Ibu [Flash Fiction}

Ibu.

Dimana ibu?

Aku mengerjapkan kedua mataku dan tak menemukan ibuku. Dia tidak ada disana. Dimana ibu?

Aku mulai memanggilnya berulang kali.
“Ibu! Ibu! Dimana kau?”

Aku berteriak sekeras mungkin tapi sepertinya Ibu tak mendengar suaraku.
Sepertinya semua usahaku sia-sia. Ibu tak ada disana, dan aku tak tahu dimana dia.
Suaraku hampir parau, dan aku sudah mulai lelah. Aku mencari kesana kemari, bertanya pada para tetangga, tapi mereka bilang mereka tak melihatnya. Bahkan ada yang hanya diam sambil tertunduk lesu seperti tak peduli.

Ibu. Dimana engkau.

Aku mulai khawatir. Jika ibu tak ada, bagaimana nasibku.

Aku paling dekat dengan ibu dibanding saudaraku yang lain. Sejak kecil aku memang berbeda dibandingkan ketiga saudaraku. Meskipun kami sama-sama mencintai ibuku, tapi mereka lebih mandiri daripada aku.

Ketika masih sama-sama kecil, kami suka mengikuti ibu kemana kami pergi. Kami tak pernah jauh darinya. Ibu adalah sosok paling protektif, terutama padaku, si bungsu. Aku merasa ibu paling sayang padaku. Bahkan saudara-saudarakupun pernah bilang bahwa ibu pilih kasih. Meski ibu menyangkal dan mengatakan bahwa cintanya untuj kami berempat, nyatanya mereka tak percaya. Dan ketika beranjak remaja, mereka lebih memilih berpisah dan menikmati hidup mereka tanpa ibu.

Sedangkan aku, masih setia menemani ibuku yang semakin menua.

Dan sekarang, kemana ibuku? Apakah dia tak tahu kalau saat ini aku sangat takut? Apakah dia tidak sadar bahwa aku sangat mengkhawatirkannya?

Sebentar, sepertinya aku mendengar suara ibuku.

Aku menghambur keluar dan bersiap menyambut ibuku. Ingin aku berteriak padanya dan menuntut penjelasan darimana saja dia?

Tapi aku kecewa, suaraku tertahan ketika yang kulihat bukan sosok ibuku. Tapi entah ibu siapa. Dia bertanya apakah kau baik-baik saja? Aku hanya diam dan malu. Dan aku kembali pada kesedihanku.

Ibu, kau dimana?

Aku mulai berpikir bahwa sebenarnya ibu tak pernah menyayangiku. Cintanya hanya cinta palsu. Selama ini dia hanya membohongi kami, keempat anaknya. Mungkin saudaraku benar, ibu memang pilih kasih. Dan entah untuk siapa kasih sayangnya sekarang.

Aku berdiri di sudut rumahku. Air mataku mulai berjatuhan. Aku sedih sekaligus marah memikirkan perkataan saudaraku bahwa ibu memang tak pernah mencintai kami, terlebih dia tak pernah peduli padaku.

Aku mulai mendengar kasak-kusuk dari para tetangga. Ada yang sampai mengasihaniku. Dia bilang, sudah lupakan saja. Aku bukan satu-satunya anak di kampung itu yang kehilangan ibu. Banyak anak dikampung ini yang sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini. Kami terbangun dari tidur dan tak bisa menemukan ibu kami. Bahkan beberapa dari kami juga kehilangan ayah sekaligus. Kami tak pernah mengerti, kemana para ibu itu pergi? Kemana ibuku.

Kemudian para tetangga sudah mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Berseliweran kesana kemari, entah apa yang mereka cari. Ingin aku mengikuti jejak mereka, bersikap seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu. Tapi aku tak mampu. Aku masih memikirkan ibu.

Ibu. Dimana kau?

Para tetangga riuh ketika sesosok raksasa melangkah ke kampung kami. Suara langkah kakinya berdentam-dentam. Para tetangga berteriak dan berhamburan kesana kemari.

“Ada apa ini?” tanyaku.

Mereka tak mendengarnya. Sibuk menyelamatkan diri.

“Tolong! Jangan aku! Jangan anakku!” begitu suara yang kudengar dari mulut seorang wanita tua yang tak jauh dariku.
Sementara di tempat lain, seorang anak kecil menangis kencang bersahutan dengan anak lainnya.

Sepertinya aku pernah bertemu dengan sosok raksasa ini. Tapi aku lupa kapan dan dimana.

Raksasa itu semakin dekat. Dia menenteng sesuatu. Aku mengenalinya. Jantungku serasa berhenti ketika aku melihat sosok ibuku tergolek lemas seperti tak bernyawa. Darah segar mengucur dari lehernya. Apa yang terjadi? Apa yang raksasa itu lakukan?
Dan sepertinya dia tak sendirian, ada raksasa lain di belakangnya. Seorang raksasa wanita.

Dan raksasa pria itu mendekatiku. Dia mengarahkan pandangannya padaku. Mulutnya menyeringai aneh. Dia mengatakan sesuatu tentang aku. Dia bilang, “sepertinya yang ini saja”

Tapi aku tidak pasti…

Tangan raksasa itu mencengkeramku. Aku terpaku dan hanya bisa berteriak lemah ketika raksasa wanita itu menghampiri pasangannya.

“Jangan yang itu, dagingnya masih sedikit, pilih yang lain saja. Yang agak gedean dikit.”

Raksasa itu melepaskanku. Aku beringsut menjauh.

“Nah, yang itu.” si raksasa wanita menunjuk pada seorang anak remaja yang lebih gemuk dari aku. Dalam sekejap dia sudah berada dalam genggaman si raksasa lelaki. Dia berteriak, tapi tak ada yang bisa menolong.

“Memangnya butuh berapa?” tanya si raksasa pria.

“Dua cukup,” jawab pasangannya.

“Mau dimasak apa?”

“Ibu suka ayamnya dibacem saja, pake sambel tomat katanya.”

Lalu mereka berdua tersenyum dan menjauh.
Mereka pergi. Dan aku terpana. Mereka membawa remaja itu, dan ibuku.

Ibu…

Dan kemudian ada salah satu tetanggaku yang menghampiri sambil berkata, “mereka itu manusia, makhluk paling kejam yang pernah ada di muka bumi.”

Manusia.

Manusia itu membawa ibuku.

Mereka memakannya.

Author: nunoorange

Radio announcer. Average in everything.

4 Replies to “Ibu [Flash Fiction}”

  1. waah, kak. ternyata ada blog akuuh di link di sini.
    terima kassiiih. ^^

    meski malu eung, sederet sm foodbloger kereen. sdg saiaah, asal curhat heu.. 😀
    nampak beda genre hihi..

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

%d bloggers like this: