Bohong banget kalau pandemi seperti sekarang tidak mengubah kebiasaan harian atau berdampak apa-apa terhadap kehidupan. Nggak usah jauh-jauh melihat bagaimana kehidupan orang lain berubah, lha wong kehidupan saya sendiri pun terdampak.

Yang paling terasa saat ini adalah soal jam kerja yang masih belum normal seperti sebelumnya. Meskipun sebenarnya tidak kena imbas langsung dari pandemi, tapi kantor tempat saya bekerja terpaksa harus melakukan penghematan demi bisa bertahan.

Gara-gara jam kerja dipotong, penghasilan pun ikut menyesuaikan. Dari sini saja sudah banyak hal yang berubah. Saya harus pintar-pintar mengatur duit demi tidak tekor sampai gajian berikutnya.

Dan karena itu pula saya harus mengubah budgeting bulanan dengan terpaksa menghapus kebutuhan untuk kos.

Ya, pada akhirnya bujet bulanan untuk indekos terpaksa harus dihapus karena kalau dihitung-hitung jumlahnya juga lumayan. Apalagi sejak direnovasi biaya kos dinaikkan beberapa ratus ribu. Agak berat memang.

Lagipula jika dipertimbangkan, agak eman-eman juga kalau tetap bertahan di kos-kosan. 

Jam kerja saya di kantor hanya 2 hari seminggu yaitu Senin dan Selasa. Selebihnya saya harus kerja dari rumah. Dan kesempatan ini biasanya saya gunakan untuk mudik dan bekerja dari kampung halaman. Otomatis kos-kosan jadi enggak kepake.

Sayang juga bayar tapi jarang ditempati. Ya, selama work from home ini saya memilih jadi pelaju. Apalagi saat ini saya memang harus sering-sering pulang untuk menengok ibu dan 2 keponakan di sana.

Keputusan untuk keluar dari kos dan menjadi pelaju paruh waktu antara Pekalongan-Semarang juga disebabkan karena bulan lalu adik saya berpulang setelah hampir setahun berjuang melawan kanker payudara. Dia meninggalkan 2 anak yang masih kecil dan terpaksa harus dibawa pulang ke kampung halaman karena di Salatiga tidak ada yang merawat.

Saat ini 2 keponakan saya ini tinggal bersama Ibu di kampung dan saya harus pulang seminggu sekali untuk menengok keadaan mereka.

Lalu kalau sudah tidak indekos, saya tidur di mana?

Saya sih tidak terlalu kawatir untuk hal yang satu ini. Kebetulan saya ini sudah terbiasa tidur di kantor sejak zaman saya masih kerja di Pekalongan dulu. Saya sudah terbiasa menginap di kantor selama beberapa hari karena tugas siaran yang menuntut saya untuk tinggal di kantor.

Zaman dulu saya biasa tidur di mana saja selama ada tempat nyaman untuk merebahkan diri. Di karpet ruang rekaman atau di kursi panjang ruang rehat saya bisa tidur dengan nyenyak. Terlebih lagi di tempat kerja yang sekarang space-nya luas banget. Mau tidur di mana saja bisa. Hahahaha.

Cuma memang jauh berbeda dibandingkan kalau harus tidur di rumah sendiri. Kalau di kantor biasanya saya tidur di lantai dengan alas kasur tipis milik bersama. Kalau di rumah kan saya bisa tidur di atas dipan. Kalaupun tidur lesehan, kasur di rumah jauh lebih tebal dibanding kasur di kantor.

Jadi pelaju itu berat nggak sih?

Saya sih ngerasa biasa-biasa saja. Mungkin karena saya ini pelaju paruh waktu yang artinya tidak setiap hari bolak-balik dari rumah ke tempat kerja dan menempuh jarak yang jauh.

Apalagi saya cukup punya banyak waktu di rumah sebelum kembali ke tempat kerja. Jadi masih ada cukup waktu untuk menghemat tenaga.

Tapi ya tetep lah ya kadang capek juga walaupun kalau sudah duduk di kereta biasanya saya gunakan waktu 1 1/2 jam perjalanan untuk tidur. Terlebih lagi jika saya ada tugas malam di hari saya berangkat ke Semarang. 

Saya terbiasa berangkat ke Semarang pada Minggu sore dan malam harinya masih harus siaran menemani pendengar sampai dini hari. Lalu besoknya masih harus bangun pagi dan kerja seperti biasa. Kebayang kan capeknya?

Biasanya kalau sudah begini Senin pagi pasti badan agak "remuk". Ngantuk dan masuk angin sudah jadi hal biasa. Paling-paling kalau sudah begitu saya banyakin minum yang anget-anget selama seharian dan menyempatkan tidur siang saat jam istirahat.

...

Menjaga daya tahan tubuh di masa pandemi seperti sekarang memang bukan perkara gampang. Terlebih jika masih harus ke sana ke mari karena urusan pekerjaan atau hajat hidup harian yang memaksa kita masih harus keluar rumah dan bertemu dengan banyak orang.

Mematuhi protokol kesehatan yang disarankan seperti memakai masker bersih setiap kali keluar rumah, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir sesering mungkin, atau menjaga jarak aman dengan orang lain.

Lalu masih ada perintilan-perintilan lainnya seperti rajin minum vitamin, berolah raga meski hanya olah raga ringan, rajin minum jamu, istirahat yang cukup, enggak stress, dan masih banyak lainnya. 

Repot? Iya. Tapi memang harus begitu demi tetap sehat selama pandemi.

Dan jujur saja, selama pandemi ini saya jadi rajin konsumsi rempah-rempah lho? 

Kalau di rumah, biasanya saya suka merebus air dengan kayu manis, jahe, dan sereh sebagai minuman penghangat badan. Kalau kebetulan persediaan madu masih ada, saya tambahkan madu sebagai pemanis. Tapi kalau tidak ada ya biasanya saya minum begitu saja selama masih hangat.

Hanya saja kalau di kantor proses merebus ramuan rempah tadi jadi agak repot meski di sana ada dapur yang bisa digunakan. Tetap dong ya, enggak bisa sebebas kalau di rumah sendiri.

Biasanya sih saya pilih ramuan yang agak praktis. Paling-paling cuma rimpang jahe yang diiris-iris lalu disiram air panas dari water heater yang tersedia di kantor. Meskipun enggak se"nendang" kalau bikin di rumah, tapi lumayan juga bisa bikin perut hangat.

Cuma, kalau lagi males banget ke pasar dan beli rimpang jahe, ada yang jauh lebih praktis yaitu Sari Jahe dari Herbadrink. Kalau saya lebih senang varian yang sugar free karena kebetulan saya nggak terlalu suka yang manis-manis.




Saya bilang jauh lebih praktis karena nggak harus ngupas dan mengiris rimpang jahe-nya. Tinggal buka sachet-nya lalu tambahkan air panas atau hangat dari dispenser, lalu aduk. Jadi deh. Manfaat yang sama bisa dirasakan dengan usaha yang lebih mudah.

Dan yang saya suka dari produk ini adalah hangat dan pedasnya jahe yang sangat terasa seperti ramuan jahe yang biasa saya buat di rumah. Produknya juga bisa didapatkan dengan mudah dengan harga yang terjangkau.

...

Saya tahu kalau nggak mungkin kita hanya mengandalkan rempah-rempah sebagai satu-satunya penjaga daya tahan tubuh karena faktornya tentu saja banyak banget. Tapi setidaknya rempah seperti rimpang jahe bisa bikin perut jadi enakan. Kalau perut sudah nyaman, badan juga bisa ikutan nyaman. Ya nggak sih?

Makanya nggak heran kalau Jahe adalah teman setia para pelaju. Setuju kan?

0 Comments