Personal

Alasan Kenapa Saya Selalu (Berusaha) Menghabiskan Makanan

fakta tentang sampah makanan

Dalam beberapa kali undangan makan, baik dari teman-teman label atau mewakili perusahaan, saya selalu memikirkan apa kata orang kalau melihat piring makan saya bersih tak berbekas.

Sering saya menengok ke kanan dan ke kiri, melihat orang-orang di sebelah saya. Hanya untuk sekedar mengecek bagaimana sih habit makan mereka? Apakah piringnya juga bersih sama seperti piring saya, atau ada sedikit sisa?

Entah apakah ini benar, tapi konon kabarnya, etika makan yang sopan terutama dalam sebuah jamuan adalah menyisakan sedikit makanan di atas piring sebagai tanda kesopanan. Koreksi jika saya salah. Tapi saya sering melihat orang menyisakan sedikiiiit sisa makanannya yang konon katanya “sebagai bagian dari etika biar enggak disangka kelaparan.”

Berapa kali kamu pernah mendengar teman nyeletuk “Wuih! Doyan apa laper?” ketika melihat makanan yang kamu nikmati tandas tanpa sisa dalam sebuah acara makan bareng? Kebetulan saya beberapa kali mendengarnya, dan kebetulan juga acara makan-makan ini disponsori alias gratis alias saya yang ditraktir.

Kita mungkin malu kalau ditegur begitu, walaupun saya yakin yang negur juga pasti hanya sekedar bercanda. Eh, tapi beneran bercanda kan? Bukan kemudian ngomongin di belakang kalo saya nggak sopan dan makan bagai orang kelaparan kan? Hihihi.

Sebagai pecinta makanan, saya akui saya memang kadang masih suka tegaan. Oh iya, tegaan di sini adalah merujuk pada pernyataan seorang kyai tentang makanan, yang pernah saya lihat di wall facebook milik seorang teman. Kurang lebihnya beliau bilang, kalau kita masih makan sedemikian banyak tanpa merasa bersalah, mungkin kita ini orangnya tegaan. Apalagi kalau sampai tidak mengingat orang lain yang berusaha dan bekerja dengan sedemikian kerasnya, untuk bisa sekedar mencicipi makanan yang kita makan itu.

Iya juga sih, makan memang harus pakai takaran.

Ok, kembali ke soal tegaan, bisa jadi saya ini orangnya memang tegaan. Karena kalau sudah ngeliat makanan yang segambreng, apalagi dalam acara kawinan yang menyediakan banyak makanan enak dan bisa diambil secara prasmanan, saya pasti “nggak mau rugi” alias pengen nyoba semua. Serakah? Mungkin. Tapi kalo ngeliat porsi makanan di acara kawinan kok saya rasa enggak serakah juga ya? Porsinya yang kecil-kecil, sepertinya memang sudah disesuaikan dengan kebiasaan para tamu, yang “menggila” begitu lihat food stall bertebaran di sana-sini. Hahaha.

Tapi begini, saya nggak akan marah kok kalau dibilang serakah, tapi saya ini cukup konsekuen lho. Kalau sudah ngambil makanan, ya harus dihabiskan, nggak peduli sebanyak apapun. Makanya, mengukur kapasitas perut memang perlu supaya nggak buang-buang makanan, dan kebetulan kapasitas perut saya memang besar. 😛

Nah, ketika temen nyeletuk “laper apa doyan?” saya bisa bilang “saya doyan dan kebetulan memang laper” jadi itulah alasan kenapa piring saya bersih tak bersisa. Bukannya nggak sopan dan nggak ngikutin adat, tapi begitulah adab makanan yang benar. Selain pintar mengatur kapasitas makan, kebiasaan menghabiskan makanan tanpa sisa juga kudu dilakukan.

fakta tentang sampah makanan

Foto yang pernah diposting oleh seorang teman lewat linimasa Line miliknya ini mengingatkan saya betapa urusan makan ini enggak boleh disepelekan. Kalau kamu mau perhatikan, gambar tersebut nunjukkin tentang orang-orang yang berebut makanan karena kelaparan. They would do anything for food!

Faktanya, berdasarkan indeks kelaparan yang dirilis oleh Organisasi bantuan pangan Jerman, Welthungerhilfe, sepanjang 2014 sedikitnya ada 800 juta manusia di 16 negara menderita kelaparan serius. Sementara itu sepertiga makanan di dunia ini berakhir di tempat sampah setiap tahunnya. Yang kalau dikonversikan dalam angka, bisa mencapai 1,3 miliar ton, setara dengan 8,6 juta paus biru dewasa yang ditimbang jadi satu. Ironis bukan? Dengan jumlah segitu, seharusnya enggak ada lagi kasus kelaparan di dunia ini bukan?

Jujur saja, saya nggak sesuci itu kalau urusan soal buang-buang makanan. Kadang, bahkan sering, saya terpaksa membuang bahan makanan terutama sayur, yang membusuk di dalam lemari pendingin. Mungkin karena alasan beli nggak kira-kira, beberapa dari mereka pun berakhir di tempat sampah. Tapi bukan berarti diterus-terusin juga sih. Sekarang berusaha buat beli sesuai kegunaan aja, terutama sayur. Kalaupun busuk, buangnya nggak di tong sampah, tapi ditaruh di pot tanaman, siapa tahu bisa jadi pupuk.

Fakta Tentang Sampah Makanan

Fakta-fakta berikut yang saya ambil dari web ramepedia.com (dan disadur juga dari Majalah Ummi No. 6.XXVI edisi Juni 2015 halaman 42) mungkin bisa jadi pengingat kalau suatu saat tergoda untuk menyisakan makanan di atas piring kita :

  1. 1/3 makanan berakhir di tempat sampah setiap tahunnya, setara dengan 1,3 miliar ton atau sama dengan berat 8,6 juta ekor paus biru dewasa.
  2. Data dari organisasi bantuan pangan Jerman, tahun 2014 sedikitnya 800 juta manusia di 16 negara menderita kelaparan serius.
  3. Jenis makanan yang paling banyak dibuang adalah sayur dan buah. Alasannya adalah karena busuk, tercium bau yang tidak enak, hingga terbuang saat proses memasak. Bahkan 1/3 sayur dan buah di dunia terbuang sebelum sempat diolah. Padahal 2 jenis makanan ini sangat dibutuhkan manusia sebagai sumber nutrisi. Ironisnya, 2 miliar manusia di dunia justru kekurangan gizi.
  4. Penduduk negara maju punya kebiasaan membuang-buang makanan 10 kali lebih besar dibandiing penduduk negara berkembang. Jumlah ini meningkat setiap tahunnya. Limbah makanan dari negara-negara Eropa dan Amerika Utara bahkan mencapai 222 juta ton per tahun setara dengan jumlah seluruh makanan yang diproduksi di wilayah Sub-Sahara. Artinya, orang kaya memang cenderung membeli lebih banyak makanan daripada yang bisa mereka habiskan.
  5. Sampah makanan termasuk yang organic sekalipun, bisa menghasilkan gas Etana, yaitu gas berbau dan beracun yang memiliki efek 23 kali lebih buruk daripada karbondioksida.
  6. Sampah makanan menghasilkan 3,3 miliar ton jejak karbon yang juga memberikan dampak terhadap pemanasan global. Wuih…ngeri juga ya?

Yang pasti kebiasaan menghabiskan makanan ini emang kudu diajarin sejak kecil. Seperti keponakan saya, Bilal, yang mulai belajar kalau makan nasi harus dihabisin. Karena kalau enggak, nasi yang ketinggalan bisa nangis.

Jadi kalau suatu saat kamu mengundang saya untuk makan-makan, dan melihat saya menghabiskan makanan yang kamu bayar, itu karena :

  1. Saya lapar
  2. Saya doyan
  3. saya menghormati dan menghargai kamu yang sudah mentraktir saya. Itulah kenapa seharusnya kamu merasa senang.

Lha wong ditraktir aja dihabisin apalagi bayar sendiri, sayang kan kalo enggak dihabiskan? 😛

9 Comments

  1. titintitan May 19, 2016
  2. Lia Harahap May 21, 2016
    • nunoorange May 23, 2016
  3. aRni May 24, 2016
  4. adelinatampubolon May 26, 2016
    • nunoorange May 27, 2016
  5. nyonyasepatu June 1, 2016
    • nunoorange June 1, 2016
  6. Rheza November 1, 2016

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: