Book

Genduk [ Gramedia Pustaka Utama]

Ah, sudah lama rasanya saya enggak nulis tentang buku yang habis saya baca. It’s been like fo-e-vah! Kalau lagi males baca, bisa lamaaaa banget selesainya. Tapi kalo ceritanya bagus dan pas mbeneri enggak males, ya bisa cepet. Seperti buku yang kemarin saya babat habis hanya dalam hitungan jam. Judulnya Genduk. Yang nulis temen saya sendiri, namanya Mbak Sundari Mardjuki.

Sekilas soal Mbak Sundari Mardjuki

Tanpa harus baca profilnya, saya bisa sedikit cerita soal Mbak Sun, atau yang biasa dipanggil Tante Sun sama temen-temen di kantornya. Saya kenal beliau sejak jaman saya masih nge-em-di (MD-Music Director) di Pekalongan dulu. Nama Sundari selalu tercetak di kertas label sampel lagu yang dikirimkan oleh Sony Music Indonesia. Saya ingat jaman dulu saya ngirim laporan tangga lagu ya Mbak Sundari ini. Terus personel Sony berganti-ganti, tapi nama Sundari Sony Music tetep jadi legenda karena beliau termasuk orang lawas di sana.

Belakangan Mbak Sundari udah nggak begitu aktif di bagian kirim-kirim sampel lagu. Beliau banyak bekerja di belakang layar. Tugas yang dulu pernah diembannya sudah didelegasikan ke anak buah.

Saya sendiri baru tahu kalau selama ini beliau konsen di dunia penulisan. Itupun beberapa hari lalu saat salah seorang teman – yang juga teman sekantornya Mbak Sun, memposting soal buku terbarunya yang berjudul Genduk. Saya pikir dia bercanda. Tapi ternyata beneran, ini Mbak Sundari Mardjuki yang saya kenal itu. Wah! Kejutan sekali, pikir saya. Keesokan harinya saya langsung nguber buku Genduk di Gramedia.

Ibu rumah tangga 2 anak ini adalah lulusan Fakultas Sastra Program Diploma Sastra Inggris di Universitas Indonesia. Beliau juga mendapatkan pelatihan selama setahun di Amsterdam Writing Workshop. Penyuka karya dari banyak penulis sastra terkenal seperti Ahmad Tohari, Sapardi Djoko Damono, NH Dini, Umar Kayam dan Andrea Hirata ini mendapatkan penghargaan untuk kategori Novel Pendatang Baru terbaik dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif lewat novel pertamanya Papap, I Love You.

Tentang Novel Genduk

Novel Genduk
taken by nunoorange

Novel kedua Mbak Sundari Mardjuki adalah Genduk. Buku ini diselesaikan selama 4 tahun lamanya. Saya cukup amazed dengan lamanya Mbak Sun menyelesaikan novel keduanya. Dari banyak penulis yang sudah mampir ngobrol di program radio #BukaBukaBuku selalu mengaku cepat menyelesaikan karyanya. Paling lama 2 tahun. Tapi ternyata ada yang lebih lama, yaitu 4 tahun. Barangkali karena kesibukan, bisa juga karena riset yang cukup lama.

Mbak Sundari mengaku bahwa riset dilakukan di kota kelahirannya Temanggung, yang mana kota ini juga menjadi latar belakang tempat dari novel Genduk. Seperti ditulisnya juga dalam sebuah halaman di bagian belakang, risetnya didukung oleh kisah-kisah masa lalu dari keluarganya. Idenya didapat dari kisah ibu Mbak Sundari yang tidak pernah berjumpa dengan ayahnya karena sang Ayah meninggal saat usia Ibu Mbak Sundari masih kecil. Selain itu kenangan masa kecil dari sang kakak pun menjadi salah satu sumbangsih yang berarti bagi novel ini, meskipun diakui bahwa latar belakang tempat dan kisahnya adalah fiktif.

Genduk

Genduk berkisah tentang seorang gadis berusia 11 tahun yang tinggal di desa Ringinsari, sebuah desa kecil di kaki gunung Sindoro-Sumbing, yang menjadi salah satu desa penghasil tanaman tembakau di daerah Temanggung. Sebagai anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, Genduk termasuk anak yang cerdas (bahkan menurut saya terlalu cerdas untuk anak seusianya). Kegemarannya pada puisi didorong oleh rasa sepinya karena ketidakhadiran sosok seorang ayah dalam hidupnya. Genduk selalu mencari siapakah sosok ayah yang tidak pernah ditemuinya. Bertanya pada ibunya- yang ia panggil dengan sebutan Yung—pun tidak pernah memuaskan rasa ingin tahu Genduk. Yung selalu marah dan bilang kalau sang Ayah pergi meninggalkan mereka saat Genduk masih kecil, dan mungkin juga sudah mati.

Konflik batin Genduk menjadi lebih berat ketika tahu bahwa Yung-nya sedang mengalami masalah dengan panen tembakau yang selalu gagal. Kalaupun panen, hasilnya tak akan seberapa karena panenan selalu dibeli dengan harga murah oleh para tengkulak. Kondisi ini juga dialami oleh sebagian besar petani tembakau yang harus terjerat dengan para tengkulak dan rentenir. Emas hijau yang menjadi sumber penghasilan utama penduduk Ringinsari, tak jarang juga menjadi beban bagi mereka.

Diam-diam Genduk pun mencari cara supaya hasil panen tembakau Yung-nya bisa dibeli dengan harga pantas. Usaha ini membawa Genduk pada seorang tengkulak bernama Kaduk yang disebut Genduk sebagai Celeng, karena tatapan matanya yang serupa babi hutan lapar yang siap menerkam mangsanya. Dan bagi Kaduk Genduklah mangsa itu. Tanpa banyak orang tahu, Genduk dilecehkan oleh si Kaduk dengan iming-iming bahwa tembakau Yung-nya akan dibeli dengan harga tinggi. Tapi janji tinggal janji, harapan itu tidak pernah dipenuhi oleh Kaduk.

Merasa kesal dan patah arang, ditambah dengan sikap Yung yang selalu keras dengan Genduk, diapun memutuskan untuk kabur ke kota Temanggung. Berbekal informasi dari Kaji Bawon, salah satu sesepuh desa yang sudah dianggap seperti kakeknya sendiri, dia mencari keberadaan sang ayah di kota tersebut. Belakangan Genduk menemukan fakta mengejutkan tentang ayahnya yang membuatnya patah hati. Apakah itu?

Namun di tengah rasa patah hati itu, timbul harapan besar ketika Genduk berhasil menyelamatkan seorang anak kecil dari sebuah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Ternyata si bocah ini adalah cucu seorang saudagar tembakau di Temanggung bernama Bah Jan. Saudagar ini menjanjikan akan memberikan apa saja yang diminta oleh Genduk sebagai balas jasa.

Bagaimana kisah hidup Genduk setelah mengetahui kabar ayahnya? Dan apa yang dilakukan Genduk selepas kembali ke desanya? Sebaiknya kamu baca sendiri.

Genduk, menurut saya…

Kalau ngomongin soal novel sastra, yang terpikir pertama kali adalah kesan “BERAT”. Padahal pada kenyataannya tidak selalu begitu. Genduk menjadi salah satu contoh bahwa sastra tidak se-memusingkan itu. Kisahnya mengalir ringan, dengan plot yang diatur rapih dan enak diikuti. Pemilihan bahasanya pun cukup indah dan mudah dipahami.

Banyak istilah-istilah dalam bahasa jawa yang digunakan untuk menceritakan kisah Genduk. Pembaca enggak perlu kawatir karena di bagian belakang tersedia glossary yang berisikan beberapa kata dalam bahasa jawa beserta artinya. Buat saya yang orang jawa, enggak perlu buka glossary pun sudah paham. Buat saya penggunaan kata-kata dalam bahasa jawa ini memberikan keasyikan tersendiri. Porsinya cukup besar meskipun tidak bisa dibilang berlebihan dan cukup relevan dengan kisahnya.

Di beberapa bagian malah bisa membuat saya tertawa. Contohnya penggunaan kata magrong-magrong yang artinya besar sekali, menggelitik saraf ketawa saya karena sudah lama sekali saya enggak denger kata itu. Banyak kata-kata lain yang akrab dengan keseharian saya sebagai orang jawa yang berasal dari desa. Lama tinggal di kota besar tampaknya tidak membuat Mbak Sun kehilangan sentuhannya sebagai wong ndeso.

Penggunaan bahasa jawa memberikan nuansa yang membumi bagi novel Genduk. Selain itu saya menangkap bahwa Mbak Sun menuliskan kisah Genduk tanpa beban apa-apa. Bisa jadi pembaca yang tidak mengerti bahasa jawa akan sedikit “sibuk” mencari makna dari kalimat yang ditulis. Dan apa yang saya anggap sebagai sesuatu yang lucu, mungkin tidak akan dirasakan oleh mereka yang kurang begitu paham. Tapi tentu saja ini bukan masalah, selama kisahnya masih bisa dicerna oleh pembaca.

Genduk juga sedikit “menyenggol” tema tentang konflik politik di masa tahun 60-an saat kisruh politik yang melibatkan partai terlarang di Indonesia menjadi salah satu sejarah kelam negara ini. Selain itu Genduk juga mengangkat tema mengenai agama dan kepercayaan yang kadang-kadang menjadi sumber perselisihan. Saya jadi ingat dengan Bilangan Fu karya Ayu Utami yang juga menulis tentang pertentangan antara agama dan tradisi.

Di novel Genduk, Mbak Sun juga menggambarkan mengenai pertentangan yang terjadi antara ayah Genduk, Iskandar, dengan banyak orang di desanya, termasuk mertuanya. iskandar yang sedang getol belajar agama mengambil sikap keras untuk meubah tradisi yang sudah berlaku lama di desa Ringinsari. Hal ini pulalah yang menimbulkan benturan. Sementara Kaji Bawon merasa bahwa andai saja cara yang dilakukan bisa lebih pelan, pertentangan pun pasti bisa dihindari. Meskipun tidak banyak dibahas, tapi isyu politik dan kepercayaan ini menjadi salah satu bagian penting dari alur kisah kehidupan Genduk.

Kesimpulannya…

Dikisahkan dari sudut pandang orang pertama, Genduk adalah novel yang bagus. Berkali-kali saya tertawa geli, lebih dari sekali juga saya menitikkan air mata karena terharu. Sebut saya lebay, tapi begitulah yang saya rasakan ketika membaca novel ini. Sudah lupa kapan terakhir kali saya membaca kisah yang bercerita tentang kehidupan orang-orang sederhana dan lugu yang tinggal di desa, lengkap dengan segala macam problematikanya.

Contohnya ketika panen tembakau datang, para petani yang berhasil menjual hasil penennya dengan harga tinggi mendadak seperti jadi orang kaya baru. Salah satunya adalah Pak Kisut, yang bernafsu membeli kulkas atau lemari es, padahal listrik di desa Ringinsari belum mengalir. Jadilah lemari es berfunsgi sebagai lemari baju. Sementara seorang petani lain bernama Pak Wondo harus mengakhiri hidupnya karena tidak tahan dengan jeratan hutang yang menghancurkan kondisi perekonomian keluarganya. Humor dan tragedi disajikan secara berimbang dalam novel ini.

Membaca Genduk, seperti sedang menonton sebuah film. Bahkan sebelum saya membaca endorse yang ditulis oleh salah seorang teman Mbak Sun (saya jarang baca halaman-halaman awal apalagi endorse-an), saya sudah merasakan bahwa saya sedang tidak membaca buku, tapi menonton sebuah film. Dan seperti halnya film, tidak lengkap rasanya jika tanpa drama.

Di beberapa bagian saya menemukan kalau hidup Genduk penuh kejadian yang didramatisir, salah satunya adalah ketika dia menyelematkan cucu Bah Jan, yang sempat saya anggap sebagai sebuah “momen kebetulan yang akan merubah hidup tokoh utamanya”. Tapi memang mungkin begitulah garis hidup Genduk, yang semuanya memang sudah diatur oleh sing ngecet Lombok! (istilah ini juga bikin saya tertawa!)

Bisa jadi buku ini akan menarik sineas untuk mengangkatnya menjadi sebuah tontonan di layar lebar. Bisa jadi, jika respon pasar menunjukkan sentimen ke arah positif. Tapi lepas dari apakah akan diangkat ke layar lebar atau tidak, Genduk menjadi bacaan yang bisa dinikmati. Oh iya, kisah cinta monyet antara Genduk dan Sapto, anak lurah Ringinsari pun menjadi pemanis tersendiri yang tidak boleh dilewatkan di novel ini.

Akhirnya, ini bukan review. Hanya sekapur sirih dari saya yang sudah membeli dan membaca novelnya. Suka atau tidak, tergantung dari masing-masing pembaca. Buat saya sih novel Genduk ini bagus. Saya kurang bisa menuliskannya dengan kata-kata yang puitis, bermajas, atau malah technical sekali. Tapi yang pasti saya suka, dan novel ini layak nongkrong di barisan koleksi buku di lemari buku saya.

Radio announcer. Average in everything.

5 Comments

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: