Book

Deception Point [Book Review]

20160107_220410-01Mungkin sudah terlambat jika saya baru menuliskan sedikit ulasan tentang buku karya Dan Brown yang satu ini. Secara terbitan pertama kali adalah tahun 2001 silam. Bahkan lebih dulu rilis sebelum The Davinci Code. Tapi saya rasa cukup wajar mengingat nama Dan Brown justru baru mendapat perhatian setelah novelnya yang ketiga, The DaVinci Code. Itupun karena didukung oleh sukses adaptasi filmnya yang penuh dengan kontroversi.

Berkat sukses The DaVinci Code, karya-karya Dan Brown yang lama pun ikut terdongkrak, dan buku barunya ditunggu. Salah satu yang kemudian mendapat perhatian adalah Deception Point. Novel yang di Indonesia dialih judulkan menjadi Titik Muslihat ini diterbitkan pertama kali oleh Serambi di tahun 2006. Saya baru membelinya beberapa waktu lalu di tahun 2015, cetakan dari penerbit Bentang Pustaka.

Kalau edisi yang dulu-dulu, ukuran paper backnya gede, nah untuk yang terbitan ini ukurannya sudah ‘saku’, dan itulah salah satu alasan yang membuat saya membeli buku ini. Dan ternyata cetakan terbaru dari karya-karya Dan Brown berukuran compact .

Saya mulai menyukai tulisan Dan Brown justru semenjak The Lost Symbol. Sejak saat itu saya mengoleksi hampir semua karyanya, kecuali Digital Fortress yang sampai sekarang belum menarik minat saya. Mungkin nanti saya akan melengkapi koleksinya.

Deception point sendiri berkisah tentang penemuan sebuah meteorit bawah laut oleh badan antariksa Amerika, NASA. Meteorit ini dikatakan berusia 300 tahun dan berisikan fosil serangga yang diklaim berasal dari luar angkasa. Keberhasilan penemuan ini membuat NASA mendapat angin untuk membuktikan prestasinya ditengah-tengah kecaman tentang betapa borosnya anggaran yang dihabiskan oleh mereka hanya untuk menemukan sedikit hal di alam semesta.

Kecaman ini dilancarkan oleh seorang Senator bernama Sedgewick Sexton yang mengkritik pemerintahan Presiden Amerika Serikat yang memboroskan anggaran hanya untuk membiayai kegagalan demi kegagalan yang dialami oleh NASA. Sexton memang sedang bersaing untuk menduduki jabatan nomer 1 di Amerika dengan terus melancarkan kampanye yang menyerang NASA.

NASA sendiri kemudian terjebak oleh pertarungan politik yang memanas hingga kemudian mereka melaporkan tentang penemuan batu luar angkasa mereka pada Presiden.

Demi memberikan sebuah pernyataan yang valid, Presiden memerintahkan 5 orang sipil untuk terlibat dalam proses penelitian pada meteorit tersebut. Diantaranya adalah Dr Wailee Ming, Corky Marlinson, Michael Tolland, Norah Mangor, dan Rachel Sexton. Nama yang terakhir ini tak lain dan tak bukan adalah putri dari saingan Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat.

Keputusan Zach Herney untuk memilih Rachel Sexton sedikit membingungkan banyak pihak mengingat Rachel adalah putri dari rivalnya. Tapi Presiden Herney memiliki alasan kuat mengapa Rachel harus dilibatkan. Salah satunya demi kesahihan dari penemuan terbesar abad ini.

Sementara itu atasan Rachel di NRO (National Reconnaissance Office) William Pickering merasa ada yang aneh ketika Presiden Herney memanggil Rachel secara langsung dan ingin membahas rahasia Negara. Pickering pun berusaha untuk mencari tahu hal apakah yang membuat Rachel menjadi sosok penting pilihan Presiden.

Penemuan meteorit beserta fosil serangga luar angkasa ini menjadi rahasia negara yang dijaga ketat oleh banyak pihak termasuk NASA sampai hari pengumuman tiba. Sedianya pengumuman akan dilakukan sendiri oleh Presiden Amerika Serikat di hadapan publik, tapi menjelang momen penting itu, sebuah rahasia justru terungkap saat Dr Wailee Ming menemukan ada keanehan di lubang pengangkatan meteorit. Namun penemuan itu justru membawa Ming pada maut. Ternyata ada pihak yang selama ini menutup-nutupi sesuatu terkait dengan keberadaan meteorit yang ditemukan oleh NASA tersebut.

Satu demi satu ilmuwan sipil yang direkrut oleh Presiden tewas karena berusaha untuk menguak sebuah rahasia yang akan membuat posisi Presiden dan NASA tersudut.

Di tengah kekacauan dan panasnya suhu politik menjelang pemilu, Rachel dengan bantuan Michael Tolland dan Corky Marlinson berusaha menguak siapakah dalang dari penipuan yang melibatkan NASA dan orang nomer 1 di Amerika.

Seperti beberapa novel sebelumnya Dan Brown menyuguhkan cerita yang bertema teori konspirasi, dan kali ini dilatarbelakangi oleh penemuan sebuah benda angkasa yang di dalam bukunya sempat dituliskan di halaman depan. Pernyataan Presiden Bill Clinton tentang penemuan ALH84001 pada 7 Agustus 1996 menjadi inspirasi dari terciptanya Deception Point ini. Sekedar informasi saja bahwa ALH84001 ini adalah sebuah meteorit yang ditemukan di area Allan Hills Antartica pada 27 Desember 1984. Diduga meteorit ini berisikan fosil purba dan bakteri luar angkasa setelah tim melakukan penelitian mikroskopik mendalam pada batu bermassa lebih dari 1,5 kilogram ini.

Meskipun Deception Point sepenuhnya fiksi, namun seperti buku Dan Brown lainnya, banyak hal yang benar-benar ada di dunia nyata. Seperti NRO yang merupakan badan milik pemerintah Amerika yang bertugas untuk merancang, membangun, dan meluncurkan satelit pintar yang digunakan untuk kepentingan intelejen. Dan keberadaannya memang nyata.

Salah satu kelebihan dari setiap tulisan Dan Brown adalah riset mendalam pada aspek pendukung cerita. Tentu saja hal ini membuat batas antara fiksi dan kenyataan menjadi agak tipis.

Dan Brown menyajikan data-data teknis tentang berbagai teknologi yang dimiliki oleh pemerintah, teori konspirasi tentang keberadaaan alien dan UFO, sampai penjelasan yang cukup rinci mengenai fenomena alam seperti Megaplume yang juga muncul dalam karyanya yang satu ini.

Hal lainnya yang menjadi ciri khas Brown adalah dia senang sekali menampilkan satu tokoh misterius yang menjadi tokoh sentral antagonis, yang berperan mengatur dan memberi perintah. Kali ini Brown menyebutnya dengan Pengendali. Dialah yang menjadi dalang dari penipuan terhadap rakyat Amerika dengan kabar penemuan meteorit yang ternyata palsu. Hanya saja pertanyaannya, siapakah Pengendali ini? Sosoknya akan terungkap di bagian-bagian akhir bab Deception Point.

Menurut saya Titik Muslihat ini cukup menarik di awalnya, thillernya mampu membuat saya tak mampu lepas dari lembar demi lembar halamannya. Teori konspirasi dan banyak informasi menarik disajikan sebagai gimmick. Pada sepertiga bagian akhir diisi dengan kisah aksi yang cukup mendebarkan, tapi buat saya jadi malah seperti film action kelas B yang meskipun menegangkan tapi cukup klise. Salah satu yang menurut saya cukup cheesy adalah ketika Senator Sexton akan mengumumkan bukti penipuan yang melibatkan petinggi gedung putih, namun justru mengungkap sendiri borok perselingkuhannya dengan sang asisten, Gabrielle Ashe. Namun sebagai buku thiller misteri Deception Point terhitung lumayan lah meskipun masih jauh kalau dibandingkan dengan The DaVinci Code atau The Lost Symbol.

Brown cukup berhasil mengemas aksi ilmiah dengan bumbu humor dengan baik. Dan menyenangkan ketika membaca buku ini kemudian membayangkan siapakah aktris yang pantas memerankan sosok Rachel Sexton, atau actor mana yang bagus jika berperan sebagai Michael Tolland, Senator Sexton, atau bahkan Corky Marlinson sendiri. Apakah buku ini akan diangkat menjadi film layar lebar? Entahlah, sampai sekarang masih belum ada kabar soal itu.

4 Comments

  1. @danirachmat January 12, 2016
    • nunoorange January 12, 2016
  2. Penjaja Kata (@PenjajaKata_) January 12, 2016
    • nunoorange January 12, 2016

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: