Ketika membaca caption yang ditulis oleh Mbak Lusi @beyourselfwoman dalam salah satu postingannya saya jadi mikir,

"Iya juga ya? Ternyata kemerdekaan atau kebebasan kita tidak hanya direnggut oleh bom atom, tapi juga oleh sesuatu yang tidak kasat mata seperti Corona".

Seperti yang ditulis oleh beliau, kemerdekaan-kemerdekaan kecil direnggut selama beberapa bulan belakangan. Mau main ke mana jadi mikir, bahkan ke luar kota berkunjung ke rumah keluarga pun mikir-mikir.

Ya, memang nggak semua orang mikir begitu, tapi banyak kok yang sampai sekarang masih cukup khawatir dengan Corona. Apalagi kalau wilayahnya masuk ke dalam kategori zona merah atau hitam.

Jadi Bagian Dari Sejarah

Banyak orang mungkin tidak pernah menyangka bahwa mereka akan menjadi bagian dari sejarah dunia. Kisah-kisah masa lalu tentang wabah Flu Hitam atau cerita tentang pageblug, nyatanya dialami sendiri oleh banyak dari kita.

Ketika wabah SARS, MERS, atau Flu Burung sempat jadi bahasan mungkin banyak yang tidak terlalu ngeh karena nyatanya nggak seheboh ini meski sama berbahayanya. Apalagi sekarang sudah tersedia vaksin untuk 3 penyakit itu. Lha kalau Corona?

Ini yang masih diteliti dan dikembangkan sampai sekarang. Dan selama prosesnya masih berlangsung, kekhawatiran akan Corona masih tetap ada meskipun kelihatannya banyak orang tampak seperti nggak terlalu peduli.

Dan meskipun nanti vaksinnya ditemukan lalu kehidupan akan berlanjut seperti sedia kala, tapi kisah ini mungkin akan jadi cerita di masa mendatang untuk generasi-generasi berikutnya.

Dampaknya Masif

Nggak nyangka kan kalo Corona yang bikin heboh dari akhir tahun lalu ini bakal bikin kehidupan jadi agak morat-marit. Suasana jadi berbeda dari sebelumnya. 

Ngerasa nggak sih kalau momen-momen seperti puasa Ramadhan dan Lebaran baik Idul Fitri atau Idul Adha jadi berbeda dibanding yang sudah-sudah?

Puasa kemarin rasanya "sepi" karena aktivitas peribadatan dibatasi demi menghindari penularan. Begitu juga saat Idul Fitri kemarin, banyak orang terpaksa tak bisa mudik karena selain larangan yang diberlakukan, banyak moda transportasi tak beroperasi. Kalaupun ada syarat dan ketentuannya bikin repot. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan bisa berkali-kali lipat.

Intinya tahun ini suasana spesialnya jadi terasa agak ngenes.

Tidak hanya itu saja. Saat awal-awal wabah menyebar, banyak usaha yang terpaksa harus gulung tikar. Imbasnya ke pengurangan tenaga kerja. Kalaupun nggak dipecat, banyak yang dirumahkan sementara tanpa gaji, atau penghasilannya dipotong karena pemasukan perusahaan yang seret.

Lalu kondisi ekonomi juga terdampak. Corona membuat laju ekonomi jadi melambat. Banyak negara yang sudah masuk ke jurang resesi ekonomi, dan tidak terkecuali Indonesia yang terancam masuk dalam zona yang sama.

Ngeri dengar kata resesi? Saya sih agak deg-degan karena memang istilahnya emang seheboh dan se-ngeri itu. Kalau bicara soal ekonomi terpuruk tuh rasanya pikiran udah kemana-mana.

Itulah kenapa Indonesia sendiri seperti makan buah simalakama. Kalau nurutin apa yang seharusnya dilakukan saat wabah, seperti lockdown misalnya, kondisi bisa saja aman karena pergerakan warga jadi terbatas dan penularan bisa diminimalisir. Tapi bagaimana dengan kebutuhan warga? Kegiatan ekonomi mereka jadi terhambat.

Ya kalau negara bisa menjamin kehidupan warganya saat dikunci? Kalau nggak? Itulah kenapa jadi seperti buah simalakama.

Maka dari itu yang bisa dilakukan adalah menghimbau warganya untuk menjaga diri dengan menerapkan pembatasan di sana-sini, dan mengeluarkan aturan untuk pencegahan.

Perayaan 75 Tahun Indonesia yang "Sepi" dan Hikmah di Tengah Pandemi


Nah, apakah tahun ini di lingkunganmu seramai tahun lalu saat menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia?

Enggak seramai tahun lalu?

Ya sama.

Di sekitar saya pun juga begitu. Tahun ini tidak ada acara lomba-lomba dalam rangka menyambut HUT kemerdekaan. Kabarnya tahun ini juga tidak ada acara wungon semalam suntuk. Hanya selamatan sederhana seperti potong tumpeng dan doa bersama.

Alasannya sama : menghindari kerumunan yang berpotensi menyebarkan virus.

Ya, tahun ini kita memang harus banyak prihatin meski di suasana yang gembira sekalipun.

Tapi apakah kita jadi tidak bisa mengambil hikmah dari kejadian ini?

Tentu saja ada.

Saya pikir, keadaan saat ini juga bisa menjadi refleksi kita bersama. Ketika kecintaan terhadap tanah air dituntut untuk lebih dari sekedar ucapan, inilah momen yang tepat untuk menunjukkannya.

Dengan cara apa?

Dengan cara saling bahu-membahu mengatasi masalah yang saat ini sedang dihadapi oleh bangsa kita.

Urusan mengatasi Corona ini bukan semata-mata urusan pemerintah saja, tapi juga kita sebagai individu dan warga negara. Apa yang sudah diatur oleh pemerintah ya sebaiknya ditaati. 

Contoh sederhana seperti memakai masker saat beraktivitas di luar, rajin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, atau menghindari aktivitas yang mengundang kerumunan, ya sebaiknya ditaati.

Bukankah hal-hal seperti itu bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan?

Apa Yang Kita Lakukan Saat Ini Juga Wujud Cinta Pada Negara

Ketika Erick Tohir menanggapi tulisan media luar tentang bagaimana Indonesia dianggap gagal mengatasi Corona dengan komentar "Itu lucu dan tidak adil", mungkin ada benarnya juga. Karena negara seperti Amerika Serikat saja "ngos-ngosan" menghadapi wabah ini.

Tapi memang, dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, kondisi kita cukup memprihatinkan. Angka penderita yang semakin meningkat mungkin jadi sorotan dunia.

Dan kita memang tidak bisa memungkiri bahwa urusan mengatasi Corona ini jadi seperti perlombaan. Siapa yang paling bisa menekan angka penularan? siapa yang mencatat angka kematian paling sedikit? Siapa yang angka penurunan pertumbuhan ekonominya paling kecil? Dan siapa kira-kira yang akan pertama kali menemukan vaksin yang dinilai efektif dalam mencegah Corona?

Betul kan, jadi seperti kompetisi?

Kalau memang begitu adanya ya mau nggak mau kita sebagai warga negara harus ikut berpartisipasi aktif di dalamnya. Karena bagaimanapun, kita ini adalah perwakilan dan wajah dari sebuah negara.

Kalau kita bisa saling peduli dan bahu membahu dalam mengatasi masalah ini, kita pasti bisa. 

Bukankah kita sudah sangat akrab dengan nilai GOTONG-ROYONG yang selama ini jadi andalan kita dalam mengatasi masalah? Lalu saat seperti sekarang, kenapa tidak bisa diterapkan?

Jika partisipasi kecil kita dibutuhkan, kenapa sih tidak bisa kita lakukan?

Harapan Akan Selalu Ada

Saat negara-negara kawatir dengan kondisi ekonomi di masa pandemi seperti sekarang, Indonesia sendiri melalui Pemerintah percaya bahwa tahun depan semua akan membaik. Setelah dinilai lesu, proyeksi tahun depan dikabarkan cerah.

Meskipun tidak ada yang tahu tentang masa yang akan datang, tapi harapan akan selalu ada bukan? 

Gambaran positif yang disampaikan oleh pemerintah mungkin terdengar seperti Propaganda. Tapi saya sendiri melihat ini sebagai sebuah harapan. Semangat bahwa kita bisa kok mengatasi ini semua jika dilakukan bersama-sama.

Harapan bahwa semua akan membaik di tahun-tahun mendatang diharapkan tidak membuat kita lengah dan jadi selebor. Harapan tersebut bisa tercapai jika dan hanya jika kita berpartisipasi aktif di dalamnya.

Jadi, yok! kita bareng-bareng peduli. Pada diri sendiri, sekitar kita, keluarga, masyarakat, dan negara. 

Ini tidak mudah, tapi kita pasti bisa bangkit bersama.

Indonesia pasti bisa dan akan selalu bisa! Insya Alloh.

1 Comments

  1. Ahhh, aku jadi nangis..iya mari bersama-sama menumbuhkan harapan bahwa masa depan lebih baik dan kita akan melewati ujian ini dengan baik..aamiin..

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.