Ini adalah tangkapan layar dari unggahan di Instagram Story milik teman saya. Namanya Ega. Dulu dia yunior saya di radio dan saat ini bekerja di sebuah bank nasional. 



Instagram story ini langsung membuat saya kepo. Meskipun sudah tidak bekerja di tempat yang sama tapi kami masih cukup sering berinteraksi melalui media sosial. Saya sering menanggapi beberapa story yang dia unggah melalui akun instagramnya, termasuk yang satu ini.

Sambil menunggu kereta saya datang di stasiun Pekalongan, kami mulai ngobrol melalui Direct Message soal awal mula dia bisa masuk ke Wisma Atlet dan menginap di sana selama 12 hari.

Berawal dari makan bersama

Ega memulai cerita dari mana dia bisa tertular Covid-19. Awalnya dia dan 3 orang temannya makan seafood di sebuah rumah makan. Setelah itu keempatnya mengalami gejala yang sama yaitu batuk dengan sakit di tenggorokan.

Mengingat keadaan sedang seperti ini mereka berempat pun mengambil tindakan cepat dengan melakukan rapid test untuk mengetahui apakah keluhan yang dirasakan berhubungan dengan Corona atau tidak.

Dari rapid test yang dilakukan hasilnya Ega dinyatakan non-reaktif sementara teman-temannya reaktif. Merasa tidak yakin karena mengalami gejala yang sama Ega berinisiatif melakukan PCR Test secara mandiri dan hasilnya dinyatakan kalau Ega positif Covid-19.

Berbekal KTP dan surat keterangan hasil PCR Test / Swab Ega meluncur ke Wisma Atlet yang memang digunakan sebagai tempat perawatan darurat Corona selama di Jakarta. 

Kenapa Wisma Atlet? Karena menurutnya dia tidak mengalami gejala berat seperti gangguan pernafasan sehingga dia merasa masih cukup kuat untuk menjalani perawatan di Wisma Atlet. 

Sekadar info saja kalau menurut cerita Ega, gelaja-gejala yang dirasakan adalah sebagai berikut :

  • sakit tenggorokan
  • kehilangan kemampuan untuk mengecap
  • kehilangan kemampuan untuk membaui aroma
  • demam (makin meninggi saat malam hari)
  • nyeri sendi
  • diare
  • dan nyeri di ulu hati
Kebetulan Ega memiliki riwayat sakit maag sehingga nyeri di ulu hati pun dirasakan. 

Gejala-gejala yang dirasakan oleh Ega dan teman-temannya memang bervariasi tapi beberapa symptom yang umum dirasakan adalah batuk, sakit tenggorokan, demam dan kehilangan kemampuan di indera pengecap dan pembau.

Dirawat selama 12 hari

Maka dimulailah rangkaian perawatan di Wisma Atlet Jakarta selama kurang lebih 12 hari.

Sebelum dirawat dia melakukan beberapa pemeriksaan terlebih dulu seperti pengambilan sampel darah, EKG, dan roentgen. Dari hasil pemeriksaan hasilnya tensi darahnya cukup tinggi karena beberapa malam sebelumnya dia mengalami susah tidur akibat gangguan tenggorokan dan demam.

Setelahnya Ega ditempatkan di kamar perawatan dengan 3 kamar. Tapi saat itu dia dirawat sendiri. Menurut ceritanya kamar ini bisa dihuni sampai maksimal 3 orang dan biasanya dalam 1 kamar penghuninya masih dalam 1 keluarga. Dan katanya, di Wisma Atlet banyak kluster keluarga yang dirawat termasuk anak-anak.

Ega menjelaskan kalau setiap hari dia dan pasien lainnya diwajibkan untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi, makan teratur selama 3 kali sehari, minum obat menurut resep dokter 3 kali sehari, dan melakukan pemeriksaaan roentgen untuk mengetahui kondisi organ dalam tubuh selama masa perawatan.

Beberapa tindakan lainnya adalah pengecekan saturasi oksigen untuk mengetahui kadar oksigen dalam darah dan cek tensi darah selama perawatan.

Oh iya, ngomongin soal obat, Ega mendapatkan banyak jenis obat selama masa perawatan. Di masa-masa awal ada 9 jenis obat yang harus diminum termasuk obat untuk hipertensi, obat demam, antasida untuk nyeri ulu hati, hingga obat anti-malaria untuk mengatasi demam yang naik turun, anti-biotik dan anti-virus.

Anti virusnya yang diminum waktu itu adalah Oseltamivir yang sebelumnya digunakan untuk mengatasi flu babi dan flu burung. Kalau Ega bilang menurut keterangan dokter, DNA dari Corona hampir mirip dengan DNA virus yang menyebabkan 2 penyakit itu.

Berangsur-angsur pulih 

Setelah seminggu menjalani perawatan dia berangsur-angsur mengalami perbaikan kondisi tubuh. Nyeri sendi hilang, demam juga sudah mulai hilang, indera pengecap dan pembau sudah mulai pulih. Hanya saja dia masih merasakan demam lokal di sekitar leher. Suhu tubuhnya normal tapi daerah sekitar leher panas. Dokter  menyarankan untuk rutin minum air hangat.

Ega merasa sudah mulai sehat dihari ke-6. Meski begitu pengobatan masih terus jalan hingga hari ke-8. Dan dia menjalani tes swab untuk yang kedua kalinya. Ketika hasilnya keluar 3 hari kemudian dinyatakan angka CT atau cycle threshold sudah di atas 35.

Menurut keterangan dari dokter cycle threshold adalah indikasi yang digunakan untuk memantau kemampuan virus menular ke orang lain. Jika angka CT-nya tinggi maka virus tergolong tidak memiliki kemampuan untuk menulari tapi masih mengendap dalam tubuh dan pasif.

Itulah alasan kenapa Ega diperbolehkan pulang pada hari ke 12. Jika dalam tes ditemukan angka CT masih di bawah 35 maka Ega diwajibkan untuk melakukan pengobatan tahap 2.

Ega termasuk beruntung karena bisa pulih dalam waktu yang relatif cepat. Salah satu temannya masih harus menjalani perawatan tahap 2 karena hasil pengecekan selama perawatan menunjukkan adanya pneumonia dan pembengkakan jantung yang terjadi karena tekanan darah yang bersangkutan tinggi dalam waktu yang relatif lama.

Paska keluar dari Wisma Atlet

Saya sempat penasaran dengan apakah mereka yang tertular Covid-19 otomatis sudah membangun antibodi dan tidak akan tertular lagi. Karena selama ini banyak orang termasuk saya yang punya pikiran seperti itu.

Ega bilang memang ada benarnya, tapi juga bisa jadi nggak selalu begitu kejadiannya.

Menurut keterangan dari dokter yang merawat, saat ini Covid-19 mengalami banyak mutasi yang membuat jenisnya jadi bermacam-macam. Jika seseorang tertular Covid-19 dan pulih makan tubuhnya akan memiliki pertahanan terhadap virus. Tapi jika jenis virusnya sama.

Potensi terjadi infeksi ulang masih ada jika suatu saat virus Covid-19 jenis lain masuk ke tubuh. Bahkan ada cerita bahwa seseorang bisa dirawat hingga 3 kali karena kasus infeksi ulang seperti ini.

Itulah kenapa Ega masih harus melakukan protokol kesehatan yang selama ini kita ketahui.
  • Rajin memakai masker dan mencucinya setiap 4 jam sekali (jika masker yang digunakan adalah masker kain)
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
  • Membawa hand sanitizer kemanapun dia pergi
  • Tidak melakukan aktivitas di luar ruang jika memang tidak mendesak
  • HARUS menjaga jarak dengan orang lain dan menghindari kerumunan
Selain itu untuk menjaga daya tahan tubuh dia rutin minum vitamin dan obat herbal seperti kapsul habatussaudah.

PCR Test, Swab, & Rapid Test

Oh iya, saya hampir lupa menuliskan bahwa dari cerita di atas saya jadi tahu bahwa PCR Test / Swab Test berbeda dengan rapid test. Dan akurasinya pun berbeda jauh. Dari pengalaman Ega didapat bahwa rapid test masih belum memberikan hasil yang cukup memuaskan dibanding PCR meskipun sebenarnya tingkat akurasi rapid test sendiri bisa mencapai 90%.

Saya mencari beberapa info soal ketiga jenis tes ini di Google. Rapid Test biasanya digunakan untuk mengetahui kadar antibodi atau antigen melalui pengambilan sampel darah melalui kapiler di jari atau vena di bagian lengan. 

Tes ini relatif lebih murah dan hasilnya bisa diketahui lebih cepat. Hanya saja dalam kasus Ega hasilnya belum memuaskan. Mungkin karena faktor belum terbentuknya antibodi saat awal sakit. Jika hal seperti ini terjadi dimana pasien dinyatakan non-reaktif maka harus dilakukan tes ulang pada 7-14 hari kemudian.

Sementara untuk PCR (polymerase chain reaction) test dan Swab test sebenarnya adalah rangkaian pengujian yang tidak bisa dipisahkan. Tes usap dilakukan dengan mengambil contoh cairan yang diambil melalui nasofaring dan atau orofarings. Keduanya terletak di saluran pernafasan (hidung dan tenggorokan). Sampel dari tes usap ini kemudian diteliti di laboratorium untuk mendapatkan hasil apakah yang bersangkutan positif Covid atau tidak.

Tes yang kedua ini harganya relatif lebih mahal dan hasilnya tidak bisa secepat rapid test karena rumitnya proses mengetahui apakah seseorang positif Covid-19 atau tidak. Namun untuk tingkat akurasi tes nya lebih baik dibandingkan rapid.

Menurut keterangan Ega, biaya PCR Test saat ini masih cukup mahal. Dari 2 kali melakukan tes usap mandiri dia harus merogoh kocek hingga 3 juta rupiah. 

Tidak semua rumah sakit melayani tes jenis ini. Tapi jika kamu mencari informasi soal rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan yang melayani PCR test / Swab test kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc yang bisa kamu unduh di playstore.

Halodoc adalah aplikasi layanan kesehatan yang memiliki banyak fitur. 

Salah satunya kita bisa mencari informasi soal rumah sakit terdekat mana saja (di Semarang misalnya) yang melayani rapid, swab, & PCR test lengkap dengan estimasi biayanya. 

Tidak hanya itu, kita juga bisa membuat janji temu untuk melakukan tes yang dimaksud melalui aplikasi Halodoc sehingga kita bisa menghemat waktu tunggu.

Selain bisa digunakan untuk berkonsultasi soal layanan kesehatan, kita juga bisa berbelanja kebutuhan obat dan vitamin di melalui aplikasi ini sehingga kita tidak perlu keluar rumah untuk berbelanja kebutuhan obat dan vitamin.

Belajar dari pengalaman

Mungkin ada benarnya kalau orang jadi menyepelekan soal Covid-19 ini sampai dirinya sendiri atau salah satu orang dekat mereka tertular dan harus menjalani perawatan dalam jangka waktu yang lama.

Pengalaman dari teman seperti Ega ini yang sebenarnya cukup membuka mata saya bahwa mengalami kejadian seperti ini sungguh sangat tidak menyenangkan.

Mungkin saja di mata orang lain saya termasuk tipe yang menyepelekan Covid-19 karena saya masih sering keluar rumah untuk beraktivitas. Masih menghadiri undangan gathering atau makan di luar. Saya yakin pasti ada yang berpikir begitu mengingat saya cukup rajin membagikan kegiatan saya melalui Instagram Story. 

Meskipun saat beraktivitas di luar saya masih menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan seperti memakai masker, membawa hand sanitizer, dan menjaga jarak aman dengan orang lain. Bahkan saat ini jika tidak melakukannya rasanya seperti terekspos dan tidak aman.

Tapi saya yakin pasti masih ada yang berpikir saya ini menyepelekan. Dan saya pikir itu sangat wajar.

Kewaspadaan akan bahaya Covid-19 memang sudah seharusnya ada mengingat rangkaian perawatannya yang sangat panjang dan "menyakitkan". Saya beri tanda kutip karena selain menyiksa fisik, keuangan pun turut merasakannya.

Belum lagi jika memang harus menjalani perawatan intensif, rasanya prosesnya begitu panjang dan melelahkan baik untuk fisik maupun mental.

Itulah kenapa cerita dari Ega jadi semacam pengingat buat saya untuk tidak kendor dalam menerapkan protokol kesehatan demi pencegahan. Karena kita tidak hanya sedang menjaga diri sendiri dari penyakit tapi juga orang-orang terdekat yang kita sayangi.

*cerita soal Ega sudah mendapatkan persetujuan dari yang bersangkutan untuk dijadikan bahan tulisan ini.

2 Comments

  1. Ya ampun, aku terenyuh sama ceritanya.
    Syukurlah Ka Ega nya sudah berangsur pulih sekarang.
    Makan bersama di luar ternyata memang mengerikan ya. Udah bisa jadi klaster juga kan sekarang. Aku kalo beli makan di warteg-an gitu sekarang juga suka ngeri, walaupun cuma beli dibungkus. :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Sekarang klaster resto banyak bermunculan. Meminimalisir risiko sih emang paling aman ya delivery service atau masak sendiri. Stay safe ya mbak

      Delete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.