Beberapa hari yang lalu tim dari Gajahmada FM meliput sebuah rumah baca di sekitaran Boja Semarang. Rumah baca yang diberinama Pondok Maos Guyub ini didirikan 13 tahun lalu oleh seorang pegiat sastra bernama Sigit Susanto.

Bertempat di rumah yang berada di sekitar desa Bebengan Kecamatan Boja, rumah baca ini memiliki koleksi buku dari berbagai bahasa. Tidak jarang rumah baca ini dijadikan rujukan untuk mereka yang mencari bahan literasi untuk karya tulis.

Lebih lengkapnya kamu bisa lihat hasil liputannya di sini.

Hari Aksara Internasional dan Peringkat Minat Baca Indonesia

Menonton tayangan liputan tadi mengingatkan saya bahwa saya ingin sedikit menulis curhatan pribadi dengan tema literasi.

Menulis tema soal literasi di postingan kali ini memang ada hubungannya dengan Hari Aksara Internasional yang akan diperingati tanggal 8 September besok. Hari Aksara Internasional atau Hari Melek Huruf Sedunia ditetapkan oleh Unesco pada 17 November 1965. Peringatan ini ditujukan untuk mengingatkan kita bahwa melek aksara ini sangat penting bagi kehidupan.

Bayangkan saja kalo kita nggak bisa baca? Kita pasti akan sering dikerjain orang. Betul?

Di Indonesia sendiri angka literasinya terhitung cukup lumayan. Kalau merujuk pada tulisan yang ditayangkan di laman Kemendikbud, angka literasi Indonesia saat ini sudah mencapai 98%. (Klaimnya bisa kamu baca di sini).

Sebuah capaian yang membanggakan tentunya. Mengingat gerakan bebas buta aksara merupakan gerakan yang selalu jadi bagian dari program Pemerintah untuk membebaskan warganya dari buta baca dan tulis sejak dari zaman kemerdekaan dulu.

Tapi dengan bebasnya masyarakat Indonesia dari buta aksara lantas membuat masyarakat Indonesia jadi melek literasi? Tidak juga.

Menurut laporan yang dirilis oleh UNESCO, Indonesia berada di urutan kedua terbawah soal literasi. Artinya, minat baca warga Indonesia masih terbilang sangat rendah.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa minat baca kita masih 0,001 %. Artinya dari 1000 orang hanya 1 orang yang gemar membaca. Klaimnya bisa dibaca di sini.

Kecewa dan nggak terima dengan laporan ini? Nggak usah. Karena nyatanya memang begitu.

Berapa banyak dari kita mau membaca sebuah ulasan hingga tuntas dan tidak hanya berhenti sampai judulnya saja? Nyatanya banyak kejadian yang bermula dari sebuah berita tidak jelas nan provokatif dan berhasil memancing keributan. Padahal judul berita dan isi tulisannya sama sekali tidak berhubungan. 

Tapi banyak dari kita yang sudah keburu reaktif.

Atau pernah ketemu sama orang yang keburu menanyakan tentang informasi yang jelas-jelas sudah tertulis lengkap di keterangan instagram post atau tulisan di blog? Dan kita hanya menjawab, "silakan dibaca dulu. Di kepsyen sudah ditulis kok".

Itulah bukti nyata bahwa kita masih berhak untuk berada di urutan paling bawah soal literasi.

Telepon Pintar dan Berkurangnya Minat Baca

Mungkin kamu pernah mendengar pendapat tentang telepon pintar yang tak juga membuat penggunanya semakin pintar? Pendapat ini terbilang ada benarnya.

Dalam tayangan liputan dari Gajahmada FM disebutkan bahwa pengelola mengeluhkan kurangnya minat masyarakat untuk mengunjungi rumah baca yang didirikannya.

Orang-orang lebih senang menekuni telepon pintarnya ketimbang membaca buku. Tidak ada masalah sebenarnya, sepanjang gawai tersebut memang digunakan untuk lebih menambah wawasan. Tapi nyatanya banyak yang menggunakannya hanya untuk sekadar mencari hiburan.

Indonesia terkenal sebagai salah satu negara dengan pengguna telepon pintar terbesar di dunia. selain China, Amerika, dan India, Indonesia mencatatkan angka lebih dari 100 juta pengguna telepon pintar.

Masih dari tulisan yang diterbitkan di laman Kemenkominfo, pengguna telepon pintar di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 9 jam untuk menatap layar telepon pintarnya sementara minat baca terhadap media konvensional semakin menurun.

Tidak heran jika kita banyak menjumpai media-media konvensional seperti media cetak mulai bertumbangan dan beberapa dari mereka mengalihkan bisnisnya ke media daring.

Orang Indonesia juga disebut sebagai warga dunia maya yang paling cerewet kelima di dunia. Pengguna twitter di Jakarta tercatat paling sering berkicau bahkan jika dibandingkan dengan mereka yang ada di New York maupun Tokyo.

Menarik sekali ketika membaca tulisan di laman Kemenkominfo tersebut tentang bagaimana pengaruh tingginya penggunaan telepon pintar dan rendahnya minat baca masyarakat.

Saya kutip, "Coba saja bayangkan, ilmu minimalis, malas baca buku, tapi sangat suka menatap layar gadget berjam-jam, ditambah paling cerewet di media sosial pula. Jangan heran jika Indonesia jadi sasaran empuk untuk info provokasi, hoax, dan fitnah. Kecepatan jari untuk langsung like dan share bahkan melebihi kecepatan otaknya. Padahal informasinya belum tentu benar, provokasi dan memecah belah NKRI."

Nah lho. Apakah kita termasuk yang sering terprovokasi dan termakan berita bohong akibat malas baca?

Saya dan Kegiatan Baca-Tulis

Pertanyaan yang mungkin muncul di kepala kamu tentang postingan ini adalah : Lalu, saya menulis begini apakah saya sendiri sudah melek literasi? 

Jawabannya tentu saja belum. Justru tulisan ini saya buat sebagai refleksi diri saya sendiri yang sampai sekarang pun masih sering malas membaca. 

Soal kebiasaan membaca (dan menulis) ini sebenarnya dulu tak separah sekarang.

Boleh dibilang minat baca saya waktu kecil sangat besar. Dibanding dengan teman-teman sebaya, saya yang paling rajin baca. Kalau menurut cerita dari Tante saya, sejak TK saya sudah senang baca koran pagi.

Saya juga senang baca novel-novel remaja seperti buku-buku karangan Enid Blyton seperti Lima Sekawan, atau Trio Detektif, dan manga seperti Kung-Fu Boy.

Saya bahkan sempat punya keinginan untuk memiliki perpustakaan pribadi setelah melihat koleksi buku milik guru Fisika saya. Padahal hanya 1 lemari ukuran sedang tapi menurut saya itu saja sudah keren.

Toko buku dan persewaan buku adalah taman bermain buat saya. Saya rela menyisihkan uang untuk membeli atau menyewa buku-buku seperti Wiro Sableng atau koleksi karangan RL Stine.

Kegiatan ini berlanjut sampai saya mulai bekerja. Keinginan untuk mengoleksi buku semakin besar seiring dengan mulai adanya penghasilan. Hampir setiap kali gajian saya selalu ke toko buku untuk menambah koleksi saya. Kebanyakan sih memang novel terjemahan dengan genre misteri, thriller, atau crime.

Tapi koleksi dari beberapa penulis daalam negeri pun pernah saya beli. Bilangan Fu karya Ayu Utami dan beberapa buku karya Dewi Lestari jadi penghuni tetap di lemari buku saya.

Dari kesenangan membaca ini saya sempat berhasil menerbitkan 2 karya cerita pendek di majalah HAI. Sayangnya saya tidak punya dokumentasi naskahnya sehingga tidak bisa saya tunjukkan di sini. Soft copy-nya pun entah ke mana. 

Tapi benar deh, dulu saya suka sekali menulis cerita pendek dan puisi. Banyak tulisan saya yang sempat dipublikasikan juga melalui blog Friendster. 

Buat saya membaca dan menuliskan sebuah cerita jadi semacam terapi. Dan buat saya waktu seakan melambat ketika saya sedang berkonsetrasi di dalamnya. 

Sayangnya sekarang semua kegiatan ini sudah jauh berkurang.

Kesibukan dan Ritme Kerja

Ya! Kesibukan. Sering jadi alasan dan kambing hitam dari berkurangnya keinginan untuk membaca dan menulis lagi. Ketika beban tugas makin bertambah (waktu itu), saya mulai kehilangan kesempatan untuk menikmati waktu dengan membaca dan menulis.

Kalaupun ada lebih sering digunakan untuk tidur karena saya merasa waktu luang ini harus digunakan untuk mengistirahatkan badan dan pikiran. 😁 Lalu semuanya kebablasan dan jadi sebuah kemalasan akut.

Saya sudah kehilangan kemampuan untuk berkhayal dan menuangkan imajinasi dalam sebuah cerita pendek misalnya? Atau sekadar menulis puisi galau pun sekarang seperti sudah tak ada tenaga.

Tapi jujur saya rindu.

Rindu menikmati waktu sendiri dengan lembaran-lembaran kertas dan kisah-kisah yang ditulis di atasnya. Rindu berkelana di dunia khayal melalui cerita petualangan, menangis karena kisah percintaan yang sedih, atau tegang saat membaca novel bertema kriminal dan misteri.

Buat saya membaca buku bisa memperlambat ritme.

Saat ini saya menyadari bahwa ritme kerja yang kadang amburadul membuat fokus saya berkurang terhadap hal-hal personal yang dulu menyenangkan. Waktu dan tenaga yang habis karena urusan pekerjaan membuat pikiran sering "melompat-lompat" nggak karuan.

Itulah kenapa saya mulai kembali mengunjungi lemari penyimpanan buku yang sudah lama tidak pernah lagi saya buka. Membersihkan debu-debu yang menempel di atas sampul-sampulnya dan mulai mengakrabi kembali. 

Dan memang benar, membaca kisah-kisah dalam buku itu membuat pikiran saya cukup tenang dan fokus menjadi lebih baik. Lompatan-lompatan dalam pikiran seperti dipaksa untuk melambat sampai kemudian berhenti.

Saya senang kondisi seperti itu.

Mungkin saat ini kebiasaan menulis dan membaca masih belum sepenuhnya kembali seperti dulu kala. Tapi saya sedang berusaha untuk berhenti membuang waktu hanya untuk menekuni smartphone saja tapi menggunakan waktu luang untuk sesekali "berkeliling dunia" lewat bahan bacaan dalam buku atau majalah.

...

Ada banyak faktor yang memengaruhi menurunnya minat baca pada diri saya. Kesibukan pekerjaan, merasa tidak punya waktu luang, hingga kemalasan yang menghinggapi selama bertahun-tahun adalah beberapa di antaranya.

Perubahan perilaku dari media konvensional ke media daring melalui telepon pintar juga menjadi penyebabnya. 

Diperlukan kesadaran, memang. Untuk kembali lagi menekuni kegiatan baca-tulis ini. Setidak-tidaknya meluangkan waktu untuk sebentar saja membaca.

Terkait dengan supaya kita tidak mudah termakan berita bohong, setidaknya dengan meluangkan waktu sebentar saja untuk membaca kita bisa :

  • Memahami apa yang tertulis dalam sebuah kabar yang kita terima melalui tautan-tautan yang dikirimkan, misalnya.
  • Meluangkan waktu untuk mencari sumber tulisan tersebut dan mengonfirmasi kebenarannya.
  • Memutus mata rantai penyebaran berita bohong yang berpotensi meresahkan
  • Memiliki dasar untuk meluruskan sesuatu seandainya kabar tersebut tidak benar 
Dan semuanya itu bisa dimulai dengan menumbuhkan kembali minat baca dalam diri kita.

Sesederhana itu sebenarnya.

0 Comments