Dunia Radio

Apakah Suara Penyiar Harus Bagus?

Sebelumnya mau minta maaf dulu sama senior-senior dan praktisi yang sudah lebih lama malang melintang di dunia radio. Tulisan ini bukan karena mau sok-sok-an ngasih tahu dan berlagak jadi yang paling ahli. Nope! Sama sekali tidak. Tapi lebih ditujukan sebagai dokumentasi pribadi dan jadi sesuatu yang ingin saya share kepada pengunjung blog ini. Terus terang, ilmu dan teknik saya masih sangatlah terbatas, jadi mungkin ada yang berpikir “siapa kamu kok berani-beraninya berbagi hal-hal seperti ini?”- semoga saja tidak ada ya? Kalaupun ada ya tolong biarkan saja. Ibarat kata saya ini mungkin seperti seorang penyanyi yang baru kemarin muncul di atas panggung, dan tiba-tiba merilis album The Best Of…meskipun ada embel-embel So Far. 

Tulisan #SoalRadio ini sama sekali bukan tentang hal-hal berbau teknis dan penuh resep tentang bagaimana caranya supaya jadi penyiar yang sukses. Karena itu bukan jatah saya untuk menjelaskan. Silakan bertanya pada Om Farhan atau Tante Indie Barends, karena beliau-beliau adalah gambaran nyata bahwa berawal dari siaran di radio, penghasilan untuk hidup, bisa lebih dari cukup. Sekali lagi tulisan #SoalRadio ini semata-mata adalah hasil pengamatan dan pemikiran pribadi saya, yang tentu saja berdasarkan pengalaman selama menjadi penyiar radio.

Seperti layaknya Wikipedia, tulisan ini boleh Anda setujui atau tidak. Bisa disanggah dan terbuka untuk disunting kembali. 

Dan tentu saja sampai sekarang pun saya masih harus terus belajar. Tapi, boleh kan untuk berbagi? 😀

Ukuran BAGUS ini apa sih?

Masing-masing orang punya parameter sendiri sesuai dengan kebutuhan. Ada pendengar yang senang dengan suara penyiar yang tebal, macho, laki banget, kebapakan, dan seksi. Tapi ada juga yang senang dengan seorang penyiar karena suaranya yang centil, cempreng nggemesin, ketawanya renyah, dan hal-hal yang mungkin justru orang lain nggak suka.

Jadi ukuran BAGUS memang dipertanyakan. Kalau kata orang : RELATIF.

Kalau jaman dulu ada istilah “GOLDEN VOICE”, yang mana sampai sekarang pun masih dikenal istilah itu. Tapi kalau buat saya sendiri sih seorang penyiar harus punya vocal yang audible. Nggak harus sampai se-GOLDEN itu untuk bisa jadi penyiar. Tapi ketika dia mampu mengatur instrument vokalnya dengan baik, maka suara yang didengar pun bisa enak. Suatu saat ada teman yang berkomentar saat dengar suara seorang penyiar yang notabene adalah teman SMP saya “Nih, gini nih suara penyiar seharusnya, radio banget!” Dan kemudian saya pun minder. Soalnya suara saya nggak kayak gitu. Sedih rasanya.

Tapi usaha untuk menyingkirkan pola pikir yang udah terlanjur nancep, bahwa suara penyiar itu seharusnya seperti suara yang didengar oleh teman saya itu, yang tebal, yang macho dan serak-serak gimanaaaa gitu, sama sekali nggak gampang. Saya terlahir dengan vokal yang tipis, cenderung halus, dengan gain vokal yang nggak terlalu tinggi. Bagaimana caranya supaya bisa jadi tebal dan macho seperti penyiar itu? Nggak mungkin. Nggak akan bisa. Kecuali kalo saya mau berkorban dengan merokok – yang katanya bisa bikin suara jadi tebel, atau “mimik cantik” a.k.a minum sampai mabok, yang katanya juga bisa bikin suara jadi serak kalo dikombinasikan dengan melek malem dan karaoke semalam suntuk, mungkin bisa saja suara saya jadi berubah. Tapi ya apa mau begitu?

Ada orang yang memang terlahir dengan anugerah suara tebel dan serak, macho dan laki banget. Tapi kalo saya, ya beginilah adanya.

Tapi dengan latihan, lama-lama juga bisa agak tebel. Meski tetep nggak bisa macho, tapi paling enggak agak ngebass dikit lah ya? dan kalau sudah begitu, apakah otomatis suara saya sudah masuk dalam kategori bagus? Belum tentu. Karena lagi-lagi, parameter BAGUS itulah yang nggak jelas.

Paling-paling, kalo pas siaran terus ada pendengar yang SMS dan bilang “Aku suka suaramu…bagus…” itu sudah jadi semacam legitimasi minimal tentang suara kita. Pun, meski sudah ada yang begitu, bakal tetep ada yang bilang “Suaramu jelek! suara kayak gitu kok siaran!”

Hello haters!

Jadi, penyiar itu nggak harus punya suara BAGUS, tapi penting punya vocal yang AUDIBLE. Apa itu AUDIBLE? Gampangnya adalah ENAK DIDENGAR. Bagaimana caranya? Ya lewat latihan.

Lalu apa saja yang bisa dilatih?

  1. Instrumen mulut, gigi geligi, lidah, tenggorokan dan pita suara, lalu pernafasan. kalau mau nyari senam muka di internet pasti nemu. Coba cari dan praktekkan.
  2. Latihan membaca dengan artikulasi, clarity, intonasi, untuk melatih variasi vocal yang akan sangat berguna saat siaran. Nggak mungkin kan siaran terus nadanya FLAT gitu-gitu aja. Potato aja bisa bergelombang gitu, kenapa siaran anda nggak bisa dibuat begitu?
  3. Perkaya kosakata. Ini penting supaya saat siaran kata, frase, dan kalimat yang keluar bisa bervariasi. beberapa kosa kata juga bisa menampilkan image Anda sebagai penyiar lho? ada yang jadi dicap pinter gara-gara pillian katanya saat siaran. Atau ada yang dianggap lucu karena kata-katanya yang ajaib dan pembawaanya yang emang lucu.
  4. How to deliver semua materi kata yang sudah Anda punya. Coba dipraktekin semua latihan-latihan tadi. Apakah sudah enak didengar atau belum.

Yang pada akhirnya sedikit banyak akan berkontribusi pada terbentuknya vocal yang Audible.

Percayalah, pita suara yang diciptakan oleh Tuhan ini luar biasa. Kalau belum tahu, pita suara ini kayak karet. Bisa dikencengin dan dikendurin. Fleksibel, walopun tentu saja berpotensi rusak kalau memang diperlakukan diluar dari kemampuannya. Tapi itupun sangat jarang.

Pengalaman pada pita suara ini juga saya alami. Dulu waktu awal-awal siaran, 2 minggu siaran, tenggorokan sakit bukan main. Selain karena teknik bicara nya yang salah dimana pada waktu itu saya masih belum menggunakan teknik pernafasan yang seharusnya, kata Program Director saya itu adalah sesuatu yang normal karena siaran emang beda dengan ngomong biasa. Jadi pada saat siaran, pita suara saya mendapat perlakuan diluar dari kebiasaan, makanya bereaksi. Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan iya aja sih, lama-lama sakitnya hilang dan suara yang dihasilkan juga lebih tebal. Mungkin karena pita suaranya ikutan tebal juga? Nggak ngerti.

Tapi yang pasti suara yang saya produksi sekarang jauh lebih tebal dari yang dulu.

Masih belum macho dan laki banget sih.

Tapi suatu saat ada seorang teman yang bilang “Itu yang di iklan “X” itu suaramu ya?”

Itu iklan produksi dari Jakarta. Talent-nya juga dari Jakarta.

Komentar tadi artinya ada 2.

Suara saya emang pasaran (dan nggak apa-apa),

dan suara saya yang nggak macho dan laki banget ini tetep punya potensi untuk jadi Voice Over sekelas talent ibu kota.

😀

2 Comments

  1. jecigracietta September 9, 2014

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: