Salah Cara [Flash Fiction]

Rena terdiam memandangi lelaki yang duduk di depannya. Lelaki itu masih menangis tersedu-sedu sembari menundukkan kepalanya di kedua lengannya yang terlipat di meja. Entah apa yang dirasakan Rena saat mendengar lelaki itu terus mengulangi kalimat yang sama.

“Maafkan aku…tolong bawa aku pulang…aku rindu rumahku…aku rindu rumahku…Barry…aku rindu Barry”

Aku mencintai Barry. Kami berdua adalah sepasang kekasih. Kekasih diam-diam, begitu dia menyebutnya. Aku hanya tertawa. Dijaman seperti ini dia masih ingin saja diam-diam. Padahal jika dia menginjinkan, aku akan mengatakan pada dunia dengan suara lantang bahwa aku mencintainya. “AKU MENCINTAI BARRY! BARRY-KU” Tapi dia tak mau. Dan beginilah kami menjalani hidup. Bertemu sebagai teman, intim sebagai sepasang kekasih, dan berpisah seolah dia tak pernah mengenalku.

Aku tidak keberatan. Aku mencintainya dan kurasa ini adalah salah satu cara dimana aku harus berkorban demi dia. Apapun yang diminta, akan kuberikan. Jangankan hanya diam, jika dia menginginkan aku mati sekarang, aku akan cari cara agar mati secepat-cepatnya, tepat di hadapannya, seperti apa yang dia minta. Meskipun disisi lain aku begitu tersiksa. Kenapa harus berpura-pura? Kenapa kami tak bisa berterus terang saja?

Barry pernah bilang kalau situasinya berbeda. Lebih tepatnya aku dan dia berbeda. Walau kami berdua saling mencintai, tapi Barry menegaskan kami adalah dua orang yang berbeda. Orang-orang mungkin akan paham kenapa aku begini, tapi tidak dengan Barry. Dunianya akan hancur seketika jika aku terus memaksakan keinginanku, dan dia tidak ingin itu terjadi. Akupun tak mampu membayangkan bahwa aku akan menghancurkan hidup Barry. Tidak. Aku tidak ingin menyulitkannya. Aku akan menjaga rapat-rapat hubungan kami. Aku berjanji.

Temanku pernah meminta agar aku meninggalkannya. Aku tak mau. Dia bersikeras. Menurutnya ini hanya masalah waktu. Aku meninggalkannya, atau aku akan patah hati dan merana karena dia meninggalkanku terlebih dulu. Aku takut. Bahkan hanya dengan membayangkannya saja aku tak mampu. Selama ini aku yakin bahwa dia mencintaiku, sama dalamnya seperti aku mencintainya. Tapi temanku bilang aku hanya hidup di dunia mimpi lebih lama. Dia mengakhiri khotbahnya dengan mengatakan “Nikmatilah..”. Dan aku terdiam.

Aku tidak pernah menyangka bahwa hari itu akan datang juga. Dan sepertinya semuanya sudah terlambat. Aku kehilangan arah, saat aku mendengar berita itu di televisi.

Seorang artis bertunangan dengan seorang pengusaha. Wajah itu aku kenal. Itu kekasihku. Barry. Barry-ku.

Hatiku pecah berantakan seperti gelas yang jatuh dan berserakan di bawah kakiku. Barry mematahkan hatiku. Akhirnya! Dia tak pernah mengatakan padaku. Dia membohongiku. Berita itu bilang kalau artis itu sudah lama mengenal Barry. Yang aku pahami adalah selama ini Barry berbagi cinta. Cintaku dan cinta wanita itu. Dan aku menghabiskan hari itu hanya dengan meringkuk di sudut ranjang hanya dengan menangis.

Yang kutahu, malam itu Barry datang lagi ke apartemenku. Dia menemukanku tertidur dengan sisa air mata yang masih menunggu untuk jatuh di sudut mata. Aku sedikit terbangun saat dia menyalakan lampu di kamarku. Dia datang menghampiriku dan aku hanya melihatnya dari sudut mataku dengan lemah. Dia hanya berdiri disana, tidak melakukan apa-apa. Tidak juga memelukku dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Tidak. Dia hanya diam disana dan berbalik menuju ke lemari.

Aku melihat Barry mengemasi baju-bajunya yang selama ini dia tinggalkan disini. Dia mengambil semuanya tanpa sisa. Baju-baju yang selalu kuciumi saat aku merindukannya dan dia tak ada di sampingku. Dia mengambil semuanya.

“Tolong jangan…” bisikku. Dia berhenti dan menoleh padaku sedikit. “Maafkan aku,”. Hanya itu yang dia katakan padaku. Dan aku masih terus memohon agar dia meletakkan kembali barang-barangnya. Tapi dia seperti tidak mendengarkanku. Dia keluar dari kamar dan menuju ke ruang tengah. Tempat dimana kami sering menghabiskan malam-malam kami hanya dengan menonton film romantis sampai tertidur.

Dengan sisa tenaga aku beranjak dari tempat tidurku hanya untuk melihat Barry melepas satu persatu foto kami berdua dari dalam bingkainya. Sejarah kami yang hendak dia hapus untuk selama-lamanya. Dia merobek beberapa foto dan menjejalkannya ke tempat sampah.

“Jangan..” teriakku parau. Aku memohon padanya untuk tidak meneruskan tindakannya. Aku menghambur padanya dan mencoba merebut beberapa foto yang ada di tangannya. “Aku mohon jangan…” Aku menangis sejadi-jadinya. Sementara ruangan itu benar-benar kacau. Bingkai foto dan pecahan kaca dimana-mana. Kakiku menginjak gelas yang dari tadi pagi masih berada di tempatnya. Berdarah, tapi aku tak lagi peduli. Aku mau Barry-ku kembali.

Tapi sepertinya aku hanya bermimpi. Semuanya kabur…tidak jelas…aku tidak mampu mengingat apa-apa setelah itu. Yang bisa kuingat adalah aku berlari ke arah dapur, mengambil pisau, dan menusuk punggung Barry beberapa kali. Dia ambruk. Darah ada dimana-mana. Dia terjatuh di pelukanku.

“Barry..bangun…bangun..” ratapku. Tapi dia hanya melihatku dan tak mampu mengatakan apa-apa. Aku menghapus darah yang keluar dari mulutnya sambil terus memintanya untuk bangun. Lalu dia menutup mata dan seperti tak pernah bangun lagi. Barry-ku mati.

Rena beranjak dari ruangan itu. Perasaanya kacau. Ia baru saja menemui seorang pria yang membunuh kekasihnya. Kekasih yang juga kekasih pria itu. Ia memakai kaca mata hitamnya. Meski berduka, dia masih terlihat cantik. Dua orang polisi membimbing pria itu keluar melalui pintu yang lain. Rena menarik nafas dalam dan bersiap menyambut kilatan lampu kamera dan sejuta pertanyaan.

Tapi ada sebuah pertanyaan yang muncul di benaknya saat ini. Kenapa aku tak merindukan Barry sebesar lelaki itu merindukannya?

“Aku ingin pulang..aku rindu rumahku…Barry..aku rindu Barry..”

Dan kata-kata itu terus berputar di kepala Rena.

Inspired by Salah Cara - Ichsan Akbar

Author: nunoorange

Radio announcer. Average in everything.

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

%d bloggers like this: