Berapa Gaji Seorang Penyiar Radio

Tulisan ini aku buat karena blog ini ditemukan dengan kata kunci gaji seorang penyiar radio. Oh well, ternyata banyak juga yang kepo dan pengin tahu berapa gaji seorang penyiar radio tiap bulannya ya? Baiklah. Untuk alasan itulah aku tergelitik buat nulisin pengalamanku di sini.

Tapi sebelum aku nulis panjang lebar, aku kasih disclaimer dulu ya? Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadiku selama 14 tahun berada di belakang corong siaran. Semua ukuran rupiah yang mungkin muncul adalah angka yang sebenarnya. Tapi masing-masing orang bisa jadi menerima jumlah yang berbeda tergantung dari kebijakan radio tempatnya bekerja.

Baiklah, mari kita mulai ceritanya.

Kalau kamu kepo pengen tahu berapa besaran duit yang diterima seorang penyiar radio tiap bulannya, mungkin kamu nggak akan nemuin angka yang pasti. Karena beda perusahaan, beda kebijakan. Mereka pasti punya hitung-hitungannya sendiri lah. Nilainya pasti relatif.

Based on my experience as a newbie di dunia radio, bulan-bulan pertama aku kerja di sebuah radio di Pekalongan adalah 75 ribu sebulan. Nggak percaya? Itu sekitar tahun 2002, paska krisis moneter. 75 ribu sebulan dihitung sebagai fee trainee yang berangkat jam 8 pagi pulang jam 5 sore. Waktu itu masih bikin demo siaran, belum boleh naik mic. Kurang lebih 3 bulan kemudian aku dinyatakan siap buat cuap-cuap. Itupun masih masuk dalam kategori siaran percobaan selama 3 bulan. Bayangin, 3 bulan bikin demo siaran dan 3 bulan kemudian masih berstatus sebagai penyiar training. Cuma memang, ada perubahan dari segi jumlah fee. Dari yang semula 75 ribu sebulan jadi 125 ribu sebulan.

Lumayan

Waktu dapet kenaikan gaji, aku seneng banget. Serius! aku sampai buka amplopnya di WC kantor lho! Terharunya luar biasa! Saat Itu, jumlah segitu adalah uang dengan nilai paling besar yang pernah ku terima dari hasil keringat sendiri. Walaupun pada akhirnya, jumlah segitu emang terasa masih kurang untuk jatah hidup sebulan. Bayangin aja, selama sebulan bahkan termasuk hari Minggu, aku harus bolak-balik dari rumah ke studio dengan kendaraan umum yang ngabisin sekitar 5000 rupiah per hari. Belum lagi selama jadi penyiar training, aku kudu ngikutin jadwal yang kadang bikin aku harus siaran pagi-pagi sekali dan mau nggak mau harus tidur di studio. Otomatis, keluar uang buat makan dong ya?

Jadi 125 ribu tentu aja bukan jumlah yang ideal untuk hidup saat itu. Nggak jarang harus “ngebon” sama Mamah Dedeh 25 ribu sebulan dan bakal dibayar pada gajian berikutnya. Jadi sama juga bohong sebenarnya. Gali lubang tutup lubang. Hahaha.

Keadaan itu berlangsung cukup lama sampai kemudian ada perubahan penghitungan gaji berdasarkan hasil kerja dan tunjangan jabatan. Akhirnya, gaji naik sampai 350 ribu rupiah per bulan dan jumlah segitu bertahan selama kurang lebih 3 tahun. Apakah cukup? Sepanjang yang aku tahu, nggak juga. Karena seiring dengan kenaikan gaji, ada banyak kenaikan dalam hal kebutuhan. Transport yang tadinya 5000 cukup, saat itu udah nggak lagi. Karena kenaikan tarif angkot dan lain sebagainya. Yaaaa, makin naik gaji, makin naik juga kebutuhan (kalo nggak pengen dibilang keinginan yang naik).

Lalu aku pindah kerja…

Tahun 2005 aku pindah ke radio lain setelah cuti siaran selama setahun. Dari Pekalongan ke Semarang, tentu saja ada harapan akan perbaikan keuangan. Alhamdulillah iya, tapi prosesnya nggak sim salabim. Walaupun sudah punya pengalaman selama 3 tahun di radio, tapi tidak membuat posisiku jadi istimewa. Aku tetap harus ikut training di radio yang baru. 3 bulan training dengan gaji 125 ribu. Bayangin, 125 ribu tahun 2008, yang mana nilai itu sudah jauh dari nilai uang yang diterima tahun 2002. Untungnya saat itu kebutuhan tempat tinggal sudah ditanggung sama salah satu tante disini. Cuma butuh buat naik angkot aja dari rumah ke studio. Selama beberapa bulan fee 125 ribu itu bertahan. Sampai akhirnya aku ditawarin buat jadi operator telepon di radio yang sama. Jadi, sambil siaran, aku juga harus terima telepon tiap kali ada yang request atau minta informasi.

Karena ngedobel kerjaan, otomatis gaji juga berubah. Dari yang tadinya cuma fee siaran, sekarang ketambahan fee jaga telepon. Jumlahnya lumayan, bikin aku berasa jadi orang kaya sedunia. Sekitar 750 ribu aku terima waktu itu. Selama hampir kurang lebih setahun, posisiku naik jadi Music Director. Gaji juga naik dong ya? Dan selama 3 tahun lamanya aku juga ketambahan tanggung jawab sebagai Koordinator Siaran.

Jumlah gajiku sekarang? Alhamdulillah udah jutaan.

Cukup? Enggak juga! Hahaha!

Beginilah kalangan menengah ke bawah. Tiap naik gaji, bertambah pula keinginan ini dan itu sampai jumlah seberapa pun tak pernah cukup. Tapi aku nggak ngomongin soal itu disini. Aku cuma pengin kasih tahu gambaran berapa sih gaji seorang penyiar radio.

Masing-masing perusahaan berbeda. Penghitungannya juga beda. Tiap daerah juga punya aturan UMK sendiri-sendiri. Dan ada perusahaan yang menerapkan peraturan ini, tapi ada juga yang tidak. Bukan karena gak taat peraturan, tapi emang penghitungan gaji penyiar berbeda dengan jenis pekerjaan full time lainnya.

Kita, sebagai penyiar, biasanya cuma dibayar berdasarkan kehadiran. Jadi fee yang kita terima berdasar dari berapa banyak jam yang sudah kita habiskan untuk siaran.

Berapa Gaji Seorang Penyiar Radio

Berapa jam siaran kita dalam sebulan?

Masing-masing berbeda itungannya untuk tiap-tiap tingkatan. Biasanya newbie dinilai dengan fee per jam yang rendah. Bukan rendah yang rendah gimana-mana, tapi ya itu adalah start up fee untuk penyiar pemula. Begitu juga dengan yang intermediate atau advance.

Bisa juga besaran gaji diukur berdasarkan berapa lama bekerja di radio tersebut. Tentu saja masa kerja juga memengaruhi.

Jadi jangan harap : GAJIMU GEDE TAPI MALES SIARAN!

Kecuali kamu adalah seorang penyiar yang jam siarannya sedikit tapi ngemsi-nya kenceng di luaran.

Dari hasil ngobrol dengan kolega yang kerja di radio lain di Jogja, perusahaan tempatnya bekerja juga punya sistem penghitungan gaji sendiri. Disana, penyiar diukur berdasarkan prestasi. Kalau dianggap bagus dan berkembang, dia akan naik tingkat, yang mana gaji juga akan dinaikkan. Tapi ada kemungkinan juga turun karena kondite yang jelek. Siaran telat mulu, operate siaran nggak pernah beres, dan kesalahan-kesalahan lain yang berefek pada kualitas siaran radio yang bersangkutan. Kalau sudah turun grade, gaji juga menyesuaikan. Rugi kan?

Jadi begitu, yang harus diluruskan soal gaji penyiar. Karena masih banyak yang berharap kalo penyiar itu gajinya tetap per bulan.

Haloooooooo….enak bener????

KITA BUKAN PNS, SAUDARA-SAUDARA!

Itulah kenapa kalau sudah kerja di radio, paling tidak diharapkan kita bisa kerja sambilan yang lain, yang tentu aja nggak mengganggu jam siaran kita. Karena bagaimanapun siaran butuh tanggung jawab yang besar dan komitmen, sama seperti kerjaan yang lain. Bolehlah kerja di luaran buat nambah uang gaji. Atau kalo misal ngerasa nggak bisa kerja di luar, boleh kok “jual diri” lewat ngemsi. Biasanya penyiar cari sabetan dari sini, dan jumlahnya sendiri bisa lebih gede daripada gaji yang didapat dari cuma sekedar siaran.

So, kalau masih ada yang penasaran “di radio itu gajinya berapa ya?”, percayalah, itu cuma sekedar sawang sinawang. Rumput tetangga emang lebih hijau dari pada rumput di rumah sendiri. Ya kadang emang beneran lebih hijau sih, sampai-sampai kita ingin merumput disana. Tapi sekali lagi, tiap-tiap perusahaan punya itungannya sendiri-sendiri.

Intinya : menggaji penyiar selalu punya metode yang sama : PER JAM SIARAN. plus uang transport. Lebih beruntung kalo ditambah uang makan.

Lebih dari sekedar nilai uang

Sesungguhnya ada banyak hal yang bisa didapat dari kerja sebagai seorang penyiar. Aku udah berkali-kali nulis soal ini. Tapi nggak ada salahnya sedikit mengulangi lagi inti dari tulisannya. Bahwa ilmu di radio itu bisa berguna saat kamu akan bekerja di tempat lain. Semua pengetahuan tentang public speaking itu bisa sangat berguna.

Walau aku masih bertahan disini-sini saja, tapi aku udah melihat banyak perubahan dari teman-teman yang sekarang sudah bekerja di tempat lain. Label “pernah jadi penyiar” ngasih mereka banyak keuntungan. Jadi MC di acara perusahaan, yang akhirnya dikenal oleh pihak-pihak berwenang di perusahaan itu dan diberi kepercayaan untuk memegang jabatan tertentu. Atau setidaknya, jadi seleb di perusahaan. Keren kan?

Pokoknya seru.

Kalau misal mau jadi penyiar, silakan saja. Tapi kalo belum apa-apa udah jiper duluan karena jumlah gaji yang tidak sesuai dengan mimpi Anda, aih, rugi sekali.

Kalau tertarik, hajar aja. Setahun dua tahun belajar soal dunia kepenyiaran, yang mana disitu juga ada ilmu tentang public speaking dan pengembangan kepribadian. GRATIS. Belum lagi nyempil ngembangin jejaring sosial, siapa tahu….ya kan?

Semoga tulisan ini bisa membantu memberikan pandangan yang lebih cerah untuk kamu yang kepo pengen tahu berapa sih gaji penyiar radio. Daripada menduga-duga kan?

53 comments on “Berapa Gaji Seorang Penyiar Radio”

  1. tetep bersyukur ya No….
    Kamu harus selalu merasa beruntung,setidaknya itu sedikit mengurangi segala keluhan karena tekanan pekerjaan atau konflik2 yang terjadi. Kudu bersyukur,setidaknya masih ada yang bisa diandalkan tiap bulan untuk membuatmu tetap BISA HIDUP. GBU

  2. kalo basicnya anak smk jurusan pariwisata yang fresh graduate bisa ga ngelamar jadi penyiar? kalo bisa, please ka bantu sarannya, thank yooou

    • Hai Christina,

      Terima kasih sudah mampir di blog saya. Pada dasarnya penyiar tidak memandang latar belakang pendidikan seseorang. Kamu bisa kok jadi penyiar. Saya adl lulusan smk teknik pertenunan, dan sekarang berprofesi sebagai penyiar. Memang, kalo basicnya dari komunikasi atau broadcasting akan lebih menguntungkan. Tapi kamu tidak perlu berkecil hati. Saran saya, sering2 denger banyak radio di kotamu. Cari yg paling pas dengan corak vokal/ minatmu. Coba saja ngelamar disana, jangan menyerah kalo belum berhasil, coba terus, atau bisa cari radio lain. Demikian saran saya, semoga berhasil ya?

      Salam,

  3. Saluuut…Nuno, semua Hasil hari nie krn da Perjuangan & Ketelatenan y…dan tidak semua org mampu mnghandle in proses dg baik,….sdh mEntal duluan, Kalah sblum brtarung. Mkasih sudah mau menulis dan berbagi dg jujur dan apa adanya, aq bisa belajar dan ambil manfaatnya dr Tulisan2 Nuno.Terus menulis dan Berbagi y….semoga Allah SWT membalas semua Niat Baik Nuno utk berbagi Ilmu. Jangan Lupa y… aq tunggu tulisan2 Nuno yg lain…

  4. Awalnya mau cari2 foto penyiar radio yg cantik, eh..nyangkut disini..hehee =D
    Kebetulan saya juga penyiar radio di kota Nganjuk.
    Cerita kita kok hampir sama ya..? hehehe..
    Untung saja suasana kerjanya enak dan penuh kekeluargaan, jadi niat utk cabut dari radio ga pernah kesampaian.. hahaha :v
    Buat para para penyiar, tetap semangat dan semakin jaya di udara..hehehe,
    kayak jargon radio era 80 an.

  5. Assalamualaikum, postingan ini membuat saya termotivasi, sebelumnya terima kasih.
    Syarat-syarat untuk jadi penyiar radio itu apa saja ya? Apakah menyenangkan menjadi penyiar radio?

    • Hai rizqa amalia…walaikumsalam…syarat jadi penyiar radio? Wah..diluar dari syarat administrasi yg ditetapkan oleh masing2 radio, paling tidak kamu adalah orang yg suka dengerin siaran radio. Minimal itu. Lebih oke lagi kalo kamu udah cinta banget sama siaran radio, sering berinteraksi dan paham betul karakteristik penyiar radio yg bersangkutan. Karena buat apa menjalani profesi kalau kamu tidak cinta? Yang berikutnya sih pasti kamu harus talkative ya. Suka ngomong dulu deh minimal…baru nanti ke tahap pinter ngomong. Hehehe…kan ga seru kalo penyiar pendiem ga suka ngomong. Etapi ada lho penyiar yg dasarnya pendiem, tapi begitu di depan mic, jadi cerewet. Jadi ayo mantapkan keinginanmu, dan asah kemampuanmu. Jadi penyiar itu menyenangkan! Salam.

    • Tergantung sih sebenarnya. Saya menjadikan profesi ini sebagai penghasilan utama dan alhamdulillah, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan saat ini.

      Speaking of cukup enggak cukup, kita enggak akan pernah merasa puas. Dan kembali lagi ke tergantung itu tadi, profesi penyiar bisa dijadikan sumber penghasilan utama, jika :

      1. Radio berani bayar kamu mahal – kalo kamu punya kemampuan, dan radio ybs juga mampu menggajimu dengan nilai minimal UMR di wilayah kamu bekerja.

      2. Selain jadi penyiar kamu juga bisa bekerja di divisi lain di radio tersebut. Otomatis penghasilan juga akan nambah.

      3. Kalau jadi penyiar saja enggak cukup, kamu bisa jadi MC di luaran. Fee-nya bisa lebih besar daripada jadi penyiar.

      Dan masih banyak lagi faktornya. Mungkin kerja jadi penyiar enggak bisa jadi sumber penghasilan utama. Tapi kerja di radio, sepanjang yang saya tahu, cukup bisa diandalkan kok.

        • Mulai dari job yang kecil2 dulu. Ngemsiin acara di radiomu, ngemsi ulang tahun temen…dan lain-lain, dan lain-lain.

          Ga usah muluk2 pengen ngemsi pake gaun ala syahrini. Oake celana jins koar2 di pasar pun asal rutin bisa bantu kamu nyicil kreditan motor lho.

          Haha

          Makasih sudah mampir.

          • Hai Anita. Thanks udah mampir ya. Pinter banget sih enggak, tapi paling ga harus bisa basicnya. Ga lucu kan kalo kamu nyebutin judul lagu atau penyanyi dari luar negeri terus belepotan? minimal sih bahasa inggris dipakai utk itu. Selebihnya ya berguna kalo ada artikel dalam bahasa inggris, atau yg memakai istilah2 asing.

  6. Saya tahun 2002 jadi penyiar radio malah di gaji 8ribu rupiah pada saat itu saya masih sekolah sma kelas 2 ya ngisi kesibukan aja siaran malam jam 19 sampaii jam 21 kemudian lulus sma thn 2004 pindah radio di gaji 150 rb ya pada saat itu buat hiburan dan pengalaman dunia broadcasting memang pada tahun tahun itu radio fm merupakan sesuatu yg oke menurut saya

  7. Waktu smp-sma aku pengen banget jadi penyiar radio mas, asyik gitu bisa cuap2 dan ketemu artis ibukota yg lagk diundang radio tersebut. Biasa ada jumpa fans kan di tiap kota hahaha. Norak ya, tapi begitulah

  8. Dulu (dan sampe sekarang) aku pengen jadi penyiar. Udah niat banget pengen belajar, tapi entah kenapa belom nemu jalan kesana. 🙁

    • Hahahaha. Masuk akal! mungkin yang nyari emang kepo karena punya cowok penyiar dan pengen tahu gajinya. Gimanapun emang bener, urip iku sawang sinawang. Setuju sama bab bersyukur.

  9. Ahhh aku jadi teringat masa2 jadi penyiar radio di makassar. Iyalah gaji bukan faktor utama kita jadi penyiar tapi karena cinta sm profesi tsb, cieeeh. Eh gajhmada terima penyiar yg udah emak2 kah? Tak ngelamar hihihi

  10. walaupun aku bukan penyiar, tapi pengalamannya mirip2, yah walaupun sebenarnya semakin naik pendapatan makan biasanya kebutuhan juga ikut naik tapi aku bersyukur kok. Intinya sih tidak ada yang ujug2 gitu, semua perlu proses step demi step dan memang kudu sabar, kalau nggak sabar ya cari kerjaan lain yang kira2 lebih menghasilkan. tapi kadang bener juga sih, urip kui mung sawang sinawang gitu lah. cukup di kita belum tentu cukup untuk mereka begitu pula sebaliknya. aku sadar jika Tuhan sudah memberikan rizkinya sesuai porsinya masing2. kalau tetep pengin gajinya besar ya cari kerja ke level yang lebih tinggi

  11. Kalau masih single mungkin gakpapa terima gaji berapa aja, yang penting passion berlanjut, tapi kalo udah ada tanggungan, ya, gak bisa nrimo aja, kelles…harus berjuang lebih gigih lagi, hihihii…

    • Indeed, that’s why saya menulis kalo sebagai penyiar kudu bisa cari kerja di luar atau kalo enggak mengembangkan diri melalui kegiatan lain seperti MC atau Event Organiser misalnya. Banyak teman-teman saya yang sudah berkeluarga tetap bekerja di radio, tapi dia mengembangkan kemampuannya di bidang lain. Kalau tidak bekerja, dia pasti punya usaha untuk menyokong dapur supaya tetap ngebul.

  12. Pertama kalinya berkunjung kesini. Hi Kak Nuno, aku mau cerita dikit soal penyiar ini sih. Jadi temenku adalah penyiar radio di daerah Purwokerto dan gajinya dia nggak sampai 500ribu. Aku sedih bgt dan ngerasa kasian gitu sama dia. Tapi dia mah hepi – hepi aja. Emang ya namanya passion mengalahkan segalanya. Kata dia, dia happy berapapun gajinya asal jadi penyiar. Keren! Salut buat yang punya dedikasi kayak Kak Nuno. Good luck ya kak. Bahagia selalu ^^

    • Hi Putri. terima kasih sudah berkunjung. Begitulah, kalau sudah cinta memang susah. Hehehe. Ambil sisi positifnya saja. Kita bisa belajar dari dunia broadcasting. Jadi penyiar mungkin tidak memberikan benefit dalam hal finansial buat temenmu, tapi aku yakin ada banyak hal yang enggak bisa diukur pake materi yang udah dia rasakan. Salam buat temenmu ya.

  13. Aku dari dulu suka denger radio dan pingin banget jadi penyiar radio, tapi bingung mulai dari mana. Harus kursus dulu atau gimana mas? Aku juga gak punya temen2 yang bekerja di radio jadi susah kalo pingin cari job ke radio. 😀 Trus agak minder juga karena usia. Ada gak sih batas usia buat pemula?? 😀

    • Hai Vera,

      Maaf baru bales komenmu. Jadi penyiar radio itu memang ada sekolahnya. Biasanya sih masuk ke sub boradcasting TV atau Radio. Tapi kalau pun enggak kursus juga gak masalah kok. Aku ga punya basic jadi penyiar, modalku cuma satu : suka denger radio sejak kecil. Itu aja sih. Coba cari radio yang sesuai dengan karaktermu. Bayangin kalo kamu jadi penyiar, kira2 radio mana yang “kamu banget”. Tapi kamu kudu jujur sama dirimu sendiri, kalau misal kamu lebih nyaman di acara2 dewasa, jangan nyari radio anak muda, begitu sebaliknya. Sering2 lah main ke radio yang bersangkutan. Telepon2 request lagu dan kirim2 salam. Soal usia sih nggak ada batasannya untuk memulai, tapi emang banyak penyiar yang memulai karirnya di usia muda. Tapi bukan berarti kalo udah STW nggak bisa jadi penyiar. Hehehe.

      selamat mencoba

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

Copyright Nuno Orange 2017
Tech Nerd theme designed by Siteturner
%d bloggers like this: