muda-muda juga enggak cepet puas ya?

2 Comments

  1. Goiq November 8, 2012

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: