Event

Mengunjungi Oma Opa Di Panti Wreda Rindang Asih Boja

Tahun ini, tepatnya 26 Juli nanti Radio Gajahmada Fm Semarang berulang tahun ke 40. Seperti di banyak perusahaan, ulang tahun selalu menjadi momen yang spesial. Banyak kegiatan yang biasa dilaksanakan untuk memperingati sekaligus merayakan ulang tahun berdirinya perusahaan. Dari mulai yang sederhana sampai yang hingar bingar.

Selama 15 tahun bekerja di radio ini saya mengalami banyak momen luar biasa di setiap ulang tahun perusahaan. Banyak acara-acara extravaganza yang pernah digelar oleh Gajahmada FM. Sebagai radio yang mengambil tagline “Radionya Orang Semarang” – yang pada kenyataannya pendengar kami dari mana-mana – kami selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi pendengar baik yang berdomisili di Semarang ataupun di kota-kota lain.

Radio multi segment yang sudah berusia 40 tahun ini beberapa kali merayakan ulang tahunnya dengan acara-acara besar seperti pagelaran musik yang di selenggarakan di berbagai tempat. Kami juga beberapa kali menyuguhkan acara wayang kulit semalam suntuk dengan mendatangkan dalang-dalang terkenal seperti Ki Anom Suroto, sebagai bentuk penghormatan kami terhadap budaya jawa yang harus dilestarikan.

Sebenarnya moment 40 tahun Radio Gajahmada FM ingin diisi dengan berbagai program yang cukup besar. Namun beberapa tahun belakangan ini, waktu ulang tahun bertepatan dengan pelaksanaan bulan Ramadhan sehingga mau tidak mau kami harus menyesuaikan diri demi menghormati bulan puasa. Sudah beberapa kali di perayaan ulang tahun, Radio Gajahmada FM melaksanakan program yang berkaitan dengan kegiatan sosial. Mulai dari donor darah, mengundang anak yatim piatu untuk berbuka bersama, hingga mengunjungi panti wreda di sekitar kota Semarang.

Selain sebagai program CSR, kegiatan-kegiatan tersebut juga menjadi wujud dari rasa terima kasih kami kepada warga kota Semarang dan sekitarnya atas dukungan dan doa dalam setiap tugas kami menghibur dan memberikan informasi kepada pendengar.

Mengunjungi Oma Opa Di Panti Wreda Rindang Asih Boja

Mengunjungi Oma Opa Di Panti Wreda Rindang Asih Boja

Salah satu yang baru saja selesai dilaksanakan adalah kunjungan ke Panti Wreda Rindang Asih yang ada di Boja Kendal. Rindang Asih adalah Panti Wreda yang berada di bawah naungan Yayasan Katolik Unika Soegiapranata Semarang. Cabangnya ada di beberapa tempat. 1 cabang yang saya tahu berada di Ungaran, Kabupaten Semarang.

Dipilihnya Rindang Asih Boja mungkin hanyalah sebuah kebetulan belaka. Tidak ada maksud untuk memilih-milih Panti Wreda berdasar dari keyakinan dan agama. Tolong dipahami karena mungkin saja ada yang bertanya. Kami mengunjungi Oma Opa di Panti Wreda dengan niat yang baik. Kami ingin membuat mereka senang dengan kehadiran kami yang mungkin mengingatkan mereka pada anak-anak mereka di rumah, yang sudah lama tidak berjumpa.

Ada lebih dari 3o lansia yang berada dalam perawatan panti ini. Sebagian besar dari mereka dititipkan oleh keluarganya, dan beberapa dititipkan oleh dinas sosial yang menemukan mereka berada di jalanan.

Those Questions…

Saya selalu tertegun ketika mengunjungi Panti Wreda, dimanapun tempatnya. Para lansia ini mengingatkan diri saya bahwa suatu saat saya juga akan menua. Perasaan tertegun yang saya alami lebih kepada pertanyaan “kemana anak-anak mereka yang selama ini mereka sayangi dengan sepenuh hati? Kenapa keluarga mereka lebih memilih menempatkan orang tua-orang tua ini dalam pengasuhan orang lain?”

Jawaban dari pengurus panti hampir selalu sama “banyak anak-anak yang terlalu sibuk dengan keluarga inti mereka sendiri sehingga merasa tidak mampu untuk merawat orang tuanya. Mungkin karena kesibukan dan sadar akan kerepotan yang dialami jika merawat orang tua sendiri yang sudah mulai pikun, tidak bergas lagi, dan bahkan hampir seperti anak kecil”

Lalu pertanyaan lain muncul di kepala saya :

  • Apakah saya akan memperlakukan ibu saya seperti itu jika kelak beliau benar-benar menua?
  • Dan apakah jika dan hanya jika kelak saya punya anak, mereka akan menempatkan saya di Panti Wreda?

Seringkali pertanyaan-pertanyaan ini membuat saya sedih. Namun di sisi lain saya berharap bahwa kelak saya bisa merawat ibu saya hingga beliau meninggal dengan kasih sayang yang bisa saya berikan semampunya. Kehilangan ayah yang tidak mampu saya bahagiakan sudah merupakan sebuah hutang yang sama sekali tak terbayar. Dan semoga saya (dan juga kamu) masih punya kesempatan untuk terlibat dalam perawatan orang tua sendiri ya?

Oma dan Opa Tidak Sepenuhnya Sendiri Kok…

Mengunjungi Oma Opa Di Panti Wreda Rindang Asih Boja

Kembali ke Panti Wreda Rindang Asih. Melihat Oma-Opa yang berkumpul dengan teman sebayanya menimbulkan harapan bahwa mereka tidaklah sepenuhnya sendirian. Mungkin banyak di antara mereka yang sedih karena merasa dibuang oleh keluarganya sendiri, bahkan dalam sebuah kesempatan kunjungan ke Panti Wreda di program CSR Gajahmada FM beberapa tahun lalu saya masih ingat, seorang Opa yang menangis sesenggukan karena kedatangan kami.

Beliau menangis karena teringat dengan anak dan keluarganya yang menempatkannya di rumah perawatan lansia. Beliau kangen dengan keluarganya sendiri, tapi keluarganya yang berdomisili di Surabaya hampir tidak pernah datang, dan hanya menitipkan sejumlah uang untuk biaya perawatan Opa tadi.

Tetapi hidup di tengah-tengah lansia lain juga memberikan sebuah kehidupan baru di masa tua mereka. Merasa senasib sepenanggungan, dan seumuran tentunya, para lansia ini seperti mendapatkan teman dan keluarga baru. Meskipun tidak jarang bertengkar karena hal sepele – yang menurut pengurus panti hal seperti ini sudah biasa, namun Oma-Opa ini merasa senang karena mereka tidak sendiri di masa tuanya. Ada teman-teman yang paling tidak bisa diajak ngobrol, bernyanyi bersama, dan kadang-kadang beradu argumen. Sesuatu mungkin yang justru tidak didapatkan ketika berada di tengah-tengah keluarga mereka sendiri.

Dan ironisnya, banyak yang merasa berada di Panti Wreda lebih baik daripada hidup bersama anak dan cucu mereka.

Oma dan Opa Bersenang-Senang…

Kehadiran kami yang merupakan perwakilan dari Radio Gajahmada FM mungkin tidak membawa pengaruh yang cukup signifikan bagi para Oma dan Opa ini. Tetapi dari raut wajah mereka, saya pribadi tahu bahwa kunjungan-kunjugan semacam ini sudah lama dinantikan. Ketika mereka dikumpulkan di satu aula dan kemudian berinteraksi dengan kami, saya jadi tahu bahwa selain teman-teman sebaya mereka, kehadiran yang muda-muda seperti kami kadang juga dibutuhkan.

Ngobrol dan nyanyi adalah sebuah kegiatan biasa untuk kita yang muda-muda. Tapi bagi mereka, itu adalah sebuah hal yang sangat luar biasa. Ekspresi mereka menggambarkan kalau mereka sangat menantikan ini. Selama kurang lebih 1 jam kami mengajak mereka bercanda. Ada juga pengarahan dari ahli Gizi RS Kariyadi yaitu Ibu Ismi, yang memberikan informasi tentang gizi untuk lansia, dan kegiatan apa saja yang cocok dilakukan oleh para Oma dan Opa.

Kami juga bernyanyi dengan lagu-lagu pilihan mereka. Tidak peduli seberapa fales suara kami, yang penting tepuk tangan dan tertawa, itu sudah lebih dari cukup.

Puas bernyanyi kami pun menyerahkan bantuan beberapa barang yang dibutuhkan oleh Oma Opa, seperti popok untuk dewasa, baju daster untuk Oma dan beberapa makanan yang sudah dikonsultasikan dulu dengan pihak pengurus panti.

Lesson To Learned…

Orang bilang menua itu pasti tetapi menjadi dewasa itu pilihan. Menjadi orang yang menua dengan sehat baik fisik maupun pikiran memang menjadi dambaan semua orang. Kalau nggak bisa sehat dan jadi beban buat orang lain, lebih baik cepat-cepat dipanggil pulang oleh yang maha kuasa. Begitu banyak orang berpikiran. Tapi yang namanya usia dan kondisi masing-masing orang memang tidak ada yang tahu. Apakah saya akan menua dengan sehat dan tetap sehat hingga mati kelak? Atau kah saya akan sakit-sakitan dan merepotkan orang lain? Entahlah, tidak ada yang tahu.

Tapi demi melihat mereka yang hidup di panti wreda banyak dari kami yang belajar tentang sebuah rasa syukur. Syukur pada usia muda yang masih bisa dirasakan sampai saat ini, hingga suatu saat nanti sudah tak bisa. Syukur pada mobilitas yang masih bisa tinggi dan bisa kesana-kemari tanpa gangguan, dan banyak hal lain yang tak boleh dikeluhkan saat ini.

Personally, Oma dan Opa di Panti Wreda membuat saya berpikiran menjaga ibu saya tetap sehat, dan diri saya sendiri tentunya. Supaya kami tetap bisa menikmati masa tua dengan banyak kegiatan. Jika diberi umur panjang, saya ingin merawat orang tua saya dengan tangan saya sendiri tanpa merasa repot. And of course, i wanna die in peace without any suffer dan nggak harus jadi beban orang lain – meskipun tentu mereka tidak menganggap orang tua adalah beban.

What Else?…

Selain dari itu kita harus belajar untuk berkasih sayang dengan mereka yang sudah lanjut usia. Kesabaran adalah sesuatu yang paling diuji jika harus berhadapan dengan mereka. Seperti kata petugas panti tempo hari bahwa kebanyakan orang tua akan kembali menjadi seperti anak-anak, dan sebenarnya kita tahu itu. Bagaimana menghadapi tingkah laku anak-anak yang kadang susah diatur, gampang ngambek, dan kolokan, kita pasti sudah cukup fasih. Dan begitulah kondisinya jika berhadapan dengan banyak lansia. Meskipun tidak semua lansia akan bertingkah laku seperti itu tapi setidaknya kita bisa sabar dalam menghadapi mereka. Dan yang paling penting adalah mengerti keinginan mereka dan mencoba memberikan pengertian apabila keinginannya tidak bisa dipenuhi.

Tempo hari, ada seorang Opa yang selama ini memendam unek-unek hanya karena setiap hari makan makanan yang menurutnya hambar. Si Opa yang memang digambarkan agak keras kepala dan lumayan nakal ini sering curi-curi kesempatan untuk memasak mie instant. Padahal untuk kesehatan si Opa makanan seperti ini tidak dianjurkan. Bagaimana memberikan pengertian bahwa garam yang berlebihan bisa berbahaya bagi kesehatan beliau memang susah-susah gampang. Karena bagi si Opa, keinginan yang harus dituruti adalah goal yang utama. Selebihnya adalah urusan belakangan.

Begitulah sekelumit cerita tentang kunjungan ke Panti Wreda Rindang Asih Boja yang kami lakukan beberapa waktu lalu. Semoga kami masih diberi kesehatan untuk tetap melaksanakan program sosial semacam ini di tahun-tahun mendatang ya?

6 Comments

  1. Edi B Setyobudi July 3, 2017
    • nunoorange July 12, 2017
  2. TIEN January 14, 2018
    • nunoorange January 17, 2018
  3. tamasyaku.com November 23, 2018
    • nunoorange November 23, 2018

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: