Review Film Real Steel

Cengoh, nggak ada kegiatan, perlu sebuah spontanitas untuk bisa mengisinya dengan sebuah kegiatan yang menyenangkan. Pulang kerja, disambut kejadian yang tidak menyenangkan – tapi kemudian masalahnya beres, saya punya ide untuk pergi nonton. Bareng sama sodara satu kos, saya gerak cepat mewujudkan ide saya..hahaha.

Padahal semalem itu udah jam 9 lebih 15 menit, filmnya main jam setengah sepuluh. Ditambah lagi situasi jalan raya seputar Simpang Lima macet dan ditutup karena sedang ada acara besar, saya dan @syakirachyar mencari jalan tikus untuk bisa masuk ke parkiran gedung. Belum beli tiket pula, sempet khawatir kalo filmnya udah main, atau parah-parahnya kehabisan tiket padahal sudah susah payah.

Eh tapi, kami cukup beruntung, dapet spot nonton yang enak dan nggak telat pula. Pas nyampe didalam teater, trailer film-film lawas itu sedang diputer. Teeeettt!! Tidak tertarik. Udah nonton di Star Movies. Dan film utamanya pun dimulai.

I’m not a big fans of Hugh Jackman, but i can say he’s good. ๐Ÿ™‚

Real Steel is a movie about robot, boxing, family, and love. Ngeliat traillernya tempo hari saya jadi pengen nonton film ini. Hugh Jackman, dapet peran sebagai pensiunan petinju bernama Charlie Kenton. Sama seperti para penonton yang senang bertaruh pada pertandingan tinju yang mereka nikmati, hidup Charlie sendiri penuh dengan pertarungan dan pertaruhan. Punya hutang disana-sini, dikejar-kejar debt collector, udah jadi santapan sehari-hari.

Suatu waktu di tahun 2020, manusia sudah tidak lagi menikmati pertandingan tinju Konvensional. between man to man, but there’s a robo boxing in that time. Baja-baja tebal itu beradu kekuatan dengan pengendali jarak jauh yang dimainkan oleh tuannya. Dan Charlie pun terlibat dalam bisnis Robo Boxing ini.

Saat nasibnya sedang tidak baik, Charlie harus menghadapi kenyataan bahwa mantan pacarnya – yang ditinggalkan dengan seorang anak, meninggal. Anak semata wayangnya, Max Kenton, pun menjadi tanggung jawab si ayah biologis. Hubungan mereka kemudian berlanjut dengan sangat cepat dan ternyata Max juga punya ketertarikan yang sama dengan Charlie.

Disuatu malam, ketika mereka berdua menyelinap ke sebuah gudang penyimpanan bangkai suku cadang Robot, Max menemukan sesosok robot yang terkubur dalam tanah. Max percaya bahwa robot ini bisa menjadi robot yang hebat. Namanya Atom. Dan benar saja, meski Atom adalah bukan robot tipe petarung, tapi dengan niat dan kegigihan Max, Atom bisa menjadi robot yang luar biasa.

Ceritanya sampai juga ke pertarungan robot, drama pertandingan diatas kanvas, dan menang-kalah kemudian jadi hal yang seru.

Real Steel is an AWESOME movie! Digarap dengan kesederhanaan cerita, kecepatan alur, dan kemampuan mengaduk-aduk emosi, membuat film ini menjadi luar biasa dimata saya. Tidak ada yang istimewa dari desain robot di Real steel ini. Robot juga tidak menjadi tokoh utama, lain halnya dengan Transformer. Saya pikir, Real Steel akan jadi seperti film satu itu. Yang penuh dengan adegan blegedar-blegeder. But this is different.

Bisa jadi karena Shawn Levy yang duduk di kursi sutradara. Dia memang sudah terbiasa dengan film bergenre drama fantasi keluarga. Masih inget Night At The Museum? Nah..itu salah satu karyanya. begitu pun Real Steel. Nuansa film drama keluarganya tetap terasa. Terlebih lagi tokoh Max yang cerdas, dan cenderung cocky dan percaya diri seperti ayahnya, mampu menjaga emosi penonton, ehm..saya maksudnya. Nggak tahu dengan yang lain ๐Ÿ™‚

Nonton film ini saya jadi inget sama film Champ yang pernah saya tonton di Metro TV bertahun-tahun yang lalu. Kalo nggak salah film itu dibintangi sama John Voight, ayah dari Angelina Jolie dan Ricky Schoerder. Wuih, nonton film itu bikin saya nangis sengguk-sengguk. Eh tapi, Real Steel nggak sampai bikin saya segitunya. Walau iya juga bikin saya terharu.

Hubungan ayah dan anak, tinju, dan drama keluarga, adalah ramuan yang hampir mirip dari keduanya. hanya saja Champ minus robot tentunya.

Yang pasti spesial efeknya lumayan mumpuni. Ada Steven Spielberg dikursi produser juga, saya rasa film ini memang A Real Deal To Watch!

and please…nonton di Cinema aja..lebih seru!

update : saya kasih clip film The Champ – ini ending scene-nya..kasih tahu ya…anda nangis nggak lihat scene ini?

Buanglah Sampah Pada Tempatnya…Kalau Nggak Ada Simpan Dulu Sampai Ketemu

Tahun ini saya mudik pake travel. Biasanya sih pake bis, tapi sejak nemu travel yang rutenya ke Tegal, ya saya lebih milih pake travel. Pertimbangannya sih karena menurut hitungan ala mak-mak direktur bank “titil”, duit yang keluar jumlahnya hampir sama. Dari mulai ongkos taksi dari kos atau studio ke agen bis di daerah krapyak – karena saya mudik bawa banyak barang jadi harus pake taksi biar nggak repot, belum lagi tiket bisnya yang kena tuslah, plus ongkos “mbecak” dari jalan raya ke rumah. Itungannya hampir sama dengan travel. Ini malah lebih gampang. Habis siaran, saya tinggal nunggu jemputan di studio, abis gitu, nempatin barang, duduk, beres, tinggal tidur, eh, udah nyampe.

Jalan sepanjang pantura dimudik tahun ini sama seperti tahun lalu. Agak sepi dan nggak begitu rame. Bisa jadi karena banyak yang sudah mudik jauh-jauh hari. Just FYI saja kalau sudah beberapa tahun ini saya mudik mepet sebelum hari H. Biasanya sih H-1. Bisa jadi, itulah kenapa jalur pantura sepi dari pemudik. apalagi makin kesini pemudik dengan sepeda motor makin banyak dan biasanya mereka sudah pulang kampung beberapa hari sebelum hari H.

Tahun ini saya nggak dapat pemandangan “tangan jahil keluar jendela dan Brrrr!!”..membuang sampah sembarangan dari jendela mobil (yang katanya) mewah. Saya ingat tahun lalu, di daerah sekitaran Wiradesa, dari tempat duduk saya, yang kebetulan jendela sebelah kanan, saya lihat penumpang sebuah mobil melakukan itu. Dan segumpal tisu pun meluncur sukses ke jalan raya…dan setelah itu masih dari mobil yang sama, si “kulit pisang” mengalami nasib yang sama.

Kalau sudah begitu, saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Kalau saya punya magic wound saya bakal merapalkan mantra ala Harry Potter “Revertius Sampahtikus” biar tuh tisu dan kulit pisang terbang lagi masuk ke jendela dan “ndemblok” sukses di muka orang yang buang sampah sembarangan.

kelakuan-kelakukan kayak gini nih yang kadang bikin jiwa mak-mak comel saya muncul. Kalau pas lagi naik motor ama temen terus saya lihat hal begituan, saya pasti udah ngedumel…ngomyang sak karepe dewe. Tapi karena ini di bis, saya paling cuma bisa “merat merot” dan geleng-geleng.

Gimana bisa, seseorang yang katanya orang kaya – karena naik mobil pribadi, tapi attitudenya sama sekali nggak kaya babar blas! Bisa kredit mobil, catet ya, kredit! kalo kredit itu jatuhnya lebih mahal berarti duitnya lebih banyak tho? Lha kok nggak bisa beli tempat sampah kecil aja buat dimobil.

Kurang duit? atau kurang pendidikan?

Jaman saya kecil dulu sampai sekarang, selalu saja diajari tentang membuang sampah pada tempatnya. Sayang, mungkin kurang lengkap menurut saya. Harusnya “buanglah sampah pada tempatnya, kalau memang nggak ada, simpen dulu sampai ketemu” Wong kita aja nggak akan poop kalo belum nemu tempat poop kok, masa sih nggak bisa nunggu buat buang sampah pada kotaknya?

Saya sih nggak paham kenapa orang-orang itu nggak bisa sebentar saja menyimpan sampahnya sampai nanti mereka berhenti dan nemu tempat sampah. Kenapa mesti di jalan raya? Wah, kalo orang-orang macam itu hidup di Singapura, dijamin bakal cepet kere! habisnya kena denda mulu?

Orang-orang tua yang ada dalam mobil itu harusnya bisa jadi contoh buat anak-anaknya. Atau bisa jadi orang yang pertama kali ngingetin ke anaknya kalo mau buang sampah sembarangan. Masih untung kalo tuh sampah jatuh langsung ke jalan, nah kalo terbangnya ke kaca mobil atau nimpuk orang yang naik motor di belakangnya, apa nggak jadinya berabe?

Soal ini saya boleh bangga, saya cukup strict dengan aturan yang saya buat sendiri. Kalau memang belum nemu tempat sampah saya bakal nyimpen dulu, entah itu struk belanjaan, bungkus permen, atau plastik seal minuman air dalam kemasan. Saya bahkan pernah nyimpen daun pembungkus arem-arem ke dalam travel bag saya karena saya nggak nemu tempat di bis. lengkap dengan batang cabe rawit yang saya makan bareng sama gorengan dan arem-arem tadi. Apesnya sih saya lupa, dan berhari-hari daunnya ada disitu…sampe kering! Bwahahahaha!

itulah, terkadang, saya lebih rela tas saya jadi tempat sampah dibanding saya harus “tega” bar-ber bar-ber buang sampah sembarangan.

oke, saya mau bilang saya ini nggak sebersih itu orangnya, tapi kalau urusan buang sampah sembarangan, saya bisa bilang “well, it’s not me!”

Kalau orang bilang semua hal itu dimulai dari hal kecil dulu, saya rasa ada benarnya. Jangan harap daerah kita bisa jadi bersih kalau dari diri kita saja nggak ada inisiatif buat ngejaga kebersihan. gerakannya nggak usah yang muluk-muluk dulu saja lah…dari diri sendiri dulu lah. Udah nggak buang sampah sembarangan? nah..kalo udah, baru deh bergerak ke scoop yang lebih luas.

Urus-mengurus sampah memang nggak gampang. dari dulu sampai sekarang saya aja nih cuma kepengen nge-recycle atau nge-reuse semua barang-barang yang saya punya. Tapi toh akhirnya semuanya cuma berakhir di kotak sampah. Tapi masih mending : DI KOTAK SAMPAH. tidak sembarangan saya buang. Karena saya memang masih belum bisa berpartisipasi lebih banyak dengan mengolah sampah-sampah yang ada, tapi setidaknya saya tidak memperburuk dengan membuat lingkungan jadi lebih kotor.

pengennya sih, tiap orang yang punya mobil, sedia tempat sampah di dalam mobilnya. Yang kecil-kecil aja…Lagian tempat sampah sekarang kan bentuknya lucu-lucu, ukurannya juga ada yang mini, yang bisa ditempatin disamping jok mobil. Apa sih repotnya melakukan itu? saya rasa tidak ada. Kalaupun nih ya…kalaupun nggak mau ada tempat sampah di dalam mobil, ya sedia plastik kecil lah..buat ngumpulin bungkus permen kek, tisu kek, bungkus lontong dan arem-arem kek..atau botol..atau apa lah..jadi nggak perlu ada sampah yang kececeran di jalan.

malu atuh…masak mobilnya keren kempling kok yang naik orangnya “kemproh?” Jadi perjalanan mudik kan juga bisa lebih bersih? ya nggak?

*dan ini juga berlaku untuk yang naik motor, bis, travel, kereta, pesawat, dan moda angkutan lainnya..pokoknya buat yang ngerasa mudik deh…*

Hehehehe.

Blog ini ikut serta dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Bumi Hijaumu

Profesi Sebagai Seorang Penyiar Radio

Kesannya jumawa banget ya? ๐Ÿ˜€ Enggak lah..saya enggak jumawa. Tapi bangga. Bangga dalam artian bangga yang senang dan bahagia, tidak sombong dan rajin menabung.

Saya jadi kepikiran buat nulis hal yang satu ini secara nih ya di radio tempat saya bekerja sekarang, sedang ada training untuk calon penyiar baru. Asal tahu saja, di tempat ini, proses training berjalan cukup lama. Dari mulai perekrutan sampai bikin demo siaran (kami menyebutnya dummy siaran) saja berlangsung hampir 2 bulan. Dan dari beberapa trainee, sudah mulai ada yang mengeluh “kenapa prosesnya lama sekali, dan kita ini jadi dipekerjakan nggak ya?”

Dari sudut pandang saya, keluhan dari orang-orang seperti ini terlihat sebagai sesuatu yang mewakili ketidakpunyaan mereka terhadap hasrat untuk menjadi seorang penyiar. hehehe..Menghakimi banget kesannya. Tapi memang begitu adanya.

Ya wajar sih, apalagi kalau selama jadi trainee mereka juga nyambi nyari kerja ditempat lain.

….

Jadi seorang penyiar, tidak cukup hanya bermodalkan minat. kepengen jadi penyiar karena kesannya keren, banyak temennya, banyak fansnya, dikenal banyak orang sampai berasa jadi seleb lokal. Buat saya itu tidak cukup. Walaupun, saya akui, hampir 10 tahun yang lalu saya juga punya pikiran semacam itu.

Jadi penyiar itu….menurut saya, harus punya passion. Betul-betul cinta, dengan dunia radio atau TV. Sama seperti pekerja media lainnya. Mereka mengambil pekerjaan itu bukan karena nggak bisa kerja di bidang lain, atau karena gara-gara ย nggak ada kerjaan, tapi karena mereka memang senang dengan bidang tersebut.

Saya sudah jadi penyiar hampir 10 tahun. Masih belum apa-apa. Pengalaman juga masih belum terlalu banyak. Tapi saya cukup tahu bahwa bahkan sampai sekarang pun profesi ini masih dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Sebelum terjun ke dunia kepenyiaran radio, saya ini seneng denger siaran radio. Dulu saya sampai punya 2 radio. Saya masih ingat sempet juga rebutan radio sama tante saya. Kalau malam, dia udah tidur saya masuk diem-diem ke kamarnya dan ngambil tuh radio butut, dan mendengarkannya sendiri sampai saya sendiri pun tidur.

SMP sampai SMA, saya sudah mulai telpon-telpon ke radio. Jaman dulu belum ada SMS. Ada pun pager. Itu juga masih jadi barang mahal dan radio nggak pake pager buat request. Kalau bukan kita datang dan ngisi kartu request – yang kadang juga dijual, ya satu-satunya cara untuk bisa berinteraksi ya lewat telpon. saya pake telpon umum koin di dekat rumah.

Awalnya cuma iseng ikut kuis. begitu dapet sekali, ketagihan ikutan lagi. Kuisnya bisa macem-macem. Kadang cuma iseng jawab pertanyaan aja, tapi bisa juga yang adu bakat macam menyanyi karaoke via telpon. Nah, kalo yang terakhir ini saya sering menang. hehehehe.

Jaman dulu hadiahnya tiket nonton bioskop gratis di Atrium 21 kalau enggak di Gajahmada Theater Pekalongan. Seneng banget rasanya. Oh ya, ada juga kaset tape sebagai hadiah. Saya inget banget bisa ngumpulin ampe lebih dari 20 kaset..dan beberapa diantaranya sama. Lha iya, wong menang mulu, hadiahnya juga masih artis yang itu-itu aja, ya koleksi saya akhirnya numpuk ๐Ÿ˜€

Mulai SMA kuis sudah bukan lagi jadi minat saya untuk telpon ke radio. Jaman-jaman itu, saya suka ikut ngobrol – pake bahasa inggris di salah satu program english on the air di sebuah radio. Weeiiizzz…rasanya seneng banget bisa sekalian praktek cas cis cus pake bahasa bule…walau cuma terbatas yes no yes no i love you – jaman dulu belum ada full di belakang kata i love you ๐Ÿ˜€

kalau pagi harinya ada temen yang “ngonangi” saya telpon ke radio itu, wah, saya pasti seneng banget! Bangga! disatu sisi mereka jadi tahu kalo ternyata saya bisa juga ngobrol pake bahasa selain bahasa ibu. Dan disisi lain, saya senang, akhirnya mereka mengenal saya lewat radio. Banyak lho, temen-temen satu sekolahan yang diam-diam nyari info tentang siapa saya..hahahahaha…(ini saya tahu dari temen saya yang bilang katanya ada yang nanyain ‘siapa sih dia? kok banyak diomongin orang?”)

Yaaa..gitu deh, sampai suatu ketika – ini saat saya sudah lulus sekolah, radio yang ย jadi langganan saya waktu itu menawari saya untuk jadi salah satu penyiar disana. Dari pendengar jadi penyiar. Awalnya saya ragu, apa saya bisa atau tidak. Jaman dulu pun saya sudah sadar, bahwa tertarik saja tidak cukup. Saya harus betul-betul tahu apakah saya betul-betul mampu dan bisa mencintai pekerjaan ini atau tidak. Dan akhirnya saya mencobanya. Nyatanya, saya bisa bertahan sampai sekian lama.

Butuh waktu untuk benar-benar tahu bahwa saya memang menyukai dan mencintai pekerjaan ini. 3 tahun saya diradio itu dan memutuskan keluar untuk mencoba lahan pekerjaan baru. Ternyata, ada sesuatu yang mungkin tidak bisa saya lakukan, karena masih terus kangen dengan pekerjaan awal saya. Dan setelah bekerja disana-sini, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi penyiar saja.

Jujur saja, yang pertama, karena saya tidak punya kemampuan dibidang lain. Dan kedua, dibidang yang saya kerjakan itu tidak timbul passion yang sama seperti ketika saya bekerja di radio.

Dan setelah berhenti selama setahun, saya kembali lagi ke media.

Penyiar dari dulu hingga sekarang – masih dianggap remeh oleh sebagian orang. Saya masih ingat dulu ketika almarhum Ayah bertanya “mau hidup dari gaji seorang penyiar? mana bisa? mau jadi apa nanti?”

Dan yang seperti itu kadang juga diikuti dengan sikap meremehkan. Memang sih, waktu 3 tahun bekerja, ibarat kata saya cuma kerja nggak dapet materi apa-apa. Duit gaji cuma bisa tahan sampai 20 hari. 10 hari sisanya saya harus kas bon koperasi kantor. Bukan apa-apa, tapi karena memang mepet ย banget. Dan yang seperti itu sih tidak terjadi tiap bulan. tergantung pengaturan keuangan saya juga sih.

Tapi belakangan, beliau mengakui bahwa saya memang “hanya” punya bakat dibidang ini. Suara saya memang tidak bagus-bagus amat, tapi beliau bilang, pribadi saya cocok dibidang ini. Saya orang bebas, dan radio memberikan tempat untuk saya menyalurkan hasrat “bebas” saya. hehehe..dalam artian, ketika jadi seorang penyiar, saya bisa menjadi siapa saja…dan berkreasi apa saja.

Dan belakangan juga, meski tak lama, beliau bisa menikmati hasil saya bekerja di radio. Mungkin tidak banyak, tapi paling enggak, beliau tahu, bahwa jadi penyiar juga bisa memberikan sesuatu kok… ๐Ÿ˜€ (tergantung radionya juga dink.)

Ya, intinya, memang dibutuhkan dari sekedar senang saja untuk jadi seorang penyiar. Tapi betul betul harus punya modal – dalam hal ini suara, dan kecintaan terhadap dunia radio. Meski nggak sedikit yang jadi penyiar karena terpaksa – belum dapet kerja, atau nggak cocok ngerjain pekerjaan lain selain siaran (sama seperti saya heheheh)

Saya akui, radio memberikan saya banyak hal. BANYAK!

bukan materi saja, tapi non materi juga iya.

Dulu, saya ini orangnya pemalu. Sampai sekarang juga sih kadang masih suka nggak pedean. Tapi sejak jadi penyiar, kemaluan saya, eh…maksud saya, perasaan malu itu lama-lama bisa sedikit ditaklukkan. Kalau jadi penyiar, saya dituntut untuk ketemu dengan banyak orang. “Harus” ramah dengan pendengar, bisa haha hihi walau hati sedang merintih perih…bisa ngomong didepan banyak orang pas lagi ngemsi, dan hal-hal seperti itulah yang kemudian membuat saya jadi agak sedikit lebih “tinggi’ dibandingkan dulu. Dalam artian begini, saya sudah tidak banyak lagi malu menghadapi situasi. Jadi penyiar membuat saya belajar banyak jurus-jurus ngeles dalam menghadapi berbagai macam situasi.

Kalau suara saya – yang dulu dibilang ayah kecil dan mirip suara wanita…sekarang sudah tidak terlalu. Hehehehe…kadang masih lembut juga sih, tergantung pesanan. LHoh eh?!! maksud saya, saya bisa mengatur tone suara saya tergantung situasi, dan saya belajar ini dari hampir 10 tahun jadi penyiar.

See??!! saya banyak dapat hal disini. Saya jadi lebih bisa mengatur kata-kata dalam berbicara, saya juga punya beberapa jurus diplomasi yang membantu saya untuk jadi orang yang lebih persuasif dalam menghadapi orang lain, dan saya belajar gratis! tanpa harus menghadiri kelas-kelas pengembangan diri dan public speaking yang mahal itu.

Saya belajar dari universitas kehidupan…hahahaha.

Saya boleh bilang, gaji penyiar emang dikit, tapi sabetannya banyak, lhoh? eh…maksud saya, gaji penyiar emang dikit, tapi banyak hal lain yang nggak bisa diukur pake materi yang bisa saya dapat disini.

Banyak orang yang mengakui bahwa semenjak jadi penyiar, mereka mengalami perubahan positif dalam hal kemampuan sosial mereka. Dari yang tadinya pemalu sekarang suka malu-maluin..hehehe..nggak ya…? dari yang tadinya sedikit sekarang sudah mulai banyak temen. Kalau dulu susah berkenalan dan memulai pembicaraan sekarang sudah agak mendingan, jejaring sosial juga makin luas, dan masih banyak lagi kemajuan inter dan intra personal seseorang.

Saya juga…mengalami cukup banyak kemajuan dibanding dulu lah…Itulah kenapa saya tidak akan pernah menafikkan ini semua ketika kelak saya mewujudkan passion saya yang lain… ๐Ÿ™‚

Makanya….nyari penyiar yang betul betul mau jadi penyiar sekarang itu susah…masih training aja udah ngeluh sana sini…itulah kenapa, selama hampir 10 tahun dibidang ini, saya paling males kalau suruh buka rekrutan baru…karena hampir pasti, ketemunya orang-orang yang tipenya ya begitu itu…

tapi puas rasanya kalo dapet newbie dan kelak bisa jadi seorang penyiar yang oke…berarti pilihan kita nggak salah….hahahaha…

tertarik jadi penyiar? nggak cukup….

cintai dulu radio…baru jadi penyiar….Nggak pernah denger radio terus mau jadi penyiar?

kelaut aja neng…

Boo, Anjing Pomeranian Paling Terkenal Di Dunia

This is Boo…and this is my reason why i ask that question. But you know the answer right? It’s a rule..so..i just permitted to see the pictures, not own one..

Boo ini adalah anjing jenis Pomeranian. Awalnya si pemilik, JH Lee merasa bulu yang ada di kepala Boo ini mengganggu, tap kemudian justru membawa berkah. Boo dinobatkan sebagai anjing paling lucu, setelah hampir 2 juta pengguna facebook menjadi fans-nya. Oooh…kenapa tidak?? I LIKE YOU TOO BOO!!

Kalau saja 1 tombol like bernilai satu dollar, mungkin sekarang BOO sudah mengumpulkan hampir 2 juta dollar!! What a dog!

Awal BOO menjadi selebriti adalah ketika teman dari sang pemilik memotretnya dan memasangnya di Facebook. Dan tidak disangka BOO mendapatkan perhatian dari banyak orang…

Anjing Pomeranian adalah jenis anjing piaraan yang umumnya punya berat antara 1,5 – 3,5 kilogram, walau ada yang lebih besar dari itu. anjing jenis ini termasuk anjing yang cerdas dan lucu. Pemiliknya harus sedikit menahan diri untuk tidak memanjakannya (walaupun pastinya sulit) karena anjing Pomeranian terkenal sebagai anjing yang suka sekali menuntut lebih…yeah, you can call them a spoil brat ! ๐Ÿ˜€

jaman dulu, Pomeranian tidak sekecil ini. Ukuran tubuh mereka jauh lebih besar dan juga punya sebutan sebagai “the artic home”. Pada masa 1800 – ratu victoria pernah membawa seekor Pom dari itali seberat 6 kilo dan sejak itu anjing ini menjadi favorit banyak orang. Dan sejak itu banyak yang mengembang biakkan jenis Pomeranian ini sampai kemudian bisa sekecil ini. Tentu saja sudah melewati berbagai macam persilangan.

perawatan anjing jenis Pomarian ini dibilang sangat mudah. anda bisa menyisihkan waktu sekitar satu jam perhari untuk menyikat bulunya. Setidaknya seminggu atau 2 minggu sekali anjing ini perlu dimandikan supaya tidak bau dan terlihat bersih. Perawatan ekstra hanya meliputi kuku kaki, dan telinga, serta bagian mata. Anjing jenis ini rentan pada gangguan gigi. Itulah kenapa Pomeranian perlu juga sikat gigi dengan pasta gigi khusus yang mengandung enzim agar jamur tidak berkembang pada gigi dan lidah. Kasus kesehatan lain yang sering dialami oleh anjing Pom dan jenis anjing kecil lainnya adalah dislokasi tulang lutut, dan treatment yang tepat untuk ini adalah melalui operasi. selain itu mereka rentan juga pada gangguan HYPOTIROID yang akan mengganggu kesehatan mereka secara umum. Ketika usia bertambah, anjing POm ini akan mengalami rontok bulu. Biasanya dimulai dari bagian belakang kemudian ke depan. terkadang mereka juga terkena batuk dan konsultasi ke ahli sangat disarankan. Usia anjing Pomeranian umumnya bisa mencapai 15 tahun.

saat ini, BOO dan pemiliknya sedang menyelesaikan sebuah buku…dimana buku itu akan berisi semua foto-foto miliknya. sebuah koleksi berharga untuk dimilki para pecinta anjing…

itulah BOO – the cutest DOG ever. Gambar-gambar diatas diambil dari www.dailymail.uk (http://www.dailymail.co.uk/femail/article-2040461/Boo-Pomeranian-Worlds-cutest-dog-millions-Facebook-fans-book.html) . sementara info yang saya tulis diatas diartikan dari http://rubyglen.com/pets/pomeranian

dear God…why i can’t have a Dog?

Review Film Final Destination 5

semalem akhirnya saya nonton film ini di E-Plaza semarang. Sendirian. Ah- udah lama nggak jalan-jalan dan nonton sendiri. ๐Ÿ˜€

saya nonton yang jam 7.50 malam. Nggak rame kok. Bisa dapet kursi yang paling atas nyempil di antara pasangan-pasangan mesra dan seorang bapak dan anak remajanya. Suer..ini bapak anak…bukan yang lain. ๐Ÿ˜€

FD 5 ini..opening scene-nya mengingatkan saya pada franchise Final Destination 4 yang saya tonton di teater yang sama tahun lalu.

Dari segi cerita sih, mau dari pertama sampai terakhir, ceritanya ya gitu-gitu aja. Diawali dari premonition tokoh utamanya, abis gitu ada kecelakaan, survivor, dan sang malaikat kematian yang “tidak rela” dirinya dicurangi menuntut balas dengan mengambil nyawa sang survivor satu persatu.

Saya termasuk yang ngikutin film FD dari 1-5. Dan memang, nggak bisa disangkal, film pertamanya tidak bisa disaingi dengan sequel-sequel selanjutnya. Meski begitu, orang selalu penasaran dengan apa yang akan mereka lihat dari film ini, karena toh mereka sudah tahu bagaimana story line film ini.

Kalau di film pertama proses kematiannya berjalan menarik dan digambarkan cukup realistis, mulai dari seri yang kedua hingga terakhir, kematian ditampilkan dengan proses yang lebih mengerikan, darah muncrat dimana-mana, dan bahkan kadang terlihat konyol dan nggak masuk akal.

Dan sebenarnya ini adalah satu-satunya nilai jual dari film horror yang satu ini, membuat penonton penasaran dan deg-degan melihat adegan-adegan kejutan.

Tapi sungguh, selesai menonton FD 5 saya merasa ini adalah cara yang cerdas untuk mengakhiri rangkaian film Final destination. saya tidak berharap film ini akan seperti SAW yang hampir bisa dibilang jadi seperti film seri.

And you know what..ternyata FD 5 ini adalah PREQUEL dari FD 1!!!!! Damn SHIT!! this is so awesome!

menurut saya ini cara cerdas! untuk mengakhiri perjalanan FD selama ini…i hope nggak ada lagi FD lainnya di tahun2 depan. But you know hollywood, money makes everything possible.

Oh ya, ceritanya bermula ketika rombongan karyawan muda hendak melakukan retret bisnis yang diadakan di tempat mereka bekerja. Ketika sampai di sebuah jembatan gantung, jembatan itu runtuh dan ada beberapa dari mereka yang selamat. Dan kemudian berlangsunglah pembalasan dendam dari sang maut.

Dan ternyata….mereka ini adalah tokoh2 di tahun 2000, bahkan sebelum tokoh2 di FD 1 mengalami hal yang sama, karakter2 di FD 5 ini mengalami hal yang sama. Dan pesawat yang meledak di udara di adegan FD 1, ditumpangi oleh karakter yang ada di FD 5 ini.

Bingung??? nonton sendiri saja dan semoga anda sama senangnya dengan saya.

Serius, saya bener-bener menganggap ini adalah alur yang cerdas…setelah 4 film, akhirnya prequel justru muncul di film ke 5! Awesome!

cuma ya itu, jadinya aneh ketika melihat FD 5 ini penuh JROOT and JROOOT seperti dil film 3 dan 4, kalau mengingat kembali FD 1 rasanya ada yang salah.

spesial efeknya terlalu mumpuni untuk sebuah film yang ceritanya diset jauh sebelum cerita di film pertamanya. Tapi itulah hollywood, kadang-kadang logika seperti ini suka kelewat..

hehehe..

Yang Muda Yang Berkarya, Tanpa Pantang Putus Asa

Ini adalah sebuah cerita singkat dari obrolan singkat juga semalam. Antara saya dan penjual soto dan sate ayam yang lewat depan kosan. Kebetulan, sehabis pulang siaran saya melihat gerobak sate ayam yang biasa saya beli kalo pas lagi pengen sate dan dianya pas lewat depan kos. Semuanya serba pas. ๐Ÿ™‚

Nah, sembari saya menunggu satenya dibakar, datanglah gerobak soto. Dalam hati saya berkata “asem,aku ya pengen soto..tapi sayang dah beli sate”. Berhentilah gerobak soto itu disamping si gerobak sate. Mereka saling bertukar sapa. Sapaan antar pedagang dengan objek jualan yang berbeda.

Saya kira si penjual soto ini sudah uzur…ternyata eh ternyata, dia masih muda. Sangat muda malah. Sebagai seorang blogger amatiran dan sedikit ada “cipratan” jurnalis dalam diri saya, karena profesi saya tentunya..hehehe…saya melihat ada cerita disini. Bervalue nih kayaknya…setidaknya buat saya. ๐Ÿ˜€

Cuma sayang…awalnya saya ragu-ragu dan malu untuk memulai obrolan…Saya putar otak gimana memulai “wawancara” ini tanpa menimbulkan perasaan yang tidak enak. Dan akhirnya saya menemukan cara. Ah, uang memang terkadang bisa menyelesaikan banyak masalah. Hehehe.

Saya keluarkan uang 3 ribu rupiah dari kantong celana saya..dan saya membeli 6 tempe keripik dari si tukang soto..dan terjadilah obrolan singkat itu.

Well, sebenarnya ini hanya tentang orang muda, dari desa, yang dimata saya begitu luar biasa. Katakanlah, ketika mereka begitu tertarik untuk pergi ke Jakarta dan meraih mimpi yang terkadang semu disana, masih ada yang mau tinggal di kota – yang mungkin juga nggak bisa dibilang kecil seperti Semarang ini. Bertahan disini mengadu nasib dengan mengerjakan sesuatu yang masih sesuai kapasitas dan kemampuannya.

Kebetulan siangnya saya baca soal kota-kota besar yang menawarkan “sesuatu” selain Jakarta..

Nah, saya tanya dia…sudah berapa lama jualan soto…Dia bilang setahun yang lalu..tadinya dia ikut orang. Setelah lulus SMP, dia langsung kerja di warung soto milik orang. Setelah merasa cukup modal, baik materi dan juga kemampuan, dia keluar dari tempat kerjanya dulu dan membuka usaha sendiri.

Damn! saya keduluan! dia saja berani kenapa sampai sekarang saya masih begini-begini aja dengan mimpi saya punya bisnis kuliner?

okay…kemudian saya nanya…Nggak malu tho jualan keliling soto begini? masih muda lho…dan dia bilang..saya nggak punya keahlian lain mas..kalo nggak kerja begini mau kerja apa lagi…mau makan apa?

Terdengar seperti orang yang sedang pesimis bukan? untuk Anda yang merasa nggak pernah puas dengan hidup Anda. Seakan semuanya ingin Anda raih dan dapatkan. Statement dari si tukan soto itu pasti terdengar sebagai nada pesimistis bagi Anda. ya kan?

Tapi tidak untuk saya. Ini adalah sebuah kebenaran, setidaknya hingga saat ini. Saat dia mengatakan hal itu. Betapa tidak. Banyak anak-anak muda yang merasa malu melakukan sesuatu yang sebenarnya menghasilkan. Sesuatu yang halal. Karena gengsi. Karena tidak sesuai dengan mimpi dan angan-angan mereka, tanpa sadar kemampuan pribadi. Dan alih-alih mereka mencari ke dalam diri mereka sendiri, mereka malah tidak melakukan apa-apa. Mereka lebih memilih menganggur, kongkow-kongkow..melakukan banyak hal sia-sia…dan kemudian berbuat onar..merugikan orang lain. Berapa banyak orang berusia muda yang begitu? Sangat banyak saya rasa…

Dan benar saja ketika dia mengatakan hal itu..saya tidak bisa lebih setuju. Buat saya, mending berusaha daripada tidak melakukan apapun sama sekali.

Lalu saya tanya lagi dia…Nggak pengin ke Jakarta? dan dia bilang…ah, buat apa…disana juga nggak tahu mau kerja apa…

Lhoh? dagang soto donk….Dan dia cuma ketawa…Mungkin dalam hati dia berkata ” disini jauh lebih menghasilkan daripada jualan soto di Jakarta.

Dan dia cerita, biasanya sehari dia bisa dapat 200 ribu sebagai penghasilan dari jualan soto. Ini masih kotor sih. Tapi setidaknya setiap hari jualan sotonya bisa habis. Nggak lebih dari jam 10 malam dia sudah bisa pulang dan menghitung laba. Sedangkan di Jakarta mungkin dia masih harus mengurusi tetek bengek lainnya. Kontrakan, biaya hidup, dan lain-lainnya. Mungkin buat dia, uang 200 ribu di Ibukota Indonesia itu bakal hanya menguap tanpa rasa, dan bisa jadi kelak malah menimbulkan masalah baru.

Entahlah…Yang pasti saya kagum. beginilah seharusnya citra anak muda kita. Tetap berusaha walau keadaan makin sulit. Saya harap sih dia bertahan dengan usahanya ini dan mampu ย berkembang lebih baik lagi dimasa mendatang. Mungkin dengan membuka warung permanen milik sendiri? atau bahkan rumah makan soto ayam? saya nggak pernah tahu…karena toh dia sudah punya modal. Semua bumbu dan kebutuhan berdagang dia racik sendiri lho? hebat kan?

Yaaa..banyak orang mengeluh tentang jaman yang makin susah…bukannya berusaha lebih keras malah kemudian putus asa, dan berakhir dengan cerita yang kurang begitu baik. Sayang sekali..padahal mungkin masih ada banyak jalan yang bisa dilalui. Tapi terkadang hal itu tak terlihat sama sekali.

Dan saya berpikir, siapa bilang rejeki di bumi ini sudah habis? Tuhan masih punya stok banyak..asal mau berdoa dan berusaha, Dia pasti mau kasih sama kita. Dan tugas kita selanjutnya adalah mensyukuri….sedikit banyak…itu pemberian Tuhan…imbalan atas usaha kita.

Dan inilah si mas-mas penjual soto dan penjual sate…saya sengaja nggak tanya namanya…biar kesannya obrolan ini mengalir apa adanya..hehehe. Alasan wagu sih, tapi ya memang begitu yang ada di kepala saya malam tadi. Tapi saya bilang kok kalo hasil cerita ini akan saya tampilkan di blog – uhm..mungkin dia kurang tahu apa itu blog kali ya? hehehe.

But thanks to them…

mas penjual soto
mas mas penjual sate

Dan obrolan itu ditutup dengan celetukan di penjual sate…

“Kerja apa aja yang penting halal mas,,,,,,”

setuju….

Copyright Nuno Orange 2017
Tech Nerd theme designed by Siteturner