Lunpia Delight : Harga Ringan, Rasa Kelas Berat

Lunpia Delight

“Sejak kapan sih Semarang identik dengan lunpia?” Entahlah, tidak ada yang tahu pasti. Tapi makanan yang sering juga dieja dengan lumpia (dengan M) ini memang sudah lama eksis di kota Atlas tercinta. Berawal dari kisah cinta berbalut bisnis antara Tjoa Thay Joe dan Mbok Warsi, makanan yang punya nama internasional spring roll ini berkembang dari generasi ke generasi.

Sejak itulah lunpia Semarang terkenal hingga saat ini. Ada kisah bahwa Mbok Warsi memberikan saran pada Tjoa Thay Joe supaya lunpianya bisa laku di kalangan muslim kota Semarang. Tjoa Thay Joe yang dulu menggunakan bahan yang mengandung babi, mulai menghilangkan unsur ini. Penyesuaian yang dilakukan oleh Tjoa Thay Joe dan Mbok Warsi, terutama di bagian bahan baku semakin membuat lunpia bisa dinikmati oleh berbagai kalangan termasuk umat muslim.

Ada 3 generasi pembuat lunpia yang paling terkenal di Semarang. Dan dari trah ini pula usaha pembuatan lunpia berkembang sampai sekarang, salah satunya oleh Master Tan Yok Tjay yang juga merupakan keturunan dari generasi lunpia Mataram yaitu Ibu Siem Hwa Nio. Dengan brand Lunpia Delight yang dikelola oleh putrinya Meilani Sugiarto SE atau yang biasa dipanggil Cik Me Me, makanan yang masuk dalam kategori camilan ini makin naik kelas lewat pengembangan produknya.

Lunpia Delight

Lunpia Delight

Ketika pertama kali mengunjungi outlet Lunpia Delight yang ada di Jalan Gajahmada no 107 Semarang, saya enggak nyangka kalo tempat (yang keliatan) kecil itu bisa sangat homy dan nyaman. Berselebelahan dengan Istana Buah, toko Lunpia Delight terasa adem banget! Dengan tempat parkir yang cukup luas, pengunjung bisa berbelanja lunpia sebagai oleh-oleh dengan cukup nyaman. Bahkan tersedia juga musholla untuk beribadah. Dan mushollanya bernama! Buat saya, ini tanda bahwa pengelola Lunpia Delight serius dalam membidik pangsa pasar konsumen muslim yaitu dengan menyediakan semua yang dibutuhkan demi kenyamanan mereka.

Lunpia Delight

Lunpia Delight

Lunpia Delight

Ngomong-ngomong, di outlet ini kita juga bisa menikmati lunpia dalam berbagai varian rasa sambil ngobrol dengan teman dan keluarga. Nggak cuma melayani take away, kita juga bisa makan di tempat. Siang itu saya memesan 2 jenis lunpia yang katanya paling best seller yaitu Raja Nusantara dan KaJamu. Raja Nusantara adalah salah satu varian lunpia yang berisi rebung, telor ayam, jamur kancing, dan kacang mete. Sementara KaJaMu adalah lunpia yang isinya rebung, telor, dan kambing jantan muda cincang.

Kesannya maruk ya 2 buah lunpia “dihajar” sendiri? 😀 Apalagi saya ini termasuk yang agak sebel tiap kali makan lunpia, terutama karena minyaknya yang kalo kata orang Jawa bilang “kamploh-kamploh” atau sampai berminyak banget. Makanya, memesan 2 buah lunpia untuk dimakan sendiri adalah sebuah tindakan berani kalau boleh saya bilang. Tapi ternyata…

Hasilnya di luar perkiraan saya. Mungkin ini adalah pengalaman pertama saya makan lunpia tanpa pake sebel. Kenapa? Karena lunpia yang saya makan ini benar-benar “kering” tanpa minyak yang berlebihan! Kulit lunpianya begitu tipis, tidak berminyak, dan benar-benar renyah. Irisan rebungnya pas menurut ukuran saya. Kadang saya menemukan irisan rebung yang terlalu besar di banyak lunpia, tapi produk Lunpia Delight ini rebungnya pas dan enggak keras. Dan yang paling saya suka adalah rebungnya enggak bau pesing! For your information, bau pesing rebung jadi keluhan yang sering dirasakan oleh penikmat lunpia lho.

Lunpia Delight

Lunpia yang saya nikmati pertama kali adalah KaJaMu atau Kambing Jantan Muda. Rebung dan daging kambing jadi satu? Saya rasa mereka yang nggak suka rebung dan daging kambing harus nyoba lunpia yang satu ini deh. Beneran! Karena selain rebungnya nggak bau, daging kambingnya pun enggak “prengus”! Saya sampai penasaran pengen ketemu sama Cik Me Me buat nanya rahasia dari mengolah rebung dan daging kambing supaya enggak bau. Tapi sayang beliau enggak ada di tempat saat itu.

Lunpia Delight

Tandas lunpia yang pertama, saya lanjut ke lunpia kedua yaitu Raja Nusantara atau Jamur Kacang Mete. Selain potongan rebung, kamu juga akan menemukan irisan jamur kancing dan kacang mete yang masih cukup renyah. Kacang mete di dalam isian Raja Nusantara ini memberi tekstur renyah dan gurih pada lunpianya. Dinikmati dengan saus cokelat kental khas dan cabe rawit atau daun bawang merah, rasanya makin “menggigit”. Oh ya, ini pertama kalinya saya makan lunpia dengan daun bawang merah, dan ternyata rasanya enak! Bawang merah mudanya memberikan rasa manis dan agak sedikit pedas tanpa bau yang berlebihan. Menurut saya malah enggak bau bawang lho! Cobain deh!

Makan 2 buah lunpia emang bikin kenyang. Tapi sebagai pecinta gorengan, makan 2 buah lunpia di Lunpia Delight ini entah kenapa kok nggak bikin saya ngerasa bersalah ya? 😀 Biasanya kalau saya makan 1 lunpia saja rasanya udah eneg dan “mblenger” karena minyaknya yang berlebih dan meninggalkan kesan “ngendal” di langit-langit mulut. Tapi produk Lunpia Delight ini ringan di mulut sampai saya nggak ngerasa kalau habis makan gorengan.

Saya rasa dengan inovasi semacam ini, bukan tidak mungkin lunpia akan menjadi semakin naik kelas di kalangan pecinta kuliner. Dan usaha Cik Me Me untuk meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh Master Tan Yok Tjay patut diapresiasi. Nggak gampang lho mengolah rebung dan bahan-bahan lain sampai sedemikian rupa sampai bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa harus menghilangkan rasa otentik khas lunpia Semarangan. Sesuai dengan taglinenya : Authentic Semarang Taste.

Lunpia Delight

Tak hanya menjaga kualitas cita rasa, Lunpia Delight juga memastikan bahwa bahan yang digunakan adalah bahan yang halal. Dibuktikan dengan adanya sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia, Lunpia Delight menyajikan bahan baku yang aman dikonsumsi oleh umat muslim.

Selain Lunpia original yang berisi rebung, udang, dan telor, beberapa varian menu lainnya juga bisa dinikmati, seperti :

  1. Lunpia Fish Kakap (lunpia rebung, udang, telor, dan ikan kakap pilihan),
  2. Lunpia Crab (lunpia rebung, udang, telor, dan daging kepiting pilihan),
  3. Lunpia KaJaMu (lunpia rebung, telor, dan daging kambing jantan muda),
  4. Lunpia Raja Nusantara (lunpia rebung, telor, jamur, dan kacang mete pilihan),
  5. Lunpia Plain (khusus untuk vegetarian yang berisi hanya cacahan rebung pilihan)

Semuanya tersedia dalam 2 pilihan yaitu basah (belum digoreng) dan kering (sudah digoreng). Harganya sih menurut saya masih terjangkau ya. Untuk rasa original dihargai 12 ribu rupiah dan lunpia plain dihargai 8 ribu rupiah. Sedangkan untuk menu special bisa ditebus dengan harga 18 ribu. Pokoknya harga ringan, rasa kelas berat!

Lunpia Delight

Nah, seperti yang sudah saya bilang tadi kalau usaha Cik Me Me untuk mempromosikan Lunpia Delight ini memang terbilang luar biasa. Tidak hanya melalui below the line lewat baliho-baliho dan pamflet yang disebar di banyak titik, tapi promosinya juga enggak main-main. Selain layanan pesan antar yang memudahkan konsumen, Lunpia Delight juga memberikan diskon bagi pengguna angkutan kereta api. Tanpa minimal pembelian konsumen bisa mendapat potongan harga sebanyak 25%. Lumayan banget bukan? Bahkan beberapa kali saya jumpai agen Lunpia Delight yang berada di stasiun besar Tawang Semarang dan menawarkan produknya. Tinggal pilih produk dan langsung akan diantarkan saat itu juga.

Lunpia Delight

Inovasi rasa yang sudah mendapatkan penghargaan dan langkah promosi yang cukup efektif membuat Lunpia Delight makin dikenal lebih luas. Kesuksesan ini akan memberikan impact yang lebih luas pada kota Semarang. Citra Lunpia Delight sebagai pintu gerbang kuliner kota Semarang bukan tidak mungkin akan terbentuk. Kalau ke Semarang harus beli lunpia di Lunpia Delight, begitulah setidaknya yang terus diingat oleh para pelancong yang datang ke Semarang. Lama-lama Semarang juga bisa dijuluki sebagai Kota Lunpia, bukan? Dan ini juga menjadi salah satu promosi yang cukup bagus lho bagi kota Semarang, terutama di bidang kuliner.

Kalau kamu penasaran dengan rasa Lunpia Delight, kamu bisa datang ke Jalan Gajahmada no. 107 Semarang (samping istana buah). Buka tiap hari termasuk Minggu dan hari libur dari jam 5 pagi sampai 10 malam. Delivery melalui telepon di 024-3511007.

Tulisan ini diikutsertakan pada Lunpia Delight Blogging Competition yang diselenggarakan oleh Lunpia Delight

11 comments on “Lunpia Delight : Harga Ringan, Rasa Kelas Berat”

  1. Sayang banget pas di semarang yg taun lalu bolak balik tempat ini ko ndak pingin mampir. Terpaku sama lunpia yg legendaris di sebwlah sono ituu

    • Yang di depan Sri ratu itu Mbak Lien ya? Sepertinya masih sodaraan sama Lumpia Delight. termasuk yang di gang lombok. Ya namanya selera memang berbeda ya? *so klise* hahaha. Tapi so far di Lunpia Delight saya cocok sih.

    • Kalo menurut pelafalan sih harusnya Lunpia Mbak Oline. Karena sesuai dengan bahasa Tiongkoknya. Tapi Lumpia juga bener. Sesuai dengan pengucapan org Indonesia pada jaman itu dan terbawa sampai skrg.

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

Copyright Nuno Orange 2017
Tech Nerd theme designed by Siteturner
%d bloggers like this: