Lifestyle,  Movies,  Personal

A Star Is Born [2018]

[SPOILER ALERT] Postingan ini harusnya tayang beberapa hari yang lalu. Tapi saya terlalu lelah untuk menuliskan bagaimana perasaan saya setelah menonton film A Star Is Born versi 2018. Mungkin karena saya mengambil jam tayang paling malam sehingga kehabisan tenaga. Atau bisa jadi saya terlalu lelah karena emosi terkuras setelah menonton akting Lady Gaga dan Bradley Cooper?

A Star Is Born

A Star Is Born adalah remake keempat dari film orisinilnya yang rilis tahun 1936. Sebelum ini A Star Is Born dibuat dalam berbagai versi di tahun 1954, 1976, dan 2013 (versi Bollywood).

A Star Is Born

Perbincangan mengenai pembuatan ulang A Star is Born sudah dimulai sejak 2011 lalu, ketika Clint Eastwood siap duduk di kursi sutradara dan sudah mengincar beyonce sebagai pemeran utamanya. Tapi baru 5 tahun kemudian terealisasi dengan banyak perubahan disana-sini.

Bradley Cooper akhirnya setuju untuk menggantikan peran Eastwood sebagai sutradara sekaligus menjadi pemeran utama prianya. Sebelumnya, Eastwood sudah mengajukan beberapa nama seperti Leonardo DiCaprio, Christian Bale, bahkan sampai Tom Cruise.

(Saya nggak bisa membayangkan jika bukan Bradley Cooper yang memerankan tokoh Jackson Maine. Karena apa? Karena karakter ini begitu hidup di tangan Cooper).

Sinopsis

Meski hadir dalam berbagai versi namun benang merahnya masih sama. A Star is Born versi 2018 kali ini bercerita tentang seorang bintang musik Country bernama Jackson Maine (Bradley Cooper) yang berjuang dengan ketergantungannya terhadap alkohol dan obat penghilang rasa sakit.

Di tengah ketenaran, Maine harus menghadapi mimpi buruk seorang musisi yaitu perlahan kehilangan kemampuan pendengarannya karena paparan suara keras selama bertahun-tahun.

Kehidupan Jackson Maine berubah ketika suatu malam dia mengunjungi sebuah klub malam yang menampilkan pertunjukan lipsync oleh para Drag Queen. Disanalah dia bertemu dengan Ally (Lady Gaga) yang meskipun seorang wanita tulen, tapi diberi panggung oleh penyelenggara pertunjukan hanya karena bersuara bagus dan mampu menghibur pengunjung.

Lagu La Vi En Rose yang dinyanyikan Ally mampu menarik perhatian Jackson dan sejak saat itulah mereka dekat.

Hubungan mereka semakin intens ketika Jackson mengajak Ally untuk datang ke salah satu pertunjukannya dan memintanya menyanyikan lagu yang ditulisnya. Sejak saat itu, seorang bintang telah lahir.

Singkat cerita keduanya menikah dan Ally menjadi seorang bintang pop sukses sementara Jackson mulai insecure dengan kondisi karirnya hingga mengalami depresi dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Baca juga : Review Film The Nun

Tampil Total

Bagi mereka yang sudah menonton film ini pasti setuju bahwa kekuatan A Star Is Born berada pada kualitas akting pemeran utamanya. Kita sudah paham bahwa kapabilitas seorang Lady Gaga dalam bernyanyi sudah pasti di atas rata-rata, tapi soal akting? Apakah dia punya itu?

Meskipun di beberapa seri American Horror Story (Roanoke & Hotel) kita melihat Gaga menunjukkan bakat seni peran, tapi ini adalah penampilan pertamanya di layar lebar. Nggak heran jika Gaga sendiri sempat meragukan kemampuannya memerankan karakter Ally sampai Bradley Cooper meyakinkannya secara pribadi.

Ya, Lady Gaga setuju berperan sebagai Ally setelah melakukan sesi bernyanyi bersama Bradley Cooper. Bahkan Gaga mengaku, dia terkejut dengan bakat terpendam seorang Cooper.

Yes guys, Bradley Cooper Can Sing!

And he is GOOD! Saya hampir nggak percaya kalo dia tidak menggunakan suara orang lain ketika dia bernyanyi! Lewat peran ini sudah pasti terlihat bahwa dia adalah seorang rock star sejati.

Kekuatan A Star Is Born

Buat saya, nilai plus dari film dengan plot sederhana ini adalah terletak pada kedua pemeran utamanya. Nggak bisa dipungkiri bahwa kualitas akting Bradley Cooper dan Lady Gaga memang CIAMIK! Chemistry keduanya begitu baik. Dapet banget! Saya jadi seperti tidak sedang menonton film, tapi seperti melihat kehidupan 2 orang bintang dengan kisah sukses dan pergulatan batin mereka.

Mereka begitu “normal” dan wajar ketika dilihat. Tidak ada yang berlebihan dan dibuat-buat. Begitu pas!

Terutama Gaga, yang seakan-akan lupa bahwa dia adalah seorang mega pop star yang pernah berakting sebelumnya di layar kaca. Karakter Ally yang lugu dan malu-malu bisa dibawakan dengan apik.

I just lost my words. Saya rasa mereka berhak untuk minimal dinominasikan untuk kategori Pemeran Utama Pria dan Wanita Terbaik di ajang Golden Globe dan Oscar tahun depan.

Sebuah film yang relatable 

Kemunculan film A Star Is Born saat ini seperti mendapat sebuah momentum. Setidaknya itu menurut saya. Ketika isyu tentang kesehatan mental sedang menjadi perbincangan dan selebriti tidak malu-malu lagi mengaku kalau mereka bermasalah, menjadikan film ini sangat relate dengan kondisi sekarang.

Menonton A Star Is Born seperti melihat sisi lain dari seorang selebriti. Di balik kesuksesan seorang bintang, tersimpan sisi gelap dan skandal memalukan yang mengancam eksistensi. Di tengah keglamoran dunia hiburan, seorang bintang bisa terjerumus ke lingkaran setan ketergantungan alkohol dan obat terlarang.

Tuntutan untuk menjadi idola pujaan yang harus tampil sempurna terkadang memberikan tekanan yang berat pada individu. Dan tidak jarang banyak di antara mereka yang kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah sekian lama bertarung melawan setan dalam kepala.

Ya, film ini seperti menguak sisi kehidupan yang selama ini tidak pernah kita lihat dari sosok seorang bintang terkenal dengan segala imej baiknya. Apa yang terjadi di balik tirai tak pernah kita tahu. Tapi yang pasti mereka juga manusia biasa yang bisa saja menyerah terhadap tekanan yang datang bertubi-tubi.

Kekurangannya hanya terletak pada…

Jujur saya menikmati kisah cinta antara Jackson dan Ally, terutama di bagian-bagian awal mereka bertemu dan kenalan. Eskalasi hubungan personal keduanya terjadi dengan sangat cepat.

Tapi saya merasa di sepertiga bagian film terasa seperti terburu-buru. Saya seperti “dipaksa” untuk segera menyaksikan akhir kisah dari film ini. Entah karena kena gunting sensor atau memang seperti itulah hasil dari editing-nya, tapi ada beberapa bagian yang jumping-nya begitu terasa kasar. 

Ada adegan-adegan yang tidak berhubungan tapi seakan berada dalam 1 garis cerita. Buat saya ini agak menganggu sih. Tapi untungnya terselamatkan oleh penampilan Cooper dan Gaga, serta lagu-lagu indah yang mereka bawakan.

Tentu saja 2 lagu yang jadi favorit saya adalah Shallow dan I’ll Never Love Again. MV-nya bisa dilihat di bawah ini.

Meski begitu buat saya A Star Is Born layak mendapatkan nilai 9 dari 10 untuk kualitas akting dan lagu-lagu indahnya. Saya juga memberi applause untuk debut penyutradaraan Bradley Cooper di film ini.

Bagaimana menurut kamu?

Radio announcer. Average in everything.

10 Comments

  • BaRTZap

    Duh, aku masih belum bisa move on dari film ini. Sejak nonton sampai hari ini, dua lagu itu (Shallow dan I’ll Never Love Again) masih aja aku putar berulang-ulang.

    Jujur, awalnya agak skeptis waktu diajakkin temen buat nonton film ini. Bradley Cooper, okelah di beberapa film dia terbukti keren aktingnya. Lady Gaga? Hmm selama ini aku gak terlalu suka sama dia. Dan merasa kalau dia itu tipe gadis ‘yang agak-agak terganggu’. Tapiiii setelah nonton film ini. Aku harus akui, Lady Gaga itu sangat bertalenta dan keren. Suaranya kece, aktingnya natural dan pas! I am her new fans now 😀

    Aku juga gak nyangka kalau Bradley Cooper bisa nyanyi dengan sangat bagus. Aku sempat nonton video wawancara dia yang berbahasa Perancis waktu dia promosi film itu di sana. Dan dia cerita, kalau dia gak pernah nyanyi (secara serius) sebelumnya. Tapi diakui dia pernah ikut kursus vokal. Dan hasilnya? Voila! Suaranya bagus dan punya karakter sendiri.

    Aku setuju kalau tahun depan mereka dan film ini cukup pantas untuk masuk (setidaknya) ke dalam beberapa nominasi Golden Globe dan Academy Award. Malah menurutku, mereka juga punya kans untuk memenangkannya.

    Setidaknya film ini pantas dinominasikan untuk: Best Picture, Best Director, Best Actor, Best Actress, dan Best Original Song. Oh iya, plus satu lagi Best Supporting Actor. Manajernya Ally khan nyebelin banget! 😀

    Terlepas dari ada beberapa bagian yang terlalu lambat dan meloncat-loncat seperti yang dirimu tulis di atas, aku rasa ini adalah salah satu film terbaik yang ditayangkan tahun ini.

    • nunoorange

      Hahaha. Iya manajernya Ally is so annoying. Tapi justru dari situ aku jadi tahu kalo industri hiburan emang kejam ya. Kadang artis melakukan sesuatu yang “nggak dia banget” demi profit. Makanya kan banyak artis yang akhirnya keluar label karena perbedaan kreativitas. Kita lihat saja apakah di Oscar tahun depan dia akan dapat nominasi. :))

      • BaRTZap

        Iya betul. Jadi ingat salah satu artis Indonesia yang sekarang lagi berusaha go internasional. Dulunya sweet, sekarang jadi agak-agak gimana. Lalu aku ingetin diriku sendiri, yaaa mungkin dia dituntut untuk jadi begitu supaya maju di sana 😀

        Yup, mari kita tunggu Oscar tahun depan.

Terima kasih sudah baca sampai selesai. Boleh tinggalin sedikit komentar nggak? Nanti saya kunjungi balik deh. Link Hidup akan dihapus ya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: