Personal

Media Sosial Itu Bagai Pisau Bermata Dua. Katanya…

Beberapa tahun lalu saya pernah jadi korban bully di twitter. Waktu itu ceritanya saya nyamber twit orang. Maksudnya lucu-lucuan sih. Wong nyambernya juga nggak menyinggung si empunya twit dan siapapun kok. | Media Sosial Bagai Pisau Bermata Dua

E lha kok ternyata dia dan temen-temennya bersatu-padu ngebully saya. Bingung juga kenapa jadi begitu? Terus jadi malu sendiri dan langsung hapus akun. Hahaha. Nggak kuat saya.

Dan karena kejadian itu saya absen main twitter sampai bertahun-tahun. Pandangan saya terhadap media sosial pun jadi jelek. Menurut saya, medsos sama sekali nggak ada gunanya. Cuma buang waktu dan menimbulkan masalah baru.

Tapi itu dulu, sekarang saya sudah balik ke twitter kok. Hehehe.

[[ baca : Kalau konten adalah raja, maka tema adalah nyawanya ]]

Media sosial itu sebenarnya apa sih?

Ngomongin media sosial, pikiran kita pasti langsung tertuju pada Facebook, Twitter, dan Instagram. Padahal sebenarnya ada banyak media sosial di sekitar kita. Whatsapp, Line, Almarhum PATH, Youtube, bahkan Blog sendiri pun tergolong media sosial lho.

Lewat platform tadi kita bisa terhubung dengan pihak lain yang nun jauh di sana, yang bahkan nggak pernah kita kenal sebelumnya.

Dari sana lah kita bisa mendapat banyak informasi yang berguna atau yang sifatnya berguna enggak, tapi kalo ga dibaca kok ya bikin penasaran. Belum lagi kalau kemudian kita bisa berjejaring dan menambah teman baru. Kata orang banyak teman banyak rejeki. Good for business, right?

Kasarnya, media sosial itu kan sebuah platform dimana kita bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain, kenal enggak kenal. Yang tadinya nggak kenal jadi kenalan, yang udah kenal ya makin akrab.

[[ baca : Kenapa Nuno Orange? ]]

Tapi nggak selalu begitu, Ferguso!

Awalnya diniatkan begitu. Tapi yang terjadi bisa sebaliknya. Yang nggak kenal bukannya jadi teman malah bisa jadi musuh bebuyutan, yang udah kenal juga bisa berjauhan.

Sebabnya macam-macam. Saling adu argumen di media sosial, sindir-sindiran lewat status, sampai membagikan sesuatu yang memicu kontroversi dan pertengkaran.

“Apa yang bisa merubah pandanganmu terhadapku, Marimar?” ~ MedSos.

Menyesuaikan sudut pandang, itulah yang saya lakukan. Kalau mau melihat dari satu sisi saja memang terasa agak kurang adil. Karena bagaimanapun media sosial dibentuk sedari awal bukan untuk hal-hal negatif macam tadi. Hal itu hanyalah akibat dari penggunaannya yang tidak sesuai.

Banyak cerita-cerita sedih berkaitan dengan medsos. Orang bunuh diri karena dibully di dunia maya, pecah huru-hara akibat kabar tak benar yang tersebar tanpa dikonfirmasi terlebih dulu, dan hal-hal buruk lainnya.

Tapi kalau melihat bagaimana orang bisa sukses melalui media sosial, menginspirasi lewat berbagai platform medsos yang ada, sepertinya memang benar adanya kalo MedSos ini bagaikan pisau bermata 2. Mau digunakan untuk motong terong sesuai kegunaannya, atau malah jari yang kepotong, kamu pilih mana?

Saya dan Media Sosial

Ada banyak hal yang saya pelajari dari media sosial. Di antaranya tentang memilih dan memilah. Mana yang berfaedah saya manfaatkan, mana yang bikin resah saya singkirkan.

Daripada stres kaya Mbak Selena Gomez, ya kan? Mending kabur sejenak dulu. 

Baik itu di Instagram, Facebook, Twitter, Whatsapp atau Youtube, saya selalu berusaha untuk memfilter hal-hal yang tidak saya inginkan. Begitu pun jika saya menemukan hal yang meresahkan dan tidak sesuai di grup whatsapp keluarga, misalnya. Saya yang selalu jadi polisi di dalamnya.

Saat ini saya menggunakan media sosial hanya untuk keperluan pekerjaan dan sedikit senang-senang. [Ya kalau di twitter kadang masing suka melayangkan protes juga sih ke layanan operator telepon kalo pas lagi nyebelin].

Di facebook, saya segera kabur jika postingan teman-teman sudah mulai menjurus ke isu politik yang menjelek-jelekkan kubu lawan dan menyebarkan kabar meresahkan. Niatnya ingin menegur, tapi saya sendiri tak punya dasar dan data yang valid sebagai counter. Jadi ya paling aman langsung log out. Hehehe.

Di twitter dan instagram pun juga sama. Kalau perasaan sudah tak enak, sebaiknya tak perlu berlama-lama. Di Youtube, apalagi. Kalau dapat suggest video yang isinya drama politik, langsung deh saya klik “SAYA TIDAK TERTARIK DENGAN VIDEO INI”. Sebodo.

Tips biar nggak stress bermedia sosial ala saya :

  • Kembali ke khittah-nya saja. Buat senang-senang, cari informasi yang berguna, dan mendapat hal-hal positif
  • Nggak usah ikut arus kalau tidak menguasai medan. Daripada berujung ribet?
  • Biar ga baper, berhenti KEPO status twitter, whatsapp, instastory, or whatever apalah-apalah. Karena bisa jadi, itu bukan buat kamu. Jadi jangan Ge-Er!
  • Sudahlah, kala sudah mulai pusing, lihat akun-akun lucu aja. Bayi kek, kucing-kucing lucu kek, masakan-masakan enak. Pokoknya segala hal yang bisa bikin bahagia.

Silakan tambahin di kolom komentar kalau punya tips ala kamu.

Jadi buat saya bermedia sosial itu memang paling bener adalah PAKAI RASA DAN LOGIKA. Jadi, terong lah yang kepotong, bukan jari.

media sosial

7 Comments

  1. Dani Ristyawati November 25, 2018
    • nunoorange November 25, 2018
  2. Dita November 25, 2018
    • nunoorange November 26, 2018
  3. Bunda Dirga November 26, 2018
  4. Bunda Dirga November 26, 2018
  5. Pleasant Magazine December 6, 2018

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: