Menuliskan tentang Hari Tanpa Tembakau mungkin bukan perkara sulit mengingat saya bukan perokok. Tentu saja saya akan mendukung 100% gerakan ini. Tapi hidup di lingkungan yang orang-orangnya dekat dengan rokok membuat saya seakan-akan melawan teman-teman saya sendiri. Ini yang sulit.

Tapi tulisan ini dibuat dengan niatan "nothing against my fellow smoker". Mau ngerokok atau tidak, itu adalah urusan masing-masing.

Di mata teman-teman saya yang merokok, mungkin saya nggak akan paham betapa nikmatnya menjadi "ahli hisap". Dan saya setuju. Saya memang nggak akan paham di mana letak kenikmatan menghisap asap dari tembakau bakar. Jadi ya, pada akhirnya kami akan berdiri di sudut masing-masing.


kredit gambar dari WHO.

Bukan Perokok Tapi Hidup Di Lingkungan Para Perokok

Ayah saya bukan perokok, tapi keluarga besar ibu saya semuanya merokok. Mulai dari kakek dan om-om saya pun perokok aktif.

Apakah saya pernah mencoba merokok? Jawabannya iya. 

Tetangga saya punya bisnis warung nasi. Suatu hari ketika warungnya sudah tutup, teman saya, anak yang punya warung, mengajak saya dan beberapa teman untuk main ke rumahnya. Kebetulan waktu itu rumahnya sepi. Lalu dia mengambil sebatang rokok dari tempat penyimpanan dan menyalakannya.

Kami bergantian menghisap batang rokok itu. Saya bahkan masih ingat merek dari rokok yang kami nyalakan. Dan ketika sampai pada giliran saya, saya pun mencoba menghisapnya. Dan saya batuk-batuk hingga tak terkendali. Waktu itu saya panik mencari air minum karena dada rasanya panas, mulut terasa pedas dan reaksi pertama adalah mencari air minum.

Sejak saat itu saya kapok dan tidak pernah mencoba lagi.

Dan saya melihat teman-teman masa kecil saya pun tumbuh menjadi perokok aktif sampai sekarang.

Hidup berdampingan dengan perokok memang dibutuhkan banyak kesabaran. Dan seringnya para non-smokers inilah yang harus mengalah. Menyingkir ketika sudah terasa tidak nyaman dengan asapnya.

Usia Perokok Makin Muda

Ayah saya tidak pernah melarang saya untuk merokok meski dia sendiri bukan perokok aktif. Saya masih ingat beliau pernah bilang, "Kalau mau merokok, nunggu nanti kalo kamu udah kerja dan bisa cari duit sendiri." Nyatanya, sampai segede ini dan bisa cari duit pun saya tidak tertarik sama sekali.

Tapi kalau melihat bagaimana sekarang rasanya miris ya? Saya sering menyaksikan anak-anak SMP (bahkan SD!) yang sudah dengan bangga menghisap batang tembakau bakar saat mereka masih menggunakan seragam sekolah. Meski terkesan masih sembunyi-sembunyi tapi dari raut muka mereka, ada kebanggaan tersendiri ketika sudah berhasil menghisap dan menghembuskan asap nikotin.

Dan baru semalam teman saya mempertontonkan sebuah video yang dipasang di status whatsapp milik teman kerjanya. Isinya segerombolan anak kecil yang berkumpul dan dengan santainya menghisap batang-batang rokok. Dilihat dari gayanya, sepertinya mereka sudah sering melakukannya. Dan yang miris adalah ada beberapa orang tua yang berada di samping mereka membiarkan hal tersebut.

Makin ke sini usia perokok aktif di Indonesia memang makin muda ya? Atau tidak hanya di Indonesia saja?

Usia Muda Perokok Aktif Jadi Masalah Dunia

Di peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun 2020 WHO menyoroti masalah perokok aktif yang memulai kegiatan merokoknya dari usia dini dan menjadikannya sebagai isu global.

Selama berdekade-dekade WHO menyotori tentang usaha dari produsen rokok yang secara agresif atau diam-diam menyasar pasar generasi muda melalui berbagai cara. Tujuannya sama yaitu menarik minat anak-anak muda untuk mulai menyukai rokok.

Tahun ini WHO mengusahakan untuk menggencarkan kampanye tentang bahaya rokok dan berusaha untuk menyadarkan generasi muda bahwa rokok tidak memberikan keuntungan apapun kecuali memberikan masalah pada kesehatan.

WHO memiliki kampanye seperti :


  • Mengungkap taktik dan cara para produsen rokok dalam mengkampanyekan produknya melalui teknik pemasaran pada generasi muda. 
  • Memberikan banyak informasi kepada generasi muda supaya mereka tahu bahwa produsen rokok dan industri yang terkait memang memiliki niat untuk menggaet anak-anak muda sehingga mereka akan menjadi ketergantungan pada rokok
  • Mendorong para influencers untuk ikut mengkampanyekan tentang bahaya merokok

Bagaimana Cara Industri Rokok Memanipulasi Anak Muda?


Menurut WHO, ada beberapa cara dari produsen rokok dan pelaku industri terkait untuk menarik minat anak muda sehingga mereka menjadi perokok aktif. Di antaranya :

  1. Mengembangkan varian rasa yang semakin menarik minat anak muda. Varian rasa seperti rokok rasa permen karet akan membuat imej rokok yang merusak kesehatan menjadi kabur. Anak muda akan lebih tertarik dengan rasanya ketimbang efek buruk dari rokok tersebut.
  2. Menggunakan pembungkus yang atraktif dengan desain lebih ringkas. Produsen rokok semakin mengembangkan cara supaya rokok jadi barang yang bisa dibawa kemana saja, bahkan muat di dalam tas kecil. Itulah kenapa mereka semakin menekankan produknya sebagai barang yang sangat kompak dengan mendesain pembungkus yang makin hari makin ramping.
  3. Menjadi sponsor dari banyak kegiatan yang melibatkan anak-anak muda. Bahkan menggunakan orang-orang yang punya pengaruh kuat di kalangan anak muda untuk mempromosikan kegiatan tersebut.
  4. Mengatur tata letak produknya berdekatan dengan produk yang biasa dikonsumsi oleh anak-anak muda. Trik ini digunakan supaya produk rokok bisa diletakkan di dekat minuman-minuman bersoda, produk permen, atau makanan ringan. Mungkin di Indonesia tidak terlalu kelihatan menyolok, tapi rokok masih bisa dilihat dengan mudah oleh siapa saja bahkan oleh anak-anak sekalipun.
  5. Penjualan produk tembakau di warung-warung dekat sekolah. Biasanya penjualan rokok seperti ini dilayani ketengan atau bisa dibeli per satuan. Hal ini membuat rokok terasa jadi lebih murah sehingga anak sekolah pun mampu membelinya dengan uang jajan mereka.

Beberapa cara lainnya seperti menjadi produk sponsor di berbagai acara TV, Film, atau layanan streaming juga disoroti oleh WHO sebagai upaya produsen rokok untuk makin menarik minat anak-anak muda.

Lebih dari itu aturan yang ketat tentang penjualan rokok pun masih dipermasalahkan oleh Badan Kesehatan Dunia karena banyak negara dianggap masih terlalu longgar soal regulasi ini.

Minat Untuk Memulai / Mengakhiri Memang Datang Dari Diri Sendiri

Diakui atau tidak, berhenti merokok memang bukan perkara gampang. Banyak orang yang menjadi perokok aktif belum berhenti sebelum memang benar-benar mentok. Paling tidak ada peringatan dari dokter tentang kesehatan yang bersangkutan.

Ada beberapa teman dan keluarga saya berhenti total dari merokok. Ada yang karena alasan hamil atau pernah hampir "lewat" gara-gara serangan jantung. Om saya benar-benar berhenti total dari merokok setelah keluar masuk rumah sakit karena gangguan kesehatan. Sementara om yang lain juga berhenti merokok setelah diperingatkan oleh dokternya.

"Silakan bapak terus merokok, kalau bapak nggak ingin melihat anak perempuan bapak menikah. Silakan merokok terus kalau bapak nggak ingin menggendong cucu mereka dan melihat mereka tumbuh besar."


Begitu kurang lebih kalimatnya. Dan Om saya pun berhenti sama sekali sampai sekarang.

Memang, meminta seorang perokok aktif untuk berhenti sama sekali mungkin susah sekali jika memang tidak ada keinginan dari diri sendiri. Apalagi jika sudah berhadapan dengan orang berpaham : 'merokok atau tidak, sama-sama mati'. Wah, ya sudah. MENTOK.

Meskipun peraturan sudah meminta produsen rokok untuk menyertakan peringatan pada pembungkus, bahkan disertai dengan gambar yang cukup mengerikan, tapi nyatanya berhenti merokok tidak serta merta bisa dilakukan. Peringatan dan gambar-gambar tersebut tidak lantas membuat orang takut. 

Bahkan saya masih sering melihat para bapak yang dengan santainya "ngebul" di dekat anak mereka yang masih balita. 

Jadi untuk mengakhiri hubungan dengan rokok dibutuhkan niat yang kuat dan harus datang dari diri sendiri, sama seperti ketika mereka mulai mencoba dan menyukainya.

Adakah di antara kamu perokok aktif yang sedang berusaha untuk berhenti dari rokok? Bagaimana usahanya? Boleh cerita?


0 Comments