Dunia Radio

Penyiar Sebagai Batu Loncatan

Kenapa tidak?

Meskipun banyak petinggi-petinggi radio yang pasti akan sebel jika salah satu penyiarnya yang sudah jadi tiba-tiba cabut dan bekerja di tempat lain.

Apalagi kalau penyiarnya ini mulai dari nol dan nggak bisa apa-apa, lalu mendapat pendidikan di sebuah radio, dan setelah dinilai oke, eh malah keluar. Lebih nyakitin lagi kalo pindah kerjanya ke radio lain. Makanya jangan heran kalo ketemu sama mantan bos di jalan, mukanya masih sebel aja sama kita.

Tapi ini adalah sebuah kondisi yang  normal terjadi. Selain karena memang lebih ingin berkembang di tempat lain, alasan financial pasti jadi dasar kenapa seseorang berhenti dari tempat kerja yang sekarang. Begitu juga dengan penyiar. Tidak lain dan tidak bukan, pasti juga karena itu. Dan harusnya sih semua orang bisa menerima ini.

Memang banyak yang menjadikan profesi sebagai batu loncatan, tapi banyak juga yang “nggak sengaja” menjadikan profesi penyiar sebagai batu loncatan.

Misalnya saja, setelah lama siaran, akhirnya ngemsi, lalu dilihat bagus oleh klien, dan tawaran ngemsipun mengalir lancar. Kemudian ditawarin jadi host pula di TV, dan sebagainya dan sebagainya. Pada saat jadi penyiar di awal-awal, mungkin nggak akan kepikiran hal-hal seperti ini. Nggak pernah saya kepikiran, nanti mau jadi emsi, nanti mau siaran di TV, enggak pernah kepikiran, sama sekali. Semua kesempatan itu datang mengikuti. Dan ini yang saya maksud sebagai batu loncatan yang tak disengaja.

Ya ada juga sih yang emang pengen jadi penyiar radio dengan tujuan supaya terkenal, bisa jadi MC kondang, dan sukur-sukur muka juga dianggap camera face jadi bisa siaran di TV. Ada. Dan parahnya, kalau sudah semua cita-cita tadi tercapai, kerjaan sebagai penyiar malah dianggap sebagai kerjaan sampingan yang tidak menghasilkan. Dan ujung-ujungnya kerja seenaknya. Sering telat siaran, sering absen, dan lama-lama nggak bergairah siaran karena ngerasa yang diluar lebih gede dapetnya.

Yaaa..mau gimana lagi. Memang pada begitu kenyataannya. Tapi mari melihat ke niatan awal saat ingin jadi penyiar. Ingat kembali saat interview kerja. Bukankah kita tahu apa resikonya jadi penyiar? yang kadang-kadang harus berkorban waktu dan menuntut komitmen penuh? Lalu kenapa sekarang lupa?

Nggak papa kok ngemsi kenceng di luaran, tapi yang penting siaran jangan keteteran. Kalau pun nggak bisa siaran, carilah pengganti. Dan kalaupun memang nggak dapet pengganti, berarti tawaran ngemsi yang harus ditolak, karena bentrok dengan jadwal siaran, bukannya kemudian nggak mau tahu dan meninggalkan siaran tanpa pemberitahuan dengan semena-mena. Semuanya karena tanggung jawab. Bukankah pekerjaan utama kita sebagai penyiar? Bukan sebagai MC atau kerjaan lain di luar?

Buat saya pribadi, saya lebih hormat pada penyiar yang memilih untuk keluar dari pekerjaan ini dan fokus pada karirnya di luar dibanding harus mengacaukan jadwal siaran. Buat saya sikap seperti itu lebih ksatria daripada bikin susah banyak orang.

Intinya tidak ada yang menghalangi seseorang untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi dengan kondisi yang lebih baik, tapi semuanya harus dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai sistem.

😀

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: