Beberapa hari yang lalu sempat rame soal tagar #IndonesiaTerserah di media sosial terutama Twitter. Dipicu oleh perilaku sebagian masyarakat yang terkesan mulai menggampangkan situasi pandemi saat ini. 

Adalah dokter Tirta, seorang dokter yang juga influencer yang menuangkan kekesalannya di media sosial miliknya ketika melihat bagaimana orang-orang tidak patuh pada anjuran untuk #dirumahsaja, atau melakukan social and physical distancing. 

Dia menuliskan tentang sebuah gerai makanan cepat saji mengumumkan penutupan gerai pertamanya di Indonesia dan orang-orang ramai berdatangan dan memadati tempat tersebut dengan alasan bernostalgia. 

Lalu soal Jakarta yang mulai melakukan relaksasi terhadapan aturan PSBB, bandar udara Internasional Soekarno-Hatta dipadati oleh pengunjung yang konon kabarnya akan mudik ke kampung halaman.

Padahal ketika aturan soal penggunaan transportasi umum mulai dilonggarkan, ada syarat-syarat khusus yang mungkin terasa memberatkan untuk mereka yang akan melakukan perjalanan. Mungkin dipikir bakalan sedikit yang bisa memenuhi syarat. Tapi nyatanya, antrian di bandara terlihat begitu mengular dalam beberapa hari ini.

Orang-orang pun kaget dengan situasi tersebut. 

Karena hal-hal itulah ada sementara orang yang merasa bahwa usaha untuk tetap tinggal di rumah selama 2 bulan belakangan jadi sia-sia. Lalu usaha tenaga medis yang selama ini mati-matian menangani korban pandemi, dan berharap aturan jaga jarak bisa memperlambat penyebaran virus, juga terasa percuma.

Dan kemudian muncullah tagar #IndonesiaTerserah itu.

DILEMA : BOSAN DI RUMAH TAPI KAWATIR SAMA CORONA


Saya rasa tinggal di rumah selama 2 bulan bukan perkara gampang. Rasa bosan pasti menghinggapi. Bahkan untuk orang introvert seperti saya pun bisa mati gaya ketika terlalu lama di rumah.

Dan akhirnya ketika situasi dirasa agak longgar sedikit, kita jadi seperti dapat ruang untuk bergerak bebas. Masalahnya, kita tidak sendiri. Ada banyak lainnya yang merasa ingin melakukan hal yang sama. Jadilah tumplek bleg  di tempat yang sama.

Saya masih ingat ketika Semarang memberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PKM, suasana jalanan begitu sepi. Keramaian menurun drastis, bahkan ketika malam minggu tiba. Banyak jalan protokol yang ditutup demi supaya ruang gerak masyarakat jadi terbatas. Harapannya mobilitas yang berkurang ini mampu menekan angka penularan.

Tapi sekarang, ketika makin dekat dengan lebaran, jalanan sudah mulai ramai kembali. Tempat-tempat umum sudah mulai didatangi oleh mereka yang 2 bulan lalu memilih untuk tinggal di rumah karena takut dengan Corona. Apalagi kabarnya mal sudah mulai buka. 

Tampaknya orang-orang sudah mulai bosan tinggal di rumah meskipun masih cukup kawatir dengan potensi penyebaran virus. Dilematis kan?

Saya juga lagi dilema nih! Mudik enggak ya?

Selama pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Semarang, saya memang menghindari tempat-tempat umum yang ramai. Saya memang masih keluar rumah untuk ke kantor, misalnya. Atau ke pasar, baik tradisional maupun moderen, untuk berbelanja kebutuhan selama #dirumahsaja.

Bahkan ketika kondisi mulai terasa longgar seperti sekarang pun saya masih belum mau jalan-jalan ke mal. Agak paranoid sih emang. Hehehe.

Oh iya, soal PKM sendiri masih diberlakukan sih. Di Semarang tiap malam ada patroli untuk menyisir jalanan, memperingatkan mereka-mereka yang masih berkeliaran di malam hari untuk segera pulang. Bahkan pedagang kaki lima pun dibatasi jam operasionalnya.

Tapi kalau siang? Jangan tanya ramainya. Banyak masyarakat yang sudah mulai berkegiatan untuk menyambut lebaran.

Ngomong-ngomong soal mendekati lebaran, biasanya ada banyak kegiatan yang berhubungan dengannya. Salah satunya adalah soal MUDIK. 

Siang ini saya mencoba membuat sebuah polling di akun instagram saya.




Dari 29 responden yang bersedia memilih, didapatkan bahwa mayoritas mengatakan tidak akan mudik. Meski nggak disebut alasannya, sudah pasti karena kawatir bisa membawa virus Corona ke kampung halaman.

Saya sendiri pun sebenarnya sedang bingung antara mudik atau tidak. Tadinya berpikir untuk tidak mudik saja, tapi Mamah Dedeh bilang kalau mudik juga enggak apa-apa.

Nah, masalahnya kantor cuma kasih libur 2 hari saja. Nanggung sekali ya saudara?

Makanya saya sedang cari cara gimana supaya Mamah Dedeh mau nerima alasan saya untuk tidak mudik tahun ini.

Kalau Cinta, Tunda Dulu Mudiknya.

Himbauan untuk tidak mudik selama pandemi terus dilakukan oleh Pemerintah dengan tujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Kalaupun masih nekat, ada hal-hal yang harus diterapkan sebagai bagian dari protokol kesehatan salah satunya adalah karantina mandiri di daerah tujuan segera setelah yang bersangkutan tiba.

Karena saat ini yang ditakutkan adalah Orang Tanpa Gejala atau OTG dimana mereka menjadi carrier atau pembawa virus walau tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Yang seperti inilah yang dikawatirkan menulari. Apalagi kalau di kampung adalah orang yang sudah lanjut usia atau berpenyakit bawaan.

Itulah kenapa dalam himbauannya selalu diselipkan soal pesan "kalau cinta, tunda dulu mudiknya." Iya, kalau kita peduli pada keluarga kita yang ada di kampung halaman kita harus bisa menahan diri untuk tidak mudik dulu sampai situasinya benar-benar aman.

Ya. Ada benarnya juga. Saat ini itulah yang dibutuhkan oleh Indonesia. Cinta. Kalau cinta dan peduli dengan orang-orang terdekat kita, sebaiknya himbauan tersebut dipatuhi. Toh nggak mudik sekali ini juga nggak masalah bukan? Masih ada cara lain untuk bertemu dengan keluarga yang jauh di sana.

Belajar hidup berdampingan dengan Corona di masa depan


WHO sudah bilang kalau sepertinya Corona tidak akan benar-benar hilang dari muka bumi. Konon kabarnya virus ini akan menjadi virus endemi di masa mendatang dan kita harus belajar untuk hidup berdampingan dengannya. Tapi setidaknya untuk saat ini, sampai vaksin dan obatnya ditemukan, kita bisa ikut membantu mengurangi laju penularannya.

Sepertinya itu juga yang jadi modal banyak orang untuk melonggarkan diri dari batasan-batasan yang selama ini diterapkan. Bisa jadi ini sebagai bagian dari praktik hidup bersama Corona? Dan apakah sudah saatnya dilakukan? Apakah tidak terlalu cepat untuk dimulai? Entahlah.

Yang saat ini penting adalah tetap melakukan apa yang saat ini selalu kita lakukan seperti misalnya kemana-mana pake masker, atau menjaga jarak saat di keramaian. Karena itu adalah sesuatu yang akan menjadi sebuah kenormalan yang baru. Di masa mendatang kita harus hidup bersisian dengan virus Corona seperti halnya dengan virus-virus penyakit lainnya.

Ya tapi walaupun begitu tetap saja kita harus menjaga diri baik diri kita sendiri maupun orang tercinta di sekitar kita supaya tidak tertular dan sakit. Caranya? Tentu saja dengan terus melakukan apa yang kita lakukan saat ini.

  • Rajin menjaga kebersihan diri dan lingkungan
  • Menjaga asupan makanan yang bergizi demi imunitas tubuh yang prima. Rajin makan sayur dan buah jadi salah satunya
  • Menggunakan masker sebagai bentuk perlindungan jika harus beraktivitas di luar rumah
  • Menjaga jarak dengan orang lain ketika berada di keramaian
Nah, kembali soal mudik. Apakah saya akan jadi mudik tahun ini?

Sepertinya tidak. Saya rasa Mamah Dedeh pasti mengerti meski sedih dalam hati. Tapi ya mau gimana lagi? Situasinya masih belum aman betul. Apalagi liburnya cuma beberapa hari. Jatuhnya malah repot nanti.

Kalau kamu sendiri bagaimana? Nggak mudik juga kan?

Ya emang gitu sih ya? Kalau cinta, tunda dulu mudiknya.









0 Comments