Personal

Driver Ojol Cewek : Emansipasi Versus Harga Diri Penumpang Cowok

Saya bingung mau kasih judul apaan. Akhirnya milih judul di atas. Tapi kok dibaca-baca lagi jadi kayak judul essai ya? Serius amat. Padahal ya mendekati pun tidak. Wong ya ini cuma sekedar cerita soal driver ojol cewek yang terima pesanan saya tempo hari.

Begini ceritanya…

2 hari yang lalu saya punya janji dengan seorang teman untuk makan sore sambil ngegosip di sebuah rumah makan di area Atmodirono Semarang. Karena saya lagi nggak bawa motor, saya pesen ojol. E buset, yang nerima driver ojol cewek.

Jujur aja saya bingung dan nggak enak. Duh gimana ya? Apa saya batalkan saja? E tapi si Mbaknya sudah kirim SMS duluan nanya saya mau dijemput dimana.

Tadinya saya mau balesin “Mbak, saya cancel aja ya?” tapi saya mikir kalimat berikutnya mau saya tulis apa?

“Soalnya mbak cewek”

“Saya nggak nyaman diboncengin driver cewek”

Tapi saya mikir, “memangnya kenapa kalo dia cewek? Dia juga cari duit dengan jadi tukang ojek kan?”

Lagian, bukannya udah biasa diboncengin cewek dan biasa aja juga?

(Iya, saya kalo lagi males bawa motor emang setelannya sebodo amat diboncengin temen saya yang cewek. Nggak mau jadi supir maunya jadi penumpang.)

Akhirnya

Saya memutuskan untuk nggak ngebatalin pesanan. Dan nggak lama kemudian si embaknya datang ke kantor buat jemput saya. Oh iya, kebetulan di samping kantor ada usaha kirim paket. Nah pas saya naik ojek mbaknya semua pada ngeliatin.

Ada yang ngeliatin mbaknya sambil pasang ekspresi kagum karena si mbak mau-maunya jadi tukang ojek, ada juga yang pasang tampang jijik sama saya. Mau-maunya cowok diboncengin cewek.

Jujur harga diri saya agak runtuh saat itu. Diboncengin temen sekantor yang cewek sih udah biasa, tapi diboncengin driver ojol cewek itu lain cerita.

Bukan sekali itu saja

Sebenarnya ini bukan pertama kali saya mendapatkan driver ojol cewek. Sebelumnya pernah juga ketika saya mau pulang kampung dan hendak menuju stasiun Poncol. Seorang driver yang tampangnya udah ibu-ibu menjemput dan mengantarkan saya ke tempat tujuan.

Tapi nggak tau kenapa sore itu rasanya laiiiin aja. Sepanjang perjalanan saya saling bertukar cerita termasuk cerita soal saya yang hampir membatalkan pesanan. Saya tanya ke embaknya

“Gimana perasaan mbak kalo saya ngebatalin pesanan?”

Dia jawab

“ya nggak apa-apa mas. Sudah resiko. Kadang emang ada penumpang cowok yang nggak mau dianterin sama driver ojol cewek. Mungkin malu. Saya sih sudah biasa. Belum rejeki saya.”

Ngomongin soal rejeki, akhirnya saya menjelaskan alasan kenapa nggak jadi membatalkan pesanan. Ya karena pesanan ini udah jadi jatah rejekinya si embak. Kalo dibatalkan berarti mbaknya nggak jadi dapat pesanan dan nggak dapat poin.

Mbaknya cuma tertawa lalu mengucapkan terima kasih.

Cerita-cerita lainnya adalah seputar aktifitas si mbak yang kebetulan lagi nyelesein kuliahnya juga sambil kerja jadi driver ojol. Udah agak dewasa sih tampangnya tapi masih rajin kuliah. Hihihihi. Selebihnya dia nanya-nanya soal kerjaan saya di radio. 

driver ojol cewek
source : www.selipan.com

Nggak mau diboncengin driver ojol cewek karena…

Banyak cowok yang nggak mau lanjut pesanan setelah tahu di driver berjenis kelamin wanita. Alasannya macem-macem.

Ada yang bilang malu dan nggak etis ah diboncengin cewek. Memang sih, dalam banyak budaya, kita masih menganggap kaum cowok yang diboncengin cewek seakan nggak punya harga diri karena tidak menghargai wanita.

Masih mending alasannya karena dianggap nggak menghargai wanita, lha kadang malah dianggap nggak bisa apa-apa, nggak gentle, bencong, dan lain sebagainya. Padahal ya nggak gitu juga kali ah?

Tapi ada juga yang saling bertukar tempat karena merasa cewek agak kurang oke dengan kendaraan bermotor di jalan raya. Tahu kan imej ibu-ibu saat bawa motor? lampu sign ke kiri beloknya ke kanan? Daripada si penumpang was-was, mending bertukar tempat. Yang penting selamat sampai tujuan.

Jadi driver ojol Cewek itu berat

Tantangannya memang berat. Driver ojol cewek harus membuktikan bahwa mereka setangguh driver cowok. Taat peraturan dan tetap mementingkan keselamatan dirinya dan penumpang. 

Selain itu , dari penuturan si Embak yang saya lupa namanya dan nggak punya skrinsut atau history di akun gojek saya, hal berat lainnya adalah bertemu dengan penumpang cowok yang nggak mau lanjut pesanan. Akibatnya mereka kehilangan kesempatan untuk nambah poin.

Kita tahu bagaimana teknis pesanan di aplikasi ojol. Biasanya driver nggak tahu siapa yang dijemput & apa jenis kelaminnya. Kita sebagai penumpang juga enggak bisa milih jenis kelamin dari si driver. Keduanya bertemu secara acak. Ketika pesanan diterima barulah ketahuan.

Meski maklum, sebetulnya sayang juga. Karena setiap pesanan kan berarti poin buat driver. Dan tahu sendiri kan kalau poin artinya penghasilan?

Jadi, keputusannya mau lanjut order atau enggak?

Driver ojol cewek itu keren

Buat saya driver ojol cewek itu keren. Apalagi mereka yang sudah kelihatan setengah tua, tampang seperti ibu-ibu, yang sibuk kesana-kemari untuk cari penghasilan tambahan untuk keluarga.

Dan itulah gambaran emansipasi wanita di jaman moderen seperti sekarang ini. Driver ojol sudah tidak lagi didominasi oleh cowok saja, meskipun jumlah driver ojol cewek masih sangat sedikit. 

Kembali ke pertanyaan awal saya tadi ketika saya tahu kalo yang bakal jemput saya adalah driver cewek dan berniat membatalkan. “memangnya kenapa kalo dia cewek?” Toh dia sadar konsekuensinya dengan memilih pekerjaan ini. Dan saya sebagai konsumen juga sadar bahwa saya tidak bisa memilih, meskipun punya opsi untuk membatalkan pesanan.

Saya pikir dengan tidak membatalkan pesanan berarti saya mengakui bahwa ini pekerjaan semua orang dari semua jenis kelamin. Tidak ada yang dibeda-bedakan. Semua berhak berusaha dengan halal, semua berhak mencari penghasilan tambahan.

Kesampingkan gengsi

Ketika saya naik ke jok belakang motor si embak ini imej saya mungkin langsung terlhat sebagai cowok nggak tahu malu. Tapi saya sih melihatnya sebagai partisipasi saya pribadi untuk mengakui sebuah kesetaraan. Sounds bullshit, right?

Tapi ya gimana? Wong memang itu yang saya rasakan kok. Dan mbaknya juga senang karena saya enggak nge-cancel orderan. 

Tapi sebenarnya kembali ke masing-masing pribadi. Ada yang cuek bebek seperti saya, tapi ada juga yang ogah beneran ogah dengan mengatakan “mau diletakkan dimana muka saya kalo saya bonceng driver ojol cewek?”. Ada juga yang masih berkompromi : mau dijemput tapi bertukar tempat.

Kira-kira kamu pilih yang mana?

Setelah saya sampai ke tempat tujuan, kami bertukar ucapan terima kasih dan mendoakan semoga rejeki kami masing-masing lancar.

Boleh kita aminkan, saudara?

3 Comments

  1. elafiq September 6, 2018
    • nunoorange September 6, 2018
      • elafiq September 6, 2018

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: