Ketika saya mendapat undangan dari Mbak Anggun - seorang rekan wartawan dari IDN Times - untuk menghadiri sebuah acara yang diadakan di Oud N New Kota Lama, saya langsung mengiyakan. Tumben sekali saya mau menunda kepulangan rutin saya ke kampung dan memilih untuk menghadiri acara tersebut. Dan ternyata saya tidak menyesal sama sekali dengan keputusan yang saya ambil.

Sebuah acara sederhana yang diadakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila bertajuk Mustika Rasa On Stage, memberikan saya insight baru tentang dunia kuliner Indonesia. Yang tidak hanya tentang ragamnya saja tapi juga berhubungan dengan kebanggaan kita sebagai bangsa.

Presiden Soekarno dan Makanan

Satu hal yang menarik dari acara itu adalah tentang bagaimana Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno, sangat cinta pada makanan khas Indonesia. Makan tidak hanya sekadar menjadi sebuah kebutuhan bagi beliau, tapi kegiatan menikmati hidangan juga menjadi sesi untuk ngobrol dan bersenda gurau bersama dengan orang-orang yang dekat dengannya.

Tidak hanya itu saja, meja makan menjadi tempat yang dianggap strategis bagi Soekarno untuk membicarakan urusan-urusan politik, baik dengan rekan senegara atau tamu kehormatan dari negara lain.

Dalam kata pengantarnya untuk buku Mustikarasa : Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno, sejarawan JJ Rizal menyebutkan kalau Presiden Soekarno menganggap meja makan sebagai podium dan panggung untuk mendukung keberhasilan dari siasat-siasat diplomasinya pada saat itu.

Bahkan tidak jarang Soekarno terjun langsung dalam pengurusan acara tamu negara di Istana Kepresidenan. Saat itu beliau meminta supaya koki istana tidak hanya menyuguhkan makanan khas dari Eropa saja seperti yang sudah biasa dilakukan saat istana masih dikuasai Belanda, namun juga mulai memperkenalkan ragam makanan khas Indonesia.

Dengan bangga Soekarno juga memperkenalkan kuliner-kuliner favoritnya yang dijual oleh rumah makan langganannya untuk disuguhkan kepada tamu dari negara lain.

Politik Pangan dan Mustikarasa Sebagai Buku Petunjuk

Kondisi Indonesia di tahun 1950-an memicu keprihatinan Soekarno ketika Indonesia yang semula menjadi pengekspor beras, justru mengimpor bahan makanan tersebut. Bahkan nilainya semakin meningkat setiap tahunnya. Ketergantungan masyarakat Indonesia pada nasi memang menjadi sebuah kekhawatiran mengingat sebenarnya negeri ini sangat kaya akan bahan makanan pokok selain beras.

Itulah kenapa Presiden Soekarno menginginkan Indonesia untuk kembali percaya pada kekuatan sendiri seperti politiknya di tahun 1927 yaitu self-reliance.

Maka dari itu melalui Dewan Perencanaan Nasional pada 1959 sampai 1964 Presiden Soekarno menggiatkan kembali perlunya self-supporting dibidang pangan dan mengumpulkan para ahli untuk membantunya menyusun sebuah buku petunjuk yang kemudian diberinama Mustikarasa.

Menariknya, Mustikarasa dibuat sebagai buku resep yang sangat lengkap dengan berbagai informasi penting seputar pangan. Tidak mengherankan mengingat tidak hanya resep masakan saja yang dikumpulkan dari seluruh daerah di Indonesia, tapi para ahli yang dikumpulkan oleh Soekarno pada waktu itu memberikan masukan informasi seputar bahan pangan yang ada di Indonesia.

Mustika Rasa On Stage

Bisa dikatakan bahwa buku Mustikarasa yang disusun Soekarno bersama dengan para ahli pada masa kekuasaannya adalah sebuah warisan dari politik pangan yang digagasnya. Sayangnya setelah itu - seperti tulisan JJ Rizal - tidak pernah lagi ada ikhtiar dari presiden yang berkuasa setelah Soekarno untuk menggerakkan negara dan membangun politik dengan makanan.

Dan jadilah Mustikarasa menjadi buku resep masakan yang ditelan zaman.

Sampai kemudian ada gagasan untuk menghadirkan kembali bagian dari sejarah ini dalam sebuah acara ringan berjudul Mustika Rasa On Stage. Program yang memperkenalkan kembali buku resep warisan Soekarno dan mengingatkan kembali tentang pentingnya untuk percaya pada kekuatan bangsa sendiri melalui kekayaan kuliner yang dimiliki.

Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, dan Komunikasi bekerjasama dengan Jaringan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila mengadakan acara Pembudayaan Ideologi Pancasila dan Gotong Royong melalui pendekatan kuliner seperti yang digagas oleh presiden pertama Republik Indonesia sebagai bagian dari usaha kedaulatan pangan negeri ini.




Acara yang diselenggarakan secara sederhana dan santai ini dihadiri oleh Ibu Hevearita Gunaryanti Rahayu atau yang biasa dipanggil Mbak Ita selaku Wakil Walikota Semarang, Bapak Ir. Prakoso M.M selaku Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan jaringan BPIP, Ibu Dr. Irene Camelyn Sinaga, AP.,M.Pd. selaku Direktur Jaringan dan Pembudayaan BPIP, JJ Rizal sebagai sejarawan, juga Hardian Eko Nurseto finalis Masterchef Indonesia season 8.

Mustika Rasa On Stage di Semarang adalah rangkaian pertama dari acara serupa yang rencananya akan diselenggarakan di berbagai kota besar di Indonesia. Menjadi sebuah kehormatan bagi Semarang sebagai tempat dimulainya Mustika Rasa On Stage, mengingat Semarang adalah kota yang kaya akan akulturasi budaya termasuk dibidang kulinernya.

Bagian yang tidak kalah menarik dari rangkaian acara ini tentu saja adalah demo masak oleh Hardian Eko Nurseto atau Chef Seto yang merupakan finalis dari program Masterchef Indonesia season 8 lalu.

Chef Seto yang juga punya saluran Youtube yang menayangkan berbagai resep dari buku Mustikarasa ini mendemonstrasikan salah satu resep yang ada di buku tersebut yaitu Perkedel khas Ambon.

Perkedel Khas Ambon Yang Mudah Membuatnya dan Enak Rasanya!

Sebuah pengalaman yang menyenangkan bisa melihat proses pembuatan perkedel khas Ambon yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Selama ini yang saya tahu, perkedel itu ya hanya kentang dan juga jagung, yang dibuat dengan dikepal-kepal bentuk bulat. Tapi kali ini saya melihat perkedel khas Ambon yang ternyata mudah cara membuatnya dan enak rasanya.



Kebetulan saya juga diminta untuk mendampingi Chef Seto membacakan resep yang ada di halaman 673 buku Mustikarasa itu. Saya jadi tahu kalau bahan untuk membuat perkedel ini sangat sederhana dan mudah didapatkan di sekitar kita.

Hanya butuh ikan kembung, tepung jagung, daun bawang, seledri, kelapa parut halus, telur, dan bumbu halus yang terdiri dari kemiri, ketumbar, dan jintan.

Cara membuatnya pun tidak begitu sulit. Ikan kembung hanya perlu dipanggang sebentar di atas wajan dengan sedikit minyak, lalu disuwir-suwir sampai halus. Semua bumbu dan bahan dicampurkan lalu dimasukkan ke dalam cabai merah besar atau cabe hijau besar yang sudah dibuang bijinya, lalu digoreng dengan minyak panas.



Rasanya? Enak meski tanpa bahan tambahan lain seperti kaldu ayam bubuk atau vetsin! Rasa alami dari bahan pembuatnya benar-benar membuat Perkedel Ambon ini layak disajikan untuk lauk bagi seluruh anggota keluarga. Rasanya gurih, manis, dengan citarasa jintan yang sedap, dan tidak terlalu pedas sehingga bisa dinikmati oleh mereka yang tidak terlalu suka dengan masakan pedas.

Hadiah Buku Mustikarasa Yang Sangat Berkesan!

Ketika saya menerima undangan dan membaca keterangan bahwa mereka yang hadir berkesempatan untuk mendapatkan buku resep Mustikarasa secara gratis, saya sudah bersiap-siap. Pokoknya kalau nanti ada kuis atau sesi tanya jawab yang berhadiah buku ini, saya harus mengajukan diri.

Tapi sepertinya prosesnya tidak sesusah itu. Ketika Ibu Irene yang juga bertindak selaku pembawa acara meminta saya untuk maju sebagai salah satu perwakilan dari Bloger untuk menerima apron, beliau juga menyebutkan kalau buku Mustikarasa juga akan diberikan kepada saya secara simbolis sebagai tanda dibukanya acara Mustika Rasa on Stage.

Ada 2 buku yang dibagikan pada acara sore itu, satu kepada saya dan satu lagi untuk perwakilan dari Wartawan yang diwakili oleh wartawan detik online.



Tadinya saya masih belum percaya kalau buku ini bisa saya bawa pulang. Tapi setelah tahu kalau buku ini bisa saya miliki, Ya Tuhan, senang sekali donk saya ini!

Sebagai orang yang suka berkutat di dapur, buku resep Mustikarasa ini memberikan sebuah tantangan baru yaitu mengulik resep-resep asli dari negeri sendiri yang jumlahnya tidak sedikit itu. 1600 buah resep yang meskipun saya tahu tidak semua bisa saya coba. Tapi banyak resep yang ada di dalamnya sungguh mengundang untuk dipraktikkan.

Dan saya tidak sabar untuk mencobanya segera!

Sebuah Penutup



Yang pasti keputusan saya untuk tidak pulang kampung Jumat lalu sungguh sebuah keputusan yang tepat. Selain bisa berkumpul kembali dengan teman-teman bloger yang juga hadir di acara tersebut, saya bisa belajar sesuatu tentang kuliner Indonesia dan sejarahnya. Tidak hanyak sejarah dari makanannya sendiri tapi juga tentang apa itu Mustikarasa dan bagaimana latar belakangnya. Dan kita harus bangga karena kita punya itu semua.

Lebih menyenangkan lagi karena saya bisa membawa pulang buku resep yang sangat berharga ini.

Terima kasih banyak, Panitia! :D

0 Comments