Personal

Bagaimana Seharusnya Bermedia Sosial?

Ini serius, saya nanya. Berhubung saya bukan seorang media sosial freak. Punya twitter saja sekarang sudah saya tutup. Facebook satu ditutup. Punya Path lama nganggur dan baru mulai lagi aktif sekitar beberapa bulan belakangan (itu saja sudah mulai terganggu oleh 1-2 orang yang postingannya nyinyir melulu). Media yang cukup menghibur sekarang sih cuma instagram ya? Alhamdulillah sejauh ini masih baik-baik saja, karena saya punya kendali untuk memfollow akun-akun yang saya rasa tidak banyak mengganggu.

Pertanyaan ini muncul karena seorang teman yang memposting gambar2 berikut :

PicsArt_1429082459422

PicsArt_1429082492978Dan postingan ini diposting oleh teman yang notabene adalah salah satu media sosial freak. Hahaha.

Tapi kemudian membuat saya bertanya-tanya, kalau seorang pemerhati media sosial seperti dia saja sudah merasa jenuh, berarti memang ada yang salah dengan perilaku kita sebagai pengguna.Benarkah?

Atau standar benar salah ini memang relatif.

Normal dan tidak normal berdasarkan sudut pandang siapa?

Benar dan salah menurut hemat siapa?

Dijaman yang makin canggih dimana semua source begitu terbuka kita makin bebas mengeskpresikan diri kita melalui media sosial. Dari hal-hal yang sepele sampai isu tentang kemungkinan adanya perang dunia ketiga, semua ada. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan keluar masuk kamar mandi, semuanya diposting. Penting nggak penting. Gambar pantat dan toket beredar, lalu hal-hal yang selama ini mungkin dianggap tabu sudah bukan hal yang masuk ke ranah private lagi. Semuanya begitu bebas beredar. Lalu seperti tidak ada rambu-rambu yang mengatur, tidak ada rem yang membuat semuanya berhenti. Semuanya berlari di jalan bebas hambatan, walaupun pada akhirnya berpotensi membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Merujuk pada gambar yang pertama, lalu saya berpikir, kira-kira hal seperti apakah yang layak diposting di media sosial kalo orang sudah mempertanyakan “emang perlu ya diposting? Mau makan dipoto. Mau tidur laporan. Lagi boker kok pamer.”

Sesuatu yang menurut orang lain nggak penting, bisa jadi sangat penting bagi si pemosting. Ketika sebuah eksistensi menjadi hal yang penting, segala cara dilakukan. Mungkin saja foto makanan, rupa bangun tidur, atau sekedar kasih lihat baju baru, adalah senjata untuk membuat orang menaruh perhatian dan disanalah keberadaan seseorang kemudian diakui. Suka atau tidak. Dan kalau hal-hal semacam itu saja “dipertanyakan” dan “dinyinyirin”, lalu postingan semacam apa yang sebaiknya ada di lini masa media sosial? berita terkini tentang pemilu kada? Berita tentang penemuan air di planet mars? Apa semua postingan harus berisikan hal-hal semacam itu?

Kemudian soal gambar yang kedua seperti ingin mengingatkan kita bahwa gadget sudah menjadi hal yang begitu esensial dalama hidup kita dan apapun yang bisa terjadi selama kita bersentuhan dengannya. Godaan untuk membuat orang lain iri dengan kehidupan kita begitu besar. Godaan untuk kepo tentang orang lain juga nggak kalah besar. Berawal dari sebuah status di BBM, atau postingan curhat di lini masa LINE, semuanya bisa jadi “sesuatu”.

Ada yang bilang “media sosial jangan dianggap serius” tapi kemudian banyak yang nggak setuju. Media sosial sudah menjadi sebuah dunia baru yang tidak layak untuk dianggap sepele. Bahkan kalau mau dikata, sebuah revolusi saja bisa dimulai dari media sosial. Seseorang bisa gagal atau sebaliknya, mungkin berawal dari media sosial. Jadi bagian mana yang dibilang bahwa media sosial hanya sekedar main-main?

Memang sih banyak yang awalnya mencari kesenangan semata dengan bermedia sosial. Nggak ada yang terlalu serius tentang platform yang satu ini. Semula orang hanya ingin senang-senang, mengisi waktu luang, siapa tahu bisa lihat sesuatu yang lucu-lucu. Tapi kemudian banyak yang merasa kalau ini adalah sesuatu yang perlu untuk diseriusi. Kalau hanya sekedar main-main, tidak mungkin ada pemerhati, tidak mungkin ada ilmu yang membahas soal media sosial.

Tapi toh memang masih banyak yang hanya menyebar kesenangan disana-sini. Seorang teman bahkan punya semacam rambu-rambu, jika kamu ingin mencela orang, marah-marah dan menjelek-jelekan orang lain, sebaiknya tahan diri, nggak perlu sampai tumpah ke media sosial. Jika ingin mengeluh, sebaiknya gunakan media lain yang tidak banyak orang tahu. Nulis buku harian misalnya? Sehingga pada akhirnya, yang muncul di lini masa hanya hal-hal yang tidak berbau marah-marah, mencela, menyindir, nyinyir, mengeluh, dan hal-hal negatif lainnya.

Tapi kemudian, niat baik semacam ini pun masih belum diterima dengan cukup baik oleh orang lain. Ada orang-orang yang malah melihatnya sebagai wujud pamer. “Hidup Lo udah bahagia dan sempurna sampai nggak pernah sedih?”

Lalu semuanya jadi serba salah. Mau marah-marah lalu image yang muncul kok “ini orang sukanya marah-marah deh”…giliran unjuk kebahagiaan image yang muncul adalah “orang kok demennya pamer…” Lalu kita harus gimana???

Bahkan memposting gambar-gambar atau tulisan inspiratif saja dianggap sebagai sesuatu yang memuakkan.

Iya sih, kadang saya juga muak sama postingan orang lain yang sok inspiratif. Hahaha. Sama muaknya dengan melihat mereka yang suka nyinyir dan marah-marah di media sosial.

Dan dari sana saya yakin bahwa orang lain juga muak dengan postingan saya.

PicsArt_1429082426033Tapi kembali lagi ke pertanyaan, sebenarnya kita musti yang macam mana dalam bermedia sosial?

Sebenarnya sih begini, ketika kita memutuskan untuk masuk ke dunia maya yang kejam ini, kendali masih ada dalam tangan kita sendiri. Namanya juga bersosialisasi, pada akhirnya kita juga harus menyeleksi mana yang akan masuk ke dalam lingkaran pertemanan kita mana yang tidak. Bukan berarti kemudian pilih-pilih, tapi pada akhirnya kita hanya ingin berkumpul dengan mereka yang bisa membuat bahagia. Bukankah ada anjuran untuk menjauhi negatifitas supaya kita tak terbawa? Kita berhak untuk meng-unshared mereka-mereka yang hanya membuat kita cemas, takut, dan merasa bahwa dunia ini memang sudah mendekati kiamat. Kita berhak memfollow mereka-mereka yang menginspirasi dan menahan diri untuk tidak mengikuti perjalanan orang-orang yang berpotensi membuat kita sedih dan pesimis. Tapi nyatanya, banyak hal-hal tak terduga muncul di tengah jalan bukan?

Mungkin sebenarnya masalahnya ada pada diri kita. Orang-orang yang memposting foto-foto makanan itu tidak berniat membuat kita iri, mereka-mereka yang memposting sedang liburan dimana tidak berniat untuk membuat kita iri, mereka yang habis gajian tidak berniat membuat orang yang lagi bokek iri. Mereka hanya sedikit mencari perhatian karena itulah cara mereka untuk dianggap sebagai manusia yang eksis. Barangkali cuma itu, tidak lebih. Jadi kalau ada semacam perasaan iri, sedih, jengkel karena sepertinya kehidupan orang lain begitu sempurna, bisa jadi masalahnya ada pada diri kita yang terlalu banyak bermimpi tapi tak pernah bisa mewujudkannya. Atau memang bawaan orok yang melihat semuanya dari kacamata negatif? Sekali lagi masalahnya mungkin memang ada pada diri kita. Bukan postingan orang lain. Mungkin lho ya?

Karena saya juga ngerasa gitu..mungkin memang kesalahan ada pada diri saya….bukan mereka.

Jadi tolong beri pencerahan pada saya, bagaimana saya harus berperilaku di media sosial. Supaya saya tidak salah langkah dan jadi bahan nyinyiran orang lain?

🙂

Radio announcer. Average in everything.

5 Comments

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: