Nyobain Kereta Pramex Jogja – Solo

Sudah baca postingan sebelumnya tentang hura-hura lari Javana Candi Ke Candi belum? Kalau belum, baca dulu ya? hehehe.

Singkat kata singkat cerita, setelah semua rangkaian event selesai diikuti, saya pun berpisah dengan tim dari Semarang. Mas Resi (yang mobilnya saya tebengin) pulang bareng sama pacarnya. Sementara kami berpisah di Prambanan, dan saya pindah tumpangan. Temen satu tim yang juga mantan bos saya, Ms Arin Karin jadi “ojek” berikutnya. Saya nebeng sampai ke hotel dan berpisah sesudahnya.

Rencananya saya memang akan pulang sendiri melalui jalur Solo – Semarang. Sudah niat mau ke Solo dulu naik kereta dan baru lanjut naik bis ke Semarang. Alasannya sih nggak seribet rutenya. Cuma pengen ngerasain naik kereta Pramex, sekalian menghitung berapa biaya ke Jogja lewat jalur langsung Semarang – Solo – Jogja, dibandingkan Semarang – Jogja. Nggak banget ya? 😀

Oke, jadi setelah saya check out dari guest house di Seturan, saya naik taksi ke Malioboro dimana stasiun Tugu berada. Ya kalau sudah sampai sini memang harus jalan-jalan dulu lah ya? Walaupun kalau sudah sampai Malioboro ya paling cuci mata lihat orang jalan-jalan. Kebetulan siang itu lapar, ya mampirlah saya dan teman satu “pelarian” ke Jalan Dagen.

Kebetulan disitu ada gerai Bakpia Pia favorit saya. Ntar deh diceritain di postingan tersendiri, biar postingannya makin banyak *dikeplak*. Lepas belanja bakpia, mampir makan saja sekalian di warung ayam geprek Mas Bowoo. Lumayan sih warung makan satu ini. Menunya ayam sama bebek. Sambel koreknya enak! Sayang tak ada foto.

Kenyang makan, kami mampir ke masjid malioboro buat sholat dhuhur, abis itu lanjut ke stasiun Tugu. Waktu di taksi udah nanya sih kalau mau naik pramex musti kemana. Si Bapak ngasih tahu kalau mau beli tiket Pramex saya harus ke pintu selatan. Soalnya pintu barat hanya diperuntukkan bagi penumpang kereta jarak jauh eksekutif. Bapaknya bilang mau kasih lihat kemana saya harus beli tiket, tapi sepanjang jalan ngobrol, malah lupa ngasih tahu. Hasilnya kami nanya sama mas-mas yang jaga pintu perlintasan.

Kalau mungkin belum tahu pintu selatan stasiun Tugu, arahnya gampang kok. Tau jalan masuk ke Malioboro? yang tiang lampunya suka buat foto-foto turis? Nah, nyebrang aja situ ke arah lampu lalu lintas, terus belok kiri, jalan terus sampai ke hotel Abadi kalau nggak salah. Nah, pintu selatan letaknya ya di depan hotel tersebut.

Begitu nemu, saya langsung menuju ke tempat penjualan tiket yang ada di sebelah kanan pintu masuk selatan. Loket penjualan untuk kereta Pramex atau kereta lokal jarak pendek lainnya terpisah dengan penjualan tiket untuk kereta eksekutif ya, jadi perhatikan nomer loketnya.

Kalau beli tiket Pramex atau kereta lokal jarak pendek yang ke Solo, kita tidak perlu mengisi data diri seperti nama lengkap dan nomer KTP. Kita tinggal ngantri dan beli. Harga tiketnya murah! Cuma 8 ribu rupiah saja. Bentuk tiketnya kayak tiket parkir, hahaha.

IMG-20151130-WA0004Nah begitu penampakan kaki tiketnya. Tanpa tempat duduk! *langsung deg-degan*. Secara langsung kebayang kalau nanti bakalan “mak kruyuk” begitu kereta datang dan pintu dibuka. Langsung merencanakan langkah taktis supaya dapat tempat duduk! Macam gini nih

IMG-20151130-WA0007Jadi ingat jaman dulu ketika naik kereta masih belum senyaman sekarang. Semua umpel-umpelan berebut naik ke dalam kereta sampai penuh sesak dan saling sikut demi tempat duduk. Tapi nanti saya cerita deh, apakah betul seperti itu?

Sementara itu saya pengen sedikit cerita soal stasiun Tugu. Stasiun ini lumayan gede ternyata. Walaupun terletak di tengah-tengah ramainya Malioboro, tapi dalamnya tetap rapi seperti stasiun kereta masa kini yang ada di banyak lokasi. Cukup rapi dan teratur. Hanya saja agak panas di dalam stasiun. Hampir nggak lihat ada kipas angin besar yang bikin pengunjung “silir”. Untungnya sih atapnya tinggi dan terbuka.

IMG-20151130-WA0009

IMG-20151130-WA0006

Di dalam stasiun terdapat musholla, toilet bersih, dan beberapa pedagang makanan. Jadi jangan khawatir kelaparan dan kehausan. Ada ruang tunggu yang bentuknya seperti pendopo, disitu ada kursi pijatnya juga. Cuma nggak gratis ya? Silakan tanya kalau ingin memanfaatkan jasa si kursi.

Setelah cukup lama menunggu – hampir sejam, kereta Pramex dari Solo pun tiba pukul 14.30 tepat. Saya bersiap-siap untuk berjibaku dengan para penumpang lain demi sebuah tempat duduk. Begitu kereta datang dan pintu di buka….

Hiyaaaaaaaaa…..penumpang pun merangsek masuk ke dalam kereta dan mulai mencari tempat duduk. Begitupun kami. Keriuhan segera terjadi…dan semua pun saling sikut demi kenyamanan…

Teeet! Maaf, itu hanya dramatisasi dan imajinasi semata.

Nyatanya, meskipun memang berebut masuk, tapi para penumpang cukup tertib dan sama sekali tidak terjadi keributan. Semuanya tetap tenang. Iya sih, ada suara-suara manusia yang excited mencari tempat duduk,tapi nggak ada yang anarkis kok. Belakangan baru tahu, bahwa bagaimanapun tempat duduk tidak disediakan untuk masing-masing penumpang secara khusus, tapi jumlah tiket yang dijual per jadwal berangkat ternyata berkuota alias dibatasi. Per gerbong ada maksimal 66 orang penumpang. Jadi sebenarnya kapasitas gerbong sudah disesuaikan supaya tetap cukup nyaman.

IMG-20151130-WA0010

Mungkin di jam-jam sibuk situasinya bisa lebih ramai, tapi bisa jadi tetap terkendali. Dan kami pun mendapatkan tempat duduk di sebelah pintu. Sayangnya, gerbong yang saya tumpangi sedang mengalami masalah pada AC-nya. Ada pengumuman tentang permintaan maaf dari pihak PTKAI. Lumayan sih panasnya. Tapi begitu kereta berjalan, panas jadi agak berkurang sih karena jendela keretanya bisa dibuka.

Kereta berangkat tepat waktu sesuai waktu yang tertera di tiket. Untuk perjalanan ini Pramex akan berhenti di beberapa stasiun untuk menaik turunkan penumpang. Kereta akan berhenti di stasiun Lempuyangan, Maguwo , Klaten, Purwosari, dan Solo Balapan.

IMG-20151130-WA0005

Well, laju keretanya cukup cepat dan ketika sampai Klaten hujan turun cukup lebat. Jendela pun ditutup, dan gerbong kami pun kembali panas. Hehehe.

Jam setengah 4 (kurang lebih) kereta sampai di Stasiun Purwosari. Saya turun disini karena lebih dekat dengan tempat pemberhentian bis yang akan menuju ke Semarang. Dari stasiun Purwosari kami berjalan sampai ke Solo Square yang jaraknya hanya 1 kilometer. Untungnya sore ini tidak hujan, jadi kami berjalan dengan cukup nyaman. Sebenarnya ada kok angkutan kota menuju Solo Square, tapi kami ingin mencoba berjalan kaki dan mengukur seberapa jauh sih jarak dari Stasiun Purwosari ke Solo Square. Dan ternyata enggak jauh juga kok.

Dan dari sini kami pun melanjutkan perjalan menuju Semarang dengan menggunakan bis Royal Safari. Tarif ke Semarang hanya 20 ribu. Royal Safari memang relatif lebih murah dibandingkan Safari Reguler atau Taruna. Safari atau Taruna harganya 25 ribu kalau enggak salah. Tempat duduk Royal Safari sendiri 2-3, sedangkan Taruna atau Safari reguler 2-2.

Dan hujan pun kemudian turun sepanjang perjalanan.

Kalau mau dihitung-hitung, sebenarnya perjalanan ke Jogja lewat jalur Solo jauh lebih murah.

Rutenya begini :

Dari Semarang naik kereta api lokal ke Solo dengan tarif 10 ribu rupiah. Kereta api berangkat sekali sehari dari Stasiun Tawang jam 9 pagi (kurang lebih) dan akan tiba di Solo pada pukul 11 siang lebih. Nah, dari Solo ini kita bisa melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan Pramex atau kereta lainnya dengan tiket 8 ribu. Jadwal keretanya adalah sebagai berikut :

FB_IMG_1448598105156Kereta akan berakhir di Stasiun Tugu. Nah, enaknya kalau menempuh rute ini, kita bisa langsung jalan-jalan di Malioboro, atau melanjutkan ke tujuan lain dengan menggunakan Trans Jogja yang haltenya tersedia di Jalan Malioboro. Lebih murah bukan dengan menggunakan rute ini? Tapi ya itu, syaratnya harus pake kereta yang berangkatnya hanya sekali dalam sehari. Untuk kereta dari Solo ke Semarang sendiri berangkat jam 5 pagi dan akan tiba di Semarang jam 8 lebih.

Dengan rute itu sebenarnya biaya yang dibutuhkan jauh lebih sedikit dibanding kalau naik bis dari Semarang langsung ke Jogja. Tarif bis dari Semarang ke Jogja sendiri sekitar 45-50 ribu. Jika turun di terminal Jombor kita bisa menggunakan moda trans jogja atau taksi. nah, moda yang kedua ini yang bisa bikin pengeluaran bertambah. Itu masih sekali jalan, belum nanti kalau pulangnya. Jadi rute perjalanan yang saya tempuh ini bisa dibilang jauh lebih murah dan relatif lebih nyaman, meski terkesan agak repot.

Seru lah kalau jalan-jalan dengan model ngebolang begini *pengalaman pertama*. Besok-besok lagi kalau mau ke Jogja mending ke solo dulu deh, lebih ngirit. Hihihihi. Tapi memang harus pintar-pintar mengatur waktu.

10 comments on “Nyobain Kereta Pramex Jogja – Solo”

  1. sek to…..seingetku ini tetep ada nomor tempat duduknya kan ya?
    tapi rang-orang banyak yang duduk seenak udele dhewe, giliran disuruh pindah malah galakan dia…hih indon!! -_-

    • Ndak ada kalo pramex…nggak tau apakah kita bicara kereta yg sama…aku sendiri baru pertama kali..haha…iyaaa…kadang aku juga nemuin yg model begitu kalo pas pulkam naik kereta..

  2. mz mau tanya dong kalau dari semarang ke solo enak ny turun d stasiun balapan atau stasiun purwosari ya? Buat slanjutny sampai ke stasiun tugu?

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

Copyright Nuno Orange 2017
Tech Nerd theme designed by Siteturner
%d bloggers like this: