Alasan Kenapa Saya Berhenti “Melamar Pekerjaan”

Sejak memulai kegiatan blogging kurang lebih 12 tahun lalu (saat friendster masih hits abis), saya nggak nyangka perkembangan ngeblog saya bisa sebegini (jauhnya). Tadinya iseng, tapi lama-lama pengen dapet sesuatu juga di sini. Jujur saja, selain pertemanan dan pengetahuan-pengetahuan baru, materi juga jadi sesuatu yang amat sangat menarik.

Saya masih ingat ketika mengajukan pinjaman ke Mamah Dedeh buat beli laptop waktu itu, saya cerita panjang lebar soal kegiatan ngeblog yang bisa menghasilkan. Kejadiannya kurang lebih 8 atau 9 tahun yang lalu. Waktu itu yang saya ceritakan adalah soal Google AdSense yang bisa mendatangkan uang. Tapi belakangan saya menemukan, bahwa sumber pendapatan bloger nggak melulu dari sana.

Blog, di saat sekarang, seperti menjadi sebuah platform yang bisa dikatakan sebagai media massa. Yang tidak hanya sebagai buku harian online tapi juga menjadi media informasi dan promosi yang cukup efektif bagi sebuah brand. Ditambah lagi dengan booming media sosial, kekuatan viral sebuah tulisan bisa jadi lebih massive. 

Daya tarik ini yang kemudian mengundang para produsen untuk memanfaatkan jasa para bloger. Sehingga dari yang tadinya sekedar hobi, lama-lama juga bisa dapat penghasilan.

Perkembangan dunia blogging dari kacamata saya pribadi ternyata sangat luar biasa pesat. Hobi ini segera menjadi sebuah pekerjaan yang bahkan dijadikan pegangan bagi mereka yang memutuskan untuk mendapatkan materi di sini dengan menjadi bloger purna waktu. Sebuah pekerjaan yang mungkin tak dimengerti oleh banyak orang.

“Pekerjaannya apa?”

bloger pak.”

Hah? emang bloger apaan? gajinya berapa? Bisa buat hidup?”

Kalau sudah purna waktu ya bisa-bisa saja. Hehehehe.

Itulah kenapa saat ini saya melihat para bloger ini (yang paruh atau purna waktu) jadi seperti para pekerja yang punya ketrampilan khusus, dengan pangsa pasar para produsen yang tertarik untuk menggunakan jasa mereka. Nggak sedikit dari bloger ini yang kemudian menata diri dan memoles tampilan mereka (termasuk tampilan blognya) supaya terlihat lebih profesional.

Bergabung di situs jejaring sosial yang dekat dengan urusan pencari kerja macam LinkedIn, membuat kartu nama sekeren mungkin, aktiv di media sosial dan membangun brand mereka sesuai dengan minat masing-masing, serta memperluas jaringan dengan aktif di berbagai event. 

Bahkan di situs jejaring sosial macam Facebook pun ada grup yang dikhususkan untuk para digital agency mencari kontak para bloger atau social influencer ketika mereka punya pekerjaan yang terkait dengan promosi. Ngomong-ngomong soal itu saya juga gabung dan pernah coba-coba mendaftar beberapa kali.

Ada yang pernah gol, tapi ada juga yang gagal. Seperti sebuah lowongan pekerjaan, kita melamar untuk posisi di sebuah perusahaan. Hasilnya kadang menggembirakan, tapi nggak sedikit yang bikin sedih dan bertanya-tanya : “kok saya enggak kepilih ya? apa yang kurang?”

Entahlah

Ada banyak alasan dibalik pemilihan yang dilakukan oleh agensi. Alasan yang bisa jadi kita tahu, atau kita tidak tahu. Yang kita tahu misalnya adalah sesuatu yang sifatnya terukur seperti jumlah pengikut di media sosial, status blog dari yang bersangkutan, atau status keaktivan mereka di media sosial. Semua hal tersebut terukur karena ada tool untuk ngecek nilainya. Dan sepertinya agensi juga punya patokan nilai sendiri. Itulah kenapa kemudian bloger berupaya untuk memperbaiki posisi nilai digital-nya supaya menarik perhatian perusahaan.

Nah kalau yang tidak terukur ini yang mungkin kita tidak tahu. Misteri lah istilahnya. Yaaa…anggap saja kita belum beruntung jika memang tidak terpilih dalam sebuah product campaign.

Apakah kita patut kecewa jika gagal dalam sebuah pitching? Supposed to be sih…kalo ngarepnya kebangetan. Tapi kalau pake modal nothing to lose sih kayaknya nggak perlu terlalu kecewa juga kali ya? Gagal di satu tawaran, ya coba lagi di tawaran lainnya.

Tapi buat saya yang memang gampang patah arang (halah!), apalagi di penawaran-penawaran yang produknya saya pakai. Kalau gagal saya pasti kecewa. Ibarat kata, kalau seorang pencari kerja, saya ini udah tahu banget perusahaan yang mau saya masukin. Saya udah tahu banget produk mereka karena saya penggunanya. Saya ini pekerja yang penuh skill! Tapi kenapa saya gagal dalam proses interview kerja?

Apa karena “gaji” yang saya minta terlalu besar? Hahaha. Nggak juga kali ya? Nah, inilah X faktor yang tidak pernah saya tahu.

Saya pernah ikut pitching produk seluler (saya pengguna setianya selama 15 tahun), produk teh (ini merek favorit saya), produk vitamin C (yang mereknya saya pake juga kadang-kadang buat booster kalo pas lagi flu), eh ga kepake juga. Wakakakak! Adoooh, saya sampai bertanya-tanya, saya kurang apa?

“Kurang hits kakaaaaak!” begitu kata demit di sebelah saya.

“Kurang follower kakaaaak!” kata cewek tetangga sebelah.

“Kurang rajin update blognya kali,” kata Eyang putri.

Kurang ini dan kurang itu. Ya, bisa jadi…bisa jadi.

Dan berkaca dari pengalaman-pengalaman “ditolak” tadi akhirnya memutuskan untuk “menyerah”. Saya berniat untuk sejenak berhenti dari “melamar pekerjaan” sampai saya benar-benar siap. Siap dalam artian apa? Ya siap rajin jadi bloger dan pelaku media sosial yang reliable buat perusahaan yang memercayakan promosi produknya pada saya.

Ada beberapa hal yang mungkin perlu saya perbaiki kalau memang saya tetap ingin mendapatkan pekerjaan dari bidang ini.

  • Membangun personal brand & image biar bisa dipercaya. Seenggak-enggaknya itu dulu, kalau buat jadi terkenal sih kayaknya susyah ya sist?
  • Belajar mengelola media sosial saya dengan lebih baik. Jangan asal ngecuit di twitter misalnya, atau menata kembali feed Instagram biar lebih rapi, dan memanfaatkan media sosial dengan lebih maksimal supaya promosi bisa berjalan dengan baik dan efektif
  • Memperbaiki kualitas tulisan di blog. Atau belajar bikin kepsyen yang oke buat promosi di Instagram atau facebook misalnya. Biar yang baca juga enak dan kampanye produk bisa maksimal dan “ganggu” followers.
  • Perbaiki mood! karena ini dia yang kadang suka bikin berantakan semuanya. Kalau mood sudah bubar jalan, ngeblog males, medsos-an juga ogah, lha gimana mau jadi agen promosi yang oke?

itu sih kalau saya. Kalau Anda?

Ya begitulah, sedikit cerita saya yang ditulis bukan karena saya marah atau kecewa berat dan dendam kesumat karena gagal maning- gagal maning, tapi lebih ke introspeksi diri saja sih. Lagipula, kayaknya ngeblog juga dibikin asik aja kali ya? Kembali ke niatan awal, kalau ngeblog atau nge-medsos itu buat seneng-seneng. Jadi hobi yang menyenangkan, sukur-sukur menghasilkan ya alhamdulillah. Tapi nggak usah dibawa stres kalo pun sampai sekarang masih belum dapat apa-apa kayak yang lain. Belum jadi bloger femes kayak yang lain. Halah. Capek kali ah ngejar posisi itu melulu.

Dibawa seneng aja. Ga dapet kerjaan di perusahaan? jadi wiraswasta! Siapa tahu produk kita sendiri sukses, malah diajak partner-an ama perusahaan gede. *kedip-kedip*

melamar pekerjaan

Tulisan Lainnya :

4 Thoughts to “Alasan Kenapa Saya Berhenti “Melamar Pekerjaan””

  1. Salut!!! Saya masih belom berani jadiin blog kerjaan purna waktu…

    1. Same here! kalau masih males2an kek diriku ini nggak bisa kayaknya jadiin blogging jadi full time job. 😀 bisa bubar dapur aing.. :))

  2. Kesimpulanku baca ini: jadi kamu uda tuwek ya. Lha ngerti friendster owk. Haha

    1. Woiiii!!! Tapi entah kenapa Friendster selalu jadi patokan ukuran ketuwaan seseorang yak? Hahaha

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.