Dunia Radio

Apakah Radio Masih Laku?

Gara-gara Mas Rudy sang Belalang Cerewet nanya soal potensi radio di era internet seperti sekarang, saya jadi pengin sedikit nulis tentang media yang satu ini. Tulisan ini murni personal opinion dengan dukungan beberapa data dan survey yang saya rangkum dari berbagai artikel.

Saya terjun ke dunia broadcasting 15 tahun lalu, selepas lulus Sekolah Menengah Kejuruan. Nyemplungnya nggak sengaja. Diawali dari sering ikut kuis dan rekues lagu, saya ditawarin kerja sebagai penyiar. Saya masih ingat ketika saya masuk ke radio pertama saya di Pekalongan, salah seorang teman saya bilang

“Kamu beruntung lho. Kamu masuk di waktu yang tepat.”

Saat saya bertanya kenapa dia lalu menjelaskan kalau sebelum saya masuk, radio tempat saya kerja itu kena imbas krisis moneter. Ya, paska ribut-ribut tahun 98 yang berefek pada segala macam aspek kehidupan bangsa ini, radio tempat kerja saya itu mengalami penurunan omzet iklan. Akibatnya ada banyak penyesuaian di sana dan di sini. Waktu on air jadi berkurang, gaji karyawan juga mengalami “penyunatan”, dan semuanya dilakukan atasnama penghematan.

Banyak karyawan yang kemudian tak bisa menerima keadaan itu, tapi masih banyak juga yang bertahan sampai badai berlalu. Dan ketika saya masuk, hantaman badai krisis moneter sudah reda. Waktu siaran sudah kembali normal, gaji karyawan yang sebelumnya disunat dan dibayar telat mulai dibayarkan secara teratur dengan jumlah yang sesuai pada waktu itu. Dan benar apa kata teman saya. Saya beruntung karena tidak mengalami semua hal itu.

Radio tersebut berhasil melewati krisis tersebut sampai bertahun-tahun kemudian.

Baca juga : Penyiar Sebagai Batu Loncatan

Kelebihan dan Kekurangan Radio

Radio adalah salah satu media elektronik yang sampai sekarang masih cukup populer. Beberapa kelebihan radio dibanding media yang lain adalah :

  1. Radio relatif lebih murah dan bisa dinikmati oleh siapa saja. Perangkat untuk mendengarkan siaran radio bisa didapatkan dengan harga yang cukup terjangkau
  2. Felksibel. Radio bisa didengarkan dimana saja, sambil ngapain aja, bahkan dalam kondisi tersibuk sekalipun
  3. Menyajikan paket acara yang komplit. Mulai dari informasi dan hiburan, semuanya ada.
  4. Jangkauannya relatif lebih luas dibanding media seperti koran atau majalah
  5. Media yang akrab dan dekat dengan pendengar
  6. Mampu memengaruhi imajinasi pendengar dengan program yang ditayangkan

Dari sekian banyak kelebihan, tentu saja radio memiliki beberapa kekurangan. Seperti sifatnya yang “sambil lalu” sehingga informasi yang didengar terkadang agak kurang jelas atau cepat hilang dari ingatan pendengar.

foto koleksi pribadi

Meski begitu masih banyak masyarakat yang menjadikan radio sebagai sumber informasi dan hiburan.

Salah satu kekuatan media ini adalah terletak pada faktor “kedekatan”. Pendengar merasa seperti memiliki teman dalam kondisi apapun di dekat mereka. Karena salah satu hal yang dilakukan oleh penyiar dalam membawakan program yang diampunya adalah berusaha untuk “talk to a friend” atau “berbicara selayaknya seorang teman”. Sisi sentimentil seperti inilah yang tidak dimiliki oleh koran ataupun TV.

Namun bukan berarti radio tidak menghadapi tantangan berat dalam perjalanannya sehingga banyak muncul pertanyaan “Emangnya hari gini masih ada orang yang denger radio?”

Pertanyaan yang bagi saya pribadi agak nyebelin.

Masih ada kok yang dengerin.

Cuma masalahnya sekarang ada berapa banyak, dan berapa lama mereka mendengarkan radio dalam sehari?

Hasil riset Nielsen

Survey AC Nielsen di tahun 2014 lalu menyebutkan bahwa jumlah pendengar radio mengalami penurunan sekitar 3% pertahunnya. Perilaku masyarakat dalam mendengarkan radio juga ikut berubah.

Kalau di tahun 2010 prosentase masyarakat Indonesia mencari berita lewat radio mencapai 50%, di tahun 2011 anjlok menjadi 31%, dan kemudian turun lagi ke angka 24% setahun berikutnya. Itu 6 tahun yang lalu. Bagaimana dengan sekarang.

Pastinya makin turun lah ya? Cuma angkanya berapa saya enggak tahu karena saya cari datanya juga enggak dirilis. Hehehe.

Nah, makin ke sini memang makin mengkhawatirkan. Apalagi zaman internet macam sekarang. Orang bisa dengan mudah mengakses berita paling baru hanya melalui sentuhan ujung jari. Kadang-kadang berita di TV atau bahkan radio juga kalah cepat. Portal berita online jadi rujukan, tautan-tautan yang disebar melalui cuitan di twitter, atau postingan di Instagram jadi channel favorit. Tv dan radio sudah bukan lagi sumber utama.

Orang nonton TV cuma butuh visual bergeraknya saja. Dengerin radio juga paling lebih milih musiknya daripada penyiar ngomong. Kebanyakan emang begitu…hehehe.

foto koleksi pribadi

Masih banyak yang denger radio, tapi perilaku pendengarnya sudah cukup berubah. Kalau jaman dulu masih banyak pendengar yang datang ke studio untuk beli lembar rekues, sekarang sudah tidak lagi. Sejak kenal handphone, kertas rekues sudah enggak pernah ada yang minat. Mereka lebih milih telepon atau kirim SMS.

Dengan makin berkembangnya teknologi, perilakunya berubah lagi. Yang dulu rajin telepon dan kirim SMS, sekarang lebih senang berinteraksi melalui akun media sosial. Komen di facebook, mensyen via twitter, atau minta lagu dan kirim salam melalui whatsapp.

SMS sudah tidak populer lagi karena biaya kirimnya yang dianggap lebih mahal dibanding biaya data yang dikeluarkan untuk mengirim whatsapp.

Telepon? Udah jarang banget. Eksis di udara via telepon bukan lagi perkara yang penting banget buat pendengar. Kalau nggak terpaksa mereka lebih seneng jadi pendengar pasif daripada repot-repot nelpon dan keluar pulsa.

Pokoknya makin kesini radio makin berat lah tantangannya. Lawan radio sekarang bukan lagi TV atau sesama radio, tapi media-media online.

Selain mengalihkan perhatian pendengar dan meubah mereka jadi pendengar pasif, media online juga mengalihkan perhatian para pemasang iklan. Kebanyakan pemasang iklan lebih tertarik untuk mengalokasikan dana belanja iklannya ke situs-situs halaman pertama Google. Alokasi ke radio? Masih kok. Cuma agak berkurang.

Tanya saja sama marketing-marketing radio. Banyak di antara mereka yang mulai resah dengan berkurangnya belanja iklan. Atau nggak usah repot nanya ke marketing deh, coba perhatiin aja sekarang kalau siaran jumlah iklan yang terputar ada berapa? pasti lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Saya saja yang kerja di radio juga ngerasain efeknya. 15 tahun lalu saya masih bisa nemu 10 iklan (diluar dari adlib atau iklan baca) per jamnya. Sekarang? Paling rame 6 biji. Itu saja nggak merata dalam sekian jam siaran. Di jam ini bisa ada, di jam berikutnya belum tentu.

siaran radio

Etapi radio X masih banyak lho iklannya?

Ya iya, per jam mungkin banyak. Tapi rate per putarnya? Pasti murah banget. Ibarat kata kalau mau diitung-itung, radio saya yang muter 6x putar iklan dalam sejam pendapatan per jamnya bisa sama dengan radio yang muter 60x putar dalam 3 jam. Contoh kasarnya begitu. Ini disebabkan karena rate iklan per radio emang berbeda.

Tapi intinya sama, belanja iklan radio makin turun.

Makanya ini jadi indikator juga kalo radio emang kudu makin kreatif dalam menyajikan program. Sajian dan isi program menjadi hal yang perlu selalu ditingkatkan. Sekalinya nggak menarik, ya wis, siap-siap jadi pilihan ke sekian.

Itulah kenapa kemudian muncul gerakan Ayo Dengar Radio. Tujuannya adalah mengembalikan minat masyarakat untuk kembali mendengarkan radio, atau lebih tepatnya, lebih lama dengar radio dibanding nonton TV, twitteran, dan skrol feed Instagram.

Dari radio sendiri juga sudah banyak yang mulai sedikit menggeser format siarannya. Kalau jaman dulu penyiar mungkin jadi jualan utama, sekarang agak mundur dikit. Beri kesempatan pendengar untuk menikmati musik lebih banyak. Durasi ngomong penyiar dikurangi supaya frekuensi memutar lagu jadi lebih besar. Makanya sekarang banyak juga radio yang formatnya “MP3”. Boros musik, irit ngomong.

Jadi, prospek radio ke depannya gimana nih?

Prospeknya sih masih cukup cerah lah ya. Sepanjang radio yang bersangkutan nggak stuck dengan sajian. Harus ada sesuatu yang baru untuk menarik minat pendengar. Selain itu radio juga harus mengakomodir kebutuhan dan kepentingan pendengar.

Karena zaman bergeser ke penggunaan data, radio juga harus menyediakan kanal siaran streaming dengan kualitas yang bagus supaya pendengar yang mengakses radio melalui jaringan internet bisa betah. Bayangkan saja kalau kualitas streamingnya K.O?

So, radio masih akan jadi media yang bertahan dalam kondisi apapun. Cuma, perusahaan yang bergerak di bidang ini belum tentu bisa survive sepanjang tak ada inovasi yang menarik. Kalau sudah begitu, siap-siap gulung tikar.

Sudah banyak kejadian dan salah satunya adalah radio saya di Pekalongan. Saat ini radio yang jadi  tempat menimba ilmu kepenyiaraan saya dulu sudah tutup dan dijual ke pihak lain. Mereka berganti nama dan format siaran. Terakhir dengar radionya dibeli oleh sebuah organisasi keagamaan dan digunakan sebagai kanal dakwah.

Dijualnya radio tersebut karena dianggap sudah tidak profit.

3 Comments

  1. Dwi Septianingsih September 28, 2018
    • nunoorange September 28, 2018
  2. BaRTZap September 29, 2018

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: