Akhirnya Telur Itupun Pecah!

Pecah Telur

Pernah dengar istilah “Pecah Telur” nggak? itu tuh, istilah yang melambangkan sebuah keberhasilan pertama dari usaha yang sudah dilakukan sekian lama namun belum membuahkan hasil juga. Nah, itu dia. Kenapa pecah telur dijadikan perlambang dari awal sebuah keberhasilan? Mungkin karena cangkang telur sendiri melambangkan sebuah bungkus yang rapat dan sempurna. Dan dari dalam telur bisa muncul sesosok makhluk hidup yang (mungkin) lucu. Jadi kalau kemudian si makhluk lahir dari cangkang yang keras dan membawa kehidupan yang baru, itulah kebahagiaan yang hakiki.

Ngomong-ngomong soal pecah telur, aku baru mengalami beberapa hari yang lalu. Setelah sekian lama usaha ikut lomba nulis blog disana dan disini, akhirnya namaku muncul sebagai salah satu pemenang. Meski berada dalam deretan nama pemenang hiburan, tapi buat aku itu LEBIH DARI CUKUP! HA-HA! Saat pertama kali melihat pengumuman lombanya aku nggak bisa berhenti tertawa senang dan nggak percaya. Cuma 2 kata yang meluncur dari mulutku : “Alhamdulillah” dan “Akhirnya”.

Pecah Telur

Pertama ikut lomba blog

Jujur dulu nggak pernah kepikiran buat ikut lomba macem-macem di blog. Sadar diri kalo aku bukan orang yang kompetitif. Lomba pertama yang kuikuti adalah lomba ini. Itupun karena permintaan teman yang kebetulan saat itu bekerja di sebuah agensi yang jadi penyelenggara lomba. Dia minta aku ikutan demi ngejar entries. Apakah aku menang karena yang ngadain temen sendiri? Enggak. Haha.

Lagipula nih, ada banyak hal yang sepertinya nggak bisa aku kejar. Jaman sekarang, lomba blog itu nggak cuma sekedar lomba nulis aja, tapi banyak aspek yang jadi pertimbangan penilaian. Selain isi, gaya penulisanpun diperhatikan. Poin ini juga sepertinya aku nggak bisa menang. Gaya penulisanku amburadul dan mostly suka jumping kesana-kemari je! 😀

Belum lagi blog saat ini juga harus mampu memanjakan mata dengan grafis yang menarik. Tidak hanya sekedar foto, tapi kalau perlu ditambah dengan animasi dan videografi yang oke punya, sudahlah gaya penulisan amburadul, kemampuan buat mengolah grafis pun tak ada. Yawis, akhirnya cuma jadi penggembira.

Under Estimate sama diri sendiri?

Nggak. Aku nulis gini bukan berarti aku mengecilkan diriku sendiri. Cuma emang sadar diri kalau aku masih perlu banyak belajar. Mulai dari gimana nulis yang enak dibaca, sampai belajar bikin gambar yang enak dilihat. Minimal memperbaiki kualitas fotoku lah. Dari yang awalnya cuma asal jepret, sekarang udah harus memperhitungkan angle pengambilan gambar, pencahayaan, dan sisi artistik lainnya.

Mau nggak mau aku juga harus belajar tentang gimana mengolah sebuah gambar menjadi video. Dari yang tadinya nggak sabaran dan malas ngutak-atik, sekarang udah mulai baca dan tanya-tanya temen. Sedikit demi sedikit jadi tahu gimana caranya ngedit video, walaupun hasilnya juga ya gitu deh. Hehehe.

Terus? Apa tujuan ikut lomba kalau cuma kalah lagi dan kalah lagi?

Sekarang aku punya keinginan untuk memperbaiki kualitas postinganku di blog, tapi menang bukan lagi jadi tujuan utama (meski sebenarnya juga mupeng). 😀 Soalnya gini, aku ini orangnya gampang patah hati dan cenderung bisa jadi patah arang kalau gagal lagi dan gagal lagi. Itulah kenapa aku tetap ikut lomba, tapi dari awal niatnya cuma pengen nyoba dan melakukan yang terbaik menurut versiku sendiri. Masalah nanti dapat juara apa enggak itu urusan belakangan.

Karena biasanya kalau terlalu ngarep, terus apa yang dibayangkan nggak sesuai kenyataan, jadinya malah baper dan patah hati. Terus abis gitu malah benci. Kan nggak asyik ya?

Makanya sekarang ini kalau ikut lomba niatnya cuma 3:

  1. Nyoba sejauh yang aku bisa
  2. Mendorong kreativitasku sampai ke batas kemampuan, dan
  3. Bersenang-senang dan jadi penggembira

Dengan 3 itu aku sudah mengantisipasi nggak enaknya patah hati.

Jadi orang itu harus percaya!

Orang bilang kamu harus percaya jika memang punya keinginan. Kamu harus yakin semesta akan mendukung. But hey, lomba-lomba beginian bukan soal urusan yakin semesta akan mendukung atau tidak, tapi usahamu juga menentukan. Kalau emang cuma segitu usahanya, ya sebaiknya jangan ngarep bisa dapat lebih. Jadi ya kalau mau menang lomba, sudah sejauh mana usahaku?

Balik lagi ke soal sadar diri tadi. Aku sadar usahaku masih belum maksimal. Jadi wajar kan kalo nggak berani ngarep? 😀

Makanya begitu tahu aku jadi salah satu pemenang hiburan, senengku udah yang luar biasa. Akhirnya pecah telur juga! Hahaha! Saat itu aku berkata pada diri sendiri, “Nah, bener kan? Yang namanya hasil itu nggak akan mengkhianati usaha”. Karena jujur untuk lomba yang itu aku menilai effort-ku memang lebih keras dari biasanya.

Apa sih usahaku waktu itu?

Meskipun bukan jadi salah satu yang jadi penilaian utama, tapi untuk postingan lomba yang aku menangi itu aku bertekad pokoknya harus bikin video! Padahal yang lain udah sampai ke bab bikin landing page yang menarik, aku masih sampai bikin video. Dasar #ndeso!

Oke, skenario sudah dibikin, sekripnya juga sudah di kepala, tinggal eksekusi saja. Sambil siaran malam, sambil take video berulang-ulang. Semuanya dikerjain sendiri. Kadang kameranya ngadat, kadang aku-nya yang salah-salah ucap, pokoknya capek banget.

Ngedit videonya pun cuma pake Windows Movie Maker karena waktu itu cuma aplikasi tersebut yang terpasang di laptop. Hasilnya masih apa adanya, tapi sedikit banyak bisa bikin aku bangga. Karena ternyata aku bisa menaklukkan rasa malu ku untuk tampil di depan kamera. Hahaha. Biasanya emang ogah banget (kecuali kalo pas lagi syuting buat acara berita di TV).

Kamu lebay deh, No!

Reaksiku mungkin berlebihan, terlebih jika dari sudut pandang orang yang sudah jadi langganan menang lomba blog dan hadiahnya bernilai gede. Tapi beneran, dari sudut pandangku ini adalah sesuatu yang harus dirayakan.

Ada cerita soal lomba lagi nih…

Oh iya, soal urusan lomba ini beberapa waktu lalu Mamah Dedeh sempet nanya “Gimana kalau nanti nggak menang lomba, padahal udah beli banyak banget? Apa nggak malu udah bikin banyak resep tapi kalah?”. Kebetulan saat ini aku lagi ikutan lomba kreasi resep So Good yang diadain sama Blogger Perempuan Network. Untuk lomba ini aku beli produk So Good cukup banyak dan membuat lebih dari 1 kreasi resep.

Aku bilang, ikut lomba itu dibikin seneng aja. Mau belinya banyak atau sedikit nggak ada bedanya, toh dimasak juga buat makan keluarga dan nggak dibuang. Jadi enggak rugi apa-apa. Yang namanya berkompetisi itu urusannya emang sama menang dan kalah. Karena kebetulan untuk urusan lomba ngeblog ini aku udah biasa kalah, jadi malah nggak punya ekspektasi apa-apa.

Mau menang syukur, nggak menang ya nggak apa-apa. Yang penting bisa eksekusi resep terus dipamerin ke seluruh dunia, itu aja udah yang oke banget! 😀

Semuanya dibawa santai aja dan nggak perlu dibawa perasaan. Siap sportif kalau kalah dan nggak jadi gede kepala kalau akhirnya juara. Semua ada caranya, semua ada masanya, semua ada bagiannya. Lha wong kalau memang yang lain usahanya lebih keras dan hasilnya lebih bagus dari kita, kita bisa apa?

Gak jadi juara satu ya no problemo. Gak juara sama sekali ya gak perlu sakit hati. Intinya dibikin senang aja. Ya tho?

Kesimpulannya?

Pokoknya gitu deh, kalau memang niat mau ikutan lomba ngeblog itu emang kudu total. Tapi setelah mengerahkan semua kemampuan, nggak usah over PD dan ngarep maksimal. Santai saja. Kalau perlu lupakan sudah ikutan. Nanti kalo tiba-tiba diumumin terus menang kan kejutan. Kalau kalah? ya cari info lomba lainnya dan coba lagi.

Tapi yang pasti aku senang ternyata usahaku akhirnya berhasil juga. 😀 Pecah telur euy!

Author: nunoorange

Radio announcer. Average in everything.

7 Replies to “Akhirnya Telur Itupun Pecah!”

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

%d bloggers like this: