Event,  Personal

Aku Dan Gorengan

Gorengan. Siapa sih yang enggak suka gorengan? Bahkan mereka yang sekarang anti makan gorengan pun pasti pernah jadi penyuka gorengan. Mungkin kalau sekarang ditawari pun masih mau makan barang sepotong dua potong.

Saya juga termasuk yang paling suka sama gorengan, terutama bakwan sayur. Ada juga menyebutnya bala-bala, juga mote-mote. Kalau sudah lihat bentuk bakwan sayur yang “cantik”, udah deh, saya nggak bisa nolak meski hari itu saya sedang diet.

Kalau ditanya seberapa banyak saya bisa makan gorengan dalam sehari, mungkin jawabannya tidak akan pasti. Tapi bisa dipastikan, hampir tiap hari saya makan gorengan. Biasanya sebagai pendamping makan, atau malah sebagai camilan.

Kenapa kita suka gorengan?

Pertanyaan itu sering banget saya dengar saat sedang menikmati sepotong bakwan sayur atau mendoan.

“Suka banget sih makan gorengan?”

“Kolesterol lho!”

“Gembrot lho kamu nanti!”

Biasanya sih komentar seperti itu yang saya dengar. Padahal yang komentar juga suka makan gorengan. 😀

Kenapa sih kita suka gorengan? Bisa jadi karena rasanya yang gurih dan renyah. Ada yang menikmatinya sebagai camilan minum teh atau kopi, dengan cabe rawit atau saus pedas.

Selain itu gorengan termasuk makanan yang terhitung praktis dan nggak butuh waktu lama untuk dibuat. Kalau punya sayur, tepung, bumbu-bumbu, tinggal tambah air, lalu digoreng, jadi deh.

Kalaupun sedang malas membuatnya, kita bisa beli gorengan hampir dimana saja. Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa gorengan begitu populer. Karena mudah didapatkan.

Sadar resiko tapi nggak mau berhenti

Sebagian besar orang Indonesia, termasuk saya, suka banget sama gorengan. Mungkin lebih tepatnya, makanan yang digoreng. Karena jenis gorengan pun sebenarnya banyak. Tidak cuma bakwan sayur, tahu isi, pisang, atau mendoan, tapi nasi goreng, mi goreng, bahkan cap cay pun bisa digoreng.

Kadang-kadang memang kepikiran sih soal resiko makan gorengan. Apalagi kalau sedang kalap dan bisa menghabiskan 10 potong gorengan dalam sehari. Sering terpikir soal dampaknya bagi tubuh. Saat ini mungkin belum terasa, tapi bagaimana jika usia sudah memasuki masa senja?

Apakah efek buruk makan gorengan akan dirasakan? Kolesterol tinggi, asam urat, atau bahkan muncul keluhan terhadap kesehatan jantung kelak di kemudian hari.

Amit-amit sih. Penginnya jangan sampai. Tapi ya gimana donk? Pola hidupnya aja begini? Makan banyak, suka gorengan, dan malam gerak.

Saya sadar sih dengan resiko-resiko itu tadi. Tapi sungguh, godaan bakwa sayur panas nan renyah sungguh sulit untuk ditolak. Apalagi kalau ada martabak telur spesial terhidang di depan mata, duh, bisa beneran bikin goyah “iman” saya.

Bahkan saat saya menulis postingan ini pun saya baru saja menghabiskan seporsi lontong sayur (dengan santan!) dan juga 2 potong bakwan sayur sebagai sarapan!

Sembutopia Anniversary : Kumpul-kumpul yang mengingatkan

Kamis lalu saya dan 9 teman bloger diundang untuk ikut merayakan 1 tahun Sembutopia. Untuk sekedar mengingatkan kembali apa itu Sembutopia, kamu bisa baca di sini.

Dan memang nggak terasa sudah 1 tahun berlalu sejak perkenalan pertama saya dengan Sembutopia. Dan kali ini kami bertemu kembali untuk merayakannya dengan makan-makan! 😀

gorengan
Kafi Kurnia – Founder of Sembutopia

Eh, tapi tidak sekadar makan-makan saja ding. Karena disela-sela kami menikmati makanan yang dihidangkan, Pak Kafi Kurnia, founder dari Sembutopia, cerita banyak soal aktivitas Sembutopia selama ini dan beberapa isu kesehatan. Salah satunya adalah soal gorengan dan hubungannya dengan kesehatan jantung seperti yang sudah ditulis di atas.

Ceritanya sih santai, tapi efeknya jadi bikin saya mikir. Apalagi Pak Kafi bilang, “Menurut survey, milenial tuh pengin LEBIH BANYAK berolahraga demi kesehatan. Tapi sering berakhir dengan LEBIH BANYAK MAGERnya.”

Ya, saya setuju!

Sudah berapa sering saya berniat untuk diet? Sudah berapa banyak saya koar-koar pengin olahraga ini, pengin olahraga itu, sampai ribet beli perlengkapan segala macam, tapi berakhir nggak pernah dipakai?

Saya termasuk milenial seperti yang digambarkan oleh Pak Kafi tadi. Dan saya seperti diingatkan soal perilaku gaya hidup yang beresiko.

Hari jantung sedunia dan ingatan akan Ayah

Tanggal 29 September nanti dunia akan memperingati Hari Jantung untuk mengingatkan betapa penting menjaga kesehatan organ vital yang satu ini. Jantung berperan untuk memompa darah ke seluruh tubuh demi terjaganya fungsi banyak organ lain di dalamnya. Kita bisa bayangin, jika jantung terganggu dan berhenti memompa, apa yang akan terjadi?

Saya rasa kamu tahu jawabannya.

Sebenarnya saya sendiri cukup concern dengan masalah kesehatan jantung ini karena almarhum ayah saya punya masalah dengan jantungnya. Keluhan yang dialami sebelum meninggal adalah denyut yang tidak teratur. Penyebab pastinya memang tidak saya ketahui secara detil, tapi bisa jadi karena ada gangguan di beberapa saluran.

Mungkin karena hasil dari gaya hidup semasa muda? Entahlah saya kurang tahu.

Ayah saya bukan seorang perokok. Tapi saya tahu beliau suka sekali makan makanan bersantan, jerohan dan gorengan. Sementara itu karena pekerjaan membuat pola istirahatnya juga kurang teratur. Bisa jadi beberapa hal itu tadi yang membuat jantungnya bermasalah di usia tua.

I should be worry sih sama kondisi saya. Karena apa yang dilakukan oleh Ayah juga dilakukan oleh saya. Dan dalam beberapa kasus penyakit jantung, seperti jantung koroner misal, ada peran genetik sebagai salah satu hal yang semakin memperbesar resikonya.

Gorengan, Kolesterol, dan Jantung

Kembali lagi ke soal gorengan. Mungkin ada benarnya ketika komentar seperti “Ati-ati kolesterol!” diucapkan kepada mereka yang gemar makan gorengan. Karena minyak yang terkandung dalam gorengan tentunya sangat tinggi. Belum lagi jika jenis minyaknya sendiri termasuk yang sudah berkali-kali dipakai dan sudah terhitung rusak. Pasti resiko meningkatnya kolesterol pun semakin tinggi.

Saya sadar betul bahwa di usia saya yang sekarang, konsumsi makanan-makanan berlemak tinggi sudah harus dikurangi. Dan jumlah serat melalui buah dan sayur harus ditingkatkan. Sudah agak terlambat? Bisa jadi. Tapi daripada tidak sama sekali?

Sejak kumpul-kumpul bareng bloger dan Sembutopia tempo hari, saya jadi kepikiran untuk mulai lagi berolahraga dan mengurangi jumlah gorengan yang dikonsumsi dalam sehari. Kalau bisa malah nggak makan gorengan tiap hari, tapi berapa hari sekali. Agak susah sih kalau yang ini, hehehehe.

Tapi bener kok, saya beneran kepikiran untuk mulai mengubah gaya hidup. Sadar usia makin tua, sudah saatnya melakukan perubahan dalam hal pola makan dan aktivitas.

Ya memang, mau makan gorengan atau tidak, mau olahraga atau tidak, semuanya juga bakal “game over”. Tapi harapannya sih menuju ke “game over” itu tadi, nggak perlu harus melewati fase-fase yang menyakitkan dan merepotkan, baik merepotkan diri sendiri dan orang lain. “Game Over” dengan bahagia, begitu kan?

Rencana mengubah gaya hidup

So, mumpung dalam kondisi sadar kalau saya memang harus melakukan perubahan dalam hal gaya hidup, saya akan menuliskan beberapa rencana di sini sebagai pengingat. Siapa tahu ada yang tergerak untuk ikut bersama membantu mewujudkan rencana sehat ini.

Saya tahu mungkin ini hanya akan berakhir menjadi wacana seperti yang sudah-sudah. Tapi setidaknya mulai dari sini saya tahu ada banyak hal yang harus dilakukan demi kesehatan tubuh.

  1. Jangan kalap makan gorengan. Kurangi porsinya, kalau bisa jangan tiap hari
  2. Banyak minum air putih. Konsumsi kurang lebih 3-5 cangkir teh hijau sehari
  3. Makin sering makan buah deh. Nanas dan pepaya is a must! Nanas sebagai pencegah kolesterol, pepaya untuk kesehatan pencernaan yang lebih baik
  4. Mulai jogging lagi yuk!
  5. Unduh aplikasi olahraga di rumah yang oke. Pilih yang berkategori “Editor’s Choice” di Google Play.
  6. Daftar jadi member di Fitness Center? Boleh juga.
  7. Berhenti mainan HP kalau sudah masuk kamar. Matikan dan tidur!

Ada yang mau bantu isi?

Wacana? Nggak apa-apa…

Melihat daftar di atas saya yakin pasti ada yang bilang, “Halah! Wacana! Lip service!

Enggak apa-apa. Kita semua boleh berencana kok (tapi Tuhan menentukan). Merencanakan sesuatu nggak pernah ada salahnya. Siapa tahu dari usaha-usaha kecil seperti daftar di atas tadi, bisa jadi kebiasaan dan gaya hidup ke depannya.

Seperti kata orang, mengubah kebiasaan itu butuh waktu 21 hari. Memang agak susah dan butuh usaha ekstra keras, tapi mulai dulu aja pelan-pelan. Siapa tahu malah jadi ketagihan dan ngerasa ada yang kurang kalau tidak dilakukan.

credit : Ira Sulistiana

Yuk lah, kita sehat bareng!

Radio announcer. Average in everything.

5 Comments

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: