Flash Fiction Day #8 : Untuk Kamu, Apa Sih Yang Nggak Boleh

Musim hujan tahun ini lebih buruk dibandingkan tahun lalu. Air tumpah menggila hampir tiap hari. Matahari seakan mengalah pada awan, seperti mau tak mau cuti dari tugasnya dan menyerah pada desakan mendung.

Maya membuka sedikit tirai jendela ruang tengah. Dia menengadah ke atas. Hari masihlah sore, tapi warna kelabu seakan membuat malam datang lebih cepat. Bahkan untuk May yang selalu berpikiran bahwa hujan adalah berkah, musim hujan kali ini menjadi sesuatu yang tidak ia harapkan datang sepanjang hari.

Maya melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul 6. Tapi Dion belum juga sampai rumah. Kabar terakhir yang dia dapat dari suaminya mengatakan bahwa daerah sekitar kantornya sudah mulai hujan dengan angin yang cukup kencang. Dia tertahan disana untuk beberapa saat. Mengumpulkan niat sampai kemudian nekat.

Dion hanya berpesan, ‘Sabar ya..?”

Maya mengiyakan. Meski dia tak tahu sampai kapan.

Sebenarnya jarak dari kantor ke rumah tidaklah jauh. Hanya kurang dari 1 jam perjalanan. Tapi Maya tahu, rute yang dilalui suaminya adalah langganan macet. Bahkan jika hari cerah sekalipun orang harus berjuang ekstra keras untuk urai dari simpul macet yang makin lama makin bikin gila.

Apalagi hujan seperti ini. Maya tidak berani membayangkan.

15 menit berlalu sejak Dion bilang kalau dia sudah hampir sampai. Hanya mampir sebentar ke suatu tempat. Sementara hujan diluar sudah mulai menyapa. Ah, bukan jenis sapaan lembut yang sopan. Ini lebih kepada marah. Entah pada siapa. Pada manusia mungkin? entahlah Maya tak tahu.

Dan kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan di kepala Maya. Tentang teori pemanasan global. Apakah betul-betul sedang terjadi? Atau ini semua hanya sekedar teori konspirasi seperti kabar palsunya pendaratan manusia pertama di bulan?

Ah, Maya sendiri heran kenapa dia lebih memikirkan hal-hal yang diluar kuasanya, bukan malah memikirkan apakah suaminya baik-baik saja atau terjebak banjirkah ia di suatu tempat?

Tapi dia boleh berlega hati ketika didengarnya pintu gerbang rumah berderit.

Maya buru-buru menengok dan sesaat kemudian dia mengenali sosok suaminya dalam balutan jas hujan warna hijau tua. Dion dan vespanya basah kuyup. Maya segera menyambut suaminya dengan wajah cemas.

“Kejebak banjir ya?” tanya Maya setengah berteriak karena air hujan tampaknya membuat suasana menjadi pekak.

Dion tak menjawab. Dia sibuk memarkir kendaraannya dan melepas jas hujannya. Lalu tersenyum pada istrinya.

“Kejebak banjir nggak” Maya kembali bertanya.

“Nggak kok. Tadi mampir bentar beliin pesanan kamu,”

Maya mengangguk. kecemasannya hilang ketika tahu Dion baik-baik saja. Keduanya pun masuk ke rumah dengan segera. Maya mengangsurkan handuk untuk suaminya.

“Itu bungkusannya dibuka dulu,..mumpung masih hangat..”

Maya mengambil plastik hitam yang dari tadi dibawa Dion. Ia menarik napas dalam.

“Aaaah…martabak durian Pak Didik..”

Maya menatap potongan-potongan martabak durian hangat penuh mentega dan lelehan durian di depannya. Takjub.

“Ibu hamil nggak boleh makan lho tapinya..” ucap Dion sambil memeluk istrinya dengan mesra dari belakang.

Maya tersenyum. “Iya, tahu. Tapi si Kakak kok yang minta…cuma mau cium baunya aja…”

Dion membalikkan tubuh maya dan kemudian membungkuk di depan perut istrinya yang membuncit.

“Kakak nakal ya? maunya martabak durian, ayah sampai repot!”

Lalu Dion bangkit dan menatap istrinya.

“Tapi untuk kamu…dan Kakak…apa sih yang nggak boleh?”

Dion tersenyum dan mengecup kening Maya dengan mesra.

Author: nunoorange

Radio announcer. Average in everything.

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

%d bloggers like this: