Nikon Coolpix L840 : Setahun Kemudian

Aku nggak pernah ngereviu gadget. Jarang-jarang aku tertarik nulis tentang gawai yang aku pake. Nggak tahu, mungkin karena nggak ga-pe kali ya? Tapi kali ini aku tertarik buat nulis sedikit soal gadget yang kupakai. Ini adalah sebuah kamera prosumer yang udah nemenin aku kemana-mana selama setahun belakang. Oke, inilah tulisan tentang Nikon Coolpix L840.

Sejarah Nikon Coolpix L840 Milikku

Jujur dulu aku adalah pengguna Canon karena 2 kamera sakuku yang sebelumnya adalah keluaran Canon. Tapi entah kenapa aku pengen nyoba kamera produksi Nikon. Emang sih, kedua merek ini punya die-hard-fans yang diem-diem bersaing dengan kelebihannya masing-masing.

In my Humble Opinion, Canon terkenal dengan kualitas gambar dan warnanya yang halus sementara Nikon lebih tajam dengan warna yang pop-out. Walaupun nggak begitu ngerti kamera tapi aku sendiri ngerasain kalo keduanya emang punya perbedaan yang cukup signifikan dengan hasil jepretannya. Dan buatku keduanya sama-sama bagus.

Alasanku membeli Nikon adalah pengen ngerasain sesuatu yang beda aja. Berhubung disesuaikan dengan bujet, akhirnya pilihanku jatuh ke kamera prosumer. Gampangnya ini adalah kamera kategori menengah. Setingkat di atas kamera saku dan di bawah DSLR. Setelah lama mencari tahu di sini dan di sana, akhirnya Nikon Coolpix L840 pun menjadi pilihan.

Berapa harganya?

Waktu itu, kurang lebih setahun setengah yang lalu tepatnya bulan Januari 2016 aku memesan Nikon Coolpix L840 lewat Lazada. Kebetulan ada satu toko yang ngasih diskon lumayan gede sampai 500 ribu. Kamera seharga 2,8 juta dijual hanya dengan 2,3 juta. Sempat menimbang-nimbang sih apakah promonya beneran. Untungnya barang yang dijual memberlakukan bayar di tempat, sehingga aku nggak ragu buat beli.

3 hari setelah melakukan pesanan, barang diantar langsung oleh kurir Lazada ke kantorku. Dan aku pun membayar kameranya secara tunai di tempat.

What’s In Box?

Waktu itu barang datang dalam keadaan tersegel dan setelah kubuka, di dalamnya ada 1 body Nikon Coolpix L840 warna merah [kebetulan yang diskon warnanya merah], kemudian ada strap atau tali di dalamnya, bonus MMC 16 GB, kabel HDMI, dan kartu garansi. Oh iya, ada juga lembar pengembalian yang diberikan oleh Lazada just in case aku ngerasa kurang puas sama kualitas barang yang dikirim. Dan Alhamdulillah kartu itu nggak pernah kukirim karena barangnya baik-baik saja.

Eh, aku belum nyebutin ya kalau dalam kardus nggak ada baterai-nya? Iya, jadi kamera ini menggunakan baterai lithium seri AAA sebanyak 4 buah yang sayangnya tidak termasuk dalam paket pembelian. Jadi terpaksa aku harus beli baterai rechargeable di Bukalapak seharga 125 ribu kalo nggak salah [kebetulan pas lagi ada diskonan juga].

Kenapa aku pilih Nikon L840?

Jujur aja aku tertarik membeli Nikon L840 karena menurut review barang ini termasuk worth to buy. Dengan harga yang relatif terjangkau, Coolpix L840 memberikan apa yang dibutuhkan oleh pemula seperti aku, yang ingin naik kelas dari kamera saku tapi belum terlalu pede buat megang DSLR [padahal nggak punya duit!].

Nikon L840 memiliki attached lens Nikkor 38x wide optical zoom EC-VR. Ya, lensanya bisa nge-zoom sampai 38 kali. Cukup lah untuk “ngintip” wajah bulan purnama dari atas balkon. Emang sih, ini bukan yang paling panjang jangkauan zoom-nya karena Canon punya seri yang bisa nge-zoom sampai 60 kali! Tapi untuk kelas prosumer keluaran Nikon, L840 ini memiliki zoom yang paling panjang.

And What else?

Nikon Coolpix L840 adalah kamera 16Mp yang sensitifitas ISOnya bisa diatur sampai 6400. Kalau menurut keterangannya sih Videonya udah HD [jarang banget dipakai]

Kamera ini memiliki TFT-LCD tilt display atau layar lipat yang bisa diatur untuk pengambilan gambar dengan sudut yang cukup sulit sehingga kita masih bisa melihat obyek dengan cukup mudah terutama jika gambar diambil melalui sudut rendah. Sayangnya layarnya nggak bisa diputar 360 derajat sehingga tidak bisa digunakan untuk melakukan swa foto dengan mudah.

Seperti yang udah aku bilang tadi kalo kamera ini memiliki manual zoom hingga 38x dan digital zoom sampai 4x. Sepanjang pengalamanku, kualitas gambar yang diambil dengan zoom maksimal menggunakan digital zoom memang agak kurang oke. Itulah kenapa setelan digital zoomnya aku matiin dan aku hanya menggunakan manual zoom.

Di bagian kanan layar terdapat beberapa tombol di antaranya :

  • Tombol pengaturan. Nikon L840 memiliki beberapa setting yang udah disesuaikan dengan kebutuhan. Beberapa setting yang tersedia adalah auto scene, selected scene, toy camera, smart portrait, short movie show, dan manual setting. Untuk selected scene ada beberapa pilihan : portrait, landscape, sports, night portrait, party/indoor, beach, snow, sunset, dusk/dawn, night landscape, close up, food, firework show, backlighting, easy panorama, pets, moon, dan bird-watching. Khusus pilihan scene food, konon kabarnya ini adalah satu yang terbaru, yang ditambahkan oleh Nikon. Ditujukan untuk mereka yang senang mengabadikan foto makanan. Tapi sepanjang pengalamanku warnanya jadi terlihat kurang real dan terlalu tajam. Emang sih bisa diatur spectrum warnanya, tapi personally aku agak kurang suka.
  • Tombol preview. Tombol dengan gambar segitiga dalam kotak ini digunakan untuk melihat hasil bidikan. Just as simple as that.

  • Tombol menu. Tombol yang satu ini digunakan ketika kita menggunakan manual setting. Kita bisa mengatur image mode, area mode, sampai pengaturan iso. Nggak cuma itu, tombol menu ini juga digunakan untuk pengaturan kamera video dan set up kamera [mengatur suara tombol & bahasa hingga setting kartu MMC].
    • Pada mode galeri, tombol menu berfungsi untuk melakukan pengeditan. Beberapa mode edit yang ditawarkan adalah quick retouch (dengan beberapa scheme). D-Lighting (meningkatkan kecerahan secara digital), red-Eye Correction (menghapus titik merah yang biasanya muncul pada object manusia di malam hari, Glamor retouch dan Rotate.
    • Tombol menu juga digunakan untuk mengatur koneksi Wifi. Ya, Nikon L840 dilengkapi dengan Wifi yang bisa disambungkan ke perangkat telepon pintar sehingga gambar yang diambil bisa langsung dipindahkan dengan fasilitas ini.
  • Tombol Erase. Tombol bergambar tong sampah ini digunakan untuk menghapus 1 atau lebih gambar/video yang ada dalam galeri. Setiap kali ditekan, kamu akan diberi pilihan apakah kamu akan menghapus 1 gambar atau lebih.
  • Nah, sementara ada 1 lagi tombol yang berada di tengah-tengah dan berisikan banyak fungsi. Function Button yang satu ini berisikan beberapa fungsi seperti pengaturan lampu flash, pengatur waktu, pengatur tingkat kecerahan layar, dan pengaturan mode makro.
  • Tombol Video recorder. Hanya dengan 1 kali tekan, kamu sudah bisa menggunakan mode video dan tekan sekali lagi untuk berhenti merekam. Pengaturan kualitas video bisa dilakukan di tombol menu.

Kalau tadi tombol di sisi kanan layar, sekarang kita beralih ke tombol yang berada di samping kanan atas body kamera. Beberapa tombol yang terdapat di area ini adalah :

  • Tombol power. Kamu tentu sudah tahu apa fungsinya ya?
  • Tombol shutter. Tombol ini ditekan untuk mengambil gambar. Seperti halnya tombol shutter di kamera, kamu perlu menekannya sebanyak ½ untuk menemukan fokus dan kemudian tekan penuh untuk mengambil gambar.
  • Pengatur Zoom lens. Menyatu dengan tombol shutter, bagian yang ini digunakan untuk mengatur panjang lensa ketika membidik target. Jika diputar ke kanan maka lensa akan memanjang dan proses zoom out pun terjadi, begitu sebaliknya. Pengaturan zoom ini juga terdapat di bagian samping kiri badan lensa.
  • Tombol wifi. Ini dia tombol yang bisa langsung digunakan begitu kita ingin memindahkan gambar-gambar dalam galeri ke dalam telepon pintar kita. Sebelumnya kamu perlu mengunduh aplikasi di google play terlebih dahulu. Cari saja aplikasi bernama Nikon Wireless Mobile Utility. Setelah dipasang di smarthone, tinggal diatur saja melalui tombol menu dan singkronkan kedua gawai itu. Wifi pun bisa segera digunakan untuk proses transfer.

Tombol-tombol lainnya :

  • Di samping kiri badan lensa terdapat 2 tombol fungsi. Yang pertama adalah tombol zoom in dan out dan 1 tombol lainnya yang digunakan sebagai pengaturan fokus. Ketika tombol ini ditekan maka fokus kamera akan diatur secara otomotasi sehingga kita akan menemukan titik fokus yang pas sebelum kita mengambil gambar
  • Tombol flash light. Sebuah tombol kecil berada di bagian samping kiri lampu flash dan jika ditekan maka flash akan popped out. Jika kamu ingin menggunakan flash ini, pastikan posisinya siap dengan melihat lampu led berwarna kuning yang akan standby jika flash sudah siap.

Nikon coolpix L840 sudah dilengkapi dengan slot HDMI yang bisa dihubungkan ke perangkat layar monitor TV atau komputer. Sayangnya kamera ini tidak memiliki slot untuk microphone tambahan sehingga ketika kamu menggunakan mode video kamu hanya bisa mengandalkan built-in microphone yang tersedia. Hasilnya? Tidak sehalus jika kamu menggunakan mikrofon eksternal.

Apa yang aku suka dan tidak suka dari kamera ini?

Well, sejauh pengalamanku menggunakan kamera ini aku agak kesulitan mengambil gambar dalam kondisi cahaya yang minim. Mengambil gambar di dalam rumah dengan memanfaatkan cahaya alami hanya bisa dilakukan mulai jam 9 hingga 3 sore. Selebihnya harus menggunakan tripod kalau tidak ingin hasilnya ngeblur. Memang sih biasanya aku ubah ke pengaturan manual dan meningkatkan sensitifitas ISOnya. Tapi hasilnya tetap kurang memuaskan karena gambar jadi berbintik. Tapi untuk pengambilan di luar ruang dengan cahaya melimpah, Nikon L840 ini sangat tajam dan bisa diandalkan meski tidak menggunakan tripod, bahkan untuk obyek bergerak sekalipun.

Selain itu aku suka dengan hasil fokusnya untuk menghasilkan gambar dengan latar belakang blur hanya dengan mengatur panjang lensa. Memang masih lebih repot dibandingkan dengan DSLR masa kini yang sudah dilengkapi dengan kemampuan membuat background jadi blur.

nikon coolpix l840

Oh iya, mengatur fokus obyek kadang bukan perkara gampang. Respon Nikon L840 sekali waktu agak lambat dalam mendapatkan fokus meski sudah mengatur jarak antara kamera dengan obyek. Bikin senewen sih, tapi kasusnya agak jarang kalau kamu sudah mengenal dan bergaul dengan kamera ini cukup lama.

Ini adalah contoh video yang diambil dengan kamera Nikon L840 milikku.

Verdict

Kesimpulannya, kalau bujet kamu terbatas, prosumer adalah jenis kamera yang cocok. Dengan range harga 2 jutaan kamu bisa pakai prosumer untuk latihan sebelum nabung lagi buat beli DSLR atau malah mirrorless. Aku sendiri merasa cukup untuk saat ini karena kamera ini lumayan memenuhi kebutuhanku pada fotografi.

Jadi itulah review yang nggak terlalu singkat dari aku yang udah make Nikon L840 selama setahun setengah ini. Jadi jika kamu tertarik untuk membeli kamera prosumer, semoga review ini bisa membantu.

Author: nunoorange

Radio announcer. Average in everything.

15 Replies to “Nikon Coolpix L840 : Setahun Kemudian”

      1. ceritanya genti kamera, tapi lensa bawaan 16-50 mm
        jadiii, kalo pengen moto sunset tetep pake kamera jadoel yg zoom 18X ahaha

        rada2 gimanaaa gitu, secara sukanya moto lenskep 😀

  1. ini salah satu kamera yang aku punya. sama persis, cuma punyaku warna hitam. Yang paling aku suka dari kamera ini adalah zoom nya yang sampe 32x. Kalo nonton konser, nonton bola atau acara lain yang dapet duduk di atas podium, kamera ini berguna banget.

  2. Keren kk, aku juga suka canon, sampai suatu ketika kameraku kena ombak laut. Sekarang lagi nyobain prosumer fuji jadul. Warna2 fuji lebih natural, tapi kenaturalen. Pengen bangen nyobain nikon, lihat hasil photo disini jd tambah ngiler. tapi.. Blum ada duit buat beli kamera

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

%d bloggers like this: