Personal

Sedikit Catatan Tentang Dido

Hari ini saya masih sangat sedih saat teringat sosok teman,sahabat,sekaligus saudara yang meninggal kemarin. Rasanya masih sangat dekat. Bayangannya saja masih lekat di pelupuk mata. Dan susah untuk tidak menangis saat mengingat dia.

Dido tidak pernah mengeluh sakit. Bahkan terakhir bertemu akhir tahun lalu almarhum masih terlihat sehat dan baik-baik saja. Tapi siapa sangka ternyata ada sesuatu yang dia simpan. Baru seminggu lalu saya juga masih sempat sms an. Bahkan ketika itupun saya baru tahu kalau dia dirawat di RS Karyadi. Dia bilang sakit. Saat saya tanya sakit apa dia hanya bilang sakit jiwa. Itulah Dido. Mungkin dia tidak ingin membuat saya khawatir. Sejak saat itu semua nomor handphone nya tak bisa dihubungi. SMS saya bahkan tak sampai dia terima.

Dan kemarin pagi kabar itu datang. Dido meninggal. Seakan menjawab pertanyaan saya kenapa malam sebelumnya saya merasa sangat sedih dan seakan tak bisa berhenti menangis. Ada sedikit rasa sesal karena siang harinya saya mengunjungi RS dan ternyata dia sudah tidak disana. Saya tidak bisa bertemu disaat-saat terakhirnya.

Saya seperti mati rasa saat menerima kabar itu. Hampir tidak percaya dan terus berusaha menguatkan hati dan mengatakan bahwa dia hanya sakit,belumlah meninggal. Tapi kabar itu ternyata benar dan saya hanya cuma bisa diam.

Sosok Dido yang saya kenal adalah sosok yang baik. Teman dan saudara yang menyenangkan. Senang membantu tanpa banyak alasan. Teman bertukar cerita dan bercanda. Tidak ada banyak diskusi pintar,hanya saling bertukar pandangan tentang banyak hal yang sifatnya pribadi. Intinya,dia tahu saya dan begitu juga sebaliknya.

Kurang lebih 8 tahun yang lalu dia kuliah di Jogja dan selama disana dia selalu jadi teman jalan. Memberi saya tempat menginap dan selalu siap jadi ojek kemanapun saya ingin pergi. Saya ingat ketika kami berdua nonton konser Glenn Fredly di JEC. Itu saat-saat menyenangkan dan dia bilang “Thanks ya No,aku nggak akan lupa ini. Kalau suatu saat aku sudah mampu aku ajak kamu nonton konser yang lebih gede.” Dia bilang dia tidak akan lupa. Tapi kesempatan itu tidak pernah datang.

Ada masa dimana dia ajak saya mengunjungi tamansari dan melihat tempat-tempat yang indah di Jogja. Berfoto di Tugu jam 2 pagi, makan gudeg di ringroad saat kami berdua sedang ribut soal diet dan segala macem. Namun dia tak sempat ajak saya ke Parangtritis.

Jogja menyimpan banyak kenangan tentang Dido. Bukan kenangan yang terlalu manis bagi banyak orang tapi manis dan menyenangkan buat saya. Karena suatu saat, ketika saya mengunjungi kota itu lagi,saya tak lagi bisa bertemu.

Dido menyimpan banyak cita-cita. Salah satunya menjadi pendeta. Dia bilang ingin kembali ke Gereja dan membaktikan diri pada agamanya. Saya bilang tak usah menunggu lama karena niat baik tak elok jika ditunda. Tapi dia bilang masih ingin mencari pengalaman dulu dengan bekerja. Anak muda…Dan saya hanya bisa tersenyum saat ini,ketika teringat cita-cita itu. Mungkin di surga sana dia akan jadi pendeta? Tidak ada yang tahu 🙂

Yang pasti saya sangat kehilangan dan masih sangat tidak percaya. Seperti kata teman kami, Dido terlalu muda untuk pergi. Too young to die, but nobody knows. Nobody.

Saya mungkin tidak bisa berdoa banyak. Hanya berharap kami yang ditinggalkan baik-baik saja dan mampu menerima. Terutama ibunya. Beliau baru saja kehilangan suami dan sekarang anak lelaki satu-satunya. Saya rasa ini adalah sebuah pukulan berat yang siapapun mungkin tak akan kuat menanggungnya. Tapi saya percaya beliau masih punya kekuatan untuk kembali melihat Tuhan dan semua rencanaNya dengan baik tanpa berprasangka apa-apa.

Selamat jalan teman, sahabat dan saudara. Adi Surya Respati. Rest In Peace in heaven,brother. We love you so much.

Adios.

5 Comments

  1. ariefiandy.richard April 10, 2013
  2. elafiq April 12, 2013
  3. akhbar April 17, 2013
    • poetrasoekardi April 17, 2013

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: