Personal

Apakah Sebaiknya THR Dihabiskan Atau Perlu Disisihkan Sebagian?

Sudah 2 minggu puasa dan 2 minggu lagi lebaran. Jamaah masjidnya udah mulai makin maju, sementara mall-nya makin rame. Bukan saya lho yang bilang, tapi Ustadz yang kebagian khotbah tarawih yang sempet ngelempar joke ini beberapa malam lalu. Ya bukan joke juga sih sebenernya, tapi lebih ke nyindir kali ya? Padahal belum pada terima THR tapi udah bejubel aja di mall pada nyari baju baru.

Lebaran dan baju baru seperti 2 hal yang tak terpisahkan. Tiap tahun momen lebaran adalah salah satu momen yang dimanfaatkan oleh para pengusaha untuk memberikan diskon gede-gedean supaya orang tertarik buat membeli (setelah harganya dimark up juga kali ya?). Salah satu itemnya ya baju itu.

Saya sendiri udah lama nggak tertarik dengan keriuhan belanja lebaran. Pernah sih beli baju baru, tapi itu sendiri saya lakukan jauh-jauh hari sebelum lebaran, malah sebelum puasa, dan udah kepake dulu sebelum hari H dan jatuhnya malah bukan lagi baju baru. Makanya beberapa tahun belakangan tampang saya semacam “gembel” kalau lebaran datang.

Paling-paling selama hampir 5 tahun belakangan ikut ngantri di kasir buat bayar baju milik keponakan tiap kali lebaran dan saya sendiri sudah lama out of date.

Beruntungnya kita disini yang bisa terima THR menjelang hari raya. Selain bonus tahunan, THR adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu tiap menjelang lebaran. Disaat kebutuhan meningkat, THR semacam nafas buatan dan nyawa tambahan bagi kita. Meskipun mungkin bagi banyak orang jumlahnya dianggap tak seberapa, tapi cukup lumayanlah untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan menjelang hari raya.

Orang bilang THR bukan duit yang seharusnya dipegang kenceng. Kalau sudah terima ya silakan dibelanjakan, kalau perlu ya sampai habis, hehehe. (padahal habisnya bukan karena belanjaannya yang banyak, tapi karena jumlah uangnya yang emang kebetulan ngepas ama jumlah belanjaannya).

Salah seorang teman saya pernah bilang kalau THR itu semacam uang kaget, jadi kalau nantinya habis ya sebaiknya jangan kaget. Apalagi dimasa seperti sekarang, dimana harga barang makin mahal, masih pake acara naik segala menjelang lebaran. Jadi mau nggak mau bujet memang tambah bengkak. Nah, inilah salah satu fungsi THR. Menambal “lubang” disana-sini. Lumayan. Jadi kalau habis ya memang sudah wajar.

Tapi kalau melihat tayangan-tayangan di TV dimana salah satunya adalah mengenai keuangan dan membahas tentang bagaimana mengatur uang tunjangan hari raya, sepertinya kok bikin banyak dari penontonnya nyesel ya? Termasuk saya. Nyeselnya kenapa? Ya karena tayangan tadi semacam menunjukkan kalau sebenarnya uang THR itu masih berpotensi untuk disimpan sebagian. Lalu kemudian dijabarkanlah jumlah sekian-sekian persen yang bisa disimpan dengan tujuan begini dan begitu. Memberikan gambaran bahwa THR bisa digunakan untuk jangka panjang bahkan hingga ke paska lebaran. Ketika jor-jor an dimasa hari raya dan kemudian hari menuju gajian masih panjang, simpanan uang dari THR masih bisa jadi penyelamat.

Teorinya begitu.

Tapi kenyataan sering berkata lain. Bagi banyak orang faktanya jauh dari apa yang diteorikan. Sering kali THR yang diterima tidak cukup. Boro-boro disimpan sebagian, yang ada malah banyak diantara kita yang menggerus uang tabungan yang sedianya emang nggak dipake buat seneng-seneng dihari raya. Jatuhnya malah tekor. Nggak heran banyak BPR yang menawarkan produk kredit lebaran. Tujuannya? Ya kalau bukan buat memenuhi kebutuhan lebaran, ya biar bisa agak lebih “hedon” ketika hari raya nanti.

Buat saya sih, penghitungan soal sekian persen THR yang bisa disimpan adalah penghitungan untuk mereka-mereka yang THRnya lebih besar dari budget kebutuhan mereka pada saat menyambut hari raya. Katakanlah untuk saudara sepupu saya yang bekerja di dinas pajak, yang gaji bulanannya aja (konon) mencapai 11 juta rupiah per bulan. Bayangin aja kalau terima THR sekali hitungan gaji, ya jumlahnya pasti segitu juga kurang lebihnya. Gaji bulanannya aja belum tentu abis buat seneng-seneng dihari raya, masih ditambah THR yang jumlahnya juga hampir sama. Ya pasti sisa banget-banget laaah.

Okay, mungkin banyak yang bilang “Semuanya tergantung orangnya”. Iya sih, tapi kan yang masuk dalam kategori “orang yang bisa dengan baik menyimpan uang (THR)” ini mungkin jumlahnya lebih sedikit dari mereka yang lebih mudah menghabiskan daripada menyimpan.

Dan saya termasuk yang lebih mudah menghabiskan daripada menyimpan. Ya, saya.

Tapi jangan salah, seringnya (sebelum terima THR) saya membayangkan bisa menyisihkan sekian ratus ribu untuk saya simpan sebagai dana jaga-jaga supaya ketika kemeriahan lebaran usai, saya masih bisa punya duit buat beli nasi rames sampai hari gajian berikutnya tiba. Tapi ya itu, kadang-kadang ada sesuatu yang tidak bisa kendalikan, terutama jika menyangkut kepentingan dan kebutuhan orang lain yang dalam hal ini adalah keluarga.

Saya lajang, tetapi menjadi “kepala keluarga” dengan penghasilan yang sudah masuk kategori lumayan pun kadang masih menemui kesulitan untuk mencegah uang keluar dari rekening. Karena ya itu tadi, ada semacam “keinginan dan kebutuhan” dari anggota keluarga saya yang tentu saja tak bisa ditolak.

Jadi apakah usaha untuk menyimpan sebagian uang THR itu berhasil? Tidak selalu. Tapi yang pasti ujung-ujungnya tetap habis juga.

Keputusan untuk menyimpan dan menggunakan uang THR untuk kepentingan lain diluar dari kebutuhan hari raya, atau menghabiskannya saat itu juga memang sebuah keputusan individual. Penghitungan tentang sekian persen yang bisa disimpan itu bisa jadi memang tak cocok untuk semua orang. Jadi perilaku seseorang yang menyimpan uang THR atau menghabiskan sekaligus saat itu juga memang tak bisa disalahkan. Tetapi lagi-lagi konsekuensi memang harus diterima oleh masing-masing.

Yang penting kewajiban harus dipenuhi. Zakat fitrah jangan sampai lupa dibayar. Selebihnya silakan diatur sendiri.

Memang akan lebih menyenangkan bisa membelikan ini dan itu untuk orang lain, tetapi sedikit menahan diri juga bukan sebuah tindakan yang buruk untuk dilakukan. Dan merupakan sebuah kesenangan jika bisa menantang diri sendiri untuk tidak boros membelanjakan uang dan berhasil melakukannya.

Jadi, apakah kesimpulannya? Haruskah THR dihabiskan? Atau simpan sebagian?

…selama nggak sampai ngutang buat lebaran sih nggak apa-apa ya?

eh tapi kalau sampai kredit pun, nggak usah banyak-banyak. Biar tagihan bulanannya nggak sampai bikin kita bingung.

Selamat berpuasa dan menyambut lebaran.

Mari kita belanja! #eh

One Response

  1. Cara Mengatasi Loyo July 8, 2015

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: