Music

Kompilasi Musikini Volume 1 : Bukti Kalau Semarang Punya Musisi Yang Penuh Potensi

"Kompilasi Musikini Volume 1"

Kompilasi Musikini Volume 1

Jumat pekan lalu saya diundang ngumpul dengan teman-teman sesama Music Director Radio di Banaran Café. Agendanya adalah menghadiri sesi hearing bersama produser dan artis-artis yang tergabung dalam album kompilasi Musikini Volume 1. Sebenarnya agak lucu juga, mengingat sesi “dengar dan berpendapat” ini dilakukan setelah launching di Auditorium RRI beberapa waktu lalu. Biasanya sih hearing dilakukan sebelum materinya secara resmi rilis ke radio-radio.

Saya sendiri tidak menghadiri acara peluncurannya (karena tidak diundang), tapi sepertinya menarik juga untuk datang dan mendengar satu persatu materi yang ada di album kompilasi yang berisikan musisi-musisi Semarang ini. Selain karena undangan, jujur saya juga sedikit penasaran dengan albumnya. Penasaran bakal seperti apa sih isi kompilasi Musikini ini? Gimana sih materi-materi lagunya? Tapi kemudian saya cukup amazed juga dengan hasilnya. Secara keseluruhan album ini cukup mengejutkan karena berisikan materi-materi lagu yang cukup bagus dan potensial untuk pasar kota Semarang.

Sekilas tentang Kompilasi Musikini Volume 1 ini, album yang semua materinya diisi oleh musisi kota ATLAS digagas oleh Ausi Kurnia Kawoco, seorang pecinta musik asal Semarang yang merasa bahwa musisi Semarang punya segudang potensi untuk bisa unjuk gigi dengan karya mereka. Bersama seorang jurnalis musik nasional asal Semarang Djoko Moenantyo, Ausi mencoba untuk mewujudkan gagasan yang awalnya bahkan tidak pernah dipikirkan oleh mereka berdua.

Ide yang konon muncul saat ngobrol di warung kopi ini dinyatakan dalam berbagai kegiatan, mulai dari mengumpulkan musisi-musisi lokal kota Semarang, melakukan proses audisi dan akhirnya memilih 10 musisi yang tergabung dalam album kompilasi Musikini Volume 1.

Bukti bahwa keduanya serius dalam menggarap album kompilasi ini bisa dilihat dari terlibatnya seorang music director yang pernah menangani banyak artis besar Indonesia. Ully Dalimunthe dan segudang pengalamannya bersama dengan Dewi Sandra, Ari Lasso, Bunglon, hingga Anang Hermansyah diharapkan mampu memberikan sentuhan eksklusif bagi materi lagu yang ada di album ini.

Personally saya memberikan apresiasi dan salut pada hasilnya. Lepas dari itu, saya merasa bahwa musisi asal Semarang sebenarnya punya taji untuk bersaing di industri musik nasional tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai artis lokal. Seperti yang kita tahu bahwa industri musik Indonesia, hampir didominasi oleh artis-artis dari kota-kota besar macam Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Jogjakarta. Saya pernah berbincang dengan salah seorang personel band lokal yang berkarir di Jakarta (tapi saya lupa siapa), beliau pernah mengatakan bahwa kiprah musisi Semarang masih dipandang sebelah mata oleh pelaku industri musik di Jakarta. Walaupun banyak yang berasal dari Semarang dan sukses, namun Semarang sendiri masih dianggap “kurang menjual” dibandingkan dengan Bandung atau Jogjakarta misalnya. Kasih contoh, sebuah band akan terdengar lebih keren dan komersil jika dikatakan “band XX berasal dari Bandung…atau Band YY asal Jogjakarta ini….”.

Ini bukan opini pribadi saya, tetapi pada kenyataannya memang begitu. Potensi-potensi artis lokal Semarang sebenarnya luar biasa, tapi entah kenapa sampai sekarang masih belum bisa berdiri sendiri di atas kebanggaan lokalnya. Bahkan masih menurut keterangan personel band yang sama, banyak band asal Semarang yang ketika menawarkan materinya ke Jakarta untuk diproduksi, mereka lebih memilih untuk mengatakan bahwa mereka dari Jogjakarta. Entah apakah ini benar atau hanya sekedar gosip, yang pasti memprihatinkan kalau memang benar terjadi.

Itulah kenapa album Kompilasi Musikini Volume 1 ini bisa dikatakan sebagai salah satu tonggak yang bisa memberikan bukti bahwa musisi Semarang bisa menunjukkan potensinya tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai musisi lokal. Nilai-nilai itu juga yang dipercaya oleh duo Ausi dan Djoko ketika menggagas album ini. Mereka menginginkan sebuah paket yang lengkap. Mulai dari karya yang berkualitas hingga imej dan attitude yang baik.

Kompilasi Musikini Volume 1 : Tracklisting

Lalu bagaimana dengan materi-materinya sendiri? Mari kita sedikit bahas satu persatu.

  1. New Face New Wave – Noda Hitam

"musikini volume 1"

New Face New Wave

Band yang mengusung genre electronic pop punk ini digawangi oleh Fitri (vokal), Pandu (gitar), Eka (bass), Ari (kibor) dan Panji (drum). Para mahasiswa Unnes ini menyuguhkan 1 karyanya yang diberi judul Noda Hitam. Dan seperti kebanyakan lagu yang dibawakan dalam genre ini, liriknya berisi sesuatu yang empowering dan mengandung pesan positif, meskipun idenya berawal dari sesuatu yang “gelap”. Noda Hitam bercerita tentang usaha seseorang untuk bangkit dari keterpurukan setelah mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dimasa lalu. Dalam lagu ini New Face New Wave mengemas kisah patah hati menjadi sesuatu yang mampu menyemangati pendengarnya. Ada semacam aura positif yang dihantarkan oleh mereka melalui materi lagunya, sebuah kekuatan yang berasal dari kepedihan kalau boleh saya bilang. Noda Hitam sendiri punya lirik yang cukup kuat untuk “terus nempel” di telinga dan kepala pendengarnya. Refrainnya punya hook yang dari awal sudah disuguhkan sebagai intro. Sayangnya agak kurang smooth di awal track sehingga terdengar seperti potongan lagu yang kasar. But overall salut dengan karya mereka dan kalau di radio saya, sudah pasti materi ini akan sering muncul dipagi dan siang hari.

  1. The Jaka Plus – Yovie

"musikini volume 1"

The Jaka Plus

Jangan tertipu dengan penampilan vokalis The Jaka Plus yang memang “plus” dari segi body size. Karena ketika Dauz sang vokalis sudah beraksi, kamu bakal ngebayangin seorang rocker berbadan kurus, berambut ikal, dengan bandana dan asesoris disana-sini. Jangan bayangkan Kaka atau Ipang, karena Dauz jauh dari itu. Tapi suaranya boleh diadu. Lewat sebuah lagu berjudul Yovie yang digarap dengan aransemen pop blues kental Dauz menampilkan performa yang apik. Didukung oleh rekan setimnya seperti Elle (gitar), Eddy (gitar), Derry (bass), dan Ajie (drum) mereka mengemas lagu yang bercerita tentang perjuangan seorang cowok untuk mendapatkan cinta cewek bernama Yovie. Dauz cukup menghayati kisah dalam lagu ini (yang konon berdasarkan pengalaman pribadi), sehingga mampu mengajak pendengar untuk merasakan hal yang sama tentang bagaimana perihnya cinta yang belum juga berbalas. Sekilas di bagian outro dan fade out kita akan mendengar lagu Hey Jude milik The Beatles. Tapi bisa jadi itu benar terinspirasi atau hanya sekedar kebetulan saja. Dan kebetulan pula ketika Dauz tampil solo malam itu, teman-teman juga mempelesetkan bagian outro Yovie dengan menyanyikan lagu Hey Jude.

  1. D’Jawir – Janda 2X

"musikini volume 1"

D’Jawir

Dangdut bukan sesuatu yang bisa dibilang unik karena musik ini sudah masuk mainstream. Tapi bisa jadi unik jika kemudian trio beraliran rock-dhut ini berhasil membuat produser Musikini tertarik dan mengajak mereka untuk bergabung dalam jajaran pengisi album Musikini Volume 1. Karena inilah satu-satunya lagu yang berirama dangdut yang ada di album ini. Trio D’Jawir sendiri beranggotakan Ali Azali (vokal), Arga (gitar) dan Attus (bass). Lantas apakah materi mereka jadi satu-satunya materi yang “ndeso” dan “nggak banget”? Tentu tidak. Dangdut sendiri sudah bukan materi yang “ndeso” dan lagu D’jawir jauh dari itu. Judulnya memang khas dangdut yang (maaf) terkadang norak. Tapi jika mau dilihat dari sudut pandang lain, memang beginilah yang diinginkan oleh D’Jawir. Judul yang agak provokatif namun mengundang rasa penasaran. Janda 2 kali bercerita tentang seorang pria yang jatuh cinta dengan wanita yang berstatus janda…dua kali. Tapi apapun statusnya, yang namanya cinta bisa mengalahkan logika. Lagu ini punya lirik yang mudah dihapalkan dan berpotensi “meracuni” karena punya hook yang “gampang nancep” di kepala. Imej yang mereka ingin usung adalah trio yang sederhana dan agak kocak. Mengingatkan kita pada band-band komedi yang pernah mewarnai panggung musik dalam negeri seperti Timlo atau Wong Pitoe. Saking sederhananya, mereka bertiga rela beli baju “awul-awul” untuk keperluan syuting video klip.

  1. Adam Suraja – Kusuka

"musikini volume 1"

Adam Suraja

Nama Adam Suraja sendiri bukan tergolong baru di panggung musik Semarang. Beberapa single sempat dirilisnya, termasuk single Kusuka ini. Tahun 2009 saya sudah pernah mendengarnya, dan menurut keterangan dari si empunya lagu, single ini punya 4 aransemen yang berbeda. Dan yang terakhir ini adalah yang paling baru dan paling segar. Bernuansa pop dengan sedikit sentuhan jazz, Adam Suraja mengingatkan saya pada gaya menyanyi LOBOW (bukan LOBO). Kalau perlu diingatkan, Lobow punya single hits Kau Cantik Hari Ini (2008) dan Salah (2009). Masih bercerita tentang cinta, Kusuka bercerita tentang cinta pada pandangan pertama. Kusuka versi yang 2016 memang terasa lebih segar dengan iringan string dan instrument flute yang memberikan kesan lebih mewah.

  1. Rentdo – Dari Sahabat Untuk Sahabat

"musikini volume 1"

Rentdo

Kisah tentang persahabatan yang dituangkan dalam sebuah lagu memang sebagian besar memberikan kesan ceria. Salah satunya adalah lagu milik seorang cowok bernama Rentdo. Berkisah tentang serunya persahabatan masa muda, Rentdo membawakan lagu berjudul Dari Sahabat Untuk Sahabat dengan irama rock n roll yang menghentak. Sebuah aransemen yang cocok dengan isi liriknya. Bersemangat dan seru, itulah kata-kata yang mungkin pas untuk menjelaskan lagu ini secara keseluruhan. Tercipta dari pengamatan Rentdo atas pengalaman pribadinya bersama dengan teman-teman sesama musisi lokal kota Semarang. Liriknya mungkin bukan jenis yang gampang untuk dinyanyikan bersama, tapi lagunya enak untuk didengarkan berulang-ulang. Believe it or not, kalau kamu punya pengalaman yang sama seperti yang ada dalam lagu ini, kamu akan tersenyum dan lebih menghargai pertemanan dengan sahabat-sahabatmu.

  1. Sunday Sad Story – Confession

"musikini volume 1"

“Sunday Sad Story”

Konsep awal dari album Musikini Volume 1 memang ingin menjadi semacam wadah bagi  musisi Semarang untuk unjuk gigi di kancah musik nasional tanpa memandang genre musiknya. Dan dibuktikan dengan masuknya band Sunday Sad Story yang beraliran Metalcore yang berada pada urutan ke 6 dari 10 track yang ditawarkan. Terus terang saya bukan penikmat musik metalcore karena sering tidak paham dengan apa yang dinyanyikan. Tapi bukan berarti tidak bisa menikmati aransemennya lho ya. Seperti yang dibilang oleh salah seorang teman MD bahwa apa yang dinyanyikan oleh Sunday Sad Story hanya vokalis dan Tuhanlah yang tahu apa artinya. Well, it’s a joke of course. Tapi sedikit boleh digambarkan bahwa lagu ini berisi tentang pengakuan dosa seseorang pada Tuhannya. Jadi begitulah, sebuah lagu yang muatannya agak relijius justru dibawakan dengan gaya Sunday Sad Story. Dan ini membuktikan bahwa kontemplasi tidak melulu tentang diam dan merenung. Tapi bisa juga lewat teriakan-teriakan gahar seperti yang dilakukan oleh SSD.

  1. Bello – Takkan Kumiliki

"musikini volume 1"

Bello

Muda dan manis, begitulah kesan yang pertama kali saya tangkap ketika mendengarkan lagunya. Dan saya langsung jatuh cinta dengan single yang satu ini. Dibawakan dengan konsep akustik, Bello mengemas lagu berjudul Takkan Kumiliki dengan apik. Mengingatkan saya pada band-band yang masuk dalam album kompilasi rilisan Bulletin Music di awal tahun 2007-an. Cukup puitis namun dikemas ringan dan gampang dinikmati. Lagu tentang patah hati tidak melulu dibawakan dengan irama yang mendayu-dayu dan penuh kesedihan, namun bisa juga dengan aransemen yang cukup ceria. Meskipun begitu, kamu bisa menangkap “sebuah kepasrahan” dari sosok cowok yang tak bisa memiliki cewek yang disukainya. Terdengar lemah? Enggak juga. Mungkin tahu diri lebih tepat menggambarkannya. Hahaha.

  1. 2nd Clan – Cewek Manja

2nd Clan

2nd Clan

Album Musikini Volume 1 semakin berwarna dengan kehadiran hip-hopper kawakan asal Semarang, 2nd Clan. Berkarir sejak 2012 di jalur musik ini, 2nd Clan memang grup yang layak diapresiasi. Perjuangan mereka untuk mendapatkan perhatian publik dengan bermain di genre hip hop memang tidak semudah bayangan orang. Konsistensi mereka layak dihargai oleh penikmat musik. Menawarkan sebuah single daur ulang milik mereka sendiri yang berjudul Cewek Manja, 2nd Clan membuktikan bahwa mereka masih eksis sampai sekarang. Yang unik adalah Cewek Manja sudah beredar dalam berbagai versi di internet, itulah kenapa untuk keperluan rilis album Musikini Volume 1, 2nd Clan diharuskan merekam ulang materi mereka dengan aransemen baru dan sentuhan music director sehingga hasilnya lebih segar dan terasa pas dengan era kekinian. Menjadi satu-satunya lagu hip-hop di album ini Cewek Manja berpotensi menjadi track yang “meracuni” telinga pendengar.

  1. Distorsi Akustik – A Man Who Called Eve

"musikini volume 1"

Distorsi Akustik

Saya akui visi Distorsi Akustik ketika menciptakan lagu A Man Called Eve cukup berani. Mereka menulis lagu tentang isu transgender, yang sekarang sedang menjadi bahasan panas di Indonesia. Memang kita perlu meresapi apa yang mereka coba sampaikan, karena Distorsi akustik menulis liriknya dalam bahasa Inggris. Secara singkat A Man Called Eve bercerita tentang kegundahan seorang pria yang merasa kalau dirinya adalah seorang wanita yang terperangkap dalam tubuh seorang pria. Ada pergulatan batin yang coba ditangkap oleh Viko dan kawan-kawan. Mungkin akan sedikit memicu kontroversi, tapi masalah transgender memang nyata adanya meski dianggap sebagai suatu penyimpangan oleh sebagian besar masyarakat. Nyeleneh dan berani, itulah yang bisa saya katakan tentang lagu ini, walaupun tentu saja A Man Called Eve bukan satu-satunya lagu yang mengangkat tentang isu seksualitas. Dan tidak, Distorsi Akustik tidak sedang berpendapat tentang bagaimana kita harus bersikap pada transgender, tapi mereka hanya bercerita bahwa di dunia ini memang ada sosok transgender yang kerap dihakimi tanpa dimengerti oleh masyarakat. Pada akhirnya semuanya dikembalikan pada penilaian masing-masing orang, tapi menurut saya Distorsi Akustik berhasil membuat sebuah lagu yang menjadi penyambung lidah bagi mereka yang disisihkan dan tidak dipedulikan, setidaknya begitulah niatan mereka.

  1. Giga Of Spirit – Parampa

Giga Of Spirit

Giga Of Spirit

Dan inilah track penutup di album Musikini Volume 1. Sebuah grup yang beranggotakan Kira (vokal), Anton (drum), Ilham (gitar) dan Suaz (bass) mengusung genre musik Japanese Rock lewat lagunya Parampa. Giga Of Spirit mungkin menjadi 1 dari sedikit band yang konsisten di genre ini. Lahir dan berkembang di komunitas pecinta musik Jepang, Giga Of Spirit punya cukup banyak pengalaman di sekitar pecinta musik mereka. Parampa sendiri berkisah tentang masa muda dan semua keriuhannya. Kira dan Suaz, satu-satunya personel cewek di band Giga Of Spirit, berkolaborasi dengan cukup apik di lagu ini. Materi yang cocok untuk dibawakan di atas panggung dan mampu membuat penonton moshing , itu sih pendapat saya.

Jadi begitulah isi dari album kompilasi Musikini Volume 1 yang dirilis oleh penggiat musik di Semarang. Harapannya sih albumnya tidak hanya berhenti hanya sampai disini. Maksud saya, album Musikini Volume 1 layak untuk didistribusikan keluar kota Semarang supaya karya-karya apik Wong Semarang bisa didengarkan lebih luas, dan pandangan sebelah mata akan musisi asal Semarang bisa banyak berubah. Harapan lainnya paling tidak musisi yang tergabung dalam album ini bisa dapat nama tanpa harus menyembunyikan jatidiri mereka sebagai musisi Semarang. Dan ke depannya bisa menjadi penyemangat bagi musisi lokal lainnya untuk terus menciptakan lagu yang berkualitas baik dari segi lirik maupun musikalitas.

Semangat Kas!*

Kas adalah panggilan khas Semarang.

10 Comments

  1. titantitin February 3, 2016
  2. djoko moernantyo February 3, 2016
  3. Bang Imz February 3, 2016
  4. adelinatampubolon February 9, 2016

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: