#7HariHalu : [01] Setelah Sedekat Ini

The Chainsmokers Closer

Haris menyesap matcha lattenya ketika mata kami beradu. Ada sedikit senyuman tersungging di bibirnya saat minuman favoritnya itu mulai meluncur turun ke kerongkongannya. Dia benar-benar tersenyum sembari meletakkan cangkirnya ke meja di hadapan kami.

It’s been three years, ya?” ucapnya dengan nada setengah tak percaya. Aku hanya mengedikkan bahuku sambil tersenyum.

Ya, tiga tahun kami tak bertemu dan sama sekali kehilangan kontak. Aku tak pernah mendengar kabar darinya setelah malam itu. Sepertinya aku tidak harus bercerita apa yang terjadi bukan? Kisah asmara yang tak berjalan mulus mungkin sudah sering kalian dengar. Dan kisah itu tidak harus kalian dengar lagi.

Dan setelah lama masa berlalu, di sinilah kami. Duduk berdua di sebuah gerai kafe terkenal yang ada di sebuah sudut mall kota besar ini. Pertemuan ini bukanlah yang pertama kali setelah kami berpisah. Sebelumnya, aku dan Haris berjumpa karena sesuatu yang aku sebut “berhubungan dengan pekerjaan”. Read More

Ibu [Flash Fiction}

Ibu.

Dimana ibu?

Aku mengerjapkan kedua mataku dan tak menemukan ibuku. Dia tidak ada disana. Dimana ibu?

Aku mulai memanggilnya berulang kali.
“Ibu! Ibu! Dimana kau?”

Aku berteriak sekeras mungkin tapi sepertinya Ibu tak mendengar suaraku.
Sepertinya semua usahaku sia-sia. Ibu tak ada disana, dan aku tak tahu dimana dia.
Suaraku hampir parau, dan aku sudah mulai lelah. Aku mencari kesana kemari, bertanya pada para tetangga, tapi mereka bilang mereka tak melihatnya. Bahkan ada yang hanya diam sambil tertunduk lesu seperti tak peduli.

Ibu. Dimana engkau.

Aku mulai khawatir. Jika ibu tak ada, bagaimana nasibku.

Aku paling dekat dengan ibu dibanding saudaraku yang lain. Sejak kecil aku memang berbeda dibandingkan ketiga saudaraku. Meskipun kami sama-sama mencintai ibuku, tapi mereka lebih mandiri daripada aku.

Ketika masih sama-sama kecil, kami suka mengikuti ibu kemana kami pergi. Kami tak pernah jauh darinya. Ibu adalah sosok paling protektif, terutama padaku, si bungsu. Aku merasa ibu paling sayang padaku. Bahkan saudara-saudarakupun pernah bilang bahwa ibu pilih kasih. Meski ibu menyangkal dan mengatakan bahwa cintanya untuj kami berempat, nyatanya mereka tak percaya. Dan ketika beranjak remaja, mereka lebih memilih berpisah dan menikmati hidup mereka tanpa ibu.

Sedangkan aku, masih setia menemani ibuku yang semakin menua.

Dan sekarang, kemana ibuku? Apakah dia tak tahu kalau saat ini aku sangat takut? Apakah dia tidak sadar bahwa aku sangat mengkhawatirkannya?

Sebentar, sepertinya aku mendengar suara ibuku.

Aku menghambur keluar dan bersiap menyambut ibuku. Ingin aku berteriak padanya dan menuntut penjelasan darimana saja dia?

Tapi aku kecewa, suaraku tertahan ketika yang kulihat bukan sosok ibuku. Tapi entah ibu siapa. Dia bertanya apakah kau baik-baik saja? Aku hanya diam dan malu. Dan aku kembali pada kesedihanku.

Ibu, kau dimana?

Aku mulai berpikir bahwa sebenarnya ibu tak pernah menyayangiku. Cintanya hanya cinta palsu. Selama ini dia hanya membohongi kami, keempat anaknya. Mungkin saudaraku benar, ibu memang pilih kasih. Dan entah untuk siapa kasih sayangnya sekarang.

Aku berdiri di sudut rumahku. Air mataku mulai berjatuhan. Aku sedih sekaligus marah memikirkan perkataan saudaraku bahwa ibu memang tak pernah mencintai kami, terlebih dia tak pernah peduli padaku.

Aku mulai mendengar kasak-kusuk dari para tetangga. Ada yang sampai mengasihaniku. Dia bilang, sudah lupakan saja. Aku bukan satu-satunya anak di kampung itu yang kehilangan ibu. Banyak anak dikampung ini yang sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini. Kami terbangun dari tidur dan tak bisa menemukan ibu kami. Bahkan beberapa dari kami juga kehilangan ayah sekaligus. Kami tak pernah mengerti, kemana para ibu itu pergi? Kemana ibuku.

Kemudian para tetangga sudah mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Berseliweran kesana kemari, entah apa yang mereka cari. Ingin aku mengikuti jejak mereka, bersikap seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu. Tapi aku tak mampu. Aku masih memikirkan ibu.

Ibu. Dimana kau?

Para tetangga riuh ketika sesosok raksasa melangkah ke kampung kami. Suara langkah kakinya berdentam-dentam. Para tetangga berteriak dan berhamburan kesana kemari.

“Ada apa ini?” tanyaku.

Mereka tak mendengarnya. Sibuk menyelamatkan diri.

“Tolong! Jangan aku! Jangan anakku!” begitu suara yang kudengar dari mulut seorang wanita tua yang tak jauh dariku.
Sementara di tempat lain, seorang anak kecil menangis kencang bersahutan dengan anak lainnya.

Sepertinya aku pernah bertemu dengan sosok raksasa ini. Tapi aku lupa kapan dan dimana.

Raksasa itu semakin dekat. Dia menenteng sesuatu. Aku mengenalinya. Jantungku serasa berhenti ketika aku melihat sosok ibuku tergolek lemas seperti tak bernyawa. Darah segar mengucur dari lehernya. Apa yang terjadi? Apa yang raksasa itu lakukan?
Dan sepertinya dia tak sendirian, ada raksasa lain di belakangnya. Seorang raksasa wanita.

Dan raksasa pria itu mendekatiku. Dia mengarahkan pandangannya padaku. Mulutnya menyeringai aneh. Dia mengatakan sesuatu tentang aku. Dia bilang, “sepertinya yang ini saja”

Tapi aku tidak pasti…

Tangan raksasa itu mencengkeramku. Aku terpaku dan hanya bisa berteriak lemah ketika raksasa wanita itu menghampiri pasangannya.

“Jangan yang itu, dagingnya masih sedikit, pilih yang lain saja. Yang agak gedean dikit.”

Raksasa itu melepaskanku. Aku beringsut menjauh.

“Nah, yang itu.” si raksasa wanita menunjuk pada seorang anak remaja yang lebih gemuk dari aku. Dalam sekejap dia sudah berada dalam genggaman si raksasa lelaki. Dia berteriak, tapi tak ada yang bisa menolong.

“Memangnya butuh berapa?” tanya si raksasa pria.

“Dua cukup,” jawab pasangannya.

“Mau dimasak apa?”

“Ibu suka ayamnya dibacem saja, pake sambel tomat katanya.”

Lalu mereka berdua tersenyum dan menjauh.
Mereka pergi. Dan aku terpana. Mereka membawa remaja itu, dan ibuku.

Ibu…

Dan kemudian ada salah satu tetanggaku yang menghampiri sambil berkata, “mereka itu manusia, makhluk paling kejam yang pernah ada di muka bumi.”

Manusia.

Manusia itu membawa ibuku.

Mereka memakannya.

Salah Cara [Flash Fiction]

Rena terdiam memandangi lelaki yang duduk di depannya. Lelaki itu masih menangis tersedu-sedu sembari menundukkan kepalanya di kedua lengannya yang terlipat di meja. Entah apa yang dirasakan Rena saat mendengar lelaki itu terus mengulangi kalimat yang sama.

“Maafkan aku…tolong bawa aku pulang…aku rindu rumahku…aku rindu rumahku…Barry…aku rindu Barry”

Aku mencintai Barry. Kami berdua adalah sepasang kekasih. Kekasih diam-diam, begitu dia menyebutnya. Aku hanya tertawa. Dijaman seperti ini dia masih ingin saja diam-diam. Padahal jika dia menginjinkan, aku akan mengatakan pada dunia dengan suara lantang bahwa aku mencintainya. “AKU MENCINTAI BARRY! BARRY-KU” Tapi dia tak mau. Dan beginilah kami menjalani hidup. Bertemu sebagai teman, intim sebagai sepasang kekasih, dan berpisah seolah dia tak pernah mengenalku. Read More

Flash Fiction Day #9 : Menanti Lamaran

Sebagai wanita usia 30 tahunan Ria sudah layak untuk menjadi seorang istri. Tidak terlalu cantik, tapi juga nggak jelek-jelek banget. Kerjaan mapan sebagai salah satu staff di sebuah perusahaan ekspor impor bonafid di Semarang juga seharusnya menjadi modal untuk membuka hubungan dengan banyak pihak, termasuk pria-pria ideal yang potensial menjadi pendampingnya. Tapi entah apa yang salah.

Seharusnya tidak ada yang salah. Ria masih normal. Masih suka lelaki. Masih suka heboh jika melihat sosok pria tinggi, putih, rapi, berbadan bagus, sepi di atas tapi ramai di samping. Maksudnya : Botak dan Berewokan. Ah, imajinasi terliar Ria pasti bisa mengalahkan cerita stensilan tulisan Annie Arrow sekalipun.

Tapi yang seperti itu hanya khayalan. Kalau bukan sudah punya istri atau playboy, pria semacam itu pastilah gay. Nggak doyan perempuan.

Suram. Begitu status twitter Ria siang ini. Oh, BBM juga. Dan facebook. Karena semuanya harus terintegrasi. Satu status untuk semua. Dan kemudian banyak pesan bermunculan. Di BBM, reply di twitter, atau sekedar komentar menggoda di facebook.

“Apanya yang suram ceuk? Read More

Flash Fiction Day #8 : Untuk Kamu, Apa Sih Yang Nggak Boleh

Musim hujan tahun ini lebih buruk dibandingkan tahun lalu. Air tumpah menggila hampir tiap hari. Matahari seakan mengalah pada awan, seperti mau tak mau cuti dari tugasnya dan menyerah pada desakan mendung.

Maya membuka sedikit tirai jendela ruang tengah. Dia menengadah ke atas. Hari masihlah sore, tapi warna kelabu seakan membuat malam datang lebih cepat. Bahkan untuk May yang selalu berpikiran bahwa hujan adalah berkah, musim hujan kali ini menjadi sesuatu yang tidak ia harapkan datang sepanjang hari.

Maya melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul 6. Tapi Dion belum juga sampai rumah. Kabar terakhir yang dia dapat dari suaminya mengatakan bahwa daerah sekitar kantornya sudah mulai hujan dengan angin yang cukup kencang. Dia tertahan disana untuk beberapa saat. Mengumpulkan niat sampai kemudian nekat.

Dion hanya berpesan, ‘Sabar ya..?”

Maya mengiyakan. Meski dia tak tahu sampai kapan.

Sebenarnya jarak dari kantor ke rumah tidaklah jauh. Hanya kurang dari 1 jam perjalanan. Tapi Maya tahu, rute yang dilalui suaminya adalah langganan macet. Bahkan jika hari cerah sekalipun orang harus berjuang ekstra keras untuk urai dari simpul macet yang makin lama makin bikin gila.

Apalagi hujan seperti ini. Maya tidak berani membayangkan. Read More

Flash Fiction Day #7 : Cintaku Mentok Di Kamu

Jacklin menarik nafas panjang ketika ranjang dorong itu bergerak pelan membawa tubuhnya ke sebuah ruangan yang ada di ujung koridor lantai 3 ini.  Selasarnya penuh dengan pendar warna putih. Lampu neon bersinar dengan terang . Hanya satu yang tampak lebih redup dari lainnya.

Ada sedikit perasaan takut saat itu. Perasaan dan otaknya berperang dengan pertanyaan yang menuntut sebuah kebenaran. Untuk apa semua ini? Dan apakah ini layak?

Mata Jacklin tertutup sejenak. Bulir air mata menetes melalui ujung mata kanannya. Dan perasaannya semakin tak karuan.

“Nikahi aku mas,” ucap Jacklin lirih. Read More

Copyright Nuno Orange 2017
Tech Nerd theme designed by Siteturner