Personal

Kala Invoice Tak Kunjung Cair

Sekali-kali nulis curhatan boleh ya? Biar postingan isinya nggak sponsored post atau article placement doank. Hehehe. Tapi tenang, ini curhatnya bakal minim drama kok. Cuma mau cerita aja. Dari judulnya aja Kala Invoice Tak Kunjung Cair, jadi udah tau donk apa isi curcolnya?

Topik yang sensitif sih

Siapa di antara pembaca tulisan ini yang pernah ngalamin hal yang sama? Pasti pernah lah ya? Semoga sih enggak sering-sering. Pusing pala peyank soalnya kalo lagi-lagi fee kerjaan nggak dibayar-bayar.

Sebenarnya agak sensitif sih topiknya. Kalau kata Mbak Grace Melia di status twitternya (atau FB ya?) marah-marah soal invoice yang nggak kunjung cair di media sosial itu SARU. Inget ya, MARAH-MARAH. Kalo cuma sekedar curcol implisit dan nyindir-nyindir macam saya sih kayaknya nggak termasuk ya? Atau masih SARU? 😀

Tapi siapa sih yang enggak sebel kalo kita udah sepakat untuk menerima kerjaan, sudah melakukan sesuai apa yang diminta, bahkan nggak jarang musti ribet revisi yang itu dan yang ini, tapi begitu waktunya terima bayaran (sesuai waktu yang ditentukan) ternyata ngga kunjung terima uang. Sakitnya tuh di sini.

Udah bolak-balik meminta dengan sopan, boro-boro ditransfer, si orang yang ngasih kerjaan aja seperti cuek bebek nggak ngasih respon. Kesel nggak sih?

Enggak ya? yakh..berarti cuma saya aja nih yang bilang kesel? 🙁

 

My Experience

Saya jadi ingat sama satu kejadian yang terjadi bertahun-tahun lalu. Bukan, ini nggak ada urusannya sama dunia per-blogging-an, tapi sama kerjaan saya yang sekarang.

Suatu saat saya pernah nerima job ngemsi sebuah program kesehatan dengan produk obat batuk ternama. Kontrak sebulan dengan bayaran ngemsi waktu itu 150 ribu per sesi yang durasinya cuma 3 jam-an. Murah ya? Buat new comer macam saya 10 tahun lalu 150 ribu udah lumayan banget.

Ada 4 kali sesi di 4 titik yang berbeda. Bangun musti pagi-pagi, berangkat ke venue sendiri bahkan sampai ke kota sebelah segala. Seneng sih. Tapi belakangan jadi kesal karena ternyata fee ngemsi nggak kunjung turun bahkan sampai 2 bulan kemudian. Alasannya karena dana dari sponsor belum turun.

Awalnya saya santai. Karena orangnya ogah ribet dan nggak suka berkonflik, saya biarin tuh fee nggantung sebulan. Eh masuk bulan kedua udah mulai agak gerah. Apalagi pas terdesak kebutuhan duniawi (((kebutuhan duniawi))), rasanya udah pengen ngelabrak si Event Organizer-nya aja tuh.

Tapi beneran kejadian lho? Tapi nggak ngelabrak juga kok, karena saya bilangnya juga baik-baik. Lepas 2 bulan kemudian saya udah nggak tahan. Yang tadinya sabar, udah nggak bisa disabar-sabarin lagi. Saya datangin tuh EO. Saya tungguin dari pagi biar bisa ketemu bosnya. FYI, yang ngasih kerjaan ke saya itu anak buahnya.

‘Berdiskusi’ Dengan Bos

Saya masih inget hari itu hari Jumat, saya tungguin dari jam 9 pagi. Itupun pake acara nyasar segala macem. Dari pagi si anak buah ini bilang maaf-maaf mulu, tapi saya nggak “beli” begitu aja maafnya dia. Saya bilang saya mau ketemu bosmu, saya mau ngomong langsung dan minta hak saya. Kalo perlu dia pake duit pribadinya, saya nggak peduli (ngomongnya sambil senyum jahat ala Lely Sagita).

Jam 3 sore saya baru ketemu bosnya. Bayangin, dari jam 9 pagi saya nunggu sampai harus muter-muter nyari masjid buat sholat Jumat, dan jam 3 sore saya baru ketemu. Itu masih belum apa-apa dibanding nunggu selama 2 bulan lamanya.

Duduk berdua di ruangan si bos saya jelaskan kondisinya kenapa saya sampai repot-repot datang ke tempat yang lokasinya enggak sekedar selemparan celana dalam itu. Dia juga menjelaskan kondisi kenapa sampai saat itu fee saya enggak dibayarkan. Katanya sih emang dana dari sponsor belum turun. Saya enggak mau terima begitu saja dengan penjelasan dia donk tentunya.

Namanya juga penyiar ya? Kamus ngeles-nya nggak kalah tebel dari si EO.

Saya berargumen, kalaupun dana memang belum turun, event-event yang kemarin itu dananya dari siapa? Hemat saya, kalau EO punya uang pribadi untuk menggelar event, berarti EO juga bisa membayar MC yang masuk dalam hitungan proposal bujet, dengan uang mereka sendiri.

Saat itu saya bilang saya enggak mau tahu. Saya mau dibayar hari itu juga, kalau perlu saya tungguin sampe sore (ngomongnya masih pake gaya Lely Sagita). Dan kemudian si Bos minta ijin ke ATM dan kembali beberapa waktu kemudian dengan membawa uang bayaran saya sebesar 600 ribu. Kami berdua saling meminta maaf karena sudah bikin satu sama lain merasa tidak enak.

Jam 4 sore saya pulang lalu mampir ke gerai Pizza Hut untuk membeli 1 loyang pizza ukuran large sesuai janji saya ke temen-temen. Janjinya adalah kalo hari itu saya berhasil dapat itu duit, saya traktir mereka makan pizza!

Jadi begitu ceritanya…Eits! Tapi ada lagi cerita yang lain.

Nah, kalau yang ini sih tentang hadiah yang tak kunjung datang. Mungkin ada beberapa teman bloger di sini pernah tahu soal hadiah saya dari hasil ikutan kuis yang nggak kunjung datang setelah 2 bulan menunggu. Waktu itu dari brand HP ternama. Nggak nyangka juga iseng berbuah manis. Saya berhasil dapat 1 buah HP seri terbaru (waktu itu). Nggak nyangka saya, se-nggak nyangkanya saya kalau hadiahnya bakal lama dikirim. Hahaha.

Sampai 2 bulan lho? Lama kali kan? Kebetulan waktu itu saya dimasukin ke grup chat para pemenang. Ada beberapa di antara mereka yang aktif nanya-nanya ke agensi penyelenggara kuis. Nadanya mungkin udah nggak sabar juga. Tapi ada beberapa juga yang bawaannya santai kayak di pantai, termasuk saya. Kalau saya kebagian nimpalin dan nyindir-nyindir aja, sesekali ngomporin, tapi ga pake marah-marah. 😀

Beruntungnya saya karena curcol-an di medsos dibaca oleh teman-teman bloger yang dekat dengan agensi penyelenggara tersebut. Banyak dari mereka yang kemudian membantu saya untuk menghubungi PIC kuis yang bersangkutan dan dari sana akhirnya hadiahnya pun saya terima. After 2 months. 

Masih soal hadiah, yang terakhir saya alami dari sebuah brand makanan ternama juga. Yang ini sama 2 bulan kurang lebih sampai kemudian hadiah kuisnya saya terima.

Terus intinya apa?

Intinya saya ini bukan pemain baru kalau berurusan dengan invoice yang enggak kunjung cair karena berbagai macam alasan atau hadiah yang nggak nyampe-nyampe. Kecewa? Tentu saja. Apalagi kalau misal inget duit itu sebenarnya bisa saya pakai untuk memenuhi kebutuhan. Tapi sekarang mungkin saya lebih santai kali ya? Apalagi kalo urusannya sama agensi yang lokasinya lebih jauh dari lokasi markasnya EO tadi. Meski sudah ada fasilitas pengiriman teks jarak jauh atau telepon, tapi kalau nggak direspon? Saya bisa apa.

Ditagih tidak ya?

Kalau saya bilang sih iya donk. Harus itu. Apalagi kalau sudah lewat dari waktu yang disepakati. Kecuali kalau dari awal ada deal bahwa fee akan dibayar setelah dana dari klien turun.

Beberapa kali saya menerima pekerjaan di media sosial untuk campaign produk dan diberitahu diawal kalo bayaran bisa diterima setelah dana dari klien turun. It’s okay banget buat saya. Dan alhamdulillah sampai sekarang nggak pernah ada masalah. Bahkan beberapa job nulis di blog pun tak pernah ada kendala. Tapi menarik juga merhatiin beberapa teman yang kadang curcol juga di medsos perihal ini.

Sampai saya pun mengalaminya sendiri dan tergoda untuk ikutan curcol. Hahaha.

Seperti saya bilang, saat ini saya lebih santai merespon masalah beginian. Walaupun kalo dipikir-pikir, jumlah uangnya lumayan banget, lebih dari sekedar buat jajan. Kalau usaha menagih sudah dilakukan dan tidak direspon, ya wis lah.

Saya belajar dari Mbak Haya, yang sudah malang melintang di dunia blogging sejak lama dan pastinya pernah mengalami hal semacam ini nggak cuma sekali. Bersikap tegas sama agensi yang agak melenceng dari perjanjian itu perlu, tapi jangan tunjukin juga kalo kita kecewa apalagi mencak-mencak di medsos. Nyindir-nyindir boleh lah ya?tapi yang cantik.

Balik lagi ke tulisan Mbak Grace yang tadi itu, jangan mencak-mencak di medsos karena invoice yang belum cair. SARU.

Tapi plis….transferin aku doooonk mas ahensiiiii!!!! 😀

PS : ada yang punya cerita kayak saya? komen yuaaaaaa…

21 Comments

  1. Dani November 27, 2017
    • nunoorange November 27, 2017
  2. titintitan November 27, 2017
    • nunoorange November 27, 2017
  3. Dzulfikar November 27, 2017
    • nunoorange November 27, 2017
  4. Lia Harahap November 27, 2017
    • nunoorange November 27, 2017
  5. Haya Aliya Zaki November 27, 2017
    • nunoorange November 27, 2017
  6. Dyah November 27, 2017
    • nunoorange November 27, 2017
  7. Nathalia DP November 27, 2017
  8. Deddy Huang November 28, 2017
    • nunoorange November 28, 2017
  9. Ihwan November 28, 2017
  10. Slamsr November 28, 2017
  11. gelintang November 28, 2017
  12. Mara Solehah November 28, 2017
  13. Dian Radiata November 29, 2017

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: